Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 47


__ADS_3

Tubuh besar bukanlah jaminan untuk seseorang memiliki keberanian untuk melawan. Usia dewasa bukanlah jaminan seseorang akan sanggup menghadapi ancaman. Nyatanya, Renata tak berkutik ketika nama Praja Bekti disebut oleh Hesti sendiri.


Bahkan andai Hesti menendang Renata, Renata tak akan melawan demi masa depannya. Sayangnya, Hesti memang barbar, namun tak akan melakukan hal itu. Sebenci-brncinya pada Renata, Hesti mencoba untuk meredamnya, sekalipun ada keinginan untuk mencakar wajah Renata yang penuh dengan kepalsuan.


"Hesti, cukup. Ayo kita pergi. Jangan kotori tanganmu dengan meraih kulit murah ini," ajak marcel dengan suara dingin. Rasanya, tak mungkin lagi ada toleransi untuk Renata setelah ini.


"Pantas saja kau dicerai oleh suamimu, Renata. Kau bukan hanya mengkhianati kak Lusi dan Marcel, tetapi kau juga tak mampu menjaga martabat dan kehormatan sebagai perempuan. Setelah ini, semoga saja kau tidak menemukan laki-laki yang bersifat serupa denganmu!" Seru Hesti seraya menatap tajam Renata.


"Siapa mereka, Renata?" tanya lelaki tinggi yang tadi membukakan pintu. Tatapan matanya penuh tanya, dan memiliki aura jenaka yang menyenangkan.


Renata tak menjawab, melainkan mencoba untuk mengulur waktu untuk sebuah jawaban.


"Nanti, aku akan menjelaskan padamu," jawab Renata lirih.


Sejujurnya, Renata memiliki perasaan yang luar biasa untuk Marcel. Wanita itu mencintai Marcel, dengan caranya. Hanya saja, belakangan Marcel selalu dingin dan seolah memasang jarak antara dirinya dan Marcel sendiri.


Sejak dulu, Renata adalah wanita yang tak suka sendiri, dan pembenci sebuah rasa kesepian. Tak heran, dirinya kerap kali melampiaskan hasrat, dengan cara mengencani lelaki secara random yang bersedia mengencaninya. Mirisnya, Lusi tidak tahu dengan karakte Renata yang satu ini.


Tiga tamparan saja sudah cukup Renata terima dari Hesti. Tetapi jangan salah, tamparan yang bahkan menyisakan merah ruam akibat kuku Hesti yang lentik itu, akan menyisakan perih hingga beberapa hari ke depan.


"Ayo," ajak Marcel lagi. Lelaki itu sudah dingin, tak lagi memiliki kehangatan dan senyum untuk renata. Tatapan matanya tak lagi menyiratkan benci, namun suaranya sedingin kutub Utara. Menurutnya, semua tentang Renata telah usai. Tak boleh ada lagi hubungan ataupun tegur sapa.

__ADS_1


Hesti mengekor di belakang Marcel, masih menatap Renata dengan raut wajah tak terbaca. Sungguh dongkol rasanya, meski hanya sekadar melihat wajah Renata. Andai Lusi tak menjadi korban, Hesti tak akan semarah ini, tak akan ikut campur dan tak akan menghajar Renata.


Marcel dan Hesti melangkah keluar dari kamar yang Renata tempati. Keduanya lantas mengisyaratkan pengawal yang tiba-tiba sudah menunggu di depan pintu, dan dua lagi berada di luar di dekat mobil Marcel. Marcel saja tak habis pikir dibuatnya.


"Kau tahu sendiri, bukan? Bahkan Tuhan telah membuka tabir buruk Renata tanpa menunggu waktu lama. Bersyukurlah, kau masih diberi Tuhan kesempatan, untuk bisa kembali menatap wajah kak Lusi setelah ini. Andai Papa benar-benar tak memaafkan mu, aku pastikan kau sudah dicerai paksa oleh Papa dari Kak Lusi," kata Hesti, ketika dirinya dan Marcel, sudah sama-sama berada di dalam mobil.


"Ya, terima kasih sudah memberitahuku tentang bagaimana sifat buruk Renata. Aku benar-benar tak mampu memaafkan Renata. Fokusku selain bekerja dan menyelesaikan pendidikan, adalah menggapai hati Lusi," jawab Marcel kemudian, "aku akan berjuang untuk meraih hatinya, dan bersedia mencintainya seumur hidupku."


Lelaki itu berkali-kali menghembuskan napasnya kasar. Sungguh, penyesalan yang terlambat itu, datang tanpa bisa dicegah.


Tiba-tiba saja, Marcel teringat akan tangisnya Lusi terakhir kali, sebelum Papa Alex membawanya pergi.


"Kali ini kau harus serius, Kak. Jangan lagi banyak bermain di luar. Kau calon ayah yang sebentar lagi akan dipanggil Papa. Kau harus bersyukur, kak Lusi mencintaimu dengan tulus. Setelah kejadian ini, aku harap kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama agar tak merugi," ujar Hesti, "semoga saja, kak Lusi masih bersedia membuka hatinya untukmu."


"Terima kasih, Hesti. Hari ini jasamu begitu berharga besar untukku. Aku berjanji, Lusi tak boleh jatuh ke tangan lelaki lain. Hanya aku yang boleh memilikinya," tutur marcel seraya tersenyum tulus.


"Balaslah jasaku ini, dengan cara membahagiakan Kak Lusi," jawab Hesti. Marcel lantas membawa adiknya itu ke dalam pelukan. Meski telah remaja, namun Hesti tetap adik kecil miliknya, yang kedudukannya tentu saja sama dengan Yasmin, adik Marcel yang terlahir dari pernikahan Inora dan Dion.


**


Seperti sebuah mimpi, permintaan dan keinginan terpendam Lusi, akan segera terkabul tanpa menunggu waktu lama. Kerinduan ingin bertemu dengan sang suami, siapa yang mengira Alex segera memberinya izin.

__ADS_1


Siang nyaris merambah sore, ketika Lusi tengah berada di teras depan. Ada Alex dan istrinya yang belum lama tiba. Lengkap rasanya bila dikelilingi oleh orang-orang baik yang banyak mengasihi dirinya. Hanya saja, Marcel tak ada, seperti ada yang masih Lusi tunggu.


Ada marah yang masih tersisa di hati Lusi untuk Marcel. Tetapi ingin bertemu juga sama kuatnya dengan kemarahan Lusi. Hanya saja bila dipikir-pikir, Lusi tak ingin Marcel tertekan dan tak nyaman sebab dirinya.


"Lusi, kau disini? Ayo masuk? Udara di luar sangat dingin," ajak Aridha, yang membawa kain tebal, dan ia lampirkan pada bahu Lusi, "kau menunggu Marcel?" tanya Aridha kemudian.


"Tidak," jawab Lusi tersenyum.


"Kau yakin?" tanya Aridha lagi. Lusi hanya lupa, pada Aridha, ia tak akan pernah bisa berbohong.


"Sangat yakin,"


Baru saja Aridha ingin bicara lagi, mobil sport Marcel melaju sedang menuju ke rumah mereka. Meski awalnya Alex tak memberi izin untuk Marcel dan Lusi bertemu, namun kali ini Inora dan Dion begitu memaksa, agar Alex diizinkan saja untuk bertemu dengan istrinya.


"Lihat, dia datang. Kau merindukannya, bukan? Mari masuk. Nanti akan ada saatnya kau dan suamimu untuk bicara," ajak Aridha, menggandeng tangan Lusi dan menuntunnya agar segera masuk.


"Entah, ma, aku sedang tak ingin bicara dengan Marcel," jawab Lusi seraya ikut melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mengapa begitu? Raut wajahmu mengisyaratkan rindu pada suamimu, tetapi mengapa tak mau bicara dengannya?" tanya Aridha tak mengerti.


"Karena aku hanyalah beban untuknya. Aku tak mau membuatnya tertekan dan tak nyaman karena harus kembali padaku," jawab Lusi, seraya melangkah cepat, melepas genggaman tangan Aridha dan segera melangkah menuju kamar.

__ADS_1


Lusi tak mengerti dengan hatinya sendiri saat ini. Mana bisa dia rindu Marcel, tetapi tak ingin bicara dengan lelaki itu. Bahkan Lusi sendiri saja tak mengerti dengan perasaannya.


**


__ADS_2