
Hari menjelang siang, ketika Marcel kini tengah duduk berdua dengan Joseph di dalam ruangan kerja milik Marcel. Lelaki itu tengah menghabiskan waktu istirahat dengan hanya berbincang saja bersama Joseph. Tak lupa, Marcel juga menyiapkan dua cangkir kopi untuknya dan juga Joseph.
Usai makan siang bersama Joseph, Marcel memilih untuk berbincang, dan ia memutuskan untuk berdiskusi dengan Joseph tentang perasaannya. Selagu Lusi sakit, entah mengapa Marcel sering memikirkan Lusi, lebih tepatnya khawatir.
Selain Lusi, Marcel juga tengah memikirkan rencana Papa yang hendak memasukkannya ke dalam universitas ternama untuk meraih gelar S2. Ini seperti beban tersendiri bagi Marcel tentunya.
Ada sebuah rasa berat yang membuat Marcel ragu untuk mengikuti keinginan Papa. Namun untuk menolaknya, Marcel takut jika Papa akan tersinggung dan menganggapnya tidak menghormati orang tua. Marcel selalu ingat dengan lensa Inora, bahwa Marcel tak boleh mengambil sikap seenaknya saja.
"Kau ini seperti anak kecil saja, Marcel. Mau curhat apa? Aku pikir kau sudah tak memiliki masalah. Bayangkan saja, memiliki dua ayah dan dua ibu, Papa dan Mama mu juga orang yang sangat kaya raya, apa lagi yang menjadi masalah hidupmu saat ini? Sudahlah, kurasa jalani saja hidupmu dengan baik dan jangan banyak membuat masalah." Joseph berkata seraya menyeruput kopi panas miliknya.
"Kau tak tahu bagaimana perasaanku saat ini, Joseph. Aku bahkan sangat keberatan dengan keinginan papaku untuk memberangkatkan aku setengah bulan lagi. Aku harus bagaimana? Kau tahu sendiri dan mengenal bagaimana karakterku yang memuja kebebasan. Menjadi pemimpin perusahaan, tentunya menyita banyak waktu bebasku untuk bermain." Ujar Marcel kemudian.
"Kurasa kau hanya perlu waktu saja untuk beradaptasi, Marcel. Cobalah untuk berdamai dengan kenyataan. Mungkin memang jalan hidupmu harus begini saja. Aku yakin, orang tuamu memiliki rencana yang baik untukmu. Tinggal kau saja yang harus bijak dalam menyikapi." Joseph memberi nasihat.
"Coba kau lihat, ada berapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan? Memimpikan hidup sejahtera dengan harta pas-pasan dan uang yang hanya cukup untuk dibuat makan. Mereka sangat menginginkan bisa bekerja siang malam hingga segalanya bisa mereka beli. Sayangnya, mereka tak memiliki pekerjaan yang bisa menyejahterakan hidup mereka. Berada dalam posisi dirimu saat ini, tentunya kau harus pandai bersyukur." Joseph menambahkan.
Marcel terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan ia sampaikan pada Joseph. Ini bukan hanya tentang uang dan isi dunia. Bukan juga tentang lanjut kuliah aja. Tetapi ini adalah perkara perasaan yang harus Marcel pastikan. Belakangan, Marcel merasa tak nyaman dan didera rasa khawatir yang berlebih.
"Kau memikirkan apa lagi? Lagipula kau hanya perlu kuliah saja, sama seperti di asrama dulu. Belajar dengan baik, kuasai materi dengan cepat, dan menangkan persaingan prestasi antar teman. Itu bukanlah hal yang sulit untukmu yang cerdas. Aku yakin itu. Lagipula Papamu tentunya memikirkan dirimu, hingga ia harus membuatmu melewati jalan ini. Ini demi kebaikanmu juga." Ujar Joseph lagi.
__ADS_1
"Bukan hanya itu yang menjadi beban pikiranku, Jo." Marcel menghela napas panjang. Ia tak tahu, apa reaksi Joseph sebentar lagi. Bisa jadi, dirinya akan diledek hingga seharian penuh jika mengatakannya.
"Lantas?" tanya Joseph.
"Ini tentang perasaanku. Aku juga tidak menceritakan padamu, apa alasan aku menghentikan pengejaran terhadap Renata. Ada seseorang yang membuatku merasa bersalah setengah mati." Jawab Marcel.
Lelaki itu menyandarkan bahunya pada bahu kursi, mendongak dan menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan yang saling berkaitan. Tatapan matanya kosong, mengingat masa-masa dimana Lusi mengorbankan diri demi Renata.
"Ah, kau ini. Katakan saja, jangan bertele-tele. Aku tak suka kau bertele-tele begini. Apa yang membuatmu merasa bersalah?" tanya Joseph kemudian.
"Kau masih ingat dengan gadis yang bernama Lusi Asmarani? Dia sahabat Renata yang rupanya masuk ke dalam jebakanku secara sengaja. Tak hanya itu, dia juga tidak meminta tanggung jawabku usai malam itu." Marcel mengungkapkan. "Aku menganggapnya aneh, tapi juga menguntungkan aku."
"Ya. Kau pikir aku tak pernah bercerita lagi, karena kau pikir rencanaku berjalan mulus? Tidak, Joseph. Semua kacau. Tak berhenti sampai disitu, Lusi juga sudah menceritakannya pada Renata. Aku menganggap bahwa Lusi memang sengaja melemparkan diri padaku, hingga membuatnya sengaja meminum habis minuman Renata. Obat darimu memang benar-benar dahsyat. Lusi yang lugu dan manis, mendadak berubah menjadi liar malam itu." Jawab Marcel.
Joseph mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa tak berdaya dan beranggapan bahwa Marcel benar-benar malang kali ini.
"Alih-alih Renata yang kau inginkan terjebak, jadi justru si makcomblang mu, Lusi, yang menjadi korban? Astaga, Marcel. Lantas bagaimana ceritanya? Apakah Lusi meminta kau bertanggung jawab atas perbuatanmu?" Tanya Joseph. "Jika kau bilang tidak meminta tanggung jawabmu, bukankah itu artinya Lusi memang murni melindungi Renata?"
Marcel menggeleng lemah, menatap Joseph dengan kebingungan.
__ADS_1
"Tidak. Dia tidak meminta tanggung jawab sedikitpun dariku. Kau tahu, Jo? Lusi adalah orang yang memiliki prinsip, menjunjung tinggi nilai persahabatannya dengan Renata. Dia tak meminta tanggung jawabku, melainkan membiarkan aku bebas, dan juga ... ya kau tahu sendirilah bagaimana aku pasca malam itu." Jawab Marcel kemudian.
"Astaga. Tetapi jika kau berdiam diri tanpa berniat bertanggung jawab, kau tetap terlihat brengsek, di mata Lusi, maupun di mata Renata." Joseph menimpali.
"Ya. Dan itulah kenyataannya yang terjadi. Renata membenciku, Jo. Sangat membenciku. Rasanya sakit sekali dibenci oleh wanita yang selama ini kita cintai." Ujar Marcel.
"Hentikan semuanya, Marcel. Tidak sepatutnya kau melepaskan Lusi, setelah kau menikmatinya. Kasihan Lusi." Joseph menatap tajam sahabatnya.
"Aku juga tak tega sebenarnya, Jo. tapi pikir saja. Aku tak mencintai Lusi. Bagaimana mungkin aku menikahinya, sementara tak ada cinta diantara kami. Dan lagi, usiaku dan Lusi masih sama-sama muda. Tak mungkin bagiku untuk menikah dan menjalani rumah tangga dengannya. Aku tak siap. Andai itu Renata, aku tentu akan menginginkannya. Tetapi ini Lusi, Jo. Dia sudah seperti sahabatku. Aku tak bisa serta merta mencintainya meski aku telah .... " Marcel menghentikan kalimatnya, ketika sebuah suara datang menyela.
"Hentikan ucapanmu itu, Marcel. Aku tak menyangka, kau seorang bajingan sejati. Bisa-bisanya kau masih menginginkan aku yang sudah menikah dengan lelaki lain, sementara ada Lusi yang butuh tanggung jawabmu!" Renata tiba-tiba muncul dan membuat Marcel juga Joseph bungkam.
"Renata, kau .... " Marcel kaget bukan main.
"Ya. Aku datang padamu. Aku dan Lusi, mendengar semua isi hatimu, percakapan kalian dari awal!" Renata berteriak pada Marcel.
Renata hanya tidak tahu, bahwa Lusi terpaku di sebelah pintu ruangan Marcel.
**
__ADS_1