Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 51


__ADS_3

Marcel telah merasakan sebuah titik rendah dalam hidupnya. Kacau balau semua rencana yang ia susun untuk bisa kembali bertemu dengan Lusi. Segalanya telah berantakan, ketika Alex mengatakan pada putranya itu, bahwa Lusi menolak pulang bersamanya. Jangankan untuk pulang, bahkan untuk sekadar bicara saja, Lusi menolak.


Sudah setahun berlalu, nyatanya marcel jua telah mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik. Penolakan Lusi, adalah pukulan telak untuknya, hingga Marcel menjadikan penolakan istrinya itu, sebagai cambuk untuk kesuksesannya.


Lusi bersedia kau bawa pulang, hanya jika kau kembali dengan kesuksesan. Jika hingga sukses kau tak memiliki satu wanitapun untuk kau ajak bersenang-senang, maka Lusi bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupnya, hanya padamu, Marcel.


Kalimat Dion begitu terngiang jelas hingga saat ini. Bahkan Marcel sudah menepati kata-katanya itu.


Jangan tanya bagaimana Marcel menjalani hari, lelaki itu terus bekerja, belajar dan tidur setiap hari, menjalani hatinya secara monoton. Tak ada libur, tak ada akhir pekan. Semua sama rata tanpa ada jatah istirahat sehari pun untuk Marcel, dari aktivitas bekerja dan menjalani pendidikan.


Malam ini, Marcel merasa sudah tidak tahan lagi. Lelaki itu seolah ingin menyerah saja, dan segera bertemu Lusi tanpa perantara. Setelah dirinya menggenggam kesuksesan seperti yang orang tuanya idamkan, lelaki itu tetap merasa hampa tanpa kehadiran Lusi.


Setahun lebih tanpa keberadaan Lusi dalam hidupnya, membuat Marcel layaknya robot hidup.


Seperti sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul, keinginan untuk menatap Lusi, merengkuhnya dan menimang bayi perempuan yang menggemaskan yang telah Lusi lahirkan. Rindunya sudah menggebu-gebu, tak sanggup m


di tahan hingga seolah membuat dunia Marcel kuamag


Bahkan dengan kejamnya, orang tua Marcel semuanya tak ada yang mengizinkan Marcel untuk sekadar menjenguk putrinya, sebelum Marcel benar-benar menunjukkan perubahannya. Tak hanya itu, Marcel boleh menemui Lusi, hanya jika dirinya telah benar-benar sukses melewati tahap tantangan Alex agar dirinya segera lulus.


Ada sesuatu besar yang Alex siapkan untuk Marcel, asal Marcel benar-benar berubah lebih baik, dan juga sanggup menjaga setianya hanya pada Lusi seorang saja.

__ADS_1


Dengan keberanian dan siap menanggung semua risikonya, Marcel nekat hendak menculik sang istri, seorang diri. Setibanya di pintu unit apartemennya, Marcel tersenyum kecut. Mana ada suami menculik istrinya sendiri?


Dengan setelan hitam-hitam yang Marcel kenakan, laki-laki itu berjalan keluar, tanpa membawa mobilnya. Alih-alih membawa mobil, Marcel lebih memilih untuk meminta tolong salah satu temannya untuk mengantarnya pada Lusi.


"Kau yakin kau tak akan menemukan masalah serius nantinya, Marcel? Aku khawatir kau justru akan diperpanjang masa berpisahnya dengan istrimu," Deny berkata serius.


Lelaki berperawakan kurus tinggi itu mengenal betul bagaimana keluarga Marcel, termasuk ayah biologisnya. Ada banyak rumor buruk yang beredar tentang Alex, tetapi sungguh, ia hanya belum tahu sebaik apa Alex selama ini.


"Aku tidak peduli lagi, Den. Aku sudah tak sanggup dihukum seperti ini, sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana rupa asli putriku. Aku memang bersalah di masa lalu, tapi menjauhkan anak dari Ayahnya, itu juga bukan sesuatu yang di benarkan," jawab Marcel mantap.


"Baiklah. Jika ada sesuatu yang terjadi, jangan menarik diriku ke dalam masalah," Deny sudah pasrah seraya melanjutkan perjalanan.


Jalanan di waktu malam yang telah larut ini, di tambah lagi dengan suasana sepi mencekam, membuat perjalanan terasa lamban. Marcel sendiri tidak mengerti, mengapa dirinya nekat mengambil jalur ini.


"Kau yakin mau masuk sendiri?" tanya Deny dengan serius, sekali lagi memastikan pendirian Marcel yang kuat.


"Aku yakin. Kalaupun Lusi tak mau ikut aku pulang, aku akan mengancamnya," jawab Marcel seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Bagus. Kau memang sejak dulu tak bisa berubah," keras kepalanya.


Sambung Deny dalam hati.

__ADS_1


Marcel segera turun, dan langkahnya terhenti saat dua pengawal yang menjaga ketat rumah persembunyian Lusi, menghadang Marcel.


"Tuan muda," sapa salah satu pengawal dengan menundukkan kepalanya.


"Aku sayang untuk menjemput Lusi. Jika salah satu diantara kalian tak memberiku izin, aku pastikan aku tak akan memaafkan siapapun. Lusi istriku, dan aku datang untuk menjemput anak dan istriku," tegas Marcel.


Setahun berlalu tanpa pertemuan dengan Lusi, Kharisma yang di miliki oleh Marcel kian kuat. Tatapan matanya kian tajam dan lelaki itu bahkan memiliki perawakan yang cukup dewasa. Usianya sudah menjelang dua puluh tiga tahun, namun aura kuat yang Marcel miliki, seolah dengan aura yang Alex juga miliki.


"Saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar Alex, tuan muda," jawab pengawal, tak gentar sama sekali dengan ancaman Marcel.


Tak peduli sekalipun mereka di ancam dan di tekan, tak ada sedikitpun tanda-tanda tumbang.


"Kalau begitu kirim pesan pada tuan kalian, aku tidak peduli," timpal Marcel menantang.


Para pengawal saling pandang, mereka bingung harus bagaimana. Untuk melawan Marcel, jelas mereka tak mau menyakiti apalagi itu melukai putra tuan mereka.


Di saat mereka dilanda kebingungan, Marcel dengan gesit masuk ke dalam, menerobos masuk hingga mendobrak pintu utama, dan tak peduli dengan para pengawal yang mengejarnya.


Sepertinya, Dewi Fortuna berpihak pada Marcel, sebab Lusi tak sengaja mengunci pintu kamarnya. Pandangan mata Marcel terpaku pada Lusi yang terlelap, juga bayi perempuan berusia delapan bulan terlelap di sampingnya.


Di belakang Marcel, para pengawal tak berdaya, "mereka istri dan putriku. Tegakah kalian memisahkan aku dari mereka orang terkasihku?" tanya Marcel, membuat para pengawal tak berkutik sedikitpun.

__ADS_1


**


__ADS_2