Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 34


__ADS_3

Sebuah kunjungan pagi ini tertuju untuk Lusi. Lelaki yang telah menikahinya masih berkutat di dapur untuk membuat sarapan, ketika Lusi masih hanyut dalam mimpi. Bukan hanya suara gaduh di area dapur yang mengganggu, melainkan juga suara bel di depan apartemen, tak juga mampu membuat wanita itu terjaga segera.


Badan wanita itu terasa nyeri di sekujur tubuhnya, meski semalam ia tak melakukan banyak aktivitas. Mungkin terlalu lelah, atau juga terlalu tersiksa batin, hingga membuat Lusi enggan bangun sebab tubuhnya terasa berat.


Ibu dan Ayah Marcel berkunjung, untuk menengok menantu kesayangan mereka. Entah karena batin perlahan mulai terikat, atau memang karena kebetulan semata, Inora, Ibu Marcel itu tiba-tiba ingin sekali mengunjungi putra dan menantunya.


"Ibu, Ayah?" sambut Marcel kemudian, saat melihat kedua orang tuanya di depan pintu , "mengapa datang tak memberi tahu dulu?"


"Sengaja, kami ingin memberi kejutan. Dimana istrimu?" tanya Inora dengan senyum lembut keibuan.


"Dia masih terlelap, mungkin masih kelelahan," jawab Marcel.


"Memangnya kalian habis apa?" ledek Dion, sang Ayah dengan wajah jenaka.


"Emmm, tidak ada," jawab Marcel kikuk. Tak ada aktivitas ranjang yang melelahkan semalam, karena memang belakangan Marcel tidak lagi menyentuh Lusi selama beberapa pekan terakhir.


Inora dan Dion lantas duduk di ruang tamu yang tertata bersih nan rapi. Tak lupa, Inora meletakkan rantang makanan yang ia bawa dari rumah, berisi menu makanan sehat untuk putra dan menantunya.


"Biar aku bangunkan Lusi dulu, Bu. Nanti makanan yang Ibu bawa, biar Marcel yang bawa ke dapur. Marcel masak tadi, untuk sarapan," ungkap Marcel.


"Ya Tuhan, putraku, kau benar-benar memanjakan istrimu. Terima kasih, Nak, kau sudah menjaga istrimu dengan baik," ungkap Nora.


"Tapi aku pikir, kau tak perlu membangunkan Lusi. Biarkan dia istirahat dengan cukup," Dion merasa tak nyaman yang entah karena apa.


Seperti ada sesuatu yang membuat Dion meragu. Meski Dion bukan Ayah biologis Marcel, tetapi lelaki itu paling peka perasaannya terhadap apa yang Marcel rasakan. Maklum saja, sejak Marcel kecil, bahkan Inora tak sedekat itu dengan Marcel, bahkan Dion jauh lebih dekat dengan Marcel.


"Baiklah, nanti biar Ibu yang menyendirikan makanan menantu Ibu," kata Inora kemudian.


Belum sempat Marcel menjawab, ponsel lelaki itu bergetar, pertanda ada panggilan masuk untuknya. Nama Renata tertera, dengan degub jantung Marcel yang bertalu tak karuan.


Andai Inora dan Dion tahu tentang Renata, bisa dipastikan Marcel akan habis di hajar oleh Ibu yang melahirkannya itu.

__ADS_1


"Bu, aku akan angkat telepon sebentar," pamit Marcel yang buru-buru segera menuju ke kamar, dan berlari ke arah balkon.


"Ada apa, Ren?" tanya Marcel kemudian.


"Aku ingin bertemu sekarang juga, Marcel. Ayo kita bertemu, datanglah ke apartemenku, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."


Kata Renata.


"Apa harus sekarang?" tanya Marcel lagi.


"Kau sibuk? Jika sibuk, tak apa aku akan menunggumu hingga kau bisa datang."


Jawab Renata.


"Ada Ayah dan Ibuku datang berkunjung. Aku tak bisa janji cepat, karena mereka ingin sarapan pagi disini dengan Lusi dan aku. Bagaimana jika satu atau dua jam ke depan?" tawar Marcel.


"Baiklah, aku akan menunggumu."


Panggilan tertutup sepihak, Marcel berbalik dan masuk ke dalam kamar, menatap Lusi yang terlelap dengan tatapan sendu. Ada banyak hal yang ingin sekali Marcel katakan, terutama kata maaf. Tetapi sayang, Marcel tak mampu untuk saat ini.


**


Dengan langkah lebar dan tergopoh-gopoh, Marcel berjalan menyusuri lorong menuju apartemen selingkuhannya itu. Lelaki itu mengenakan setelan kaos berwarna putih, celana pendek hitam, topi hitam dan masker hitam.


Kebutaan hati tengah Marcel alami saat ini.


Sebuah unit terbuka pintunya, menampakkan Renata yang celingukan menatap ke kiri dan kanan, mengamati lingkungan sekitar. Beruntung situasi sedang sepi.


"Marcel, kau datang sendirian, bukan?" tanya Renata selepas menutup pintu.


"Kau ingin aku datang bersama Lusi?" tanya Marcel menaikkan sebelah alisnya. Lelaki itu mendadak sensitif semenjak skandalnya bersama Renata, tercium cepat oleh sang adik, Hestia.

__ADS_1


"Bukan begitu, kau ini," jawab Renata dengan mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ada apa, Renata? Apa yang mau kau bicarakan denganku?" tanya Marcel kemudian, serta mendudukkan tubuhnya diatas sofa.


Lusi menghampiri Marcel, seraya memberikan sebotol air mineral pada Marcel. Begitulah, Renata bahkan tahu kebiasaan Marcel.


"Aku menunggumu di kafe dan kau tak datang. Bukan itu yang aku permasalahkan, Marcel, tetapi ada seseorang yang datang dan mengintimidasi ku," ungkap Renata kemudian.


"Siapa?" hanya Marcel seraya membuka botol dan meneguk air mineral pemberian Renata.


"Hestia Atmadja, putri Papamu," jawab Renata kemudian.


Marcel tersedak, dan tenggorokannya mendadak buntu meski hanya sekedar untuk menelan air. rasanya mengejutkan, namun inilah kenyataannya.


"Hesti? Benarkah?" tanya Marcel kemudian. Mata lelaki itu melebar, jelas terkejut dengan kabar yang Renata sampaikan hingga ia tersedak


"Dia sudah tahu skandal kita, Marcel. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Renata kemudian.


"Lantas, apa lagi yang ia katakan padamu?" tanya Marcel. Sungguh, jika Hesti sudah berani mengambil langkah sejauh ini, itu artinya memang gadis itu memantaunya.


"Dia memintaku untuk menjauhi dirimu dan menyudahi hubungan kita," jawab Renata pelan.


"Sialan, si anak kencur itu!" umpat Marcel dengan hati yang tak tenang, "awas saja jika ia berani macam-macam lebih jauh."


"Aku khawatir dia buka mulut dan keluarga besarmu tahu, Marcel. Aku, aku tak bisa sebenarnya, mengkhianati Lusi sejauh ini, tetapi aku juga mencintaimu dengan sangat," ungkap Renata dengan tatapan sendu.


"Aku juga mencintaimu, Renata," ungkap Marcel, seraya membawa Renata dalam pelukannya.


Mereka hanya belum sadar, bahwa efek dari cinta mereka, sanggup menghancurkan segalanya.


**

__ADS_1


__ADS_2