Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 23


__ADS_3

"Putramu, Alex. Putramu sudah menghamili anak gadis orang. Kenapa? Kenapa sikap bajingan yang ada pada dirimu itu kau turunkan pada putraku? Kenapa?" Teriak Inora, masih dengan mata menyala penuh murka, dan suara yang berteriak kesetanan.


Alex syok bukan main. Ia masih belum bisa mencerna sepenuhnya, apa yang kini tengah dikatakan oleh Inora. Lelaki itu, bahkan wajahnya berubah menjadi muka tolol dan bodoh sejak mendengar pernyataan Inora baru saja.


"Ap-apa katamu?" tanya Alex syok. Lelaki yang terbiasa memasang wajah datar dan selalu mampu mengendalikan dirinya, kini mendadak menjadi kehilangan kontrol dirinya. Rasanya Inora ingin menendang Alex saat ini juga.


"Apa aku kurang jelas bicara?" tanya Inora kemudian. Napas wanita itu memburu, menyebabkan dadanya naik turun dan matanya berkilat penuh murka.


"Marcel, apa benar apa yang dikatakan oleh ibumu?" Alex bertanya.


Tanpa Marcel menjawab, Dion segera memberikan lembaran hasil pemeriksaan Lusi dari sebuah rumah sakit. Sebuah rumah sakit swasta yang dimana Alex sendiri yang menjadi salah satu investor.


Bak diguyur air panas, kepala dan dada Alex seketika terasa panas. Putra yang selama ini ia bangga-banggakan di depan umum, putra yang selama ini menjadi harapan dirinya dalam dunia bisnis, putra yang selama ini begitu ia dan istrinya sayangi, nyatanya telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Kesalahan yang dulu pernah Alex lakukan terhadap Inora. Sungguh menyakitkan.


'Tidak. Marcel tidak boleh mengulangi masa lalu kelam diriku. Marcel tidak boleh sepertiku.'


Bisik batin Alex.


Alex lantas duduk, tepat di sebelah Marcel. Inora sendiri sudah lebih tenang di dalam rangkulan suaminya. Ibu mana yang bisa dengan tenang bila mendapati fakta bahwa, putranya melakukan pelanggaran atas aturan yang telah Inora tetapkan? Inora sungguh terpukul.


"Jadi, ini benar, Marcel? Kau sudah menghamili seorang gadis? Kau mencintainya, nak? Jawab Papa. Papa ingin mendengar darimu langsung," cerca Alex yang kini sudah berhadapan dengan Marcel.


"Jawab dan hadapi dengan jantan. Papa tidak akan memukulmu. Jika kau salah, Papa bersedia menuntun dirimu ke arah yang benar agar tidak melanggar norma masyarakat."


Alex mencoba untuk membujuk, agar Marcel mengatakan yang sebenarnya. Lelaki itu yakin, Marcel pun saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ya, Pa. Dia temanku, mantan office girl di kantor. Lusi Asmarani." Jawab Marcel.

__ADS_1


"Aku dan dia sedang, ya, ada sebuah kesalahpahaman dengannya. Jadi, aku menyukai Renata dan yang mengandung anakku adalah Lusi."


Prang....


Vas bunga mahal pembelian Yasmin, adik Marcel, yang sejak tadi diamankan oleh Dion, nyatanya kini telah melayang ke arah kepala Marcel. Marcel yang tidak siap pun tak bisa menghindar, dan vas itu mengenai pelipis kanan Marcel.


"Astaga, Inora .... Cukup. Masalah tidak akan selesai jika kau bersikap begini. Beri waktu Marcel untuk bicara dan menjelaskan. Kumohon diam dulu. tahan emosimu," Dion sudah mulai kehabisan kesabaran. Meski Inora adalah ibu Marcel, namun Dion tetap tidak ingin bila Inora menghajar Marcel hingga berdarah-darah begini. Entah terbuat dari apa hati Dion. Bahkan ia membela mati-matian Marcel, sekalipun Marcel bukan darah dagingnya.


Pelipis kanan Marcel terluka, dan mengucurkan darah dengan jumlah yang tak sedikit. Tahukah kau siapa yang paling panik? Alex berteriak kesetanan dan segera memanggil satu pengawal sekaligus sopir yang ia bawa.


"Bawa Marcel ke rumah sakit," teriak Alex pada pengawalnya itu. "Sekarang!"


"Baik, tuan," ucap si pengawal.


"Tidak perlu, Pa. Marcel tak apa-apa. Lebih baik diobati di rumah saja," ucap Marcel tiba-tiba. Ia hanya tidak ingin, jika nanti masalahnya melebar dan banyak yang tahu. Untuk sementara, bukankah lebih baik Marcel dan keempat orang tuanya saja yang tahu?


"Ayah Dion sudah terbiasa membalut luka kulit," ucap Marcel yang menatap Dion mengangguk.


**


Di sebuah kamar kost minimalis yang cukup sederhana, Lusi dan Shila tengah menyantap makan siang dengan nikmatnya. Sudah selama seminggu ini, Lusi dan Shila tinggal di sebuah tempat yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggalnya dulu bersama Shila.


Lusi sempat berpikir, bahwa dirinya pasti akan dicari Marcel hingga ke pelosok ibukota. Dan Lusi berinisiatif untuk menyewa kamar, dengan memohon pada si pemilik, untuk merahasiakan identitasnya. Mungkin satu bulan ke depan, Lusi akan pergi dari kota ini.


Lusi terbilang cukup cerdas, meski ia tidak memiliki gelar sarjana. Wanita yang kini bukan lagi gadis itu, berpikir jernih dan memikirkan banyak kemungkinan. Kemungkinan terburuknya adalah, Marcel menemukannya. Bukan tidak ingin Marcel bertanggung jawab atas kehamilannya, melainkan Lusi takut ia membebani Marcel karena Marcel tidak mencintainya.


Sebuah alasan yang konyol dan tak masuk akal.

__ADS_1


"Kakak, sampai kapan kita akan berada di tempat ini? Kapan kita akan pulang ke rumah bibi Karen?" Shila tiba-tiba datang menyentuh lengan Lusi, dengan gaya cemberutnya.


"Nanti, Shila. Kita akan segera sampai disana, jangan khawatir. Tiga Minggu dari sekarang. Kakak akan mengurus sekolahmu dulu, setelah itu kita bisa pergi secepat mungkin dari sini," jawab Lusi kemudian.


"Aku masih tidak mengerti, mengapa kakak pergi menjauhi kak Marcel. Kakak mengandung sekarang, kak Renata bilang, harusnya kakak menikah dengan kak Marcel. Tapi, mengapa kakak sekarang justru menghindari kak Marcel?" Shila bertanya dengan polosnya.


Hati Lusi mencelos seketika. Anak sepolos adiknya itu, mana mungkin Lusi bisa melibatkannya ke dalam masalah? Hanya saja, inilah keadaannya.


"Shila, ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan, dan hanya orang dewasa yang tahu. Kakak hanya meminta tolong, tolong sekali, jangan bertanya apapun tentang Marcel. Kau mengerti?" Lusi menjawab pelan, mengusap puncak kepala adiknya dengan sabar dan penuh rasa sayang.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan diam dan tak banyak bertanya," jawab Shila kemudian.


"Kakak tidak ingin bertemu dengan kak Renata dan kak Marcel, Shila. Ada banyak hal yang membuat kakak lebih nyaman begini. Kami bertiga, terlibat sebuah masalah. Hanya bibi Karen yang bisa menolong kita. Tak apa, kan, jika kita tinggal bersama bibi Karen?" tanya Lusi lagi.


Shila membayangkan, dirinya akan tinggal bersama bibi Karen yang baik dan lembut penuh kasih sayang. Wanita paruh baya itu tak memiliki anak, dan tinggal di pinggiran hutan yang sepi. Seingat Shila, hanya tiga rumah disana, dua lainnya, adalah tetangga bibi Karen.


"Lalu sekolahku?" Shila balik bertanya.


"Jangan khawatir, kau akan tetap bertemu dengan bangku sekolah. Meski jaraknya sedikit jauh, kakak sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah," jawab Lusi.


Shila tersenyum, sedikit bernapas lega.


"Baiklah, kak. Hanya kakak yang aku punya. Apapun yang menjadi keputusan kakak, aku akan menerimanya," Shila berkata pelan. keduanya lantas tersenyum, dan memeluk satu sama lain.


Keputusan Lusi kali ini telah bulat. Ia bertekad untuk tidak menemui Marcel dan juga Renata untuk sementara waktu. Lusi sendiri tidak tahu, mengapa ia mengharapkan cinta dari seorang Marcel. Bodohnya Lusi.


Harusnya, Lusi tahu bahwa itu tidak mungkin. Maka Lusi memutuskan, ia tidak bersinggungan lagi dengan lelaki yang bernama Marcel.

__ADS_1


**


__ADS_2