
Andai saja saat ini Tuhan tak berbaik hati, mungkin Lusi sudah hancur berantakan tak tersisa. Mungkin dirinya akan menjadi gelandangan yang serba kekurangan. Kebaikan keluarga Marcel, cukup membuat hidup Lusi terjamin.
Sebuah tempat yang begitu nyaman, membuat Lusi betah berada di tempat ini. Bukan kediaman Dion dan Inora, bukan pula kediaman Praja Bekti yang megah bak istana, melainkan sebuah rumah yang jauh dari hiruk pikuk ibukota.
Disinilah Lusi berada, meneruskan jalan hidupnya dengan langkah pelan dan mendapat jaminan perlindungan penuh dari Alex. Tak hanya itu, dua pekan sekali, Papa Alex dan istrinya akan datang mengunjungi Lusi.
Ponsel dan segala media untuk komunikasi, Lusi tak lagi berminat untuk memilikinya. Untuk menghubungi Shila, Lusi memilih untuk menggunakan ponsel milik salah satu pelayan yang Alex tugaskan untuk melayaninya.
Seperti hari ini, tanpa di duga, Lusi kedatangan ibu mertua yang berdandan sederhana, namun kesan cantik masih melekat kuat pada wanita paruh baya itu.
Inora datang bersama Dion, mengunjungi Lusi dengan membawa serta Shila. Tentu saja hal ini cukup membuat Lusi gembira. Beragam makanan dan buah-buahan segar juga menjadi oleh-oleh dari Inora. Benar-benar, kasih sayang membanjiri Lusi kali ini membuat Lusi tak sendiri, di tengah pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat dan suaminya.
"Apa kabarmu, sayang? Kau tampak kurus," Inora memeluk menantunya, menelisik dari atas ke bawah, mengamati perubahan Lusi, "jangan terlalu banyak pikiran, kau harus memikirkan kesehatan tubuhmu dan bayimu. Ibu bawakan sesuatu untukmu."
Inora menyerahkan parcel buah dan beberapa makanan sehat yang di bawakan oleh Dion, suaminya.
"Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali. Aku baik, Ayah dan Ibu bagaimana?" sambut Lusi dengan riang. Meski di balik sakit yang ia rasakan, Lusi tak pernah mengeluh maupun mengadu pada Inora dan Dion tentang perlakuan suaminya.
"Baik, Nak. Ayah dan Ibu baik-baik saja. Bagaimana kandunganmu? Sehat tanpa masalah, kan? Apa kau ngidam sesuatu?" tanya Inora, mencecar Lusi dengan banyak tanya.
__ADS_1
"Baik, Bu. Rencananya dua hari lagi Lusi waktunya memeriksakan kandungan," jawab Lusi, seraya duduk di sofa.
"Bagus. Jangan biarkan masalah rumah tanggamu mempengaruhi kesehatan janinmu. Ingat, Ayah dan Ibu akan sangat kecewa jika kau kurang memperhatikan anakmu," tambah Dion.
Kehangatan begitu tercipta, saat orangbtua Marcel mengunjungi Lusi dan membawa kaish sayang. Meski Lusi tak lagi memiliki kedua orang tua, namun keberadaan para mertua sudah cukup membuat Lusi tak sendiri.
"Ibu, Ayah, bolehkah bila seandainya Lusi bertanya sesuatu?" tanya Lusi kemudian, di tengah canda tawa Inora dan Dion.
"Boleh, tanyakan saja," Dion menjawab, mengamati raut wajah menantunya dengan sendu.
"Bagaimana kabar Marcel?" tanya Lusi dengan hati-hati.
Namun mengangkat pembicaraan tentang Marcel, tentunya cukup sensitif bagi Lusi.
"Lus, kalau boleh Ibu tahu, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Marcel?" tanya Inora kemudian.
"Lusi merindukannya, Bu. Tapi Lusi tak mau membuatnya tak nyaman dengan kehadiran Lusi. Lusi hanya ingin tahu kabarnya, itu saja. Tapi kalau ibu tak mau menjawab, Lusi tak akan memaksa," jawab Lusi kemudian.
"Marcel baik, sangat baik sekali. Tapi jangan khawatir, semua masih dalam kondisi terkendali. Jika kau merindukannya, sesekali kau boleh menghubunginya. Ibu akan mintakan izin pada Papa Alex untuk membantumu bicara sejenak dengan suamimu. Ya, bagaimana pun juga, kau dan Marcel masih suami istri," jawab Inora.
__ADS_1
Sebagai wanita yang pernah mengandung dalam posisi berjauhan dengan ayah si jabang bayi, Inora hapal betul bagaimana rasanya. Rindu yang seolah sanggup mencekik leher, membuat Inora kadang berpikir sempit hingga nyaris bunuh diri.
Sedangkal itulah pemikiran wanita yang didera rindu.
"Jangan," sahut Lusi kemudian seraya melambaikan kedua tangan, "jangan hubungi Marcel. Lusi tidak ingin bicara dengannya dulu. Rindu bukan berarti harus bertemu dan bicara kan, Bu? Lusi hanya sekadar ingin tahu. Lagipula, sudah ada Renata yang Marvel cintai. Lusi Sade, harusnya Lusi tak hadir diantara mereka," jawab Lusi kemudian.
Suasana kembali hening, membiarkan kebisuan menguasai ketiga insan yang tengah dilanda kecewa itu.
"Bu, Lusi ini tak masalah jika seandainya Marcel bersatu dengan Renata. Hanya saja, Lusi ingin Marcel melepas Lusi lebih dulu. Tak masalah jika seandainya tak menunggu Lusi melahirkan," sambung Lusi lagi.
"Sssst, kau ini bicara apa? Sudah, lupakan saja," ungkap Inora seraya mengusap punggung Lusi, "Maafkan putra ibu yang berulah, sayang."
"Tapi ini perlu kita bahas, Bu. Lusi sadar, kehadiran Lusi dalam hidup Marcel, hanyalah sekadar figuran belaka. Satu-satunya tokoh utama yang menempati hati Marcel hanyalah Renata, bukan Lusi," ungkap Lusi kemudian.
Inora ingat, bagaimana rasanya menjadi Lusi, jauh dari lelaki yang paling dicinta pada masanya. Sakitnya luar biasa hingga membuat Inora nyaris gila setelahnya.
Mungkin inilah seleksi alam yang sesungguhnya, hukum tabur tuai yang tak bisa dihindari lagi. Meski dalam hati Inora berpikir ia ingin sekali Marcel berubah demi anaknya bersama Lusi, berkumpul kembali dengan Lusi, namun Inora merasa ia perlu memberi pelajaran pada Marcel lebih dulu, agar ia menghargai kehadiran seseorang, sebab kehilangan akan terasa setelah seseorang itu benar-benar telah pergi.
"Ibu janji, dan akan Ibu pastikan, kau satu-satunya wanita yang pantas mendampingi hidup suamimu, Lusi. Ibu tak akan pernah rela dan merestui Marcel, jika ia tetap kokoh menggenggam Renata. Ibu yang melahirkan Marcel, bersumpah tak akan pernah memberikan celah bagi wanita manapun, untuk bisa menjerat putra ibu," tekad Inora.
__ADS_1
**