Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 15


__ADS_3

Sinar matahari pagi begitu cerah pagi ini. Suasana ibukota tetap ramai seperti biasa, penuh lalu lalang orang-orang yang hendak bekerja dan siap bertarung dengan aktivitas masing-masing. Bila biasanya ibukota diguyur hujan, tetapi berbeda dengan pagi ini


Beberapa hari berlalu semenjak Marcel diusir dari rumah Lusi oleh Renata. Lelaki itu tak kunjung datang mengunjungi Lusi lagi hingga hari ini. Beberapa hari ini pula, lelaki itu sangat khawatir dengan kondisi Lusi, namun egonya yang tinggi membuatnya tak boleh memikirkan Lusi.


Alhasil, Marcel lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pikiran jika ia tengah teringat Lusi. Biar bagaimana pun, pemuda itu memiliki kesimpulan bahwa Lusi sengaja melempar dirinya diatas ranjang Marcel. Jangan tanya bagaimana piciknya otak Marcel dalam menilai Lusi. Lelaki itu hanya tidak tahu, sekuat apa ikatan persahabatan Lusi dan Renata, hingga membuat Lusi berani mengambil risiko ini.


Beberapa hari tanpa Lusi, nyatanya membuat dunia Marcel baik-baik saja. Lelaki itu juga libur mengonsumsi kopi, semenjak Lusi tak hadir di kantor. Seperti pagi ini, tiba-tiba ia merindukan aroma khas kopi yang kental dan nikmat buatan Lusi.


Sambil mengancingkan lengan kemejanya, dan memakai jam tangan pada pergelangan tangannya, marcel menatap dirinya di cermin. Ruangan serba putih yang di dominasi warna abu-abu tua itu, membuat Marcel betah berlama-lama di kamar.


"Aku tak cukup buruk. Wajahku juga setampan papa. Jika Renata tak bersedia membuka diri dan menolak diriku mentah-mentah, aku pastikan aku lebih dari sekedar bisa mendapatkan yang lebih dari Renata. Lihat saja nanti." Marcel tersenyum miring.


"Lihat saja, siapapun yang mendekatiku di kantor, mulai hari ini aku akan meresponnya. Menunggu Renata dan menutup diri dari para gadis di kantor, sudah cukup aku lakukan. Sesekali bermain-main dan menikmati masa bebas, bukankah ini akan sangat menyenangkan?" Marcel kembali bermonolog.


Lelaki itu lantas meraih jas dan memakainya, tak lupa, Marcel menyemprot parfum pada bagian tertentu di tubuhnya. Setelahnya, Marcel berangkat ke kantor, dengan mengendarai mobil yang baru saja dibelikan oleh Mama, istri papanya.


Mobil itu merupakan hadiah ulang tahun dari Aridha, untuk Marcel. Tepatnya ulang tahun yang ke dua puluh dua. Sedang Alex sebagai ayah biologis Marcel, menghadiahkan lima persen saham di perusahaan milik Alex yang tengah dikelola oleh Alex. Lima persen adalah jumlah yang cukup besar tentu saja. Bahkan dengan saham lima persen itu, Marcel mendadak menjadi milyuner dalam beberapa bulan ke depan.


Setibanya di kantor, Marcel segera masuk ruangan dengan raut wajah datar. Kilat matanya menunjukkan keterkejutan, ketika ia mendapati Lusi tengah beberes di ruangannya, dengan keringat yang mengucur pada pelipisnya.


"Selamat pagi, Tuan." Lusi menyapa datar dan menganggukkan kepala tanda hormat. Marcel berpikir, karena ini area kerja yang menuntut untuk profesional.


"Pagi, Lusi. Kau sudah lebih baik?" Marcel bertanya datar. Jujur saja, ia masih menganggap Lusi sebagai teman baiknya. Hanya saja, anggapan Marcel terhadap Lusi, membuat Marcel merasa perlu menjaga jarak.

__ADS_1


"Sudah, Tuan." Lusi menjawab pelan. "Mau saya buatkan kopi?" Tanya Lusi balik.


"Boleh. Buatkan dengan komposisi seperti biasa, Lusi." Titah Marcel.


"Baik, Tuan." Lusi menjawab singkat, sebelum ia keluar ruangan Marcel dan membuatkan kopi untuk sang tuan.


Sejak Renata membuatnya sadar bahwa Marcel bukan lelaki yang baik, maka Lusi bertekad untuk menjaga jarak dengan Marcel. Begitupula dengan Marcel. Lelaki juga beranggapan yang tidak-tidak terhadap Lusi.


Begitulah keduanya, hingga mereka tak menyadari, bahwa mereka hanya salah paham. Mereka tenggelam dalam asumsi mereka yang mereka ciptakan sendiri. Kurangnya komunikasi antara keduanya, membuat hubungan mereka renggang sejak saat ini.


Hingga kopi telah tersaji di meja Marcel, tak ada basa-basi yang keluar dari bibir keduanya. Mereka layaknya bawahan dan atasan yang hanya saling membutuhkan, bukan layaknya sahabat seperti sebelum-sebelumnya.


Dan hal itu, akan berlangsung entah sampai kapan.


**


"Aku titipkan Marcel padamu, Tuan Araf. Tolong didik dia agar menjadi pewaris yang bisa diandalkan. Alex mengutarakan maksudnya.


"Pewaris? Bukankah kau hanya memiliki satu anak dari nyonya besar? Dan itu seorang putri?" Tanya lelaki yang dipanggil tuan Araf itu.


"Marcel darah dagingku, hasil pernikahanku terdahulu dengan wanita bernama Inora." Dusta Alex. Ia tidak mau, Inora dan Marcel menjadi bahan hujatan para kolega bisnisnya. Biar bagaimana pun, Alex tetap menjaga martabat dan kehormatan ibu dari putranya.


"Benarkah? Itu artinya, nyonya besar adalah istri kedua?" Araf bertanya.

__ADS_1


"Ya, bisa dibilang begitu. Namun, aku menikah dibawah tangan dengan ibunya Marcel. Dia juga sudah menikah dengan lelaki bernama Dion. Ayah Marcel." Alex menjawab tegas.


Sebagai seorang ayah yang baru menyadari kehadiran putranya di usia yang sudah beranjak dewasa, Alex ingin menebus semua kesalahannya. Kesalahan di masa lalu yang tidak disengaja. Selain menjaga nama baik Inora dan juga Marcel, Alex berniat untuk melakukan hal baik semampu dirinya.


Jejak masa lalu yang tak begitu baik, membuat Alex merasa menjadi pendosa. Pendosa namun ingin memperbaiki semuanya.


Harta, tahta, juga istri yang setia serta penyabar, adalah keberuntungan yang tuhan anugerahkan untuknya. Tidak salah jika saat ini di sisa usia Alex, Alex ingin mendedikasikan hidupnya untuk siapapun yang berkaitan dengan dirinya.


"Baiklah, tuan. Semua tergantung dengan kemampuan dan juga tingkat IQ tuan muda Marcel. Jika tuan Marcel menguasai materi dengan cepat, saya yakin hanya butuh satu setengah atau dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan. Tetapi jika tuan Marcel tidak seperti yang saya ekspektasi kan, mungkin bisa sampai tiga hingga empat tahun." Araf menerangkan.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik saja untuk putraku. Aku pasrahkan padamu, kapanpun kau akan memulai menaruhnya di universitas milikmu. Masalah biaya, aku dan istriku yang akan menanggungnya. Tetapi bolehkah bila seandainya, tolong katakan pada Marcel, bahwa ia mendapatkan beasiswa penuh saat masuk ke universitas." Pinta Alex.


"Baiklah, tuan. Itu bukanlah hal yang sulit." Araf tersenyum ramah.


"Baiklah jika begitu, tuan Araf. Saya permisi." Alex pamit undur diri. Lelaki itu segera menuju ke mobil, dimana Aridha dan Hesti sudah menunggunya.


Satu per satu rencananya sudah mulai di jalankan. Alex bersyukur dan merasa tak salah pilih istri. Aridha mendukung lebih pada apapun yang menjadi keputusannya.


"Bagaimana, sayang? Tuan Araf bersedia?" Aridha bertanya lembut.


"Tentu saja. Jangan khawatir. Dia akan segera melakukan rencana. Tolong bantu aku untuk membujuk Marcel, agar ia ikut apa yang sudah aku tetapkan." Pinta Alex kemudian, pada istrinya.


"Jangan khawatir. Semua akan beres di tanganku." Jawab Aridha.

__ADS_1


Hari ini, ketika Marcel dan Lusi saling menjaga jarak, rupanya disisi lain Marcel juga tengah dipersiapkan untuk menjadi pimpinan perusahaan.


**


__ADS_2