
"Aku bahkan lebih dari sekedar tahu, jauh dari seperti yang kau bayangkan."
Situasi menjadi tak nyaman. Suasana nampak terasa tegang dengan banyak tanya yang membuat Lusi penasaran. Ada apa ini?
"Ada apa, Hesti? Apa yang kau sembunyikan dari kami? Maksudku, apa yang terjadi Sebenarnya?" tanya Lusi kemudian, dengan tubuh bangkit berdiri. Usia kehamilan lima bulan, tak membuatnya kerepotan sama sekali.
Hesti tak menjawab, lebih mengabaikan Lusi dan menatap kakaknya dengan tatapan tajam, seolah berkata, Mau kubongkar semua rahasia yang kau tutup rapat?
Jantung Marcel merasa bertalu tak karuan, ketika membayangkan, seandainya Hesti tau kekhilafan yang dirinya lakukan. Hanya saja, Marcel berharap Hesti tak tahu apapun tentang kelakuannya di belakang.
"Tak ada. Lebih baik kak Lusi istirahat dan abaikan saja orang ini," tunjuk Hesti pada Marcel, dengan dagunya, "mari keluar dari kamar dan hibur dirimu sendiri. Aku akan pulang dan menyelesaikan tugas sekolahku. Maaf, kak, telah membuatmu tak nyaman dengan situasi ini."
Inginnya Lusi memaksa, namun tak mampu kerana ia sendiri tak mau mengganggu Marcel.
Tak menunggu lama, Lusi dan Hesti keluar, meninggalkan Marcel dalam hening yang mengikat. Hati Marcel merasa ketar-ketir, dengan banyak hal yang kini mulai berhasil menghancurkan kepercayaan dirinya secara perlahan.
Berbagai ketakutan, membuat Marcel berspekulasi bahwa Hesti tahu tentang belang dirinya, terhadap pernikahannya bersama Lusi Asmarani.
**
Malam berlalu begitu saja, merambah pagi yang terasa lama bagi seorang istri yang di kecewakan. Wanita itu tak tidur semalaman, mengabaikan kesehatan begitu saja, hingga kantuk datang dan ia baru terlelap di pagi buta seperti saat ini.
Marcel terbangun dari lelapnya, dengan handuk kecil setengah basah yang masih menempel pada dahinya. Lelaki itu mengerut tak suka, ketika Lusi lebih memilih beristirahat di sofa bed, daripada disampingnya.
__ADS_1
Mendadak dada Marcel berdesir. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba membuat Marcel tak tega pada Lusi. Terlebih ketika tatapannya terkunci pada perut Lusi yang mulai terlihat membuncit.
Nyaris enam bulan usia kandungan istrinya itu, namun hingga kini, Marcel tak memberikan kebahagiaan yang menjadi kewajiban sekaligus janjinya itu, pada Lusi.
Janji tinggallah janji. Marcel menyesali, sebab tak dapat memenuhinya dengan baik, padahal usia pernikahannya baru seumur jagung.
Lelaki itu lantas bangkit, ketika ponselnya berdering dan nama Hesti tertera disana. Beruntung hari ini Hesti tak pergi ke sekolah. Rupanya Hesti telah berdiri di depan pintu, dan bertamu sepagi ini ke apartemen Marcel.
"Kau tak ke sekolah?" tanya Marcel, ketika melihat Hesti pertama kali di depan pintu.
"Tidak, aku datang untuk menjenguk istrimu," jawab Hesti kemudian. Gadis itu masuk dan menerobos Marcel, membiarkan Marcel sedikit terdorong ke arah pintu.
"Hesti, kita perlu bicara," pinta Marcel, menatap datar putri ayah biologisnya itu.
"Bicara apa? Katakan saja," jawab Hesti kemudian. Gadis itu melongok ke arah kamar Marcel, "dimana kak Lusi?"
"Katakan, apa yang ingin kau katakan?" tanya Hesti, duduk di sofa dan menghidupkan televisi. Ia perlu tahu, sepintar apa Marcel dalam urusan percintaan.
"Apa maksud ucapannya semalam?" tanya Marcel seraya duduk di sofa tunggal tak jauh dari tempat Hesti duduk. Kedua tangannya ia lipat di dada, dengan menatap tajam Hesti.
"Kau yakin mau mendengarnya dariku?" tanya Lusi kemudian.
"Ya," jawab Marcel.
__ADS_1
"Aku tahu skandalmu bersama Renata," jawab Hesti santai. Gadis itu tersenyum kecil, seraya belajar mempermainkan emosi kakaknya.
Tentu saja Marcel terkejut bukan main. Dengan gerakan gugup, Marcel menggerak-gerakkan badannya tak nyaman.
"Oh, aku pikir aku lupa siapa keluarga Ayah biologis ku yang suka mencampuri urusan orang lain," tukas Marcel berusaha membela diri. Hal itu tentunya berhasil membuat Hesti terpancing emosi.
"Itu memang hakmu dan aku tak berhak ikut campur, kak Marcel. Hanya saja, yang kau sakiti tengah mengandung anakmu, darah dagingmu. Tidakkah kau melihat, bagaimana aku hanya diam tak memberi tahu istrimu tentang kelakuan busuk mu bersama Renata? Ingat, kak Marcel, Renata itu sahabat istrimu, dan istrimu sangat mencintaimu karena aku bisa melihat hanya dari tatapannya," sahut Hesti dengan suara datar.
"Berhenti ikut campur dan jangan sampai Lusi mendengar kabar ini," pinta Marcel
Hesti tergelak di tempatnya, "kak Marcel takut?" tanya Hesti dengan mengunci manik lelaki yang tampak bodoh baginya itu.
"Andai aku yang menjadi kak Lusi, sumpah demi Tuhan aku lebih baik tak menerima tawaran mama dan papa untuk menjadi istrimu. Aku tak menyangka, kau bajingan. Renata telah bersuami, dan kau telah beristri. Teganya kalian mengkhianati kak Lusi. Apa karena kak Lusi miskin dan tak secantik Renata?" tanya Hesti tepat sasaran.
"Jaga bicaramu, Hesti. Kau tak bisa mengancam ku begitu saja!" seru Marcel menahan marah.
"Harusnya kau yang jaga kelakuan. Aku akan diam seperti yang kau inginkan, kak. Sementara ini semua orang tidak tahu tentang kelakuanmu dan Renata. Tetapi lain waktu, aku tak bisa menjamin orang-orang terdekat kita tak akan mengendus bau bangkai yang kau sembunyikan," jawab Hesti.
Hesti bangkit dan berdiri, tak berniat untuk melanjutkan kalimatnya, dan memilih untuk pulang saja.
Hingga kemudian tangan Marcel, mencekal pergelangan tangan Hesti dengan sedikit kencang, "kau harus bisa jaga sikap, Hesti. Kesehatan Lusi dan bayiku lebih penting," pinta Marcel.
"Bukan kesehatan kak Lusi, melainkan kesehatan anakmu yang terancam karena dirimu sendiri," Hesti menatap tajam Marcel.
__ADS_1
Marcel merasa, ini adalah petaka.
**