Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 12


__ADS_3

Dunia adalah panggung sandiwara. Banyak orang yang penuh drama, dan tak jarang berakhir dengan perdebatan. Tak jarang, banyak diantara mereka berakhir dengan saling melukai.


Ada berapa banyak orang yang berakhir dalam kematian hanya karena drama? Nyatanya, untuk mencari orang yang benar-benar tulus tanpa drama, seperti mencari jarum dalam jerami.


Renata berjalan tergesa menuju ke ruangan pimpinan perusahaan yang baru saja di lantik. Harusnya hari ini ia beberes barang-barang di ruangannya, namun Renata menyempatkan diri untuk menemui orang penting di perusahaan ini.


Langkah Renata mantap. Suara sepatu yang saling bersahutan, cukup mengundang tanya banyak karyawan yang bekerja disana.


"Tuan Marcel ada di ruangan, Bayu?" Renata bertanya pada sekretarisnya, Bayu.


"Ada, nona Renata. Kebetulan baru saja masuk." Bayu menjawab.


"Aku tak mengadakan janji temu dengannya. Bisakah bila aku menemuinya segera? Ada yang ingin aku bicarakan." Pinta Renata. "Aku mohon, ini sangat penting." tambah Renata.


"Sebentar, aku akan izin dulu." Bayu mengetuk ruangan dengan sopan, lantas masuk tanpa Renata. Wanita itu menunggu di luar ruangan, hingga Bayu keluar dan menyatakan kesediaan Marcel untuk Ia temui.


"Selamat pagi, tuan Marcel. Maaf aku mengganggu anda sepagi ini. Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Renata sopan, namun terkesan berani.


Pada pimpinan yang sangat penting di perusahaan, Renata juga perlu menjaga adab dan tata Krama meskipun ia sangat membenci Marcel. Bisa Renata lihat raut wajah terkejut Marcel seketika.


Baru kali ini, Renata datang pada Marcel, menemui lelaki itu secara langsung. Selama ini, untuk urusan pekerjaan, bahkan Renata tidak pernah menemui Marcel secara langsung.


"Silahkan." Marcel menunjuk sofa di sudut ruangan, mengisyaratkan pada Renata agar duduk segera di sana. "Ada apa?" Tanyanya kemudian.


"Maaf, tuan Marcel yang terhormat. Aku datang kemari bukan sebagai bawahanmu lagi, melainkan sebagai orang lain, karena aku telah resmi keluar dari perusahaan ini." Renata menatap Marcel tajam. Marcel hanya mengerutkan kening setelah ia duduk di sofa tunggal tak jauh dari Renata.

__ADS_1


"Ada apa? Katakan saja, jangan bertele-tele." Ujar Marcel kemudian.


"Kenapa anda memiliki otak picik dan berniat untuk menjebak diriku diatas ranjang mu? Apakah untuk mendapatkan seseorang yang kau suka, kau akan menghalalkan segala cara? Katakan padaku, mengapa harus sahabatku yang kau korbankan, dan mengapa harus dia yang yang harus menanggung beban malu seumur hidupnya?" Renata berkata seraya menatap Marcel penuh intimidasi.


Seperti biasa, Renata tak akan membiarkan ini terjadi. Demi pertemanannya dengan Lusi. Demi persahabatan yang sudah terjalin sangat lama.


Marcel semakin terkejut di tempatnya. Ia tak menyangka, Renata akan mengetahui semua niat buruknya, dan juga skandal dirinya dan Lusi dua malam lalu. Marcel syok bukan main.


"Apa maksudmu, Renata?" Marcel bertanya.


"Baiklah tuan Marcel. Aku tak suka kau berkelit lagi. Aku juga tak suka kau bersikap seenaknya pada orang yang finansial nya terlihat rendah daripada kau. Lusi sudah mengorbankan dirinya demi aku. Katakan tuan Marcel, kenapa kau bisa berbuat sekejam itu pada sahabatku? Harusnya kau tidak menidurinya meski ia telah meneguk minuman yang mengandung obat perangsang." Ujar Renata.


Renata tak bisa menahan kesabarannya. Marcel berusaha untuk berkelit dan juga berusaha untuk menghindar. Tentu saja Renata akan membuka semuanya tanpa basa-basi. Tanpa tedeng aling-aling.


"Efeknya mampu merusak organ dalam tubuh Lusi, jika ia diabaikan begitu saja." Marcel menjawab jujur.


Marcel mengetatkan rahangnya. Ia tak menyangka Renata akan mengetahui semuanya, semua tentang skandalnya bersama Lusi.


"Jangan melewati batasanmu, Renata. Ini adalah lingkungan pekerjaan. Tidak seharusnya kau membahas sesuatu yang bukan pekerjaan, di tempat ini. Jika memang kau ingin bicara masalah diluar pekerjaan, tunggulah aku pulang dari kantor. Kita bisa mengadakan janji temu." Marcel berkata dengan datar.


Lelaki itu bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Sekuat apa pun Renata mencoba untuk meruntuhkan, Marcel mencoba untuk tetap tegak dan profesional.


Marcel menatap Renata lama, meneliti raut wajah dan juga postur wajah Renata yang cantik dan memiliki sisi kelembutan tersembunyi. Sayangnya, rasanya saat ini akan sulit untuk memiliki Renata. Gadis itu sudah tahu semua kelicikannya. Malu tentu saja, tetapi mental Marcel tak selemah yang Renata pikir.


"Tidak. Maaf aku tak bisa menunggu selama itu. Biar bagaimana pun, ini perlu penyelesaian yang cepat, tuan Marcel." Renata menatap Marcel dengan berani, menantang dan penuh intimidasi.

__ADS_1


Tentunya tatapan Renata membuatnya meleleh. Marcel gentar seketika.


"Katakan apa maumu, jangan. bertele-tele." Ujar Marcel.


"Kau harus bertanggung jawab karena telah merenggut kesucian sahabatku. Maka aku ingin, kau menikahinya segera, tuan Marcel." Renata berkata dengan tegas.


Marcel terhenyak di tempatnya. Ada banyak hal yang membuat Marcel bungkam, termasuk gaya bicara dan kandungan kalimat singkat Renata.


"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Aku masih terlalu muda dan aku enggan untuk menikahi Lusi, karena tak ada cinta diantara kami. Aku sudah membicarakannya dengan Lusi, dan kami sepakat untuk berteman saja. Lagipula siapa dirimu? Kau tak berhak mengaturku." Jawab Marcel.


"Jadi singkat kata, anda enggan bertemaggung jawab pada Lusi atas tubuhnya yang sudah kau nikmati? Aku tak menyangka kau bisa sebrengsek dan sebajingan ini." Renata menatap semakin tajam wajah Marcel.


"Kita bicarakan lain kali, Renata. Sekarang keluarlah dari ruanganku. Aku tak sedang ingin membahas sesuatu di luar pekerjaan saat jam kerja." Titah Marcel. Lelaki itu melihat kilat kebencian di mata Renata.


'Jadi, Lusi menceritakannya pada Renata tentang semuanya? Sial! Awas saja kau nanti, Lusi. Aku akan buat perhitungan denganmu. Kau sudah berjanji untuk tidak menuntutku, tetapi apa ini? Kau melanggar kesepakatan yang sudah sama-sama kita setujui. Awas saja kau nanti.'


Marcel memantin.


"Jangan mengelak lagi, tuan Marcel. Aku ingin melihat seberapa besar tanggung jawabmu sebagai lelaki. Tidak bisakah kau kasihan padanya? Dia hidup hanya berdua dengan adiknya. Kondisi finansial nya pun memprihatinkan. Tidak adakah sedikit saja rasa iba mu padanya?" Mata Renata berkaca-kaca. Marcel tentu saja tidak tega melihatnya.


"Tetapi maaf, Renata. Aku tak bisa menikahinya. Andai dari awal kau tidak menolak dan tidak menutup diri saat aku mendekatimu, kejadiannya tak akan seperti ini. Semua ini karena ada andil dirimu." Marcel menimpali dengan lembut, tak sedatar lagi. Tatapan matanya juga lebih lembut daripada tadi.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mengkhianati orang yang aku cintai. Lagipula, memberimu harapan palsu, bukankah itu sesuatu yang tak bisa dibenarkan?" Tanya Renata.


Marcel diam sejenak, memeriksa isi hatinya, rasa cinta yang kini seolah telah kehilangan detaknya. Lalu, kemana detak liar dan menggila itu pergi?

__ADS_1


"Maaf, Renata. Dari awal aku memang salah. Tidak seharusnya aku memaksakan kehendak begitu saja. Tetapi kembali lagi pada permintaan dirimu, maaf aku tak bisa mengabulkannya. Aku tetap tidak mau menikahi Lusi." Tegas Marcel.


**


__ADS_2