Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 35


__ADS_3

Marcel baru saja tiba di unit apartemennya, ketika Lusi baru selesai mandi, dan mengeringkan rambutnya. Wanita itu tidak tahu dengan kepulangan suaminya, dan sibuk merias didepan kaca rias di dalam kamar mereka.


Meski ada Marcel pun, Lusi sudah bertekad untuk merawat diri, tak lagi berniat mengejar Marcel dan menyadarkan suaminya itu, tentang cintanya. Biarlah, seiring berjalannya waktu, Marcel akan tahu sendiri nanti, tentang ketulusan yang Lusi punya. Fokus Lusi hanya satu, ia harus berbenah diri, mempercantik penampilan, dan juga fokus mengurus kandungannya hingga ia melahirkan dan membesarkan anaknya.


Sekitar setengah jam yang lalu, Lusi mengetahui dengan mata kepalanya sendiri, bahwa marcel keluar dari unit Renata, seraya berbincang entah berapa lama. Lusi sekedar membuktikan, lantas pulang dengan kecewa di hatinya tanpa mengawasi lagi gerak-gerik suami dan sahabatnya.


Beruntung kedatangan Ayah dan Ibu mertua, tidak begitu lama, ketika dirinya ingin tahu dan memastikan bahwa Marcel keluar untuk menemui Renata.


Kini, persetan dengan cinta Lusi pada Marcel. Mencintai lelaki itu tak membuat Lusi baik-baik saja, yang ada Lusi justru tertekan batin. Setiap hari dalam kebersamaan mereka, Lusi sudah bertekad hanya menganggap bahwa Marcel adalah teman atau saudaranya.


Marcel tertegun, ketika mendapati Lusi menyisir rambut usai mengeringkannya. Sedikitpun Lusi tak berniat menyapanya, seperti biasa. Wanita itu cenderung dingin, dan tak bersikap seperti biasanya.


"Lus, Ayah dan Ibu, dimana?" tanya Marcel datar, seolah ia tak berbuat kesalahan apapun.


Dalam hati Lusi, Lusi mendadak jijik dengan apa yang dikatakan oleh Marcel. Tidak pernah Lusi menyangka sebelumnya, Marcel akan seperti ini. Ia pikir, Marcel akan dengan jantan memikul tanggung jawabnya, nyatanya Marcel pindah ke lain hati dan membuka kesempatan orang lain masuk ke dalam rumah tangga mereka.


"Sudah pulang," Jawab Lusi datar.


"Kau sudah sarapan?" tanya Marcel lagi.


"Sudah," jawab Lusi singkat.


Marcel terpaku, menatap Lusi seraya duduk di sofa menghadap ke arah meja rias, tepat dimana Lusi saat ini. Ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.

__ADS_1


"Kau tidak bertanya aku dari mana?" tanya Marcel, menatap Lusi dengan penuh penasaran.


"Pepatah mengatakan, banyak bertanya dan banyak tahu akan membunuhku. Jadi lebih baik, aku diam demi keselamatanku dan anakku," jawab Lusi seraya menatap Marcel sekilas, sebelum akhirnya wanita itu keluar kamar.


Marcel tercengang. Lelaki itu tak menduga akan sikap dingin Lusi padanya. Ia tak tahu pasti, sejak kapan Lusi berubah begini. Yang Marcel rasakan, Lusi sudah mengetahui tentang skandalnya bersama Renata.


Sekali lagi, Marcel menghembuskan napasnya kasar. Lelaki itu tak tahu harus menjelaskan apa pada Lusi, Andai nanti Lusi mengintrogasi dirinya mengenai hubungan dengan Renata.


Dengan langkah lebar, Marcel keluar, mendapati Lusi tengah beberes Ruang tamu dan membersihkan meja. Meski Lusi diam dengan raut wajah datar, tapi wanita itu memikirkan banyak hal. Hatinya semakin lebur, dengan kecewa yang menyertai.


"Lus, kau sudah bicara dengan Hesti?" tanya Marcel, berhasil membuat Lusi menaikkan sebelah alisnya.


"Tentang apa? Hesti tak kemari," jawab Lusi kemudian.


"Aku tak perlu menjawab. Itu tak penting," jawab Lusi cuek.


"Tapi ini penting untukku," timpal Marcel tanpa menatap Lusi. Lelaki itu menatap meja lurus di depannya, seolah tidak mampu membelokkan lehernya.


"Jawaban dariku, kondisi tubuhku, dan juga semua yang ada pada diriku, tak lebih penting dari kekasihmu, Marcel. Rahasiamu bersama kekasihmu, kurasa itu jauh lebih penting. Aku lelah, dan aku tak ingin mendebatmu," jawab Lusi seraya melanjutkan menata meja.


Refleks Marcel menatap Lusi, mengamati raut wajah wanita itu dengan tenang. Jantung pria itu berdegup tak karuan, dengan banyak rasa yang sulit Marcel ucapkan. Antara khawatir dan juga takut, itulah yang kini menguasai hati pria itu.


"Apa maksudmu?" tanya Marcel lagi, setengah memaksa.

__ADS_1


Tanpa berniat menjawab pertanyaan Marcel, Lusi bangkit dan segera ke belakang untuk membersihkan dapur. Wanita itu lebih memilih untuk berbenah isi apartemen bila dibanding harus meladeni Marcel.


"Lus, aku suamimu, aku bertanya padamu dan kau harus menjawabnya. Mengapa kau tak menghormati aku sebagai suamimu?" tanya Marcel dengan nada suara sedikit naik.


"Jangan membuat kondisi bayiku tidak baik-baik saja, Marcel. Jangan membuat kegaduhan dan memancing masalah yang tak penting. Aku sudah tahu semuanya," jawab Lusi, masih dengan tenang tanpa menatap Marcel.


"Kau sudah berjanji akan berusaha mencintaiku, alih-alih mencintaiku, yang ada kau justru mempermainkan aku dengan bermain belakang dengannya. Aku sudah tahu, tahu semua kebusukanmu dengannya. Kau dan dia, kalian sama pengkhianatnya," jawab Lusi tenang, meski ia merutuk matanya yang berkaca-kaca dan tak bisa dikendalikan, "tidak usah menunggu anak ini lahir jika kau memang tak lagi meneruskan niat belajar menerimaku dan mencintaiku. Jangan biarkan dirimu terlalu lama menahan luka karena tak bisa membersamainya."


Lusi meletakkan lap meja yang ia pakai tadi, berjalan sedikit lebih cepat menuju ke arah kamar.


Ada banyak hal yang ingin sekali Lusi katakan, namun Lusi tak ingin dianggap banyak bicara dan mengatur Marcel. Tak ada pilihan lain, selain pergi dan menghindari saja lelaki seperti Marcel.


Di dalam kamar, Lusi segera beranjak menuju balkon, menutup tirai dan mengunci pintu balkon dari luar, agar Marcel tak bisa menyusulnya.


Sakitnya benar-benar luar biasa.


Di luar, Marcel tak bergerak sama sekali di tempatnya. Lelaki itu tak menyangka, semua keburukannya terbongkar secepat ini. Sungguh, ia tak ada maksud apalagi berniat mengkhianati Lusi, hanya saja, Marcel tak bisa lepas total dari Renata.


Bagaimana dengan perasaan hati Marcel nanti?


Sekali lagi, Marcel menghembuskan napasnya kasar.


**

__ADS_1


__ADS_2