Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 48


__ADS_3

Lusi tengah duduk di ruang tengah bersama Aridha, ketika suara Marcel dan Hesti sudah sejak tadi masuk ke dalam rumah yang ia tempati. Antara ruang tamu dan ruang tengah, hanya bersekat selembar gorden mahal yang menjadi pemisahnya.


Sejenak, Lusi menunduk menyembunyikan raut wajahnya dari Aridha, sebab dirinya tak ingin Mama mertuanya mengetahui isi hatinya. Mata wanita muda itu terpejam, mendengar suara Marcel yang seolah sanggup menghujani ruang hatinya yang terasa tandus. Rasanya sejuk, mengalir dalam kalbu hingga membuat rindunya perlahan terobati.


Sedahsyat itu rindu di hati Lusi untuk Marcel.


Hanya dari suara, rasanya begitu berbeda. Antara sorak senang di dalam hati, namun Lusi tak ingin bicara apapun dan bertemu dengan Marcel secara tatap muka.


Mungkin Lusi masih marah, mungkin juga Lusi ingin memberi pelajaran pada Marcel dengan cara tidak bertemu dengannya. Marah tentu masih ada. Namun Lusi juga bukanlah orang yang begitu tega.


"Pa, ayolah. Jika Lusi ada di dalam, izinkan aku bertemu dengannya. Aku janji, aku tak akan membuatnya menangis, apalagi menduakannya dengan Renata. Aku janji, kali ini aku serius," ujar Marcel, yang jelas masih bisa di dengar oleh Lusi, "Tolonglah, Pa. Tolong kali ini bantu Marcel agar bisa kembali bersatu dengan Lusi."


"Tidak!" tegas Alex. Semua yang dibicarakan di ruang tamu, Lusi mendengarnya. Tak ada suara samar, tak ada kalimat tak jelas.


"Pa, kali ini saja. Tolong, aku ingin bicara dengan Lusi," pinta Marcel mengiba, tak pernah menyerah kali ini. Mengingat betapa Lusi jauh lebih mencintainya dibanding Renata, membuat Marcel seolah tak memiliki rasa putus asa.


"Tidak!" tolak Alex, masih menatap tajam Marcel. Alih-alih menciut, Marcel justru terus merengek layaknya anak kecil.


"Aku merindukannya, Pa. Tolong beri kesempatan Marcel untuk menjelaskan, bicara dengan istriku sendiri dari hati ke hati," pinta Marcel, memohon dan rasanya gatal ingin berlutut di kaki Alex.


Dion dan Inora yang duduk bersisian di dekat Alex, saling tatap, seolah punya rasa kasihan pada Marcel. Hanya saja, Alex tetaplah Alex dengan pendirian yang bahkan lebih kuat daripada baja. Sekokoh itu keputusan Alex, tak akan memberi izin Marcel bertemu Lusi jika Marcel belum benar-benar jera.


"Pa, apa Papa lupa, Lusi masih istriku," ujar Marcel. Sudah nyaris dua jam, bahkan senja sudah nyaris habis, membiarkan sinar matahari tenggelam dalam peraduannya, namun, Marcel tetap tidak mendapatkan izin untuk menemui Renata.

__ADS_1


"Istri? Kau membuatnya menangis, menduakannya, menyakiti hatinya, mengkhianati menantu kesayanganku, dan sering membohonginya. Oh jangan lupa, kau pula yang merusak masa depannya dengan membuatnya hamil di usia muda. Bahkan dua puluh jari tangan dan kaki papa tak akan cukup bila harus digunakan untuk menghitung dosa-dosamu. Apa kau sadar?" tanya Alex menatap tajam.


"Aku sadar, Pa. Tapi aku khilaf," ungkap Marcel dengan polosnya.


Baru saja Alex ingin bersuara, spontan tangan Hesti menjambak rambut Marcel dan membenturkan pada sandaran sofa, yang beruntung ada lapisan spons lembut. Bila tidak, mungkin kepala Marcel sudah benjol karenanya.


"Aaawwwsshhhh, sakit, Hesti. Apa yang kau lakukan?" tanya Marcel, menatap tajam sang adik yang sering menyakitinya sejak tadi.


"Bodoh, tolol dan dungu. Kau pikir khilaf itu berlangsung lama dan dilakukan secara terus menerus tanpa cukup sekali dua kali? Rasanya aku ingin sekali memotong lehermu dan mengubur lelaki sedungu dirimu, kak. Sekali lagi kau bilang khilaf, ku hajar kau!" seru Hesti, tanpa segan meski ada Inora dan Dion yang sejak tadi hanya diam.


Baik Inora dan Dion, mereka syok dengan keberanian Hesti pada Marcel. Ya, sekalipun perlakuan Hesti itu bisa dibenarkan.


"Memang khilaf, memangnya aku harus bilang apa pada Papa?" tanya Marcel yang mendesis kesakitan, serta mengusap berkali-kali kepalanya yang dibenturkan oleh Hesti ke sandaran sofa.


"Terserah padaku, aku yang bicara pada Papa," sahut Marcel, masih merasa sakit di kepalanya.


"Tetapi caramu ini mencerminkan orang bodoh," ungkap Hesti.


"Dan itu bukan urusanmu!" seru Marcel dengan nada kesal. Padahal, baru beberapa jam lalu Hesti berhasil membuat Marcel terharu, kini adik kakak itu sudah kembali bermusuhan.


"Jelas ini urusanku. Kau kakakku," timpal Hesti.


"Tapi kau ...."

__ADS_1


"Cukup!! Sekali lagi kalian berdebat, keluar dari sini dan jangan pernah kembali!" tegas Marcel kemudian.


Dari balik gorden, Aridha dan Lusi terkikik pelan, berusaha untuk tak didengar orang-orang yang berada di ruang tamu.


"Maaf, Pa. Tetapi sungguh, aku sanggup menerima hukuman apapun dari Papa setelah ini, asal Lusi bisa kembali lagi denganku. Aku berjanji, aku tak akan berulah lagi dan mencintai Lusi sepenuh hatiku," ujar Marcel kemudian.


"Aku tidak peduli. Sebaiknya pulang sana. Kau juga Hesti, mengapa kakakmu bisa seperti ini?" tanya Alex yang mengalihkan pandangan pada Hesti.


"Otak kak Marcel yang korslet, mengapa aku yang ditanya? Tanyakan saja pada bibi Inora yang melahirkan kak Marcel. aku pikir, mungkin dulu bibi Nora ngidam air got saat mengandung Kak Marcel. Menjijikkan seperti kelakuan kak Marcel, hueeekkk," jawab Hesti yang kemudian bangkit menuju ke ruang tengah.


Marcel ingin menyahut, tetapi urung ketika Inora menatapnya tajam seraya berkata, "Hesti saja bisa menganggap sikapmu itu menjijikkan, Marcel. Apakah Sekarang kau masih belum sadar dengan kesalahanmu?"


"Justru itulah aku kembali untuk meminta maaf pada Lusi, Bu," jawab Marcel. Tatapan lelaki itu lantas beralih pada Alex, "Pa, tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengan Lusi," pinta Marcel lagi.


Alex terdiam, menatap Marcel dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama ini, Marcel sudah berusaha keras memenuhi keinginan Alex agar Marcel bekerja dan kuliah. Sebagai orang tua, Alex tak seegois itu untuk membiarkan putranya merasa bersalah terlalu lama. Hanya saja, Alex bukanlah orang yang pandang bulu.


"Baiklah. Aku izinkan kau bertemu dengan istrimu, Tetapi dengan catatan, kau tetap harus menjalani hukuman dariku," jawab Alex, seolah menjadi angin segar bagi Marcel.


"Terima kasih, Pa. Aku berjanji aku tak akan mengecewakan semua orang setelah ini. Papa tahu? Aku bahkan telah meninggalkan Renata agar bisa kembali serius membina rumah tangga dengan Lusi. Tolong, aku benar-benar ingin memperbaiki kesalahan-kesalahanku padanya," ungkap Marcel dengan bersungguh-sungguh.


Terkadang, perlu siksaan dan hukuman dulu, agar seseorang menyadari seberapa besar kesalahannya. Meski efeknya cukup membuat Marcel merindukan Lusi, nyatanya Marcel tetap bahagia meski ia harus menjalani hukuman dari Alex.


**

__ADS_1


__ADS_2