
Hari berganti dengan aktivitas seperti biasanya. Pagi datang menyambut hari baru, dengan aktivitas baru pula.
Tepat hari ini, Lusi tiba pada jadwal rutin untuk memeriksakan kandungan nya. Sudah nyaris memasuki enam bulan, perut Lusi kini lebih terlihat menonjol.
Senyum terbit pada bibir wanita muda itu, dengan binar mata yang ceria menghiasi wajah cantiknya. Ada yang berbeda dari Lusi pagi ini, dan juga wanita itu merubah penampilannya semalam. Penampilan baru yang tidak di ketahui Marcel, sebab semalam saat Marcel pulang, Lusi keluar bersama Hesti.
Ketika berbalik badan, tanpa sengaja tatapan Lusi terarah pada Marcel yang masih terlelap. Padahal semalam, Marcel tidur lebih dulu ketika Lusi pulang dari perawatan Wajah dan rambut di salon pusat milik Oma Hesti, Nyonya Jelita.
Dada Lusi tiba-tiba berdenyut nyeri. Wanita itu yang tadinya merasa bahagia karena penampilan barunya dan juga tubuh yang begitu segar, kini mendadak sakit. Membayangkan belakangan Marcel menjauhinya, berjarak dan tak menyentuh Lusi selama kurang lebih satu bulan lamanya, membuat Lusi terluka.
Mata yang tadinya berbinar ceria, kini mendadak berkaca. Ada sejumput penyesalan yang membelenggu hati Lusi. Andai saat itu Lusi tak meneguk minuman setan buatan Marcel, mungkin semua tak akan seperti ini. Hati dan tubuh Lusi serasa remuk membayangkan, kala ia mengorbankan diri demi Renata, namun Renata telah mengkhianati dirinya, menusuknya dari belakang.
Tak ingin terlalu hanyut dalam kecewa yang panjang, Lusi memilih untuk bangkit dan berlalu dari kamar. Ia perlu membuatkan sarapan untuk suaminya dan dirinya sendiri. Meski Marcel telah menyakiti hatinya, namun Lusi tetap akan melayani kebutuhan Marcel sebagai kewajibannya.
Hingga Lusi selesai dengan kegiatan masaknya, wanita itu berbalik dari meja makan, dan berniat membangunkan Marcel. Namun, Marcel berdiri tepat disamping kulkas, dan menatap Lusi dengan wajah bantal khas bangun tidur, membuat Lusi terkejut seketika.
"Marcel, kau sudah bangun?" tanya Lusi dengan raut terkejut.
"Ya, tentu saja. Tumben kau tidak membangunkan aku?" tanya Marcel.
__ADS_1
"Aku tak ingin mengganggu tidurmu," jawab Lusi datar.
"Dan kau mau aku terlambat ke kantor?" tanya Marcel, seraya berjalan ke arah wastafel dan mencuci muka disana.
Lusi diam tak menjawab, memilih duduk di kursi dan menunggu Marcel untuk duduk di dekatnya. Lusi hanya tidak mau, jika nanti berakhir dirinya berdebat dengan sang suami sepagi ini.
Marcel duduk, tepat di kursi yang bersebelahan dengan Lusi. Seperti biasa, Lusi menyendokkan nasi untuk Marcel, memberinya perkedel kentang campur ayam, dan tumis sayur kesukaan Marcel.
Tak ada pembicaraan yang membuat Marcel bisa lebih leluasa. Lusi semakin berjarak dan seolah sulit tergapai. Salah, Marcel memang mengaku salah. Hanya saja, Marcel tidak suka bila didiamkan begini.
Egois sekali, bukan?
"Aku tak marah, Marcel. Aku hanya kecewa. Jangan mengusikku, aku tengah menenangkan hatiku dan menjaga kewarasan batinku agar kandunganku baik-baik saja. Kumohon, jangan memulai perdebatan. Duduk dan nikmati sarapanmu sebelum mandi dan bersiap kerja," ungkap Lusi kemudian.
Lusi menunduk, menekuri menu sarapannya sendiri. Meski hati Lusi berdenyut sakit, namun Lusi mencoba untuk kuat.
"Baiklah, maafkan aku. Aku bersalah. Tetapi kau juga harus tahu, perasaan cinta, tak bisa dipaksa dan dicegah, aku tak bisa meninggalkan cintaku begitu saja, Lusi. Aku mencintainya," ungkap Marcel seraya mengaduk makan dan hendak memulai sarapan.
Lusi sudah mengira ini. Dalam hatinya, ia mana mungkin bernilai untuk Marcel? Bahkan ketulusan yang selama ini ia curahkan untuk Marcel, nyatanya tak bisa membuat lelaki itu berubah arah.
__ADS_1
"Kalau begitu aku yang akan mundur. Temui Ibu Inora dan aku meminta Shila dikembalikan, Marcel. Aku tak mau hidup dengan lelaki yang menikahiku atas dasar tanggung jawab saja," Lusi berusaha kuat, menahan agar tak menangis di depan Marcel.
"Mengapa begitu, Lus? Setidaknya jika memang kita harus berpisah, tunggu hingga anak kita lahir. lagipula mengapa kau justru menolak tanggung jawabku?" Marcel tak habis pikir dengan pola pikir istrinya itu.
"Ini bukan sekadar tanggung jawab, Marcel, melainkan juga karena aku mencintaimu," ungkap Lusi, menatap Marcel dengan berani, "Jika hanya membesarkan dan melahirkan anak ini, aku bisa sendiri tanpamu."
Marcel tercenung di tempatnya. Apa yang ia dengar baru saja? Lusi mencintainya?
"Kau .... " Marcel tercekat, tak jadi makan sebab syok dengan apa yang ia dengar.
"Sama seperti dirimu yang mencintai Renata, seperti itulah aku mencintaimu. Tapi aku tidak akan egois dan memaksakan kehendakku, Marcel. Aku tak ingin kau menikahiku, membersamai aku hanya karena anak ini, aku cukup tahu diri dan kelasku tidak sebanding dengan Renata. Jadi sebaiknya, sudahi saja," ujar Lusi tenang, seraya makan seperti biasa.
Meski di dalam hati Lusi merasa perih, namun ia tak ingin cintanya di nilai lemah oleh Marcel.
"Lusi, kau ... kau bercanda?" tanya Marcel tak percaya.
"Apa aku terlihat seolah tengah bercanda?" tanya Lusi kemudian. Tak hanya itu, Lusi menatap tajam Marcel, "kupikir aku tak akan mengejarmu mati-matian sekalipun aku mencintaimu, Marcel. Aku tahu, dikejar sekalipun, tak akan membuatmu sadar."
Lusi beranjak dan berlalu pergi dari sana, meninggalkan Marcel yang hanya menekuri menu sarapannya. Lusi tak ingin bodoh, dengan meninggalkan makanannya. Maka, wanita itu membawa piring berisi makanannya, di depan televisi. Ada makhluk mungil yang butuh asupan makanan dari tubuhnya.
__ADS_1
**