
"Marcel, apa yang kau lakukan? mengapa kau membawa paksa diriku?" tanya Lusi dengan paniknya. Ia tak menyangka. Kejadiannya begitu cepat ketika Marcel menggendong putrinya, dan membangunkan dirinya untuk di bawa pergi.
Antara setengah sadar dan tidak, disertai gulungan rindu yang begitu dahsyat, bodohnya Lusi menurut saja ketika Marcel membawa dirinya secara paksa. Pengawal tak berkutik, sebab Lusi tak memberontak sama sekali.
"Lepaskan aku. Aku tidak mau kau bawa pulang, Marcel. Jangan bodoh, pulangkan aku ke rumah itu lagi. tempatku di sana," pinta Lusi seraya menekankan kalimatnya.
"Memangnya kau tak rindu diriku? Sudahlah, Deny akan mengantar kita untuk pulang ke apartemen kita. Nanti, aku akan belikan rumah yang layak dan lebih besar agar kau dan bayi kita lebih leluasa," jawab Marcel lembut. Tak henti-hentinya, lelaki itu menciumi sang putri yang tampak tidur pulas dalam gendongannya.
Delapan bulan, bahkan Marcel baru kali ini dapat mendekapnya. Hanya Inora dan Aridha, yang sesekali mengirimi dirinya foto sang buah hati. Hati ayah mana yang tidak rindu?
"Ya Tuhan, aku hanya khawatir kau nanti justru di tambah masa hukuman, Marcel. Aku khawatir .... "
"Berpisah lebih lama dariku? Jangan khawatir. Aku akan melawan Papa jika Papa masih memaksa memisahkan kita. Yang terpenting sekarang, kau benar-benar ingin keluarganya kita utuh, bukan?" tanya Marcel pada Lusi.
Lelaki itu masih setia menggendong sang buah hati, Zetta Zaneta Dinata namanya. Bayi mungil yang demikian lucu menggemaskan.
Meski Marcel tak diberi izin menemui Lusi dan Zetta sekian lama, namun Alex masih punya pikiran untuk memberi kesempatan Marcel agar memberi nama putrinya. Alex tentu tak akan sejahat itu memisahkan anak dari ayahnya.
"Aku tak habis pikir denganmu, Marcel. Terserah kau saja. Yang jelas, aku tak mau jika nanti terjadi sesuatu yang tak mengenakkan di masa depan," Lusi menurunkan bahunya pasrah.
Lusi hanya resah dan khawatir, jika nanti Papa mertua dan Mama mertuanya akan menghukum Marcel lagi nanti.
**
__ADS_1
Matahari nyaris saja terbit di ufuk timur, ketika mobil yang di kemudian oleh Deny telah tiba di basemen apartemen milik Marcel. Lelaki itu tetap setia membuka mata, meski Lusi telah terantuk-antuk sebab matanya yang terasa lengket.
Senyum lelaki itu menawan, dengan mata yang sipit serupa dengan milik Alex. Tentu saja wajah Marcel tidak jauh dari Alex.
"Lus, bangunlah. Kita sudah sampai," kata Marcel, seraya menyenggol lengan Lusi agar terbangun segera. Tak hanya itu, Zetta juga masih setia berada dalam gendongan lelaki itu. Aroma khas bayi yang melekat pada lelaki itu, membuat Marcel tak pernah bosan menghirupnya.
Erangan kecil terdengar dari Lusi, dan Marcel tersenyum penuh makna.
"Ayo keluar, kita harus segera menidurkan putri kita," ajak Marcel, agar Lusi segera mengikuti langkahnya menuju ke dalam apartemen.
Baru saja pintu apartemen terbuka, Marcel cukup terkejut saat Lusi menghidupkan lampu.
Sosok Aridha dan Alex sudah duduk di ruang tamu dengan posisi duduk. Dari awal, Marcel sudah memperkirakan hal ini terjadi. Tetapi sayangnya, kedatangan mereka dengan cara seperti ini tentunya menumbuhkan rasa syok.
"Siapa yang menyuruhmu membawa pulang Lusi dan Zetta?" tanya Alex dengan nada datar. Tentu saja tatapan lelaki itu sanggup membuat Marcel merasa terintimidasi. Beruntung, Marcel masih bisa bersikap biasa saja.
"Aku, karena Lusi istriku dan ini anakku," jawab Marcel tenang, seraya tetap mengayun Zetta dalam gendongannya. Bocah mungil itu juga tampak lebih tenang saat berada di dalam gendongan ayahnya.
"Tapi kau membawanya tanpa izinku, Marcel," sergah Alex seraya maju dua langkah.
"Aku suaminya. Setahun lebih aku rasa itu adalah hukuman yang cukup berat untukku. Jadi, Papa tidak perlu banyak mengatur kami, karena ini rumah tanggaku. Lusi dan Zetta, adalah tanggung jawabku sepenuhnya," ucap Marcel kemudian.
Alih-alih marah sebab ia di bantah habis-habisan oleh sang putra, nyatanya Alex justru tertawa renyah, menyadari satu hal akan perubahan Marcel.
__ADS_1
"Bagus jika kau merasa bahwa Lusi dan Zetta adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Tetapi ingatlah, tanggung jawabmu harus kau penuhi. Jika kau sedikit saja menyalahi aturanku dan menyalahi tanggung jawabmu, aku yang akan mengambil Lusi dan Zetta kembali, ke dalam genggaman tanganku," tegas Alex kemudian.
Marcel tercengang layaknya orang bodoh, begitu juga Lusi. Keduanya tampak terheran-heran.
Tadinya, Marcel sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan dirinya di hajar habis-habisan oleh Papa. Tapi kali ini keadaan di luar ekspektasi Marcel yang terlalu liar.
"Duduklah," perintah Alex pada putranya itu.
"Pa? Papa baik-baik saja? Bukannya Papa harusnya marah pada Marcel?" tanya Marcel kemudian.
"Ya. Tapi tidak untuk kali ini. Kau menjawab sesuai dengan yang Papa harapkan. Jadi selamat, Lusi, telah Papa kembalikan padamu. Jaga dia sepenuh hatimu, Marcel. Dia bidadari yang cantik dan Baik. Jangan lagi-lagi kau membuatnya menangis. Jika suatu hari nanti kau membuatnya menangis seperti yang aku lihat lebih dari setahun yang lalu, aku tak akan segan untuk menebas lehermu, dengan tanganku sendiri!" tegas Alex kemudian.
Marcel dan juga Lusi tersenyum lega. Akhirnya, mendapatkan Lusi kembali, tak sebahaya yang Marcel bayangkan.
"Jadi?" tanya Marcel memastikan.
"Selamat, kau sudah berhasil melewati masa hukumanmu. Sekarang, tugasku menjaga Lusi dan Zetta aku serahkan kembali padamu," jawab Alex telak, membuat Marcel tersenyum lagi.
"Terima kasih, Pa," ungkap Marcel kemudian.
Setelah sekian lama menunggu, pada akhirnya bahagia juga datang menghampiri lelaki itu. Perjuangan keras yang selama ini Marcel jalani, pada akhirnya membuahkan hasil, tentunya dengan ujung yang bahagia.
**
__ADS_1