
Semalaman Lusi tidak mampu memejamkan matanya. Semalaman pula wanita itu memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi. Harusnya Lusi tak banyak memikirkan hal ini. Namun apalah daya, Lusi hanyalah wanita biasa dengan banyak kekurangan.
Tentunya kekhawatiran dalam hatinya, membuatnya merasa ia tengah berada pada titik kesulitan paling tinggi. Membayangkan akan menjadi ibu, bahkan saya usianya begitu muda, membuat Lusi merasa tertekan, bahkan sebelum menjalaninya.
Pagi ini Renata mendapati Lusi tengah berbincang dengan Shila. Meski tampak kuyu dengan mata yang sembab, namun Lusi tetap terlihat cantik. Polesan make up sederhana yang menempel pada wajahnya, membantu menyelamatkannya dari julukan wajah menyedihkan.
Terkadang Renata bertanya-tanya, terbuat dari apa hati Lusi yang demikian kuat dan tegar? bahkan andai Renata menggantikan posisi Lusi, Renata yakin Renata tidak akan mampu.
"Pagi, Lus. Kau sudah lebih baik?" Renata bertanya lembut, menatap Lusi dengan senyum yang merekah pada bibirnya.
"Ya. Lebih baik. Setidaknya aku lega karena Shila sudah mau bersekolah. Aku tak suka ditunggui layaknya pesakitan yang parah. Aku ingin. adikku yang cantik ini tetap bersekolah dan bisa meraih cita-citanya." Lusi berkata dengan raut wajah ceria. Tangan kirinya mengusap kepala adiknya, memberikan harapan besar untuk Shila agar tidak libur sekolah hari ini.
Sejak satu jam lalu, Shila ngotot enggan sekolah. Anak itu memiliki pendirian kokoh untuk meninggalkan sekolah sehari saja, demi merawat kakaknya yang sakit. Bukan Lusi tak suka memiliki adik sebaik Shila. Hanya saja, Lusi ingin Shila rajin dalam menuntut ilmu.
"Tetapi jika aku nanti aku bersekolah, bagaimana? Maksudku, apakah kak Renata tidak akan meninggalkan kak Lusi seorang diri?" Shila Bertanya dengan polosnya. "Aku takut kak Lusi merasa sendiri.
Renata tertawa renyah di tempatnya, menganggap bahwa Shila lucu.
"Tentu saja. Mana mungkin aku akan meninggalkan kakakmu. Suamiku sebentar lagi akan berangkat kerja, aku pun bebas tanpa harus dikejar-kejar kewajiban istri. Tenang saja, suamiku orang baik yang selalu mengizinkan aku menunggui kakakmu. Jadi, kau jangan khawatir, oke? Belajarlah berpikir dewasa. Meninggalkan sekolah bukanlah sesuatu yang dibenarkan." Ujar Renata menatap lembut Shila.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang dan segera berganti pakaian. Terima kasih sudah memberiku bekal uang sekolah, kak Renata. Aku titip kakakku." Shila menjawab.
"Tentu saja. Jangan lupa siang nanti saat pulang sekolah, pulang saja ke rumah, Shila. Kakak juga akan pulang sebentar lagi, menunggu hingga cairan infus habis. Ini tak akan lama." Lusi berkata, dengan tersenyum.
Hingga kemudian Lusi melihat Shila sudah berlalu begitu saja, meninggalkan Lusi yang merasa bersalah pada gadis kecil itu. Hingga kini, Lusi masih belum mampu memberikan kebahagiaan untuk adik semata wayangnya itu.
"Aku sudah mendapatkan alamat unit apartemen Marcel, Lusi. Kita akan berangkat kesana pagi ini, atau bagaimana?" Renat bertanya pada Lusi, duduk pada kursi yang berada tepat di samping brankar.
"Ya, lebih cepat lebih baik. Hanya saja yang jadi masalah, bagaimana jika nanti Marcel menolak kedatangan kita? Dan lagi, bagaimana jika nanti aku menyampaikan pada Marcel. Dia pasti syok berat jika tahu aku hamil." Kata Lusi.
"Tak masalah. Lebih baik dia syok berat daripada kau harus menderita seorang diri, Lusi. Dengarkan aku, berhenti memikirkan kebahagiaan orang lain. Sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu. Kau tidak hidup bersama Shila seorang saja setelah ini. Kau akan menjadi seorang ibu." Renata mengingatkan.
Untuk ukuran sebuah pertemanan, tentu saja ikatan diantara Lusi dan Renata sangat kuat. Bahkan setelah semua yang terjadi, Lusi tetap tak bisa membenci dan menyalahkan Renata atas musibah yang menimpanya.
Hidup terkadang penuh dengan candaan. Ketika kita dihadapkan pada situasi memilih antara menyelamatkan teman, atau justru menjerumuskan teman, kita akan sulit dan terluka sendiri jika memilih untuk menyelamatkan teman. Bila orang lain akan menyiakan teman yang berusaha menyelamatkan dirinya, namun tidak dengan Renata. Disinilah letak kesetiaan pertemanan diuji.
"Aku tak berharap banyak pada Marcel, Ren. Dia tidak mencintaiku, sangat tidak mungkin. Siapa memangnya aku, bila dibandingkan dengan dirinya yang orang nomor satu di perusahaan besar. Aku sadar diri." Lusi mengutarakan maksudnya.
"Maksudmu?" Tanya Renata tak mengerti.
__ADS_1
"Ya, aku memang memiliki keinginan untuk ia tanggung jawab padaku. Tetapi untuk memiliki keinginan menjadi istrinya selamanya, itu tak ada dalam diriku. Andai nanti Marcel memutuskan menerimaku, hingga sampai batas kelahiran anakku, aku tak akan menuntut apalagi menyalahkan Marcel." Kusut berkata lembut.
"Aku sudah memperkirakan semua kemungkinan terburuknya sekalipun. Tak apa andai nanti Marcel mencari wanita lain yang setara dengan keluarganya. Asal Marcel bersedia bertanggung jawab, itu sudah lebih dari cukup untukku." Lusi melanjutkan.
Renata tak tahu lagi harus bagaimana menangapi. "Ya, aku tak bisa berkata apa-apa, Lus. Apapun yang terbaik untukmu dan calon keponakanku, aku akan mendukungnya. Tetapi ingat, kau tidak boleh egois nantinya." Renata menjawab.
"Ya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Doakan saja yang tebaik untukku dan anakku nanti. Yang paling utama, Shila dan anakku, mereka harus bahagia. Memberikan mereka hidup yang layak, aku akan mengusahakannya mulai dari sekarang." Lusi mengungkapkan.
"Kau tahu, Lusi? Semalam aku mendengar kabar, bahwa Marcel adalah anak tuan Alex Atmadja dari istrinya yang terdahulu, bukan putra yang dilahirkan nyonya Aridha.". Renata mengatakannya pada Lusi, karena ia baru ingat berita yang ia dengar semalam.
"Aku tahu, dia punya dua ayah dan juga dua ibu. Jadi aku tak terkejut lagi." Lusi tersenyum kecil, membiarkan Renata menjadi pihak yang bodoh, dan hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Sialan, kau. mengapa kau baru menyampaikan kabar sepenting itu padaku, Lusi. Kau tidak setia kawan padaku." Renata menunjuk pelan lengan Lusi yang terkekeh.
"Aku tak bisa bercerita, karena Marcel berkata, bahwa ia belum siap jika jati dirinya menjadi konsumsi publik. Aku adalah orang yang setia kawan, sebab itulah aku memilih bungkam padamu." Jawab Lusi menimpali.
"Siapapun Marcel, asal ia bertanggung jawab padamu, aku sudah lega, Lusi. Setidaknya dalam masa kehamilanmu,kau ada yang menjaga." Renata menatap sayang pada Lusi, mengusap kepala Lusi yang tersenyum manis.
"Ya, semoga saja." Ujar Lusi. Ia tahu betul bagaimana Marcel, Marcel tak akan pernah melakukan hal buruk, termasuk hengkang dari tanggung jawab.
__ADS_1
**