
Pagi ini, menjadi pagi pertama sepasang pengantin baru yang baru menikah, Lusi dan Marcel. Sepasang suami istri muda itu harusnya terbangun, dan mengenang malam panas mereka semalam. Tetapi yang ada, Lusi bangun seorang diri, dengan Marcel yang pulas tidur memunggunginya.
Jangankan malam pertama, bahkan sepulang dari makan malam, Marcel mendiamkan Lusi.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Marcel semalam. Semenjak kalimat terakhir ketika Lusi pulang dari makan malam semalam, Marcel seolah berubah kian dingin tak tersentuh. Lusi sendiri tak menyangka, reaksi dan perubahan suaminya akan sedrastis ini. Efek pertemuan dengan Renata, cukup memberikan efek dahsyat.
Dengan pelan agar ranjang tak terguncang karena gerakannya, Lusi turun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri segera. Ia perlu memasak sebelum nanti Marcel harus berangkat kerja.
Di tempatnya, dengan segala rasa yang Marcel sendiri tak mengerti, lelaki itu sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Tetapi sayangnya, lelaki itu enggan bangun dan lebih memilih untuk pura-pura tidur, karena malas bila harus bicara apalagi bertatap muka dengan Lusi.
Ia sendiri bingung, ketika Lusi pergi, Marcel seolah merasa kehilangan. Namun ketika Lusi ada dan ia bertemu kembali dengan Renata, rasa di hatinya untuk Renata kembali membuncah, dan seolah ia tak memiliki minat sama sekali untuk mencoba mencintai Lusi.
Jahatkah Lusi selama ini?
Tidak. Lusi tak pernah jahat sama sekali. Itulah yang Marcel akui. Hanya saja, perasaan tetap tak bisa dipaksakan. Meski Marcel telah berjanji pada keluarga besarnya untuk menjaga dan belajar mencintai Lusi, namun nyatanya itu terasa sulit dan berat dilakukan.
Andai nanti aku benar-benar tak bisa mencintaimu, apakah kau akan marah, Lusi? Jika anak itu lahir, bagaimana bila aku tetap tak mencintaimu? Apakah kau akan mengutukku nanti? Kau orang baik, aku seperti silau akan kebaikanmu, namun juga tak bisa memaksakan perasaanku. Astaga, bagaimana ini?
Batin Marcel yang masih tetap memejamkan matanya.
Suara gemericik air dalam kamar mandi telah berhenti, pertanda Lusi telah selesai mandi. Tak lama, Marcel mendengar istrinya itu baru keluar dari kamar mandi, dan membuka almari pakaian. Marcel tak peduli, dan tetap tak ingin menatap wajah Lusi lebih cepat.
__ADS_1
Hingga kemudian Lusi telah usai dengan ganti pakaian dan sedikit merias wajah, wanita itu lantas keluar kamar, berniat masak untuk suaminya tercinta. Lusi tersadar, dirinya memang harus melayani suaminya, sebuah kewajiban yang harus Lusi lakukan meski ia tahu betul jika Marcel mungkin tak sepenuhnya melakukan kewajibannya.
Aroma masakan menyengat terasa menusuk hidung mancung Marcel, begitu Marcel sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Beruntung semalam ia menyempatkan diri mengajak Lusi untuk belanja pasca makan malam. Tak lupa, lelaki itu bahkan telah siap dengan sepatu yang bertengger manis pada kakinya.
"Pagi, Lusi. Kau masak?" tanya Marcel, yang sedikit membuat Lusi terperanjat kaget.
"Pagi. Ya, duduklah. Ini sudah matang dan aku tinggal menyajikannya," jawab Lusi dengan binar terang di matanya.
"Apa yang kau masak? Sepertinya harumnya membuatku lapar," ungkap Marcel yang mulai bisa mengendalikan diri. Lelaki itu hanya tak mau bila nanti ia harus terus-menerus mengabaikan Lusi hingga membuat Lusi tak betah tinggal dalam unit apartemen bersamanya.
"Kepiting saos tiram dan tumis sayur. Aku tak tahu kau suka atau tidak. Tetapi ya, semoga saja kau suka. Cicipi dulu untuk sarapan, jika kau suka, aku akan sering buatkan ini untukmu," kata Lusi, seraya menebar senyum. Sungguh, Lusi begitu bersyukur karena Marcel kembali baik padanya.
"Sebenarnya aku tak terbiasa makan nasi ketika sarapan. Tetapi tak apa, mungkin aku harus membiasakan diri mulai dari sekarang," ungkap Marcel pelan dan hati-hati.
"Oh benarkah? Maaf, aku tak tahu. Apakah perlu diganti dengan roti saja? Mungkin ini bisa aku panaskan nanti untuk menu makan siang saja," sahut Lusi kemudian. Ia sedikit tak enak pada Marcel.
"Tak masalah. Lagipula sepertinya, ini cukup menggugah selera. Tak apa, terima kasih sudah membuatkan sarapan untukku," Marcel tersenyum, "mulai sekarang, lakukan apapun yang kau suka. Masak apa saja yang ingin kau masak. Lakukan sesuatu yang kau sukai. Tetapi ingat, jangan melewati batas. Jika kau suka memasak nasi pagi hari, aku akan membiasakan diri untuk itu. Pergunakan uang belanja dariku untuk keperluan secukupnya saja. Nanti, aku akan sendirikan jatah belanja untuk kebutuhan pribadimu dan uang perawatan tubuh. Tak banyak karena memang yang kaya adalah Papa Alex, bukan aku." tambah Marcel panjang lebar.
Lusi tersenyum dan mengangguk.
"Maaf, Marcel. Aku, aku harus menjadi bebanmu. Aku sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sejak kemarin. Hanya saja, aku merasa sedikit tak enak padamu," ungkap Lusi kemudian.
__ADS_1
"Ada apa? Sampaikan saja," timpal Marcel, yang mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku ingin tetap bekerja sebenarnya. Shila, Shila adalah tanggunganku dan aku juga akan menganggur seharian jika aku tak bekerja. Aku tak memiliki banyak teman-teman seperti orang lain. Selain Renata, tak ada yang mau menjadi temanku karena aku orang miskin. Pastinya jika aku tak bekerja, aku akan merasa kesepian," ungkap Lusi.
Marcel berpikir sejenak.
"Tidak, kau tidak boleh bekerja. Masalah Shila, semua sudah sepakat bahwa Shila akan bersama Ibuku, Ibu Inora. Semua biaya hidup dan pendidikan juga akan ditanggung Papa Alex. Jangan khawatir, Shila tak akan kekurangan apapun apalagi kekurangan kasih sayang dan uang. Fokuslah untuk menjaga dirimu dan kandungan di rumah. Aku sendiri juga akan fokus dengan melanjutkan pendidikan. Maaf jika setelah ini, aku mungkin jarang bersamamu dan hanya malam saja akan pulang," ucap Alex, sambil sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tak masalah jika begitu, asal aku masih bisa menyiapkan segala kebutuhanmu, dan juga melayanimu dengan baik," sahut Lusi.
Entah mengapa, Lusi merasakan hatinya terasa tak nyaman. Membayangkan akan jarang berjumpa dengan Marcel, dan akan bertemu hanya di malam hari saja, Lusi mendadak tak bisa membayangkan.
Suasana terasa hening, dengan adu sendok garpu dan piring yang mendominasi seisi ruang makan. Sejenak Marcel merasa sedikit nyaman dengan menu sarapan pagi ini. Tak pedas, dan juga pas di lidahnya.
Usai sarapan, Marcel segera bergegas ke kamar untuk mengambil dompet, tas dan juga kunci mobilnya. Lusi sendiri menunggu Marcel usai mencuci piring. Sejenak, wanita itu merasa berbunga-bunga hatinya, karena merasa Marcel perlahan mulai membaik padanya.
Lusi hanya lupa, bahwa dirinya tak sepatutnya merasakan tersanjung akibat janji-janji manis Marcel. Hari kemarin, Marcel juga telah baik padanya, tetapi sayangnya, semalam Marcel berubah dingin.
Jika pagi ini Marcel berubah baik, siapa yang bisa menjamin bila siang atau malam nanti Marcel akan tetap baik? Lihat saja, neraka berkedok rumah tangga, akan segera Lusi rasakan setelah ini.
**
__ADS_1