
Harusnya, malam pengantin itu penuh dengan sukacita layaknya pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya, dan manis-manisnya. Sayangnya, semua itu tidak dirasakan sama sekali oleh pasangan Marcel dan Lusi.
Sepasang pengantin baru itu tengah pamit pada empat orang tua Marcel, untuk pulang ke apartemen Marcel. Sayangnya, Shila tidak diperbolehkan ikut oleh Inora, lantaran takut bila nanti Lusi kelelahan mengurus Shila.
Lusi menolak sebenarnya, namun ia tak bisa membantah untuk saat ini. Lain hari, Lusi berjanji akan membawa Shila untuk tinggal sendiri.
Mungkin Marcel tak ingin merawat Shila, hingga Marcel tak membantah sama sekali keinginan Inora kali ini. Sejak kecil, Lusi dan Shila tinggal berdua tanpa terpisah. Dipisahkan dengan cara begini, tak urung membuat hati Lusi mencelos sakit.
"Kau harus menjaga istrimu dengan baik, Nak. Ibu titip dia, dan Ibu mohon, tolong jangan kau buat dia menangis," Inora, sang ibu memberi nasihat. "Wanita hamil kerap kali akan sering emosi, dan perasaannya sensitif. Dalam masa ngidam di kehamilan muda, kau harus menuruti apa yang Lusi minta, Marcel," tambah Inora.
Terlihat sekali jika Lusi sedang tidak baik-baik saja dan wajahnya pucat pasi. Sejak mengandung, Lusi memang kerap kali sakit dan sering pingsan. Hal ini tentu saja membuat Inora khawatir berat.
"Iya, Bu. Maaf, karena Marcel sudah membuat ibu dan ayah menangis kali ini. Marcel janji, Marcel akan menjaga Lusi dengan baik," Marcel berkata sambil tersenyum. Perasaan lelaki itu campur aduk, antara bahagia dan sedih yang menggulung menjadi satu.
"Ya sudah, sekarang pulanglah jika begitu. biarkan Lusi beristirahat dan kau juga harus istirahat. Pamit lah juga pada Papa dan Mama," Inora tersenyum, menatap sekilas pada Aridha dan Alex yang berdiri berdampingan.
"Pa, Ma, juga Ayah, aku pamit," kata Marcel pelan, lelaki itu mengangguk pada Lusi, mengisyaratkan bahwa Lusi harus ikut dengannya.
"Jangan terlalu lelah, Lusi. Kau harus banyak istirahat, dan tetap konsumsi makanan bernutrisi. Besok, Mama dan Papa akan mengunjungimu ke apartemen Marcel," ucap Aridha, dan Lusi mengangguk pelan. Lusi benar-benar canggung. Kesan pendiam melekat pada dirinya sekarang.
Bagaimana tidak? Yang menjadi mertuanya, Alex itu adalah orang nomor satu di perusahaan tempat Lusi bekerja dulu.
__ADS_1
Alex dan Dion menatap Marcel yang berlalu, membawa Lusi dengan diantar oleh sopir sekaligus pengawal Hesti.
Sepanjang perjalanan, Lusi hanya diam. Tidak ada obrolan apapun, juga tidak ada pembicaraan yang berarti. Keduanya sama-sama bungkam, tidak memilki niat salah satu untuk saling sapa, setelah seminggu Lusi pergi menghindari Marcel.
"Lus, kenapa kau hanya diam sejak tadi?" tanya Marcel kemudian. "Kau tidak ingin bercerita padaku, kemana kau pergi selama seminggu ini? Dan juga kau tak ingin terbuka, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku, hingga kau memutuskan pergi dariku," tanya Marcel yang lama-lama tidak kuat juga, menahan tanya yang sejak beberapa hari lalu bersarang dalam otaknya.
Lusi menatap Marcel dari samping, mengamati lelaki itu yang semakin tampan dari waktu ke waktu. Hanya saja, wajah Marcel masih memperlihatkan lebam di beberapa bagian.
"Aku menyewa kamar kost dan meminta tolong pada pemiliknya, untuk menjaga identitasku. Juga aku tak ingin membuatmu tertekan karena menikahi aku, yang tidak kau cintai," jawab Lusi yang kemudian membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil.
Pemandangan pagi menjelang siang ini, tampak lebih lengang dari biasanya. Hanya ada beberapa pemotor yang lewat, disertai dengan mobil mewah yang melintas, dengan jumlah beberapa.
"Tapi kau hamil anakku, Lusi. Bagaimana mungkin kau bisa bilang tak ingin membuatku tertekan, sementara seminggu ini, kau cukup membuatku kacau karena mencari dirimu?" Marcel menekan kalimatnya.
Ada sudut hati Marcel yang terluka seketika. Wanita itu benar-benar tidak tahu, harus bagaimana dirinya bersikap. Ia membiarkan dan justru membuat Marcel mengira, bahwa ia terpaksa.
Tetapi tahukah apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang Lusi katakan, jauh berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatinya. Cinta itu mulai tumbuh untuk Marcel, dan Lusi menyadarinya.
"Terserah padamu saja, Lusi," jawab Marcel dengan nada bicaranya yang dingin. Mendapati ini, hati Lusi kian sakit. Ia tak ingin membenarkan tuduhan Marcel padanya, jika ia sengaja meneguk minuman Renata karena Lusi menginginkan Marcel. Sejujurnya, cinta itu hadir, bersamaan dengan janin yang mulai tumbuh dalam rahimnya.
Tidak terasa, kini keduanya telah tiba di apartemen Marcel. Bangunan tinggi megah itu, menjulang dan membuat Lusi berdecak kagum dalam hati.
__ADS_1
"Ayo," ajak Marcel datar, seraya mengeluarkan sebuah tas besar dari bagasi mobil. Lelaki itu juga membawa tas Lusi, dan membiarkan Lusi mengekor di belakangnya.
"Masuklah, Lusi," titah Marcel pada Lusi yang kini tengah mematung diambang pintu unitnya. Lusi mengerjapkan matanya beberapa kali, saat dilihatnya apartemen Marcel yang begitu mewah dengan desain interior yang elegan. Tak lupa, ada beberapa perabotan yang Lusi tahu, harganya yang cukup fantastis.
"Disana dapur, ruang tamu yang merangkap sebagai ruang televisi ya tempat ini. Kamar kita ada disana, dan jika kau bosan, kau bisa ke balkon dan melihat jalanan ibukota. Jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku, nanti aku akan buatkan rekening untuk uang jatah belanja bulanan untukmu. Sementara, pakai ini dulu," ujar Marcel yang kini tengah mengulurkan empat lembar uang berwarna merah.
Lusi meneguk salivanya dengan susah payah. Ia tidak menyangka, dirinya akan mendapatkan jatah uang bulanan dari Marcel, setelah ia menghilang dan menjauh dari suaminya itu.
"Ambil, jangan dilihat saja. Aku akan keluar untuk ke kantor. Nanti sore aku pulang," tambah Marcel lagi.
Dengan kikuk, Lusi menerima uang yang suaminya berikan. "Terima kasih," jawabnya. "Kau tidak mandi?"
"Nanti aku mandi di kantor. Tunggu saja, nanti akan ada yang mengantar almari untuk pakaianmu," sahut Marcel.
"Terima kasih," Lusi melepas kepergian suaminya dengan perasaan tak karuan. Sesekali, ia menatap lembaran uang yang Marcel berikan. Jantung Lusi terasa terhempas seketika.
'Demi tuhan aku mencintaimu, Marcel. Tetapi aku tak berani untuk berharap lebih dalam pernikahan kita. Aku tahu, kau tidak mencintaiku. Andai nanti kau membuangku, aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuknya.'
Batin Lusi.
Entah apa yang akan terjadi di masa depan, yang jelas, Lusi pasrah andai nanti dirinya dibuang oleh Marcel. Tak ingin terlalu larut dalam kebisuan yang panjang, Lusi lantas meraih ponsel jadulnya, menghubungi adiknya yang saat ini tinggal di rumah Inora, Ibu mertuanya.
__ADS_1
**