Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 46


__ADS_3

"Berhentilah di minimarket depan, kak. Aku ingin membeli air mineral dan beberapa camilan. Mulutku terasa pahit tanpa jajan," pinta Hesti tiba-tiba, ketika keduanya telah menempuh waktu selama satu jam perjalanan.


Mereka melalui perjalanan dengan diwarnai obrolan ringan. Sesekali, Hesti mencoba untuk menggiring sang kakak agar bicara padanya, mengenai Renata. Sayangnya, Marcel cukup cerdik dan mampu membaca situasi.


"Memangnya ada?" tanya Marcel pada adiknya.


"Ada, sebentar lagi akan terlihat selepas tikungan ini," jawab Hesti.


Dan ketika mobil sport milik Marcel itu telah tiba di halaman minimarket, Hesti segera mengajak Kakaknya untuk turun. Tak lupa, Hesti juga menarik Marcel untuk turun.


"Ikutlah denganku, kak. Aku akan membeli sesuatu untuk kak Lusi. Lihat, apakah nanti Kak Lusi akan suka atau tidak. Ayo, bantu aku. Kak Marcel pasti akan tahu apa yang membuat kak Lusi suka dan tidak, kita belanja oleh-oleh," ajak Hesti yang selalu memaksa.


Marcel hanya bisa memutar bola matanya jengah, menyaksikan tingkah Hesti yang menurutnya seperti anak kecil.


"Kau ini, selalu mengaturku dan suka semaunya sendiri," ujar Marcel tak tahan.


Hesti hanya tertawa kecil, tak peduli dengan ocehan sang kakak. Baginya, ini akan lebih menyenangkan.


"Astaga, apa itu?" tanya Hesti, ketika netranya tanpa sengaja menangkap sepasang insan tengah memasuki sebuah penginapan kelas menengah.


Telunjuk Hesti begitu jelas menunjuk dua sosok yang tampak berjalan beriringan itu. Sungguh, betapa pemandangan mengerikan itu, membaut jantung Marcel terasa terbakar hingga menjadi abu.


Marcel terasa kaku. Tubuhnya terasa tegang dengan otot rahang yang mulai mengeras.


Meski belakangan Marcel tak begitu peduli pada Renata, dan memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan Renata, namun melihat Renata yang bermain api di belakang Marcel, membuat Marcel tak terima.

__ADS_1


Bukannya apa, tetapi ini perkara Renata yang berkata bahwa ia tak akan mampu menjalani hari tanpa Marcel. Sungguh penipu ulung.


"Kak, hadapi Renata. Kau mau pulang saja, atau menghampirinya?" tanya Hesti, yang mulai tertawa dalam hati. Selain cerdik, sifat Aridha yang picik lagi pandai mengatur strategi itu, begitu menurun pada Hesti. Tak heran, di usia yang semuda ini, Hesti pandai merancang situasi sesuai kemauannya.


"Kita pergi saja, Hesti. Aku muak melihat pemandangan ini. Cukup tahu saja, kurasa aku dan Renata sudah berakhir beberapa waktu lalu. Jadi, tak ada urusan lagi dengannya. Ayo," ajak Marcel kemudian.


Sayang, kalimat ajakan Marcel itu justru mendapat tatapan tajam dari Hesti.


"Dasar banci! Otakmu kemana? Gara-gara Renata, Papa menjauhkan dirimu dari kak Lusi. Sekarang, kau akan diam saja ketika melihat Renata yang murahan itu menduakanmu dengan lelaki lain. Oh, bukan menduakan, menigakan dan lainnya. Dasar payah. Kau ini calon pemimpin salah satu perusahaan Papa, tapi kau bodoh!" umpat Hesti.


Wanita itu tak menunggu Marcel menjawab, melainkan segera melangkah maju menuju Renata, seraya tangannya menarik Marcel untuk segera menghampiri Renata. Hesti perlu memberi pelajaran si wanita murahan itu, agar tahu Renata sedang berhadapan dengan siapa.


Hesti melihat Renata yang sudah mulai membawa kunci kamar. Wanita itu masih tidak menyadari, bahwa gerak-geriknya tengah dipantau oleh Hesti.


Hingga Renata nyaris saja memasukkan anak kunci ke dalam kamar, Hesti segera menghentikan langkah. Marcel sendiri tak banyak bicara, sebab ia telanjur malas berurusan dengan Renata. Cukup tahu bagaimana Renata di luar tanpanya, Marcel enggan ribut dan lebih memilih, menjauhi Renata adalah keputusan yang tepat baginya.


Tiga pengawal sudah menemui dan bicara pada resepsionis. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, yang jelas, itu sudah menjadi salah satu bagian rencana Hesti.


"Aku tahu. Aku menyesal memilih Renata," hanya itu yang keluar dari mulut Marcel. Marcel terlalu malas berdebat, "ayo kita kembali ke tujuan awal saja, Hesti. Aku ingin bertemu dengan Lusi sekarang juga," ungkap Marcel kemudian.


"Dasar payah," umpat Hesti. Wanita itu segera mengetuk pintu kamar hotel tempat dimana Renata masuk tadi. Tangan kiri Hesti masih saja menarik dan menggenggam tangan Marcel.


Sesaat, pintu terbuka dari dalam. Sesosok laki-laki dengan sedikit tato di leher hingga bahu, muncul dan menatap penuh tanya, pada Hesti yang menatap tajam dirinya.


"Maaf, dengan siapa?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku tak ada perlu denganmu dan Renata. Suruh dia keluar. Aku ingin bicara banyak hal padanya," ujar Lusi tanpa ba-bi-bu.


"Kau siapa?" tanya lelaki itu lagi.


"Kau tak perlu tahu siapa aku. Urusanmu dengan Kakakku sebab kau membawa wanita milik kakakku ke tempat terkutuk macam ini. Dan urusanku, adalah dengan wanita lacur yang hendak kau tiduri di dalam!" jawab Lusi dengan tegas dan suara dingin.


Tanpa kata, Lusi mendorong laki-laki itu, menerobos masuk dan menampar Renata. Membalas dengan cara anggun? Entah mengapa kali ini Hesti merasa tak tahan.


"Keluar kau pelacur!" ucap Hesti dengan barbarnya. Gadis muda delapan belas tahun itu segera menghampiri Renata yang rupanya telah mengganti pakaiannya dengan lingerie tipis serupa tissue.


"Kau?" Renata begitu terkejut, kala ia baru saja duduk di ranjang tengah menunggu kekasih gelapnya. Janda muda itu tak menyangka, Hesti bisa masuk ke dalam kamarnya.


Plak plak plak ....


Tiga tamparan mendarat khusus di pipi Renata.


"Setelah kau berhasil merebut kakakku dari istrinya, membuat masa depan kak Lusi hancur, lantas begini kelakuanmu di luar? Otak dan perasaanmu benar-benar telah mati!" hardik Hesti tanpa menunggu berbasa-basi.


Sontak saja Renata tak terima, merasa bahwa harga dirinya diinjak-injak oleh Hesti.


"Kau tak berhak mencampuri urusanku. Kau tidak .... " belum sempat Renata kembali bicara dan berdiri, Hesti sudah menghentikan Renata dan membuat wanita itu segera duduk di ranjang kembali.


"Mentang-mentang kau lebih dewasa dariku, kau pikir aku akan takut padamu? Bahkan harta nenek moyangku tak akan habis tujuh turunan jika hanya untuk menyiksamu seumur hidup. Mari bertarung denganku, Renata, sebab aku datang mewakili kak Lusi, untuk membuatmu sadar, seberapa besar kesalahan fatal dari sebuah pengkhianatan!" Hardik Hesti.


"Mungkin kau lupa, aku bisa menggunakan nama keluargaku, untuk bisa membuatmu kehilangan kepala dan hanya tersisa badan saja," sambung Hesti.

__ADS_1


Tak ada takut sama sekali, Hesti tak memiliki rasa takut sama sekali pada Renata yang terbilang tubuhnya lebih tinggi dan berisi dari dirinya. Jika perlu, mari adu tembak dan saling serang dengan menggunakan anak panah dan busur milik Mama Aridha.


**


__ADS_2