
"Tidak, Pa. Aku mencintainya. Bukti apa yang Papa ingin, agar Papa percaya, jika aku benar-benar mencintai Lusi?"
"Jika kau berani membuang racun dalam hidupmu, dan berhasil mendapatkan hati Lusi kembali, aku akan mengizinkan kau melanjutkan pernikahanmu dengan Lusi. Tetapi jika kau tidak mampu membuang Renata dari hidupmu, dan kau tak peka terhadap perasaan wanita, aku pastikan, kau akan kehilangan Lusi untuk selamanya, Marcel. Kau harus ingat satu hal, Lusi bukanlah sekadar cinta figuran yang bisa kau manfaatkan sesukamu. Di dalam rahimnya, ada garis keturunan Atmadja sekalipun kau tidak terlahir di dalam pernikahan antara aku dan Inora!" tegas Alex, "secara biologis, kau putraku dan anakmu adalah cucuku. Sampai hati kau memperlakukan Lusi dan cucuku begitu, Marcel. Papa tak habis pikir dengan pola pikirmu."
Tatapan mata Alex begitu tajam, tak pernah Marcel menemui Alex dalam mode seperti ini. Dalam diam dan masih bersikap tenang, Marcel sesungguhnya meneguk salivanya yang terasa menggumpal.
"Kau memang putraku yang berharga, Marcel. Tetapi jika kau melakukan sebuah kesalahan padaku, aku akan mencoba untuk memaafkan. Hanya saja, menyakiti istri terlebih sedang mengandung, kau pikir aku akan diam dan menerima begitu saja? Aku dan Ibumu, Inora juga sama-sama memiliki anak perempuan. Aku tak mau, anak perempuan kami harus membayar karma dari apa yang kau lakukan terhadap istrimu," sambung Alex dengan tegas.
"Apa kau bisa menjauhi Renata dan melupakan, bahwa tak pernah ada nama Renata dalam hidupmu?" tanya Alex memastikan.
Yang di tanya menunduk, mencoba untuk memastikan, hatinya untuk siapa. Ada sebuah tanya yang tak bisa, untuk Marcel memecahkan jawabannya.
"Jika kau ragu, pulanglah, Marcel. Aku tak punya waktu meladeni lelaki pengecut, pecundang lagi munafik sepertimu," ujar Alex berlalu pergi, dengan langkah cepat.
Tinggallah Marcel seorang diri, dengan banyak tanya untuk dirinya sendiri, hingga membuat dirinya tertekan. Benarkah, membiarkan Lusi pergi begitu saja, adalah sebuah keputusan yang tepat?
Bila nanti aku memisahkan diri dari Renata, apa aku sungguh-sungguh mampu melewatinya? Dan bagaimana dengan Lusi? Dialah yang paling tersakiti. Astaga.
Batin Marcel.
Marcel dilema. Antara cinta dan obsesi, lelaki itu masih tak bisa membedakan. Namun, sekilas senyum Lusi yang meneduhkan, berhasil membuat Marcel tersadar, bahwa ia benar-benar mencintai Lusi.
"Apa yang kau lakukan disini, Kak? kurasa kau sedang ada perlu dengan Papa," tanya Hesti pada Marcel. Marcel yang sejak kepergian Alex tadi melamun, kini tersadar.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Aku sedang menemui Papa," ungkap Marcel kemudian.
"Aku pikir kau sedang apa sepagi ini datang. Mau sarapan disini? Jangan pulang dulu," ajak Hesti kemudian.
Biar bagaimana pun, seburuk apapun Marcel di mata Lusi, namun ia tak bisa menampik bahwa Marcel adalah saudaranya. Tak menampik, hidup Hesti yang kerap kali kesepian karena kesibukan orang tua, membuatnya bahagia saat tahu ia memiliki kakak laki-laki.
Marcel memang bersalah. Namun di hati Hesti, ia tetap kasihan melihat Marcel kacau begini. Semakin dewasa, Marcel seolah kehilangan arah tanpa di sadari.
"Tidak, terima kasih. Aku harus kembali pulang, sebab aku harus menyelesaikan pekerjaan dan kuliah. Aku pamit saja," ungkap Marcel yang sudah bersiap berdiri. Namun, niatnya urung ketika Hesti menghampirinya dan ikut duduk di sofa.
"Akhir pekan ikutlah denganku ke sebuah tempat. Aku akan berkunjung ke rumah Tante Luna dan Om Seno di desa. Kau juga perlu refreshing untuk tetap waras," ungkap Hesti kemudian.
"Kau tak boleh menolak. Ini bukan sekadar hiburan biasa. Sudahlah. Mungkin dengan begini, kau bisa menemukan obat dari kegelisahanmu," ungkap Hesti.
"Tetapi aku benar-benar sibuk, Hes," ungkap Marcel lagi, "lain waktu saja. Oh ya, aku mau pulang," ungkap Marcel kemudian.
"Kau yakin tak ingin menengok keadaan kak Lusi?" tanya Hesti lirih setengah berbisik. Gadis muda itu tersenyum licik, memiliki sebuah rencana yang ia susun seorang diri, persis seperti ketika ia memberitahu Alex tentang perselingkuhan Marcel dan Renata.
"Apa maksudmu? Kau tahu dimana Lusi berada?" tanya Marcel tak kalah lirih. Tatapan mata lelaki itu beredar, hanya ada pelayan dan beberapa pengawal yang berlalu lalang.
"Ya, aku tahu. Hanya saja jika kau menolak, aku tak akan memaksa lagi," ucapnya kemudian.
"Baiklah. Aku bersedia. Akan aku selesaikan pekerjaan agar akhir pekan aku bisa menjenguk Lusi. Tetapi, apakah jaraknya jauh dari sini?" tanya Marcel.
__ADS_1
"Kita hanya menempuh perjalanan selama dua atau dua setengah jam jika tak macet," jawab Hesti.
Marcel mengangguk, sebelum ia pamit pada Hesti segera, "baiklah. Aku pulang dulu."
"Hmm," jawab Hesti kemudian. Ada banyak hal yang Hesti pikirkan. Marcel nyatanya tak seperti Papanya yang jeli. Andai Marcel bisa melihat lebih detail lagi, ia akan menemukan sebuah emosi yang rumit pada kilat mata adiknya itu.
Setelah di rasa Marcel sudah melangkah cukup jauh, Hesti segera menuju ke dalam kamar untuk menelepon seseorang.
"Jangan sampai gagal, lakukan dengan rapi sesuai dengan yang aku interupsikan," kata Hesti begitu dirinya sudah mulai bicara dengan lawan bicaranya, "jangan lupa lakukan semua dengan rapi. Aku tak mau ada kegagalan nanti."
"Baik, nona. Saya akan mulai menuntun target agar sesuai rencana anda," Jawab pengawal Hesti.
"Bagus. Aku tunggu kabar baiknya," ujar Hesti lagi.
"Baik, nona," jawab pengawal sebelum ponsel di matikan.
Ada sesuatu yang tak semua orang tahu, tentang apa yang akan Hesti lakukan. Hanya dua pengawal saja yang bekerja padanya.
"Tunggu aku, Renata. Kau hanya belum tahu sedang berhadapan dengan siapa. Jika kak Lusi bisa kau bodohi, kak Marcel kau pengaruhi, dan situasi bisa kau manipulasi, maka aku yang akan memberimu sanksi!" seru Hesti dalam senyumnya.
Putri Aridha dan Alex itu tersenyum licik, merasa dirinya berada di atas angin atas badai yang diciptakan oleh Renata, wanita yang Marcel cintai.
**
__ADS_1
**