Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 31


__ADS_3

Tubuh menggigil Marcel berusaha bangkit, dan tak ada niat Lusi untuk menolong suaminya itu. Sedang hatinya mengalami kekacauan, Lusi di gulung murka. Mencoba sabar selama tiga bulan ini menjadi istri Marcel, menerima tawaran lelaki itu yang katanya akan membangun hubungan baik, namun nyatanya semua hanyalah dusta.


Denyut sakit di hati Lusi, tak sebanding dengan apa yang Marcel rasakan. nyatanya pening di kepala Marcel, masih bisa diobati dengan obat dari Dokter, sementara Lusi? Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk menyembuhkan.


"Apa yang kau lakukan, Lus? Kau sengaja lancang mengintip ponselku?" tanya Marcel kemudian, "jangan bicara yang tidak-tidak."


Dengan pelan dan sakit yang coba Lusi tahan, Lusi mengembalikan ponsel Marcel, "Aku tak sengaja melihat ponselmu. Jika kau memang sedang tak ingin melupakan Renata, menikahinya hanya karena kehamilan, jangan khawatir, aku cukup tahu diri aku siapa bagimu. Kita berpisah saja nanti, aku tak ingin menyiksamu dan perasaanmu terlalu lama."


Perutnya sudah membesar, namun Lusi masih secengeng masa sekolah dasar dulu. Entah mengapa, Lusi merasakan hatinya terluka parah.


Mungkin karena cinta, mungkin pula karena Lusi terlalu percaya akan janji-janji Marcel. Bila pergi, Lusi merasa tak seharusnya pergi jauh. Hanya saja, untuk tetap bersama dengan Marcel, wanita itu tak mampu.


"Lus, dengarkan aku dulu," pinta Marcel dengan suara lirih. Selain tak memiliki tenaga untuk berdebat, Marcel juga sadar diri, kesalahan memang ada padanya, "Maaf, biar aku jelaskan. Aku akan merubahnya segera, oke? Jangan emosi dulu."


Meski bicara dengan nada pelan, namun mata Lusi berkaca-kaca, menahan dan mencoba memperlihatkan bahwa Lusi tak cemburu di depan Marcel. Wanita itu mati-matian mengendalikan diri, tak berminat sama sekali untuk terlihat rapuh apalagi ingin dikasihani. Itu bukan karakter Lusi.


"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi, Marcel. Dulu kau mengucap janji tak akan membuatku menangis, tetapi kau masih saja bersedia tetap terikat dengan masa lalumu. Jangan khawatir, aku akan merawatmu hingga sembuh setelah ini. Tetapi nanti, sebaiknya kita berpisah saja. Aku tak keberatan jika kau menceraikan aku meski anak ini belum lahir," ujar Lusi tegas.


Meski hatinya sakit, namun Lusi harus menegaskan ini pada Marcel. Untuk apa bersama, bila sekiranya itu hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Bukankah sebaiknya berpisah dan itu akan menjadi bahagia untuk Marcel.


"Kenapa kau meminta perpisahan? Duduklah, beri aku penjelasan," ujar marcel seraya menepuk tepi ranjang di dekatnya.

__ADS_1


"Aku tak ingin kau terbebani dengan pernikahan ini, Marcel. Kau harus tahu satu hal, tak ada wanita yang ingin berada pada posisi sepertiku. Mana ada wanita yang akan dengan rela menikahi lelaki yang jatuh cinta setengah mati pada sahabatnya? Tidak. Aku tak akan pernah sudi hidup di sampingmu, sementara hatimu untuk Renata," ungkap Lusi.


"Lus," Marcel berusaha menyentuh tangan istrinya, namun wanita itu menghindar, berusaha membentengi hati agar tak berharap lebih nantinya, "jangan meminta perpisahan, oke? Aku tak takut menerima sanksi dari keempat orang tuaku, aku hanya takut nanti kau semakin merasa sendiri. Baiklah, aku minta maaf, aku akan berusaha untuk memperbaiki diri dan tak akan menyimpan bayangan Renata dalam bentuk apapun."


"Dari awal kau bahkan sudah berjanji, Marcel. Kau tak akan menyakiti aku apalagi membuatku menangis. Empat orang tuamu, bahkan kau sanggup mengingkari janji pada mereka, lantas bagaimana dengan aku? Aku yang hanya mantan sahabatmu. Andai aku tahu kau akan seperti ini memperlakukan aku, sumpah demi tuhan, aku tak akan melalukan hal bodoh itu,"


Lusi keluar dari kamar menuju ke arah dapur dan menangis sekuatnya disana, tanpa peduli panggilan lirih Marcel. Wanita itu perlu menenangkan hatinya, mencoba belajar menerima semua kondisinya.


Ia pikir, hidup dan rumah tangganya akan berakhir berhasil dan Marcel membaik padanya. Nyatanya, itu tak lebih dari sekedar bayangan belaka.


Dari dalam kamar, Marcel berusaha bangkit, menghalau pening pada kepalanya yang kian menusuk. Rasanya tak tertahankan lagi, namun Marcel perlu menenangkan Lusi saat ini.


Naasnya, ketika Marcel nyaris mencapai pintu, lelaki itu terhuyung. Kepalanya terasa berat dan tenaganya tak lagi kuat menopang beban tubuhnya sendiri. Marcel terjatuh dengan punggungnya yang menabrak pintu setengah terbuka.


Segera Lusi berjalan cepat menuju ke arah kamar. Meski air matanya terhapus tadi, namun jejaknya masih terlihat jelas.


"Marcel, astaga, kau tak apa?" Lusi segera berjongkok, memeluk Marcel dan memapah suaminya itu menuju ke arah ranjang, "harusnya kau tak bangun. Cepatlah istirahat. Aku akan hubungi Hesti dan minta tolong dia saja," tambah Lusi.


Marcel diam tak menyahut. Lelaki itu terlalu pening kepalanya, hingga membuatnya tak memiliki daya untuk bicara.


Ada rasa kagum tersendiri, ketika Marcel melihat bahwa Lusi demikian mengkhawatirkan dirinya. Namun meski begitu, entah mengapa tiga bulan ini Marcel masih tak menyadari perasaannya. Ia pikir, dirinya hanya mengagumi, bukan mencintai.

__ADS_1


Lusi segera berlalu, meninggalkan Marcel dan mencari ponselnya yang tadi tertinggal di balkon. Meski ada kekecewaan, jelas sekali jika Lusi tetap tak bisa meninggalkan Marcel begitu saja.


Entah berapa lama Lusi menjauh dari Marcel hingga lelaki itu terlelap, Hesti datang bersama seorang dokter ketika gelap menyapa.


"Bagaimana Dokter? Apakah kak Marcel sakit parah?" tanya Hesti ketika lelaki itu menerima secarik kertas berisi resep obat yang harus dibeli.


"Hanya kelelahan dan sedikit tertekan, menyebabkan kepala belakang nyeri tak tertahan. Untuk sementara, dua atau tiga hari dipergunakan untuk istirahat saja," kata dokter kemudian.


"Baik, terima kasih," jawab Hesti melepas kepergian dokter.


"Aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tetapi kurasa kalian sedang tak baik-baik saja. Kenapa sejak tadi kalian hanya saling diam?" tanya Hesti tiba-tiba. Gadis itu masih penasaran, mengapa suasana mendadak dingin.


"Tak ada masalah apapun. Aku hanya lelah dan tak ingin bicara. Tolong, Hesti, biarkan aku istirahat," pinta Marcel seraya memejamkan mata.


Hestu menatap tajam Lusi yang membuang muka, memandang pintu ke arah balkon untuk menghindari cercaan dari Hesti.


"Aku tak bisa kau bohongi, kak. Kau pasti telah membuat kak Lusi menangis. Jangan terlalu rapi menyimpan kebohongan, aku juga tahu selama ini, tentang bagaimana kelakuanmu di belakang kak Lusi," ujar Hesti datar.


Tentu kalimat Hesti cukup membuat Lusi tertarik, dan refleks Lusi menoleh ke arah Hesti.


"Aku bahkan lebih dari sekedar tahu, jauh dari seperti yang kau bayangkan," tambah Hestu lagi, membuat Marcel yang tadinya sudah memejamkan mata, kini membukanya kembali.

__ADS_1


**


__ADS_2