Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 45


__ADS_3

"Lusi, kau merindukan suamimu?" tanya Dion kemudian, membuat Lusi hanya bisa mematung.


Rindu?


Rasanya Lusi ingin sekali membuang kata itu jauh-jauh dari hidupnya. Tetapi sayangnya, perasaan dan batin wanita itu tidak bisa menyangkal sama sekali, bahwa memang rindu itu benar adanya. Entah sudah berapa lama Lusi tidak menjumpai lelaki itu, Lusi tak sedia menghitungnya. Hanya saja, kebiasaan melayani Marcel dengan baik, kerap kali menjadi sebuah hal yang sangat ingin Lusi lakukan lagi.


Apakah Marcel baik-baik saja? Lusi penasaran sampai sekarang, apa mungkin Marcel tidak mencarinya? Terakhir dirinya berjumpa dengan suaminya itu, adalah ketika dirinya dan Marcel bertengkar di apartemen Marcel.


Mengingat hal itu, kembali menjadi sebuah momen yang menyayat hati. Perselingkuhan Marcel dengan Renata, Lusi merasa sakitnya berlipat.


"Tidak," jawab Lusi seraya tersenyum. Sayangnya, Lusi bukanlah wanita yang pandai berbohong dan menipu semua orang. Baik Inora maupun Dion, mereka sama tahunya, jika Lusi membohongi mereka.


"Mulut boleh bicara tidak, perlakuan bisa menipu dan menyangkal, tetapi sorot mata tak akan membodohi siapapun. Lusi Ibu tahu, nak, kau sedang membohongi kami. Katakan saja yang sejujurnya. Sekalipun kau merindukan Marcel, itu bukan masalah besar bagi kami," Inora menjawab, seraya tersenyum. Tangan kanan wanita itu terulur, mengusap puncak kepala Lusi penuh kelembutan dan kasih sayang.


Lusi tak berkutik, sebab dirinya tertangkap basah telah berbohong.


"Ayah juga mengerti perasaanmu, nak. Cintamu, rasanya begitu besar untuk putra kami. Jika kau ingin bertemu dengannya, Ayah akan coba bicarakan dengan Papa Alex. Mungkin saja nanti kau diizinkan berbincang meski hanya beberapa menit. Jangan khawatirkan apapun," ujar Dion.


Lusi hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang malu.


"Lusi tidak tahu, Ayah. Beberapa malam terakhir, Lusi sering bermimpi tentang Marcel," ungkapnya.


"Itu wajar. Mungkin sebab Marcel juga merindukanmu, atau bisa jadi, itu sebab bawaan bayi yang kau kandung. Pesan Ayah, jangan sembunyikan apapun, juga jangan segan jika kau ingin sesuatu. Katakan saja, kami pasti akan memenuhinya," tambah Dion.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayah. Jika bicara tentang rindu, istri mana yang tak rindu suaminya? Hanya saja, Lusi tak bisa bila harus bertemu Marcel sekarang, meski rindunya sudah semakin berat. Lusi tak ingin, memaksakan Marcel bisa bersama Lusi, sementara hatinya untuk wanita lain. Tidak apa-apa, asal Marcel bahagia dan bisa tersenyum, Lusi tak keberatan bila harus mundur untuk mengalah," jawab Lusi panjang lebar.


Hati Inora berdenyut sakit seketika. Ibu mana memangnya, yang kuat mendengar pengakuan yang begitu menyayat hati?


Dulu, Inora juga merasakan hal serupa dengan yang Lusi rasakan. Sewaktu masih mengandung Marcel, Inora memilih mundur daripada harus merampas Alex dari tangan istrinya. Intinya hanya satu, asal orang yang tersayang bahagia, apapun akan kita lakukan.


Itulah cinta sejati yang sesungguhnya. Itulah definisi cinta tanpa syarat yang sesungguhnya.


Tadinya, Inora berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya pada Alex kala itu, tapi urung sebab ia akan berhadapan dengan keluarga Praja Bekti yang terkenal kejam dan banyak ditakuti kaum pengusaha. Sayangnya, spekulasinya salah besar. Justru keluarga Praja Bekti adalah keluarga yang menjunjung tinggi nilai moral dalam masyarakat.


Setelahnya, Inora memilih mundur tak berniat menjadi penghalang antara Alex dan istrinya. Dan kini, semua yang terjadi padanya di masa lalu, menimpa sang menantu, Lusi Asmarani.


Jika dulu Inora hanya memiliki Dion yang selalu ada dan bersedia menerimanya, maka kali ini, Lusi memiliki dirinya, Dion, Alex dan Aridha yang akan menjaga wanita malang itu.


"Perlahan, mari kita coba mencari jalan keluar yang terbaik. Jangan asal mundur. Mari kita pastikan bagaimana perasaan Marcel sebenarnya terhadapmu. Ayah tak mau, Marcel menyesal, kau terluka, dan berakhir kalian berdua dan anak kalian, harus menjadi korban takdir. Jangan asal memutuskan. Ayah akan mencoba untuk memastikan semuanya dulu," Dion mencoba untuk bijak.


"Mengapa?" kali ini Inora yang bertanya.


"Takut kecewa, dan akhirnya dihempaskan begitu saja oleh harapan. Biarlah, asal Marcel bahagia. Jika Marcel memang dijodohkan dengan Lusi oleh Tuhan sendiri, maka Lusi akan menerima dengan sangat bahagia," jawab Lusi dengan penuh kepasrahan.


"Tetapi anak kalian, bagaimana? Bagaimana jika seandainya nanti kau dan Marcel tak bisa bersama?" tanya Dion, kembali melemparkan tanya.


"Tak masalah. Anak ini akan punya dua Oma, dua Opa yang pastinya akan menyayanginya. Sesekali mungkin nanti, Marcel pasti datang menjenguknya. Lusi tak masalah jika harus merawatnya sendiri," jawab Lusi ringan.

__ADS_1


"Lusi, dengarkan Ibu. Merawat anak itu tak mudah seperti yang kita pikirkan, sayang. Ada banyak hal yang akan terjadi, diluar asumsi kita. Jangan bicara melantur. Sudah, mungkin ini hanya perasaan sendu pembawaan cucuku saja. Sekarang begini saja, apa yang akan dilakukan oleh Papa Alex dan Ayah Dion, percayalah, itu yang terbaik. Jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja," ujar Inora menyudahi.


Dalam hati, Lusi begitu bersyukur. Kasih sayang dan segala hal yang ia dapat selama ini dari orang tua Marcel, sudah lebih dari cukup.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Marcel? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lusi kemudian.


"Marcel baik-baik saja, jangan khawatirkan dia," jawab Inora, masih menatap penuh sayang pada Lusi.


"Sudah aku duga, Bu. Marcel akan tetap baik-baik saja tanpaku. Dia juga tak mungkin mencariku," ungkap Lusi kemudian.


Baik Inora maupun Dion saling tatap. Mereka seolah menyalahkan perkiraan mereka masing-masing. Inora pikir, Lusi hanya sekadar bertanya kabar dan rindu Marcel. Rupanya, Lusi merasa bahwa Marcel tak peduli padanya.


Menghadapi ibu hamil dengan perasaan sensitif, memang terbilang sangat sulit sekali.


"Siapa yang berkata begitu? Dia mencarimu, bahkan menurut pantauan Ayah, dia jarang bertemu lagi dengan Renata. Hanya saja, anak itu tetap bertanggung jawab atas pendidikan dan pekerjaannya. Tetapi jika Masalah mencarimu, ia kerap kali pulang larut malam sekali, hanya untuk mencarimu, sepulang dari kampus, atau kantor," sahut Dion menenangkan.


"Benarkah?" tanya Lusi. Tanpa sadar, sorot matanya kembali cerah, seolah tak lagi merasa sedih seperti tadi. Perubahan yang luar biasa.


"Ya, tentu saja. Mana mungkin Ayah membohongimu?" ujar Dion.


"Semoga saja Marcel merindukan aku, Bu, Ayah," timpal Lusi kemudian.


Sebuah bahagia kembali menghampiri Lusi, sekalipun tanpa ada Marcel. Kehangatan yang ia dapat dari para orang tua Marcel, sanggup membuat Lusi bisa kuat bertahan hingga detik ini. Semoga saja, semua akan cepat berlalu dan masalah ini usai.

__ADS_1


Tak ada keinginan lain dari Lusi, selain pertemuan dengan Marcel. Ya, meski itu hanya sebentar saja.


**


__ADS_2