
Pagi datang dengan secercah cahaya baru bagi sebuah kehidupan. Sinar matahari yang baru saja hendak menampakkan diri, membawa sebuah semangat baru, bagi Marcel Dinata. Calon ayah yang masih sangat muda itu, memiliki banyak harapan untuk masa depan keluarga kecilnya.
Lusi Asmarani, wanita itu yang tak Marcel jumpai selama beberapa waktu, berhasil membuat Marcel sedikit hilang arah. Harusnya Marcel sadar akan hal ini sedari awal, ketika sebelum ia menikahi Lusi saat Lusi menghilang darinya. Sayangnya, Marcel baru sadar.
Lelaki itu mengemudikan mobil sportnya keluar dari apartemen, menuju ke kediaman Praja Bekti dengan niat menjemput adiknya. Di saat begini, Hesti sangat membantu Marcel. Semoga saja, Lusi bersedia di bawa pulang.
Dengan banyak hal yang menjadi sumber bahagia Marcel, termasuk calon anaknya yang akan lahir tak lama lagi, Marcel berjanji, ia akan meninggalkan Renata, dan memperbaiki diri. Kali ini serius, tak ada lagi dilema, tak ada lagi keraguan.
Jalanan ibukota masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengendara motor yang berlalu lalang. Hingga tak butuh waktu lama, Marcel segera tiba di kediaman Praja Bekti, dengan Hesti yang sudah menunggu di pos sekuriti.
Hesti sejak kecil memang begitu. Ia begitu dekat dengan bawahan yang bekerja di kediamannya. Baik sekuriti, pengawal khusus maupun pelayan maupun kepala pelayan.
"Kak, kau sudah siap?" sapa Hesti, yang tak memperbolehkan Marcel untuk turun dari mobil, "tak usah turun. Aku sudah meminta izin pada mama dan papa. Ayo cepat. Jika terlalu siang, kita akan terjebak macet," sambung Hesti kemudian.
"Baiklah. Memangnya, kita akan pergi ke arah mana?" tanya Marcel, ketika melihat sang adik yang sudah duduk anggun di sebelah bangku kemudi.
"Ke desa, rumah Om Seno dan Tante Luna. Apa Kakak tak pernah pergi kesana sebelumnya? Tante Luna itu adiknya Mama, anak bungsu Praja Bekti," ungkap Hesti, menatap jalanan sekitar. Mobil yang dikemudikan oleh Marcel, berjalan pelan.
"Aku tidak tahu, Mama tak pernah memperkenalkan padaku," jawab Marcel kemudian.
"Baiklah. Nanti kalian bisa berkenalan," ujar Hesti kemudian.
"Dimana pengawal? Biasanya ada pengawal yang ikut serta? Memangnya Papa membebaskan dirimu hari ini?" tanya Marcel yang merasa janggal.
Biasanya, ada beberapa pengawal yang selalu membuntuti Hesti, sekalipun mereka melakukan penyamaran dan membaur bersama orang-orang sekitar. Tetapi kali ini, tak ada satupun kendaraan yang terlihat membuntuti mobil Marcel.
"Ada, mereka mengawal dari jarak jauh. Aku yang meminta. Oh ya, bagaimana dengan kuliah kak Marcel? Apakah tidak ada kendala?" tanya Hesti, yang mengalihkan pembicaraan. Hesti tak ingin, membuat Marcel mendesaknya untuk bicara tentang Lusi terus menerus.
"Semua lancar. Aku juga berhasil memperbaiki kinerjaku di kantor," jawab Marcel, mulai terbawa suasana santai.
__ADS_1
"Bagus. Jika nanti kak Marcel bertemu kak Lusi, apa yang akan kak Marcel katakan padanya?" tanya Hesti, memancing Marcel agar tak ada kecurigaan sedikitpun.
"Maaf, yang pertama adalah meminta maaf, memperbaiki diri dan ingin memulai semuanya dari awal," jawab Marcel pelan. Senyum terbit di bibir lelaki itu, yang nampak padat berisi.
"Bagus," sahut Hesti.
Perjalanan keduanya diwarnai dengan pembicaraan ringan, sesekali, Hesti mengajak Kakaknya untuk bercanda. Satu hal yang menjadi sebuah kesimpulan Hesti, Marcel adalah orang yang baik. Hanya saja, Marcel tidak sepenuhnya menyadari, mana yang benar-benar tulus padanya, dan mana yang hanya datang sekadar untuk memberikan kehangatan.
**
Di lain tempat, Inora dan Dion tengah mengunjungi tempat dimana Alex menyembunyikan menantunya. Entah mengapa, rindunya kali ini begitu menyiksa dan menuntut untuk bertemu. Terlebih, kandungan sang menantu yang sudah nyaris melahirkan, membuat khawatir Inora.
Wanita itu berniat untuk tinggal di tempat Lusi hingga Lusi melahirkan, dan Alex kembali menjemput Lusi untuk kembali ke kota. Tak ada banyak yang Inora lakukan, untuk menyenangkan hati menantu baiknya, selain merawat dan menjadi sosok ibu untuk Lusi.
Lusi sudah terlampau baik, bagi seorang Marcel yang banyak tingkah dan banyak ulah.
"Nona Lusi sedang istirahat siang, nyonya. Mari, saya antar ke kamarnya," ajak pelayan yang menyambut inora, "setengah jam yang lalu, nona Lusi makan siang. Tetapi beberapa waktu terakhir, nona Lusi seperti tak berselera makan.
Tanpa kata, Inora dan Dion melangkah masuk, membuka pintu kamar Lusi tanpa mengetuk, untuk mengintip menantunya yang tengah terlelap dalam tidur. Bukan lancang, Inora tak seperti itu. Hanya saja, ia tak mau mengganggu lelap menantunya.
"Marcel, Marcel ... Kau tak ingin bertemu denganku? Marcel, aku rindu .... " Lusi mengigau, memanggil nama Marcel beberapa kali.
"Marcel ... aku mohon, jangan bicara begitu. Aku tidak mau," tambah Lusi lagi, semakin membuat Inora tersayat hatinya. Bulir keringat sebesar biji kacang hijau, tampak muncul di kening dan pelipis Lusi.
"Mungkin Lusi rindu pada suaminya. Astaga, anak itu tega menyiksa istrinya begini," ujar Dion lirih, menatap istrinya dengan perasaan tak nyaman.
"Marcel, Marcel .... " racau Lusi lagi.
"Apa setiap hari setiap malam Lusi begini?" tanya Inora kemudian, pada pelayan.
__ADS_1
"Tidak setiap malam, nyonya. Biasanya nona Lusi tidak begini. Hanya saja sekitar tiga atau empat hari ini, saya dan pelayan lain melihat nona Lusi mengigau. Mungkin memang benar apa yang tuan katakan baru saja, mungkin nona Lusi sendang rindu tuan muda Marcel," jawab pelayan dengan yakin.
"Tolong bangunkan Lusi pelan-pelan," perintah Inora pada pelayan yang mengantarnya, "Katakan aku menunggunya di ruang tamu," tambah Inora lagi.
Inora segera keluar dari kamar Lusi, menunggu Lusi menyambutnya dan bersikap seolah dirinya dan sang suami tak tahu apa-apa.
Beberapa saat kemudian, Lusi datang, dengan wajah basah sebab Lusi membasuhnya. Kulit wanita itu kian bersih dan cerah.
"Ibu, Ibu kapan datang?" tanya Lusi, menyambut ibu mertuanya dengan senyum cerah.
"Baru saja. Bagaimana kabarmu, sayang? Ibu sangat rindu padamu," ujar Inora kemudian.
"Aku baik, Bu. Ayah bagaimana?" jawab Lusi, menatap Dion yang tampak menenteng tas tangan milik istrinya, dan seorang pelayan yang menarik koper dari arah luar.
"Ayah juga Baik. Syukurlah jika kau juga baik," jawab Dion tersenyum.
"Ini ... koper milik siapa?" tanya Lusi, yang merasa tak mengenali dua koper yang di tarik oleh pelayan.
"Ini adalah koper milik Ibu. Mulai sekarang, Ibu sendiri yang akan merawat dan mengurusmu dan calon cucu Ibu. Jadi, Ibu akan tinggal disini untuk beberapa waktu," jawab Inora.
Senyum Lusi merekah, merasa bahwa ia begitu beruntung memiliki Ibu mertua yang luar biasa baiknya. Inora bukan hanya sekadar Ibu mertua bagi Lusi, melainkan sudah seperti ibu kandung yang begitu menyayangi dirinya. Ah, mengingat sosok Ibu kandung Lusi, Lusi jadi rindu untuk pergi ke makam orang tuanya.
"Lusi senang sekali mendengarnya. Mari duduk dulu, Bu," ajak Lusi, yang diikuti oleh Dion dan Inora.
Hening sejenak membalut suasana pertemuan kali ini, sebelum Dion bersuara.
"Lusi, kau merindukan suamimu?" tanya Dion kemudian, membuat Lusi hanya bisa mematung.
**
__ADS_1