
"Ibu." Marcel tiba-tiba datang, memeluk ibunya dari belakang ketika ibunya tengah menyiangi sayuran yang hendak dimasaknya. Sejak dulu, Inora tak pernah mau bila suaminya memiliki pembantu rumah tangga. Nora adalah orang dengan karakter sulit menerima siapa pun.
"Marcel, kau pulang? Apa kabar, nak? Ibu rindu sekali, sudah lama kita tidak pernah bertemu!" Inora membalikan tubuhnya, menatap putranya yang tiba-tiba datang dengan wajah sendu.
"Ada apa? Apakah kau sedang ada masalah?" Inora bertanya lembut.
"Ya, tentu saja ada masalah, Bu. Aku datang selain rindu pada ibu, aku juga ingin menceritakan sesuatu pada ibu." Ungkap Marcel kemudian.
Refleks Inora memicingkan mata, menatap putranya yang terlihat lain saat hari ini.
"Ada apa, nak? Katakan pada ibu apa yang kau alami, apa yang kau rasakan, juga apa yang membuatmu tertekan. Ceritakan pada ibu, apa yang terjadi?" Inora menangkup kedua pipi putranya setelah mencuci tangan.
"Aku akan istirahat sebentar, Bu. Ibu bisa melanjutkan memasak." Marcel berbalik pergi, meninggalkan Inora yang kebingungan.
'Ada apa dengan anak itu?'
Ibu Marcel lantas mengehentikan aktivitasnya. Wanita itu segera menyusul putranya yang tengah duduk bersandar pada sofa, menatap ke arah plafon, lalu memejamkan matanya.
"Ada apa, nak? Bolehkah ibu dengar ceritamu sekarang?" Tanya Inora. Wanita itu menatap putranya yang tampak kacau.
Marcel mengangguk, menatap ibunya dan berpikir, darimana ia harus menceritakan semua masalahnya. Sedang Inora, ia menunggu dengan sabar, menatap putranya yang tengah kacau.
Dulu, Inora sempat berniat menggugurkan kandungannya, yakni Marcel. Tetapi Dion yang datang secara tiba-tiba dalam hidupnya, menawarkan surga dan banyak hal yang Inora inginkan, juga Nora butuhkan. Dion menyelamatkan Marcel dan Inora bertahun-tahun silam, hingga saat ini.
"Katakan saja ada apa," Ujar Inora kemudian.
"Bu, berjanjilah ibu tak akan mengamuk padaku, jika aku menceritakan semua masalahku pada ibu." Ujar Marcel kemudian. Lelaki itu seperti tak siap menceritakan. Bahkan sekalipun itu pada ibunya.
"Ya, semua itu tergantung. Jika kau menjahati orang lain, Ibu tak akan segan-segan menghabisimu." Inora menatap Marcel tajam.
__ADS_1
Dion, sang ayah datang tiba-tiba. Lelaki yang menjadi suami ibu kandung marcel itu, merasakan aura yang tak nyaman di dalam rumah ini. Entah apa itu, tetapi yang jelas, Dion mencium aroma sedikit perseteruan.
"Ada apa ini? Marcel, kau sejak tadi, sayang?" Sapa Dion pertama kali pada Marcel."
"Ayah, belum lama ini aku datang." Marcel menjawab seraya mengulas senyum. Marcel mulai canggung, gugup dan hatinya ketar-ketir.
"Ada apa, sayang?" Sapa Dion pada Inora. Tentu Inora menyambutnya dengan baik.
"Entah, Marcel tiba-tiba memintaku berjanji untuk tidak memarahinya, jika ia menceritakan masalahnya. Aku hanya menjawab, selama ia tidak menjahati dan menyakiti hati orang lain, aku tak akan marah. Tetapi jika ia menyakiti orang lain, aku tak akan segan-segan menghabisinya." Inora menjawab santai.
Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan Marcel, tentunya Inora bisa merasakan apa yang tengah dirasakan putranya. Ikatan batin antara ibu dan anak, tentu lebih kuat daripada anak dengan ayah, terlebih, Dion bukanlah ayah kandung Marcel.
"Ada apa, Marcel? Apa ada masalah? Ceritakan pada ayah, ayah akan membantu mencarikan solusi untukmu." Ujar Dion.
Marcel mulai gelisah, bergerak-gerak tak nyaman di tempatnya. Tanpa Marcel sadari, sang Ibu sudah mulai membaca gelagat tak nyaman darinya
Meski Marcel besar di asrama, tumbuh tidak dalam lingkungan keluarga, namun Inora tahu dan kenal betul bagaimana karakter dan gelagat putranya.
"Aku, aku sedang, em ... aku sedang terlibat masalah dengan seorang wanita, Bu. Bagaimana menurut ibu?" Marcel berusaha mengulur waktu, bertele-tele dan tidak mengatakan secara gamblang.
"Masalah? Masalah apa? Jika Masalah dengan seorang wanita, ya itu mudah, selesaikan. Kau sudah cukup dewasa, Ibu tahu kau anak pintar, yang tak butuh banyak waktu untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Sekarang katakan pada Ibu, jangan bertele-tele, apa masalahnya?" Inora bertanya.
"Aku, aku sudah menghamili seorang gadis, Bu." Marcel menunduk, suaranya mencicit lirih karena ia seperti tidak siap menerima kemarahan ibunya. Jujur saja, kelemahan Marcel terletak pada ibunya.
Bak petir yang menyambar hati seorang Ibu seketika itu juga. Selain Inora, Dion juga tak kalah terkejutnya. Kedua orang tua itu tidak percaya, dengan apa yang putra mereka katakan, hanya saja, inilah kenyataannya.
"Apa? apa yang kau katakan, Marcel? Kau bercanda?" Inora terpekik. Dion hanya terpaku di tempatnya, terlalu syok dengan matanya yang berkedip beberapa kali.
"Tidak, Bu. Aku mengatakan yang sebenarnya, aku sudah menghamili seorang gadis." Ujar Marcel. Lelaki itu lantas mengeluarkan sebuah amplop berisikan lembaran hasil pemeriksaan, dengan nama Lusi Asmarani, yang tengah berusia sembilan belas tahun.
__ADS_1
Inora menutup mulutnya tak percaya. Matanya yang bulat, semakin terbuka sempurna karena melotot pada tulisan kertas hasil pemeriksaan rumah sakit itu.
Marah, murka, emosi yang sudah terlanjur menggulung hati Inora, kini tak bisa Inora tahan. Wanita itu lantas bangkit, menghampiri Marcel dan menampar keras putranya itu beberapa kali.
"Bajingan, kau Marcel!" Umpat Inora. Nafas wanita itu memburu, seiring dengan air matanya yang tumpah ruah, Ia tidak ingin, apa yang dialami Inora di masa, dialami juga oleh wanita yang bernama Lusi Asmarani itu.
Mungkinkah Marcel tengah menerima karma dari kedua orang tuanya?
Disaat yang bersamaan, Alex datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Lelaki itu sangat terkejut, ketika terdengar suara teriakan Inora dari dalam rumah. Suara gaduh dengan disertai suara perabotan yang pecah, membuat Alex takut terjadi sesuatu hal yang buruk di rumah Inora.
Dan alangkah terkejutnya Alex, ketika mendapati Inora tengah menghajar putra kebanggaan dan kesayangan Alex itu. Tak hanya itu, Dion sudah tampak mencegah dan menghadang Inora, namun Inora tetap kalap dan kesetanan untuk menyerang anaknya.
"Ya Tuhan, Inora. Apa yang tejadi?" Alex mematung di tempatnya, menatap Inora tanpa bisa melangkah akibat syok.
"Anakmu. Anakmu sudah berubah menjadi lelaki bajingan, Alex. Dia itu brengsek!" Hardik Inora pada putranya. Marcel hanya diam, menundukkan kepala tanpa berani menatap siapapun.
"Tuan Alex kumohon, bantu aku menenangkan Inora. Kasihani Marcel." Pinta Dion kemudian. Bahkan Dion yang sudah berusaha melerai istrinya dan Marcel, beberapa kali mendapat pukulan Inora.
Marcel sendiri tidak ingin menolak. Ia pasrah menerima kemarahan sang Ibu, dengan wajahnya yang sudah pucat pasi.
Dengan cepat, Alex memisahkan Inora dari Marcel, menatap Inora dengan penuh khawatir.
"Nora, tenanglah. Jangan membuat anak kita babak belur. Mari bicara dengan tenang, katakan apa yang terjadi." Alex berkata.
"Putramu, Alex. Putramu sudah menghamili anak gadis orang. Kenapa? Kenapa sikap bajinganmu itu kau turunkan pada putraku? Kenapa?" Teriak Inora, masih dengan mata menyala penuh murka, dan suara yang berteriak kesetanan.
Alex syok bukan main.
**
__ADS_1