Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 14


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, ketika Lusi membuka matanya secara perlahan. Keberadaan Renata cukup membuat Lusi terkejut. Wanita itu masih nampak pucat, dengan bulu matanya yang bergetar samar tanda ia masih tak sehat.


Renata duduk dengan cemas, memandang sahabatnya dengan perasaan nelangsa. Hatinya tak tega, dengan badai yang dihadapi oleh sahabatnya itu. Jalinan persahabatan yang cukup lama, membuat keduanya saling terikat batin layaknya saudara kandung. Bahkan yang saudara sekandung saja, belum tentu bisa sedekat Renata dan Lusi Asmarani.


"Kau sudah bangun, Lusi? Apa yang kau rasakan? Kita ke rumah sakit?" Tanya Renata kemudian.


Sejak tadi, Renata sudah berniat membawa Lusi ke rumah sakit, memeriksakan kondisi Lusi yang belakangan mudah drop. Hanya saja, ia takut Lusi malah memakinya nanti.


"Tidak. Aku baik-baik saja, Ren. Sejak kapan kau datang?" Lusi bertanya pelan. Mata wanita itu beralih menatap Shila yang menatapnya cemas.


"Kakak, kita ke dokter saja, ya? Aku khawatir nanti justru sakit Kakak semakin parah." Shila berusaha membujuk Lusi. Gadis kecil itu hanya punya Lusi sebagai saudara. Orang yang paling panik ketika Lusi pingsan, adalah Shila, satu-satunya yang menangis dan benar-benar takut kehilangan Lusi.


"Tidak usah. Kakak akan segera baik setelah ini." Lusi menolak ajakan Shila.


"Aku datang sejak tadi, menungguimu dan mengusir Marcel pulang dari sini." Renata berkata lembut.


"Kau ... mengusir Marcel?" Tanya Lusi. "Kenapa kau mengusirnya?"


"Shila, belilah bubur atau makanan apapun untuk makan malam kita bertiga. Ini uangnya, bila ada kembaliannya, kau bisa memakainya untuk bekal sekolahmu besok." Perintah Renata seraya menyerahkan selembar uang berwarna merah pada Shila. Tentu saja Shila menyambut baik pemberian Renata.


"Baiklah, kak." Shila bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Renata dan Lusi hanya berdua.


"Buka matamu lebar-lebar, Lusi. Tidak tahukah kau bagaimana dia memanfaatkan dirimu? Aku memperbolehkan dia datang kemari, setelah ia memutuskan untuk menikahimu. Lelaki brengsek seperti dia, tidak pantas terus disini jika ia hanya menuduh dirimu menginginkan dirinya. Lihat, dia sebegitu dangkalnya menilaimu. Jika benar dia sahabatmu, dia tak akan sepicik itu. Dia hanya baik di permukaan, Lusi."


Renata berkata lirih.

__ADS_1


"Benarkah begitu, Ren?" Lusi bertanya serius. Wanita itu benar-benar tidak menyangka, Marcel akan menjahatinya.


"Jika dia baik padamu, dia akan mengesampingkan usia dan cinta yang belum tumbuh, untuk bertanggung jawab. Apa aku masih kurang jelas, Lusi? Perlukah aku memperjelas kalimatku?" Renata menatap tajam Lusi.


Lusi menangis di dalam pelukan Renata. Wanita itu begitu rapuh, hingga ia butuh sandaran. Beruntung Renata telah merangkulnya, memberikan tempat ternyaman untuknya berkeluh kesah.


"Lalu, lalu aku harus bagaimana, Renata? apakah aku harus memintanya bertanggung jawab? Aku tidak mau mengemis cinta pada lelaki. Aku hanya punya Shila sebagai keluargaku, aku tak ingin karena diriku, Marcel melakukan hal buruk padaku hingga berdampak pada Shila." Ujar Lusi. Wanita itu terus menangis di dalam pelukan sahabatnya.


"Tenanglah, Lusi. Kita akan cari solusinya bersama-sama. Hanya saja, biar bagaimana pun, Marcel harus bertanggung jawab. Harus!" Renata berkata dan tak terbantahkan. Ia tidak mau, jika Marcel bisa bebas lepas tanpa mempedulikan sahabatnya, Lusi.


**


Di sebuah sudut apartemen, marcel tengah duduk berdua dengan sang adik dari papanya, Hesti. Gadis remaja itu sengaja datang berkunjung, karena di rumah merasa kesepian. Selain itu, Hesti ingin bisa lebih dekat dengan sang kakak, Marcel.


Putri tunggal dari pernikahan Aridha dan Alex, memiliki banyak prestasi dalam dunia beladiri, dan juga memiliki keahlian memanah seperti ibunya. Di usia tujuh belas tahun, bahkan Hesti sanggup memanah burung yang tengah terbang di udara bebas.


Hesti menunjuk sebuah rantang dari merek ternama. Marcel yakin, harganya pun pasti mencapai jutaan.


"Kau sangat pintar, adik manis. Oh ya, lain kali boleh, kan, jika aku memintamu mengajariku berlatih beladiri?" Tanya Marcel.


Sejujurnya, Marcel dulu hanya diajari praktik kekuatan tubuh seperti olah raga. Melihat Hesti yang bahkan dengan lincah menunjukkan keahliannya, membuat Marcel tertarik juga lama-lama.


Hesti tertawa renyah, "Kak Marcel, tentu saja aku bersedia. Bagaiman bila begini saja, kak Marcel bisa bergabung dalam klub yang aku ikuti. Kita bisa belajar sama-sama, nanti." Ujar Hesti kemudian.


Marcel ragu. "Apa bisa begitu?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Hesti akan meminta papa agar papa membantu nanti. Jangan khawatir. Lagipula, semua keturunan praja Bekti, diwajibkan untuk bisa bela diri. Kakak tahu sendiri bagaimana musuh-musuhnya Oma yang berusaha menjatuhkan bisnis Oma dan opa, mereka bisa menculik anak cucu Oma sebagai tawanan." Jawab Hesti.


"Baiklah, baiklah. Aku akan makan dulu." Marcel bangkit menuju ke pantry dan melahap makanan yang Hesti bawa. Tentu saja dengan disertai dengan candaan ringan.


Hingga tiba-tiba saja, Marcel teringat akan sesuatu. Bayangan Lusi tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Padahal, baru saja Marcel pulang dari rumah Lusi. Sebersit tanya, muncul dalam kepala Marcel, bagaimana kabar Lusi sekarang? Apakah dia sudah terbangun dari pingsannya?


"Kak, mengapa Kak marcel tiba-tiba melamun?" Tanya Hesti kemudian.


"Aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja. Dan itu tanpa sengaja." Marcel menjawab lirih.


"Sesuatu apa?" Hesti kembali melontarkan tanya.


"Hesti, pernahkah kau jatuh cinta?" tanya Marcel dengan konyolnya. Hesti yang ditanya pun, menampakkan wajahnya yang plonga-plongo.


"Kakak ini bagaimana? Mengapa bertanya pada Hesti? Bukankah kak marcel lebih dewasa dari Hesti?" Sahut Hesti balik melempar tanya.


"Entahlah." Marcel bungkam, memikirkan Renata dan Lusi secara bersamaan. Ia yang semula begitu gencar dan menggebu-gebu dalam keinginan mendekati Renata, kini justru terfokus pada Lusi sejak kejadian malam itu.


"Apa jangan-jangan, kak Marcel baru jatuh cinta, ya? Jangan khawatir, berita ini akan sampai pada papa sebentar lagi " Hesti tertawa geli, mengira bahwa si kakaknya itu sedang jatuh cinta.


"Jangan macam-macam. Aku masih terlalu muda, juga mau melanjutkan kuliah. Lagipula ini bukan jatuh cinta, hanya penasaran saja, bagaimana rasanya orang jatuh cinta." Sergah Marcel.


"Kata teman-temanku kebanyakan, mereka mengatakan bahwa jatuh cinta itu selalu rindu jika sehari saja tak bertemu. Bukan hanya itu, ketika yang dicintai dekat dengan lelaki lain, ada rasa cemburu yang tiba-tiba muncul. Ya, seperti itulah kira-kira." Hesti menceramahi Marcel.


Marcel menganggukkan kepalanya beberapa kali, mencerna apa yang baru saja diknga itu katakan. Lelaki itu tengah bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia jatuh cinta sungguhan terhadap Renata? Lantas, mengapa belakangan justru ia sering memikirkan Lusi?

__ADS_1


**


__ADS_2