
Hari demi hari berganti, Marcel melaluinya dengan kesibukan yang luar biasa. Jadwalnya bahkan sangat padat sedari lelaki itu bangun tidur, hingga matanya kembali terpejam.
Sengaja Marcel menyibukkan diri, untuk mengenyahkan pikiran tentang Lusi. Itu adalah satu-satunya cara agar Marcel terhindar dari bayangan Lusi.
Rindu? Mungkin iya. Marcel tak akan menangkis untuk saat ini. Selama tiga bulan menjalani hidup tanpa Lusi, ada yang hilang dari sudut hati lelaki itu. Satu-satunya cara adalah, pekerjaan dan kuliah sebagai pelariannya.
Jangan pernah tanyakan bagaimana Renata. Wanita itu benar-benar kesulitan menemui Marcel. Jangankan untuk menemui, bahkan untuk menghubungi saja, Marcel tak pernah memberikan respon.
Malam nyaris memasuki dinihari, ketika Marcel baru selesai menyelesaikan pekerjaannya. Lelaki itu mengenakan jaket tebal, beserta topi kupluk, sebelum ia menuju ke balkon dan menghabisi berbatang-batang rokok disana.
Lelah tentu saja ada, namun Marcel sulit memejamkan mata, semenjak Lusi menghilang dari hidupnya. mencari kesana kemari, bertanya pada empat orang tuanya yang bungkam, juga Hesti yang selalu menjawab, "tidak tahu, tanya saja pada Papa," memuat Marcel nyaris putus asa.
Apakah dalam tiga bulan ini Marcel menghentikan pencarian? Jawabannya adalah tidak. Marcel tak pernah menghentikan pencarian, melalui orang-orang yang ia bayar untuk menemukan Lusi. Sampai kapanpun, Marcel akan terus mencari Lusi, dan mendapatkan wanita itu.
"Dimana kau sekarang, Lusi? Aku ingin kau pulang, kembalilah padaku. Bulan-bulan ini, kau akan melahirkan, bukan? Kembali, pulanglah, biar aku temani dan aku rasakan sakitmu," lirih Marcel, seraya terus menyesap rokoknya.
Keberadaan Lusi telah Marcel abaikan, namun kepergian wanita itu, kini Marcel sesalkan. Bahkan kehadiran Renata tak juga menjadi kepuasan baginya.
Seperti ada yang kurang, seperti ada ruang hampa yang sengaja menyiksa batin Marcel.
**
Pagi buta kali ini, kediaman Aridha terlihat lebih lengang. Tak pernah sebelumnya, Marcel nekat datang sepagi ini untuk mengunjungi Alex dan membicarakan sesuatu hal.
Seolah tiada lelah, Marcel datang dengan sebuah niat. Meski semalam matanya terjaga, namun Marcel tak mengantuk sama sekali.
__ADS_1
"Marcel, sejak kapan datang?" tanya Aridha sambil menguap, dan masih mengenakan piyama tidurnya.
"Baru saja, Papa ada?" tanya Marcel kemudian.
"Ada, tapi masih tidur. Apa perlu dibangunkan?" tanya Aridha kemudian.
"Marcel ingin bicara dengan Papa," jawab Marcel.
"Tentang apa?" tanya Aridha menghampiri Marcel, dan menaikkan sebelah alisnya.
Kini, keduanya duduk di ruang tamu.
"Tentang Lusi," jawab Marcel.
"Baiklah, Mama akan panggilkan Papa untukmu," Aridha yang lantas bangkit, "ayo, ikut Mama ke ruang keluarga di lantai ata," ajak Aridha kemudian.
Marcel mengangguk, dan menyusul Aridha. Lelaki itu benar-benar khawatir, jika ia tak bisa mendapatkan info mengenai keberadaan Lusi.
"Ada apa?" tanya Alex, ketika ia keluar kamar dan sang istri membangunkan. Lelaki itu lantas duduk di kursi utama di ruang keluarga.
Wajah Alex basah, pertanda baru selesai membasuh wajah. Piyama tidurnya juga senada motifnya dengan piyama sang istri tadi. Kalung emas yang menggantung pada lehernya, membuat Alex tampak kian maskulin.
"Pa, Marcel kemari ...."
"Mau membicarakan sesuatu tentang Lusi, dan meminta informasi mengenai dimana dia tinggal? Sudah Papa bilang, Papa tidak tahu," ujar Alex menyela, seraya menahan senyum.
__ADS_1
Meski jengkel, namun, tetap saja Alex tak tega sebenarnya. Sayangnya, Alex harus tetap bertahan untuk memberi pelajaran Marcel agar tak mudah goyah.
"Papa selalu menjawab begitu. Ayolah, Pa. Marcel sangat ingin bertemu dengan Lusi," ungkap Marcel dengan nada mengiba.
"Untuk apa? Untuk menebus kesalahan, untuk sekadar mengobati rindu? Atau ... untuk sekadar memanfaatkannya saja?" tanya Alex.
"Untuk kembali bersama, Pa. Marcel mohon pada Papa, Marcel ingin sekali bertemu dengannya, meski hanya sebentar saja," jawab Marcel.
Mau tak mau, Marcel tetap harus meneguhkan hatinya untuk mengiba pada Alex. Melawan lelaki itu, sama halnya ia siap kehilangan Lusi selamanya.
"Untuk kembali bersama, ya? Memangnya, untuk apa kebersamaan itu, Marcel? Jika kau butuh wanita, toh ada cintaku, Renata yang bisa membersamai. Sudahlah, jangan membuang waktu papa yang berharga," ungkapan Lex kemudian.
"Kebersamaan untuk apa? Tentu saja karena marcel selalu kepikiran dengan Lusi, dan dia juga masih istriku, Pa. Memangnya untuk apa lagi ? Marcel mohon, Marcel sangat merasa bersalah dan ingin sekali bisa menemuinya, meminta maaf dan membangun kembali rumah tangga yang sehat, bersama anak kami," ujar Marcel kemudian.
"Urungkan saja niatmu, Marcel. Kau hanya merasa bersalah pada Lusi, dan Lusi juga berhak untuk bahagia. Sudahlah, kembalilah pada Renata. Kau bisa mendapatkan anak darinya, wanita yang kau cintai. Jelas sekali, disini kau tidak mencintai Lusi dengan tulus. Eksistensi Lusi di hatimu, hanyalah sebab kehadiran anak diantara kalian," sahut Alex, seraya meneguk air putih yang Aridha berikan baru saja.
"Pa, Marcel mohon, Marcel sangat mencintai Lusi," ungkap Marcel dengan suara lirih.
"Pulanglah ke tempatmu, Marcel. Renata lebih kau butuhkan sebab kau menggilai wanita itu, dan Lusi tak lebih dari sekadar figuran dalam hidupmu!" tegas Alex kemudian. Tatapan mata lelaki paruh baya itu tajam memandang Marcel.
"Tidak, Pa. Aku mencintainya. Bukti apa yang Papa ingin, agar Papa percaya, jika aku benar-benar mencintai Lusi?"
Marcel tak memiliki kesempatan lama, untuk kembali meraih hati Lusi. Ada anak yang harus Marcel perjuangkan, agar ia tak semakin merasa berdosa pada Lusi.
**
__ADS_1