
Hari terus berlalu, Minggu terus berganti seiring dengan sikap Marcel yang kerap kali berubah-ubah. Lelaki itu kian sibuk dan seolah lupa bahwa ia juga telah berkeluarga. Bukan benar-benar lupa, Marcel hanya sedang mengalihkan kegiatannya ke arah pendidikan dan pekerjaan.
Lusi duduk seorang diri di balkon kamarnya, dengan tatapan tinggi menerawang jauh. Sekelebat bayangan Marcel menikahinya tiga bulan yang lalu, membuat Lusi merasakan perih. Tiga bulan memang bukan waktu yang lama, namun cukup membuat Lusi tersiksa.
Segala kehidupan Lusi tercukupi, dengan banyak uang dan perhiasan pemberian kedua ibu Marcel. Begitu juga dengan Marcel yang tak pernah terlambat memberi jatah uang belanja untuk Lusi. Sayangnya, dibalik hidup Lusi yang serba berkecukupan, lengkap dengan Shila yang hidup dan pendidikannya terjamin, Lusi merasa sendiri, seolah hidup sebatang kara layaknya wanita haus perhatian.
Andai Shila diperkenankan Marcel untuk tinggal bersamanya dan Lusi, mungkin Lusi tak akan semerana ini menghadapi kesepian yang melanda dirinya.
Wanita yang dulu berkulit sedikit gelap itu, kini berubah berkulit cerah, dengan aroma parfum mewah pilihan Hesti, adik Marcel dari Papa Alex. Beruntung, Hesti sesekali menghubungi dirinya dan kerap kali menemani Lusi berbelanja. Meski begitu, Lusi tetaplah butuh seseorang yang bisa mengisi kekosongannya.
Tanpa Lusi sadari, akhir pekan ini Marcel memiliki jatah libur dari dunia pendidikannya, hingga membuatnya pulang sore hari untuk pertama kali semenjak mereka menikah.
Pintu balkon terbuka dari dalam, Lusi terperanjat kaget ketika mendapati Marcel muncul disana. Biasanya, suaminya itu akan pulang larut malam dari mata kuliah, dan pulang di waktu yang sangat larut.
"Aku memanggilmu sejak tadi, rupanya kau disini?" Marcel menghampiri Lusi, duduk dengan pelan di kursi tepat disamping istrinya.
Tunggu, tunggu. Wajah Marcel demikian pucat dengan kilat sendu. Entah mengapa, Marcel terlihat lain hari ini di mata lusi. Biasanya, Marcel masih bisa tampil segar meski ia pulang larut malam.
"Maaf, aku tak mendengar? Kau sakit?" tanya Lusi dengan niat menyentuh kening Marcel. Sayangnya, Marcel yang menghindar, membuat tangan Lusi mematung di tempatnya sambil berkata, "kau tak mau aku sentuh?"
"Aku hanya lelah dan sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja. Tolong buatkan aku minuman hangat dan bawakan ke kamar. Aku akan membersihkan diri setelah ini," pinta Marcel yang pantas bangkit berdiri, meninggalkan Lusi yang merasakan hatinya berdenyut nyeri.
Andai aku tak secinta ini padamu, mungkin sakitnya juga tak akan separah ini, Marcel.
Lusi membatin.
__ADS_1
Hingga lantas Marcel berlalu, Lusi masih menikmati kesakitan ya seorang diri, memandangi bahu tegap nan kokoh itu, hingga bayangannya hilang ditelan pintu kamar mandi.
Tak ingin menunggu terlalu lama, Lusi segera mengambilkan piyama untuk suaminya, meski hari masih sore. Ia perlu membuatkan menu makanan sehat dan juga minuman hangat sesuai permintaan Marcel.
Selama tiga bulan ini, aku sudah banyak diam meski kau mengabaikan aku. Tapi sakitnya luar biasa ketika kau menolakku secara terang-terangan, Marcel. Dari awal, harusnya pernikahan ini tak terjadi, bukan?
Kembali Lusi membatin dalam diam.
Wanita itu terus saja menikmati sakit hatinya seorang diri di dalam dapur, sambil melamun sesekali. Hingga masakan telah siap untuk disajikan, Lusi segera membawa makanan dan minuman hangat pesanan suaminya, ke dalam kamar.
Dan pemandangan di depan cukup membuat hati Lusi mencelos. Marcel membalut dirinya dengan selimut tebal. Tak hanya itu, Marcel juga mengigau tak jelas.
"Marcel, apa yang terjadi? Kau sakit?" tanya Lusi, seraya meletakkan nampan diatas meja, "kau, apa yang kau rasakan?"
Sebuah igauan yang cukup membuat Lusi mematung dengan berjuta rasa sakit. Lelakinya itu, menyebut nama Renata dengan mata terpejam. Tak hanya itu, bulir keringat yang menempel di pelipis Marcel, seolah menambah kesan sayu.
"Ren ... Renata," kata Marcel dalam ketidaksadaran.
"Ya Tuhan. Apa yang haru aku lakukan?" Gumam Lusi kemudian.
Lusi bingung, harus berbuat apa. Wanita itu tak begitu tahu apalagi dekat dengan tetangga unit apartemennya, yang bisa ia mintai tolong. Untuk turun ke bawah menemui sekuriti, itu semakin jauh. Maklum, belakangan Lusi memang kerap kali merasa sering lelah semenjak kehamilannya memasuki bulan ke lima.
"Ren ... " gumam Marcel lagi.
"Marcel, bangunlah. Kau sedang tak baik-baik saja. Ayo bangun dan makanlah. Kita ke dokter," kata Lusi seraya menepuk-nepuk pelan pili suaminya.
__ADS_1
Perlahan, Marcel membuka matanya, memandang Lusi dengan tatapan sayu, "Aku pusing," hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Marcel, sebelum lelaki itu kembali menutup matanya.
"Hanya pusing? Tidakkah kau memiliki nomor Dokter kenalan atau bagaimana?" tanya Lusi, jelas dengan nada panik.
"Ambilkan ponselku di meja kerja. Aku akan meminta tolong pada Ibu atau ayah agar kemari," jawab Marcel dengan suara parau.
Lusi hanya mengangguk dan segera keluar kamar menuju meja kerja Marcel.
Hingga tepat ketika Lusi memegang ponsel milik suaminya, ponsel lelaki itu menyala. Dan Maya Lusi seketika membola, saat tahu bahwa foto Renata terpampang disana, sebagai wallpaper layar ponsel Marcel.
Jadi jingga kini, kau masih menyimpan hatimu untuk Renata?
Bisik batin Lusi.
Emosi dan pengaruh hormon kehamilan yang membuat perasaan Lusi sensitif, membuat wanita itu tak tahan lagi. Dengan amarah yang coba ia tahan, Lusi berjalan pelan ke arah kamar, mendapati Marcel yang masih kacau.
"Jadi, kau menikahi aku hanya karena aku hamil, Marcel? Kau berkata akan merubah hatimu dan belajar mencintaiku, tetapi kau masih menyimpan nama Renata beserta bayangannya dalam hatimu," ujar Lusi pelan dengan nada santai, sebelum memberikan ponsel suaminya itu.
"Jika hanya karena anak, jangan khawatir, kau masih memiliki hak untuk menemuinya. Tetapi jika kau tak mencintai aku, aku merasa menjadi pihak yang paling bodoh dan hanya menjadi benalu dalam hidupmu. Apa gunanya jika begitu?" tanya Lusi lagi.
Dan Marcel segera terjaga, menyadari bahwa ia tak dapat mengelak lagi.
**
Mohon maaf baru bisa update. Beberapa hari sibuk sekali di dunia nyata.
__ADS_1