Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 6


__ADS_3

'Maaf, Marcel. Aku tak akan pernah menjual persahabatanku dan Renata, hanya demi uangmu.'


Lusi pergi dengan batin berteriak lantang. Tantu saja Marcel tak akan mendengarnya, meski itu tertuju pada marcel.


Renata hendak bangkit dan menyusul Lusi yang setengah berlari, namun urung karena Lusi mencegahnya.


"Habiskan makananmu, Renata. Aku tak ingin kau menungguku. Aku pulang dulu, kau pulanglah dulu nanti." Lusi berkata dengan tergesa, tanpa menunggu jawaban Renata. Tentu saja hal itu cukup menarik perhatian para staf kantor yang menghadiri. Mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Lusi.


Lusi berlari serampangan, hingga suhu tubuhnya naik dengan cepat. Mata wanita itu memerah secara perlahan, dengan bulir keringat yang membasahi kening hingga lehernya.


Marcel berlari cepat setelah acara makan usai, mencari keberadaan Lusi hingga di gedung paling belakang yang dekat dengan gudang.


"Lusi, astaga. Dimana kau sekarang? Kau mendengarku, Lus?" Marcel mengedarkan pandangannya di sepanjang lorong yang dilewatinya. Lelaki itu khawatir, takut bila nanti terjadi sesuatu pada Lusi akibat pengaruh obat keras itu.


"Lusi. Kau mendengarku? Astaga, dimana kau?" Panggil Marcel lagi.


Marcel Dinata berlari kesetanan, merangsek masuk di tengah kilat yang melambai-lambai. Suara gelegar petir terdengar sesekali, pertanda hujan akan turun sebentar lagi. Tentu saja Marcel akan merasa bersalah, bila terjadi sesuatu pada Lusi.


"Astaga, Lusi. Kau gila!" Marcel menatap Lusi nanar. "Mengapa kau meminumnya? Tidak tahukah kau apa efeknya jika tidak segera kau salurkan? Astaga." Marcel terus berlari mengitari gedung hotel yang megah milik ayahnya. Lelaki itu bahkan sudah putus asa dalam mencari Lusi.


Perlahan namun pasti, nama Renata terkikis, luntur karena kekhawatiran Marcel terhadap Lusi Asmarani. Jiwa Marcel yang masih muda, belum mampu mengendalikan diri sekuat ayahnya.


Berkali-kali Marcel merutuki keputusan Lusi yang bodoh itu. Harus bagaimana cara Marcel menyelamatkan Lusi dari efek obat itu. Membiarkan Lusi tergeletak begitu saja, juga bukanlah hal yang bagus. Terlebih, dengan tiba-tiba gerimis datang tanpa diundang. Sial. Marvel merutuk dalam hati.

__ADS_1


Hingga Marcel berlari tanpa henti, menatap tajam lingkungan sekitar. Kaki jenjangnya melangkah lebar, berusaha menaklukan bangunan luar gedung dengan mengelilinginya. Hingga ia melihat sosok gadis yang dicarinya, tengah meringkuk di dekat tumpukan kardus.


"Ya Tuhan, kau disini, Lusi. Gadis bodoh. Kenapa kau meminum minuman itu? Aku sudah menjelaskan dan kau masih rela meminumnya? Bagaimana ini?" Marcel tak tahu harus apa. Lelaki itu bingung dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Beruntung, tak ada yang melihatnya.


Tak ada solusi lain, selain menyembunyikan Lusi di dalam kamar yang sudah Marcel pesan. Marcel tak bisa membayangkan, andai nanti semua orang tahu dengan keadaan Lusi saat ini. Ini diluar skenario Marcel. Harusnya, Renata yang ada diatas ranjang ini, bukan Lusi. Tetapi itu tak penting. Baginya, ia harus bergerak cepat saat ini.


Setibanya di dalam kamar, Marcel segera menjatuhkan Lusi diatas ranjang. Tentunya tanpa langkah yang ringan, melainkan langkah berat karena Lusi dengan berani berlaku kurang ajar pada Marcel. Oh singkat kata, Lusi menjalari bagian tubuh Marcel dengan jari-jarinya yang lentik.


Marcel berusaha menghindar, menepis tangan Lusi yang bergerak makin liar. Sayangnya, Marcel tetap kalah. Sedikit saja sentuhan dari Lusi, cukup membuat kulitnya terasa seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Gemetar dan wajah Marcel pucat pasi.


'Oh, hentikan tangan kurang ajarmu itu, Lusi. Aku tak ingin kau menggugah sesuatu dalam diriku. Aku masih perjaka.'


Marcel bergumam dalam hati. Lelaki itu juga menepis kasar tangan Lusi kemudian.


"Kemari. Sentuh aku. Panas. Panas." Lusi mulai meracau. Gadis itu sudah menahan nyaris setengah jam, namun efek obat itu terus bekerja di dalam tubuh Lusi. Menuntut untuk segera dipuaskan, atau beberapa organ dalam tubuh Lusi akan rusak dan kehilangan fungsinya.


"Uhh ... panas sekali." Lusi meracau lagi, tak peduli bahwa kini Marcel telah tak tahan dengan tingkah Lusi. Dengan berani, Lusi semakin gencar dan terang-terangan menggoda Marcel.


"Tuhan, tolong aku. Ayah, Ibu, Mama, Papa, kedua adikku .... Tolong aku. Aku tak ingin menjadi jahat." Marcel mencoba untuk menenangkan Lusi. Sayangnya, Lusi dengan agresif menyerang Marcel dengan ciuman dalam dan dahsyat. Ini adalah kali pertama Lusi dan Marcel melakukannya.


Meski awalnya ragu, namun Marcel adalah pemuda normal yang memiliki naluri yang lurus sebagai lelaki. Lama-lama putra Alex itu juga terhanyut dalam kelembutan yang dimiliki oleh Lusi, si office girl yang terbiasa melayani kebutuhan makan dan minum Marcel di kantor. Sekuat apapun Marcel menepis, nyatanya ia kalah oleh nafsunya sendiri.


Di malam yang larut ini, sepasang anak manusia itu tengah memadu rasa. Rasa yang sesungguhnya, telah mereka miliki tanpa mereka sadari. Suara deras hujan disertai dengan dingin yang berasal dari mesin AC, nyatanya tidak mampu membuat keduanya meringkuk dalam selimut, melainkan tegak berkeringat menantang dingin malam yang begitu menusuk tulang.

__ADS_1


Marcel dan Lusi, melakukan penyatuan dahsyat melalui gerak tarian alam, yang menuntut dalam kenikmatan.


'Oh, ****. Lusi masih gadis.'


**


Hujan turun dengan derasnya malam ini. Shila duduk seorang diri di dalam rumah sewa yang memiliki banyak ventilasi itu. Gadis kecil itu tengah menunggu kepulangan kakaknya yang katanya akan pulang tengah malam. Biasanya, Shila akan terlelap sekalipun Lusi tak pulang.


Hanya saja dengan malam ini terasa berbeda. Shila merasa tak nyaman, perasaannya khawatir akan keadaan kakaknya yang tak ada kabar.


"Shila, kau sendirian?" Suara Renata mengejutkan Shila. Gadis kecil itu menoleh, menatap seseorang yang datang membawa bungkusan.


"Kakakmu belum pulang?" Tanya Renata cemas.


"Tidak ada Kak Lusi, pulang, Kak Ren. Aku juga tak bisa tidur dan menunggunya." Suara lembut Shila, membuat Renata tak tega. Ia juga tak tahu bila ternyata Lusi tak pulang dan tadi hanya membohonginya.


"Ya Tuhan, padahal dia tadi pamit padaku untuk segera pulang dan .... Ya sudahlah, kau ikut saja denganku. Besok kan hari libur juga, aku akan mengantarmu usai sarapan. Ayo berkemas, bawa satu baju ganti untuk besok pagi. Aku khawatir kakakmu tak pulang karena harus mencuci banyak piring lebih dulu." Renata mengatakan hal itu, karena tak ingin Shila semakin khawatir.


"Apa pekerjaan Kak Lusi banyak, Kak Renata?" Shila yang cerdas dan serba ingin tahu itu, menatap Renata dengan penasaran.


"Ya, begitulah. Ayo, nanti biar ku kirimkan pesan padanya, bahwa kau ikut aku bermalam di rumahku. Ayo, kemasi barang-barangmu. Bawa pakaian saja, yang lainnya sudah ada." Perintah Renata.


"Baiklah, kak." Shila menurut, tak ingin menunggu kakaknya terlalu lama. Dalam hati Shila berpikir, sekeras inilah kakaknya bekerja untuk biaya hidup mereka.

__ADS_1


Sungguh malang. Shila yang polos, hanya akan menatap kakaknya yang akan meratapi nasibnya setelah ini.


**


__ADS_2