
Pagi merambah menuju siang, ketika Lusi merasakan tubuhnya remuk redam. Wanita itu membuka matanya perlahan yang terasa berat. Kasur empuk yang tak biasa ia tiduri, membuatnya nyaman dan tertidur selama nyaris sembilan jam lamanya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan Lusi merasakan kepalanya terasa pening bukan main. seluruh tubuhnya terasa berat, dan sulit digerakkan. Tak hanya itu, matanya juga terasa lengket, seolah enggan berkompromi dan berniat ingin tidur lagi.
Sayup-sayup ingatannya kembali pada kapan kejadian terakhir kali dirinya dalam kesadaran. adegan demi adegan semalam sewaktu dirinya meminum minuman Renata, dan juga dirinya yang menyerang Marcel dan berakhir dirinya ....
"Tidak. Tidak!" Lusi berteriak secara tiba-tiba. Meski kesadarannya tidak sepenuhnya kembali, namun Lusi berusaha untuk mengingat keseluruhan.
Dengan tidak tahu malunya, Lusi menyerang Marcel dengan keagresifan yang memalukan. Perlahan kepalanya menoleh ke samping, menatap Marcel yang masih pulas dengan dengkuran halus. Lelaki itu sepertinya cukup lelah setelah berkali-kali, Lusi menuntutnya untuk menggauli Lusi.
Lemas. Rasanya Lusi sudah tak bertenaga lagi. Wanita itu ingin segera bangkit dan berlari begitu saja. Namun sialnya, seluruh pakaiannya bahkan telah lolos dari tubuhnya. Hanya selimut tebal yang membalut tubuhnya, juga membalut tubuh bawah Marcel.
Lusi memiringkan tubuhnya yang terguncang akibat tangis yang begitu dalam. Hingga hal itu cukup membuat Marcel terusik, lelaki itu terbangun dan linglung untuk sejenak, dan mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Astaga, Lusi. Kau sudah bangun?" Marcel bersuara untuk pertama kali. Lelaki itu sungguh terkejut, mendapati Lusi menangis dalam diam.
"Lus, kau tak apa-apa?"
'Setelah semua yang terjadi, dan kau bertanya aku tak apa-apa? Sialan, kau Marcel! Terkutuklah ide sialanmu itu yang hendak menjebak Renata. Kau justru menyakiti aku, marcel. Kau mengorbankan kemurnian diriku.'
Hati Lusi menjerit histeris.
"Lusi, diam dan jangan menangis dulu, ayo kita bicara. Hentikan tangismu, itu tak akan menyelesaikan masalah, oke? Beri aku penjelasan, mengapa kau yang menceburkan diri menggantikan Renata." Tambah Marcel lagi. Lelaki itu sungguh tak nyaman bila ada gadis yang menangis di dekatnya.
__ADS_1
"Biarkan aku tenang dulu, Marcel. Aku tak ingin banyak bicara. Biarkan hatiku tenang. Aku, aku tidak bisa berpikir sekarang." Lusi menjawab dengan suara parau. Gadis itu sungguh tersiksa dan hancur segalanya. Menyelamatkan Renata, dan sok menjadi pahlawan untuk sahabatnya itu, nyatanya tak semudah yang ia pikir.
"Baiklah. Aku akan membersihkan diri, jangan kabur dan tunggu aku, oke? Aku tak akan lama." Marcel berkata dengan pelan.
Sejujurnya, Marcel sejak dulu bukanlah lelaki yang kasar dan suka membentak-bentak wanita. Baik ibunya, maupun pembimbing di yayasannya dulu, selalu mengajarkan tentang adab, sopan santun dan tata Krama, terlebih pada wanita dan siapapun yang usianya lebih tua.
Tetapi dihadapkan pada situasi semacam ini, cukup membuat Marcel mengalami rasa tak nyaman juga. Dengan pelan, Marcel bangkit, memungut handuk yang tersedia diatas meja dan mengenakannya untuk menuju ke kamar mandi. Lelaki itu perlu membersihkan diri, menenangkan pikiran dan memulihkan tenaga usai aktivitas semalam yang melelahkan.
Usai mandi, Marcel mengenakan pakaian yang dikenakannya semalam. Meski agak kusut, mau tak mau marcel juga harus menggunakannya. Begitu juga dengan Lusi. Oh tidak, marcel buru-buru memesan pakaian lengkap untuk Lusi, pada salah satu sahabat terbaiknya melalui pesan singkat.
"Lusi, kau tak ingin membersihkan diri? Apakah ... apakah pikiranmu belum juga tenang?" Marcel bertanya pelan. Ia khawatir, juga takut saat ini. Takut pada apa tepatnya, marcel tak tahu.
Lusi bangkit mundur, menyandarkan bahunya pada bahu ranjang. Matanya sembab dengan hidung memerah. Jejak-jejak basah juga terlihat jelas pada bulu mata dan pipinya.
"Aku masih lemas, Marcel. Nanti saja aku membersihkan diri." Lusi menjawab dengan suara sengau. Sesekali, wanita itu seperti menarik ingusnya ke dalam hidung, tak membiarkan dirinya malu pada Marcel.
Lusi menjawab dengan anggukan kepala, menerima botol air mineral yang tinggal separuh. Sahabat Marcel itu lantas meminumnya sedikit.
"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik dari yang tadi?" Marcel bertanya pelan.
"Sedikit." Lusi menjawab.
"Kau sudah lebih tenang?" tanya Marcel lagi.
__ADS_1
"Ya." Jawab Lusi singkat.
"Bisa kita bicara?" Marcel kembali melayangkan tanya, yang dijawab anggukan oleh Lusi.
Hening sejenak. Marcel tengah merangkai tanya untuk ia lempar pada Lusi. Sejarah semalam, cukup membuat Marcel ingin tahu, apa alasan Lusi mengambil alih minuman Renata.
"Kenapa kau melakukannya semalam? Kau tahu itu untuk Renata, mengapa justru kau yang meminumnya hingga tandas?" Tanya Marcel kemudian. Suaranya lembut dan lirih, terkesan sabar dan penuh pengertian.
Sikap Marcel yang demikianlah, yang membuat Lusi segan. Ia tak habis pikir. Harusnya Marcel marah atau memakinya, jika perlu menamparnya. Hanya saja, sikap Marcel ini berbeda. Lusi justru dibuat semakin takut.
"Kau marah padaku, Marcel?" Tanya Lusi balik.
"Tidak jika alasan itu masuk akal. Katakan, mengapa kau yang menggantikan Renata? Kau tahu? Kau semalam sangat .... Aku tak bisa mengungkapkannya." Jawab Marcel lirih.
"Aku tak akan pernah menggadaikan persahabatanku yang sudah terjalin lama dengan Renata, hanya demi uang. Jangan khawatir, aku akan mencari uang dengan bekerja, untuk menggantikan uangmu yang sudah terpakai olehku, Marcel. Kau tahu, Renata akan menangis bila ia gagal menikah dengan kekasihnya itu. Lebih baik, aku saja yang menangis seumur hidupku." Lusi menunduk.
"Kau rela kehilangan segalanya, dan menangis demi Renata?" tanya Marcel tak mengerti. Ia tidak habis pikir, dengan persahabatan yang terjalin luar biasa ini.
"Ya. Kau tak tahu, Marcel. Renata bahkan selalu menolong dirimu dan keluargamu, saat ayah dan ibuku masih ada. Hingga mereka pergi atas panggilan Tuhan, Renata tetap berdiri menolong dan membelaku mati-matian. Katakan, Marcel. Apa aku salah bila aku melindunginya demi kebahagiaanya?" Lusi Bertanya pelan. Ia hanya merasa bahwa saat ini, Marcel akan murka mendengar alasannya itu.
"Kau tak salah, Lusi." Marcel menjeda kalimatnya. "Akulah yang salah dan tak mendengar apa yang kau katakan beberapa hari lalu. Aku, aku meminta maaf. Hanya saja, maafkan aku karena aku tak bisa menikahimu setelah ini. Kau tahu cintaku hanya untuk Renata. Usiaku juga masih terlalu muda. Aku yakin, sebelum kau meneguk minuman Renata, kau sudah memikirkan konsekuensi dan risikonya." Tegas Marcel kemudian.
Lusi menatap Marcel dalam-dalam. Apa yang Marcel katakan memanglah benar. Marcel tak mencintainya. Dirinya sendiri yang bersedia menyerahkan diri pada Marcel.
__ADS_1
"Aku sudah tahu, Marcel. Aku tak akan menuntut mu agar menikahiku." Dengan bodohnya, Lusi membebaskan Marcel dari tanggung jawab atas skandal ini. Dirinya hanya tak tahu, bahwa badai kehidupan yang sesungguhnya, dimulai dari sekarang.
**