Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 33


__ADS_3

Harusnya, Marcel beristirahat dan memulihkan stamina untuk memulai aktifitas besok pagi. Tetapi lihat lah pagi ini, Marcel justru termenung sendiri di balik jendela besar balkon.


Hujan deras membasahi ibukota pagi ini. Cuaca tak menentu, dengan banyak rahasia yang sulit ditebak. Begitu juga dengan kehidupan dan alam yang sama penuh misterinya.


Lusi masih terlelap dengan dengkuran halus terdengar. Lelaki itu hanya menyelimuti istrinya agar tak kedinginan, tanpa berniat memindahkan tubuh ramping Lusi ke ranjang mereka yang luas. Marcel khawatir, lelaki itu membangunkan Lusi jika ia memindahkan Lusi ke ranjang.


Tentang Renata?


Awal mula dirinya terlibat skandal dengan Renata adalah, kala Renata menangis dan hendak menemui Lusi satu bulan lalu. Namun, Marcel mencegah dengan dalih, ia tak suka bila Renata sering bertemu Lusi. Maka, Marcel yang mendengar curhatan Renata.


Hidup memang telah diatur oleh takdir, di jalankan oleh manusia, dan menjadi alasan hingga disalahkan bila terjadi sebuah dosa. Lihat saja saat ini. Lelaki bernama Marcel Dinata itu menyalahkan takdir atas pertemuannya dengan Renata beberapa waktu lalu, padahal ia sengaja menciptakan skandal dengan Renata, hanya demi bisa memuaskan egonya dan memenuhi obsesinya itu.


Bukan cinta. Yang dirasakan Marcel itu hanyalah obsesi semata. Lelaki itu tak bisa membedakan, mana cinta mana obsesi. Padahal cinta di hatinya tumbuh perlahan dengan sangat mengerikan, hanya pada sang istri.


Semenjak penyatuan bersama Lusi, Marcel merasa lain, dan ada sebuah rasa yang sulit Marcel ungkap. Hanya saja, Marcel terlalu naif mengakuinya.


Hesti telah pergi sekitar setengah jam lalu, namun, Marcel tak bisa berbuat banyak saat ini, untuk mencegah Hesti agar tak bocor kemana-mana semua tentang skandalnya bersama Renata.


Tidak lama lagi, berita tentang kebusukan Marcel, pasti akan menyebar dengan sendirinya.


Dalam hening ditemani hujan deras, Marcel menghembuskan napasnya panjang. Kali ini, masalah yang sesungguhnya telah tercipta dari dirinya. Jika terjadi sesuatu ke depannya pada Lusi dan pernikahan mereka, Marcel lah yang patut disalahkan. Marcel sadar itu.


**


"Kau sedang apa, Renata? Menunggu Marcel Dinata?" suara lembut nan menghanyutkan dengan nada mendayu-dayu, keluar dari mulut Hesti, mengejutkan Renata dan membuat wanita itu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Renata kini duduk seorang diri di cafe yang sering di datangi oleh Marcel. Wanita itu sudah mengadakan janji temu untuk makan siang bersama dengan Marcel. Hanya saja, nyaris setengah jam berlalu dari kesepakatan jam mereka bertemu, Marcel masih tak kunjung datang.


Samar-samar ingatan Renata tertuju tentang beberapa momen di kantor tempatnya bekerja dulu, tepatnya di kantor yang juga menjadi tempat kerja Marcel, Renata tidak asing dengan wajah gadis remaja di hadapannya.


"Maaf, kau siapa?" tanya Renata penasaran.


Renata bangkit berdiri, dan menyambut Hesti dengan ramah, meski ia sendiri tak yakin, jika Hesti adalah gadis penting dalam perusahaan.


"Aku Hestia Praja Bekti, putri tunggal Alex Atmadja dan Aridha Praja Bekti Atmadja," jelas Hesti dengan tenang.


Kilat terkejut tampak di mata Renata. Ini adalah kali pertama Hesti bertemu dengan Renata. Menurut Hesti, Renata memang terbilang cantik, sangat cantik untuk ukuran wanita yang disukai Marcel. Pantas saja Marcel begitu tergila-gila pada wanita ini, dan Lusi memilih mundur daripada harus bersaing dengan Renata.


"Nona Hesti, anda datang kemari seorang diri?" tanya Renata mulai merasa tak nyaman.


"Ya, seorang diri tentu saja," jawab Hesti seraya melirik ke kiri dan kanan, memastikan pengawal yang melindunginya tetap sedia berbaur dengan banyak orang.


"Apa kabar, Renata? Kau jauh lebih berisi dan lebih cantik sekarang. Perhiasan yang kau pakai, juga sangat mewah."


"Terima kasih, Nona," jawab Renata gugup.


Tatapan Hesti tajam menelanjangi Renata, mengintimidasi dan menekan kepercayaan diri serta keberanian Renata. Andai Renata tak memiliki skandal dengan Marcel, mungkin Renata tak akan sekhawatir dan setakut ini.


"Lupakan Marcel, dia tak akan datang kali ini. Mari kita bicara, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu, Renata," ajak Hesti yang lantas duduk di kursi seberang Renata.


Renata duduk, merasa semakin tak nyaman atas kehadiran Hesti yang tiba-tiba ini. Situasi cukup hening, dengan kebisuan panjang sekitar dua puluh menit tanpa ada yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Aku tahu tentang skandalmu dan kakakku, Renata. Apa menurutmu, aku akan tinggal diam setelah mengetahuinya? Dan satu lagi, ku beritahu lagi kau satu hal, aku tak akan beritahu keluarga besar dan kak Lusi," ungkap Hesti kemudian.


Jantung Renata serasa ingin lompat saat itu juga. Wajah wanita itu perlahan pucat pasi, dengan rona kemerahan yang mulai memudar dan hilang dari wajahnya. Renata takut, dirinya akan berurusan dengan orang kaya semacam Alex.


"Papaku dan Mamaku mungkin akan tinggal diam, dan mereka hanya akan memantau dari jauh bila sekiranya mereka mengetahui skandal busuk kalian ini. Tetapi aku tak bisa menjamin, Ayah dan Ibu kak Marcel. Mereka mungkin keluarga yang sederhana, Tetapi jika dibandingkan denganmu, jelas kau tak ada apa-apanya dibanding dengan mereka," tambah Hesti lagi.


Renata diam membisu, menatap Hesti dengan takut. Gadis remaja di depannya bukanlah orang sembarangan yang bisa Renata lawan. Namun bagaimana dengan perasaan yang ia miliki terhadap Marcel?


Sialnya, rasa itu tumbuh begitu saja selepas ia mengalami masalah dengan rumah tangganya bersama sang suami. Mengapa tak dari dulu? Itu yang Renata sesalkan.


"Apa maksudmu, Nona Hesti? Kurasa anda salah orang. Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Marcel, Kakak anda," jawab Renata mencoba berkilah dan membela diri. Sayangnya, semua sudah terlanjur, Hesti bukanlah wanita yang mudah percaya.


Insting dan rasa yang di milikinya tajam, tak mudah terpengaruh akan kebohongan.


"Jika begitu, bersiaplah untuk mendengar kabar yang akan tersebar sebentar lagi, Renata. Mungkin ini akan sangat menyakiti sahabatmu, kak Lusi, tetapi efeknya akan sangat dahsyat untuk hidupmu di masa depan," sahut Hesti, seraya memutar-mutar ponselnya di atas meja.


"Dalam ponselku, ada banyak bukti yang aku miliki tentang perselingkuhan kalian. Kau pikir, kak Lusi akan tetap sayang apalagi menaruh empatinya lagi padamu? Mari kita buktikan!"


Seru Hesti dengan senyum liciknya. Tatapan mata gadis itu menusuk jantung Renata. Tetapi apa lagi yang bisa Renata lakukan? Wanita itu tumbuh dalam ketakutan tak berujung. Sial, semua sudah terbongkar. Hanya tinggal menunggu waktu, semua tabir akan terbuka.


Ada banyak rencana yang Hesti susun untuk memisahkan Renata dan Marcel, meski ia tak melibatkan keluarga dan orang tuanya.


Antara Renata dan Hesti, mereka sama piciknya. Mereka seimbang, bukan?


**

__ADS_1


__ADS_2