Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 17


__ADS_3

Bau pertama kali yang terendus penciuman Lusi adalah, bau obat-obatan dan juga bau desinfektan yang begitu menyengat. Tak hanya itu, ruangan yang didominasi warna putih dengan kelambu berwarna hijau tua itu, membuat perasan Lusi tidak nyaman.


Sayup-sayup Lusi mendengar suara isak tangis Renata dan Shila yang bersahutan. Wanita itu tersadar perlahan, mencerna apa yang tengah terjadi pada dirinya.


"Ren, dimana aku?" Lusi bertanya pada Renata yang tersedu-sedu di sampingnya.


"Kau di rumah sakit, Lusi. Kau sedang tak baik. Istirahatlah, aku akan menunggumu dengan Shila." Ujar Renata kemudian.


"Memangnya aku sedang sakit apa, Renata? kenapa sampai harus di rawat di rumah sakit? Biarkan aku pulang. Aku baik-baik saja." Lusi berkata dengan suara parau. Badannya terasa berat untuk digerakkan.


"Besok kau sudah bisa pulang, hanya saja untuk malam ini, kau perlu dirawat di rumah sakit meski hanya semalam saja. Sudahlah, jangan khawatir. Kita bicara besok saja." Renata berusaha menghindar, mengusap air matanya dan juga Shila.


"Katakan, Renata. Apa yang dokter katakan. Aku akan istirahat dengan tenang, jika aku sudah tahu aku sakit apa." Tegas Lusi. Meski suara Lusi terdengar pelan, namun Lusi sangat tegas, tak ingin dibantah.


Di tempatnya, Renata bingung harus berbuat apa. Wanita itu benar-benar tidak bisa bila harus mengatakan saat ini, tentang apa yang dialami oleh sahabatnya. Mau tak mau, Renata harus jujur juga perihal mengapa Lusi harus dirawat dulu di tempat ini.


"Darimana aku harus mengatakannya, Lusi?" Renata balik bertanya. Wanita itu sejujurnya sangat sakit mendapati fakta tentang Lusi. Semua yang menimpa Lusi, harusnya menimpa dirinya. Tetapi malah justru memimpa Lusi yang semakin menambah beban deritanya.


Lusi tampak terdiam, menunggu jawaban dari Renata yang bingung mau berkata apa. Berbagai kemungkinan buruk kini tengah menghiasi kepala Lusi. Sudah hidup serba kekurangan dan rumah harus menyewa, ditambah lagi beban biaya hidup bersama Shila, apakah mungkin Lusi juga tengah menderita sakit? Lusi tak bisa membayangkan.


"Katakan saja dari hal yang paling mudah dan paling simpel. Katakan, apa yang Dokter katakan tentang penyakitku? Apa ini kronis? Apa hidupku tak akan lama lagi?" Lusi bertanya dengan matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kau tengah hamil, Lusi." Kata Renata pelan. Shila yang sedikit paham tentang apa itu kehamilan, menangis dalam diam, menatap kakaknya dengan perasaan yang sulit Shila katakan.


Bak petir yang menyambar hati Lusi malam ini, Lusi lemas dengan wajahnya yang memucat seketika. Fakta menyakitkan mengenai kehamilannya, cukup membuat Lusi terguncang.


"Ha-Hamil?" Lusi mencicit lirih. Suaranya begitu pelan hingga menyerupai bisikan angin. Bahkan suara AC pun lebih keras daripada suara Lusi.


"Ya, dokter mengatakan kau tengah hamil sekarang. Maafkan aku, Lusi. Harusnya aku yang terjebak oleh pria sialan itu. Harusnya aku yang menderita. Kau, bahkan ujian hidupmu lebih berat dariku. Maafkan aku. Maafkan aku." Ujar Renata kemudian.


Sebagai satu-satunya sahabat yang Lusi punya, Renata merasa seperti memiliki tanggung jawab untuk menjaga Lusi dan Shila.


"Ya tuhan, ujian apa lagi ini?" Lusi menangis, menangis sekuat yang ia bisa, meski nyatanya ia seolah telah kehabisan tenaga.


"Kenapa bisa begini, Renata? Tidak cukupkah Tuhan memberiku ujian selama ini? Apa aku pernah melakukan dosa hingga aku harus merasakan sakit begini?" Lusi bergumam lirih, hingga pening tiba-tiba mendera kepalanya. Kesadaran Lusi mulai terkikis perlahan. Lusi pingsan lagi saat itu juga.


**


Beruntung Renata telah memberi tahunya bahwa tak ada yang tahu hal ini. Hanya Renata dan Shila saja yang tahu, tentang kehamilan Lusi.


Kini, menyesal pun tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi, dikembalikan pun tak mungkin bisa terjadi. Tak ada pilihan lain bagi Lusi, ia harus mengatakan hal ini pada Marcel.


"Lusi, kau tak tidur?" Renata menghampirinya, menatap Lusi yang terdiam sejak tadi. Bukan tidak tahu, Renata tahu betul bahwa Lusi masih syok saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tertidur Meski aku telah memejamkan mataku, Renata." Lusi menjawab dengan mengulas senyum.


"Tidurlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita bisa menemui Marcel dan bicara baik-baik dengannya tentang kehamilanmu. Sejahat-jahatnya Marcel, aku yakin ia masih memiliki hati yang baik. Yakinlah." Renata mencoba untuk menghibur.


"Tetapi aku tetap saja memiliki rasa ketakutan, Ren. Bagaimana jika nanti seandainya Marcel menolak mentah-mentah kedatanganku? Dia ... aku tak pantas untuk menjadi pendamping hidupnya." Tukas Lusi kemudian.


Sebagai wanita yang memiliki kondisi finansial paling mengenaskan, Lusi tahu diri siapa dan darimana dirinya berasal. Dibandingkan dengan Marcel, Lusi tak ada apa-apanya. Lusi selalu merasa rendah diri.


Ibarat bumi dan langit, Lusi dan Marcel seperti dua makhluk yang diciptakan untuk tidak saling bersinggungan. Marcel dari keluarga kaya raya berdarah biru. Sedang Lusi? Lusi hidup hanya berdua dengan sang adik. Tak jarang, ia kerap kali menahan lapar hanya demi agar adiknya memiliki perut kenyang.


"Ini bukan perihal pantas atau tidak pantas, Lusi. Tetapi ini tentang tanggung jawab seorang pria terhadap wanita. Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku memiliki keyakinan, bahwa Marcel tak akan menolak bayimu." Renata menatap Lusi penuh yakin.


Jika dilihat sekilas, Marcel dengan gayanya yang Hedon dan terkenal Flamboyan itu, memiliki sisi hati yang baik. Tentunya jika masalah kehadiran anak, Renata yakin Marcel pasti bertanggung jawab.


"Semoga saja Marcel benar-benar bisa menerima anak itu, Renata. Aku tak bisa membayangkan, akan jadi apa nasib. anakku ke depan, jika terlahir tanpa ayah." Lusi berkata.


"Yakinkan hatimu pada Tuhan yang sudah memberikan jalan, Lusi. Kau harus yakin, pasti Tuhan memiliki rencana lain untuk menyatukan kau dan Marcel, termasuk kehadiran anak kalian. Jika nanti Marcel berkilah dengan alasan umur ataupun tak ada cinta diantara kalian, maka akulah yang akan maju paling depan untuk menuntutnya." Janji Renata.


"Terima kasih banyak, Renata. Terima kasih banyak karena kau sudah banyak membantuku. Kau sahabat terbaikku." Lusi menarik Lusi, membawa sahabatnya itu dalam pelukan.


"Sekarang persiapkan dirimu sebagai seorang ibu, Lusi. Kau juga harus mempersiapkan mentalmu untuk bicara dengan Marcel. Jika kau meminta, aku selalu siap sedia membantu mm u untuk bertemu dan bicara dengannya." Tukas Renata kemudian.

__ADS_1


Renata sangat bersyukur dalam hati, ia tidak terlibat apapun lagi bersama Marcel. Renata bahkan masih membenci lelaki itu karena telah menyakiti hati Lusi. Lusi yang malang.


**


__ADS_2