
Angin berhembus kencang malam ini. Udara terasa dingin sebab hujan baru saja reda. Dingin menusuk hingga ke tulang, bersamaan dengan angin yang seolah sanggup meluluh lantakkan tubuh tegap yang tengah berdiri di balkon.
Dua belas jam lalu, Marcel melepas kepergian Lusi dengan ketidakberdayaan. Paksaan yang dilakukan oleh sang Papa, membuat Marcel menyesali semuanya.
Kini, Marcel kembali hidup sendiri, berpisah dengan Lusi dan calon anaknya yang akan lahir beberapa bulan lagi. Meski anak itu hadir sebab kesalahan Marcel, namun Marcel juga memiliki nurani dan naluri sebagai seorang Ayah. Tak dipungkiri, Marcel dipenuhi bahagia ketika mengingat sebentar lagi, dirinya akan di panggil Ayah oleh malaikat kecil yang akan Lusi lahirkan.
Tak ada satu orang pun yang menemuinya, meski hanya untuk sekadar memberikan semangat dan wejangan yang berarti. Lihat saja, bahkan Ibu dan Ayah saja tak datang meski hanya sekadar untuk menghajarnya. Lusi rindu omelan Ibu. Sayangnya, di diamkan jauh lebih sakit daripada di hajar membabi buta.
Hancur sudah rumah tangga yang baru dibina selama beberapa bulan ini bersama Lusi. Wanita keras kepala itu menyerah pada takdir, dan membiarkan Marcel sendiri di apartemen ini, seperti dulu.
Mungkin Lusi sudah tidak kuat, mungkin juga Lusi tidak sanggup untuk bertahan di dalam bahtera rumah tangga yang penuh dengan bobrok dimana-mana. Dan semua cacat cela kebobrokan itu, Dady Marcel sendiri.
Hembusan angin perlahan membuat Marcel merasa nyaman menikmati aroma tanah basah yang membuatnya tenang. Mata lelaki itu terpejam, menikmati kenangan ketika Lusi masih berada di sisinya.
Ada ruang kosong yang terasa hampa di sudut hati Marcel. Ketika Lusi tersenyum padanya ketika bangun tidur, senyum Lusi ketika dirinya baru pulang dari kantor dan kampusnya, juga Marcel yang kelelahan kerap kali mendapat suntikan semangat dari istrinya itu.
Ya, Lusi benar-benar melayani Marcel dengan baik selama menjadi istri Marcel. Marcel saja yang tak pernah bersyukur.
Kini, setelah Lusi pergi, apakah mungkin dirinya tak merindukan sosok wanita imut itu? Ah, Marcel merasakan hatinya tak sekuat yang ia bayangkan. Setelahnya, Marcel memutuskan untuk bicara pada Papa untuk negosiasi hal ini.
Secuil harapan tumbuh di hati Marcel, ia bisa membawa Lusi kembali di dalam hidupnya. Belum terlambat, andai Marcel harus menjauhkan diri dari Renata.
Di tengah lamunan yang cukup mengasyikkan, Fokus lelaki itu beralih pada dering pelan ponselnya. Kembali, Renata mengganggunya lagi kali ini, meski dirinya meminta Renata tak merecokinya lagi seharian ini. Sayangnya, Renata tak sepengertian Lusi yang jika diminta, segera menjalankan perintah Marcel.
__ADS_1
Dengan malas, Marcel terpaksa menerima panggilan Renata, "Halo," sapa Marcel pertama kali, dengan suara datar. Marcel terlalu malas.
"Marcel, ayo kita bertemu. Aku sudah tak bisa menahan rindu," ungkap Renata tak tahu malu.
"Maaf, Renata, aku ingin sendiri dulu seharian ini. Bisakah kau mengerti diriku dan tak lagi menggangguku untuk satu atau dua hari ini?" tanya Marcel dengan suara dingin.
Di seberang sana, Renata terkejut akan permintaan Marcel yang terbilang aneh ini. Biasanya, Marcel akan melayangkan kata-kata indah untuknya. Kata-kata cinta maksudnya.
"Kau ini mengapa, Marcel? Tak biasanya kau begini. Ceritakan padaku, ada masalah apa yang membuatmu seperti ini," ungkap Renata lagi.
"Datanglah ke apartemenku, Lusi udah tak lagi tinggal bersamaku sejak pagi tadi, akan aku ceritakan masalahku padamu yang membuatku tak tenang," ungkap Marcel.
"Baiklah, aku akan segera datang kesana, jangan tidur dulu," timpal Renata sebelum memutuskan panggilannya.
Sebenarnya Renata juga tertekan dengan situasi macam ini. Sayangnya, ia tak bisa mengelak lagi, tentang perasaannya terhadap Marcel semenjak malam itu.
Ah, menyesal sekali dulu Renata menolak Lusi untuk dikenalkan dengan Marcel. Andai Renata tahu mengenai Marcel, Renata tak akan membuat Lusi merugi karena hal ini. Masa depan wanita itu hancur lebur seketika. Beruntung keluarga Marcel cukup kaya hingga bisa membuat Lusi dan kehidupannya terjamin sepenuhnya.
Setidaknya, begitulah cara pola pikir Renata.
Hingga lantas Renata keluar dengan langkah terburu-buru, menghubungi driver taksi langganannya untuk mengantarnya pada Marcel sesegera mungkin.
Perjalanan dilalui dengan singkat oleh Renata, sebab memang unit apartemen dirinya dan Marcel terbilang dekat. Inilah yang membuat Lusi kerap kali curiga belakangan, sebab tak jarang, kemeja dan seluruh pakaian Marcel berbau harum parfum Renata yang tak asing bagi Lusi.
__ADS_1
"Marcel, kau kacau sekali. Astaga, apa yang terjadi?" tanya Renata pertama kali, ketika dirinya masuk ke dalam unit apartemen Marcel, "Lantas ini, mengapa kau babak belur begini?"
Renata mengakui, dirinya memang tak pernah tahu apakah Marcel bisa beladiri atau tidak. Tetapi melihat luka lebam dan sisa bercak darah yang ada pada beberapa sudut wajah Marcel, membuat Renata mengira, Marcel telah di keroyok.
"Duduklah, Ren. Lusi sekarang sudah pergi meninggalkan aku, tepatnya, dia telah dibawa pergi oleh keluargaku, entah kemana," ungkap Marcel kemudian, sambil mengisyaratkan pada Renata agar duduk di sofa, "dan aku babak belur karena Papa menghajarku, Renata. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku kepikiran Lusi dan kandungannya terus menerus."
Renata terkejut dengan kelopak mata terbuka sempurna seraya berkata, "apa yang kau katakan, Marcel?"
"Lusi sudah mengetahui, bahwa kita memiliki skandal. Dia berubah dingin tiba-tiba, sejak pagi tadi kami bertengkar, hingga Papa datang dan aku di hajar habis-habisan," jawab Marcel.
"Lantas, dimana Lusi sekarang? Mungkin Lusi sudah tinggal di rumah keluargamu," ungkap Renata mengutarakan maksud hatinya.
"Tidak mungkin. Tak mungkin Lusi berada di rumah keluargaku, aku tahu betul bagaimana karakter Papa. Dia marah besar, dan juga aku tak bisa mengelak lagi karena aku yang bersalah, Renata. Cinta kita ini salah," ungkap Marcel seraya menghembuskan napasnya panjang.
"Kita memang bersalah, Marcel. Tetapi Tuhan pasti memiliki alasan mengapa kita di beri perasaan yang begitu dalam. Lagi pula, kita saling mencintai, bukan cinta sepihak saja," Renata masih bersikeras tak mau disalahkan.
Marcel diam di tempatnya, melipat kedua tangan di dada sambil menatap intens Renata.
Baru sekarang Marcel menyadari, betapa Renata sangat jauh bertolak belakang dengan Lusi. Renata adalah tipikal orang yang tidak mau disalahkan, berbeda dengan Lusi yang akan mengakui kesalahannya dan cenderung akan memperbaiki diri setelahnya.
Tak hanya itu, Lusi juga tak pernah memojokkan Marcel. Andai saja ada Lusi, Marcel tak akan sekacau ini pikirannya.
**
__ADS_1