
Tidak seperti biasanya, siang yang biasa panas, kini tampak mendung. Suasana jalanan ibukota juga masih padat, sama seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan jejak hujan deras semalam, masih tersisa, menyisakan sejuk meski hari sudah siang.
Lusi dan Marcel sudah bersiap pulang, dengan Lusi yang mengenakan dress panjang selutut berukuran longgar. Biasanya, Lusi justru lebih suka memakai kaos, kemeja, dan juga celana. Pilihan Marcel kali ini terasa berbanding terbalik dari selera Lusi.
Lusi menatap penampilannya di cermin. Terasa aneh dan seperti bukan dirinya saja. pakaian ini sangat jauh dari seleranya. Tetapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pakaian lain selain yang dikenakannya ini. Memakai seragam semalam pun, itu tak mungkin.
"Bagaimana? Kau sudah siap untuk pulang?" Tanya Marcel pelan. Lelaki itu menatap Lusi yang masih sembab matanya, sedikit bengkak dengan hidung yang masih memerah.
Tentu saja penampilan Lusi tak luput dari tatapan Marcel. Cukup cantik.
"Ya. Tetapi, bagaimana nanti jika ada yang melihat kita keluar bersama? Aku takut nanti diterpa gosip tak sedap. Aku hanyalah tukang bersih-bersih di hotel milik papamu, Marcel." Lusi menjawab pelan.
"Jangan khawatir. Aku sudah menyuap beberapa orang untuk merekayasa CCTV." Ujar Marcel kemudian.
"Lusi, kau masih sedih?" Tanyanya lagi, setalah menyadari bahwa Lusi murung.
"Kau pikir aku tak sedih, Marcel? Kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang akan aku hadiahkan pada suamiku kelak, kau pikir itu tak membuat aku sedih?" Lusi memalingkan wajahnya. Meskipun di matanya Marcel yang bersalah, namun ia tak bisa menyalahkan Marcel begitu saja. Toh Lusi sendiri yang menceburkan diri.
"Maaf. Aku akan mengantarmu pulang setelah makan siang. Pakai masker dan kacamataku agar tak ada yang mengenalimu. Aku lapar dan kita makan dulu, oke?" Ajak Marcel pada Lusi.
"Tidak, Marcel. Antar aku pulang saja, Aku tak enak pada Renata karena meninggalkan Shila terlalu lama. Dia pasti khawatir karena aku tak pulang." Ungkap Lusi. Membayangkan wajah panik Shila, Lusi tidak mampu.
"Tidak. Aku akan mengantarmu pulang setelah makan siang, Lusi. Tidak boleh ada penolakan. Kau melewatkan sarapan pagi, dan semalam kau makan sedikit. Aku tak mau kau sakit." Tegas marcel.
"Biar bagaimana pun, kita adalah sahabat."
'Kenapa kau begitu peduli padaku, Marcel?'
Lusi bertanya-tanya dalam hati. Harusnya Lusi menanyakan secara langsung.
__ADS_1
"Tetapi, tapi aku harus pulang Marcel." Lusi masih saja bertahan dengan keras kepalanya. "Shila hanya punya aku sebagai saudara. Kumohon. Aku tak tega membiarkannya sendiri terlalu lama." Tambah Lusi lagi.
"Aku akan belikan Shila makanan nanti. Bila dia bersama Renata, aku yakin ia akan baik-baik saja." Ujar Marcel, tegas dan tak terbantahkan. Lelaki itu cukup jengkel dengan kekeraskepalaan Lusi. Harusnya Lusi menurut saja dan tidak perlu membantah.
Udara sekitar terasa turun beberapa derajat, dingin dan membuat nyali Lusi menciut tanpa sadar. Tatapan Marcel yang menyorot penuh kepedulian, seolah berubah menjadi dingin mengintimidasi. Sungguh menakutkan.
Baru kali ini Lusi mendapati Marcel begini.
"Ayo, kenakan masker dan kacamatanya." Titah Marcel. Sadar bahwa Lusi berusaha memberontaknya. "Aku tak mungkin menahan laparku terlalu lama.
Lusi bangkit setelah mengenakan masker dan kacamata milik Marcel. Tak hanya itu, Lusi juga membawa paper bag berisi pakaiannya semalam. Miris, itulah yang dirasakan Lusi saat ini.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Marcel yang terparkir sendirian, cukup jauh dari kamar yang digunakan Marcel. Entah bagaimana caranya, kondisi lorong cukup sepi, seolah Marcel telah mampu membaca situasi. Atau mungkin saja Marcel memang sengaja menyetting tempat hingga sepi begitu.
"Masuklah." Marcel berkata seraya membuka pintu mobil sebelah kemudi. Tentunya, ini adalah kali pertama Lusi menaiki mobil Marcel. "Cara berjalan mu lain, Lusi. Kau kenapa? Apa kakimu sakit?" Tanya Marcel tiba-tiba, membuat Lusi menatapnya.
Rasanya Lusi ingin sekali menghajar Marcel saat itu juga. Tak hanya itu, Lusi merutuki kebodohan lelaki itu. Setelah semalam ia dihajar habis-habisan, Marcel masih bisa bertanya.
'Wanita memang selalu begitu dan banyak rahasia. Ya sudahlah, Lusi. Terserah kau saja.'
Batin Marcel.
Mobil Marcel berjalan pelan menuju pintu keluar hotel. Suasana cukup ramai di luar, karena memang hari ini hari libur. Banyak pengunjung wisatawan yang singgah untuk menyewa kamar tentunya.
"Kau mau makan apa, Lusi?" Tanya Marcel.
"Terserah kau saja. Tapi aku tak suka makanan mahal, lidahku sudah terbiasa memakan makanan murah dan biasa saja." Jawab Lusi.
"Baiklah, Aku akan membawamu ke tempat makan favorit ayahku, Ayah Dion." Ujar Marcel kemudian.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, mobil Marcel memasuki pelataran sebuah kafe sederhana bertemakan Garden cottage. Pemandangan yang cukup indah dengan banyak tanaman hias di area depan dan samping kafe.
"Duduklah disini, aku akan panggilkan waiters untuk memesan makanan sebentar. Kau mau makan apa?" Tanya Marcel kemudian.
"Apapun, terserah kau saja." Lusi menjawab pelan. Gadis itu menatap Marcel sekilas.
Usai memesan makanan, Marcel menunggu makanan tiba, sambil menatap Lusi. Lelaki itu menangkap gelagat ketakutan yang kentara dari Lusi.
"Kenapa, Lus? Sepertinya kau sedang khawatir? Atau takut?" Tanya Marcel sambil menaikkan sebelah alisnya.
Lusi menatap Marcel sebelum mengedarkan pandangannya. Sepi, karena jam makan siang baru tiba. Mungkin, sebentar lagi akan ramai pengunjung. Baiklah, sepertinya ini memang kesempatan untuk Lusi mengungkapkan keresahannya.
"Marcel, semalam kita melakukannya, tetapi kita tidak memakai pengaman. Bagaimana menurutmu? Aku, aku takut jika anti aku ... hamil." Lusi berkata lirih diujung kalimatnya. Ia benar-benar takut jika nanti apa yang menjadi kekhawatirannya, terjadi.
Tidak. Lusi tidak siap.
Marcel mengerjapkan matanya beberapa kali. Lelaki itu memikirkan apa yang Lusi katakan. Benar apa yang sahabat tidurnya itu katakan, astaga. Sahabat tidur? Marcel tak habis pikir dengan otaknya sendiri saat ini.
"Apakah ada obat untuk mencegah kehamilan?" Tanya Marcel pada Lusi.
"Setahuku ada pil kontrasepsi. Hanya saja, pil itu biasa dikonsumsi sebelum melakukan hubungan badan." Jawab Lusi.
"Berdoa saja, semoga tak akan terjadi. Lagipula kita melakukannya hanya semalam." Ungkap Marcel, "ya meskipun kita berkali-kali dan banyak kali melakukanya. Sudahlah, lagipula itu sudah terlanjur. Jika terjadi apa-apa, jangan sungkan meminta bantuan." Tambah Marcel.
Wajah Lusi memerah karena malu.
"Ayo makan." Kata Marcel yang kemudian diangguki oleh Lusi.
Keduanya kemudian melahap makanan yang sudah Marcel pesan. Ada banyak hal yang membuat Marcel berpikir, bahwa kebersamaan dengan Lusi semalam, adalah sebuah kesalahan.
__ADS_1
Semoga saja, tak akan terjadi apa-apa di masa depan nanti.
**