Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 20


__ADS_3

Dengan langkah terseok tanpa alas kali akibat sandal yang terputus, Lusi berlari menyusuri jalan dengan hati yang luar biasa gelisah. Hati Lusi benar-benar kacau dan hancur. Ia tidak diinginkan. Ia tidak dicintai.


Bila dibanding dengan Renata, pantas saja Lusi tertinggal jauh dan tidak pantas mendapatkan cinta Marcel. Lusi hanyalah wanita miskin dengan penampilan buruk dan dekil. Kulit Lusi bahkan tidak secerah kulit Renata, sebab dirinya selalu berjalan kaki di bawah terik matahari saat pagi dan sore hari. Yang Lusi utamakan adalah isi perutnya dan juga isi perut Shila. Untuk urusan penampilan, Lusi tak begitu peduli.


Pengaruh kehamilan, seringkali membuat perasaan ibu hamil muda, jadi sensitif perasaannya. Lusi mendadak membenci Marcel hingga ke ulu hatinya.


Tadinya Lusi merasa tak mengapa andai Marcel tidak mencintainya, asalkan Marcel menikahinya dan menceraikannya setelah bayinya lahir, itu yang ping penting bagi Lusi.


Tetapi mendengar langsung bahwa Marcel tak memiliki cinta untuknya, mau jadi apa nanti rumah tangga mereka? Akan bagaimana jadinya mental anaknya yang terlahir dari dua orang tua yang tak saling mencintai.


Katakanlah Lusi lebay. Lusi tak akan keberatan. Hanya saja, Lusi tak mengerti mengapa rasa sakitnya luar biasa. Efeknya bahkan sangat dahsyat dan sanggup menghancurkan kepercayaan diri Lusi.


Menoleh ke belakang, Lusi tak melihat Marcel mengejarnya. Renata juga tak ada turun menyusul dirinya. Lusi semakin tertekan, terpukul, dan tak sanggup menjalani hidup seperti ini. Ia merasa sendiri, merasa hampa dan jiwanya kosong. Emosi Lusi kian membumbung tinggi.


Sudahlah ditinggal orang tua, berdua dengan sang adik, kini ia harus terbebani anak yang masih belum lahir. Sumpah demi tuhan, Lusi merutuk garis takdir dirinya seorang diri.


Entah apa yang di bicarakan oleh Marcel dengan Renata, Lusi tidak tahu, juga tidak peduli. Yang ada dalam otak Lusi saat ini adalah, Lusi perlu menjauh. Mungkin untuk sementara waktu, juga mungkin untuk selamanya.


Tanpa peduli tatapan orang-orang yang menatapnya aneh, Lusi terus melangkah menjauh, menuju ke rumahnya dan ia perlu memberesi barang-barangnya. Hingga kemudian ponsel Lusi berdering, nama Renata terpampang disana.


"Ya, Renata." Sapa Lusi, dengan mengusap air matanya yang meleleh tak tahu malu. "Aku titipkan Shila padamu untuk sementara waktu. Aku perlu menenangkan diri dan menyembuhkan hatiku." Ujar Lusi kemudian.


"Dimana kau sekarang, Lusi? Kau harus kembali. Marcel perlu mempertanggung jawabkan semuanya."

__ADS_1


Renata menyahut.


"Sudahlah, jangan memaksa Marcel lagi. Aku baik-baik saja. Aku akan pergi untuk sementara waktu. Aku perlu menenangkan pikiran." Jawab Lusi seraya memutus panggilan sepihak. Tak lupa, Lusi juga menonaktifkan ponsel usangnya itu.


**


Di kantor Marcel, Renata menatap Marcel dengan tatapan tak berdaya. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Yang ia pikirkan adalah, ia perlu mencegah kepergian Lusi.


Hingga setelah ia tersadar, Renata berniat segera berbalik pergi dan perlu mencegah kepergian Lusi.


Andai waktu bisa diputar sedikit saja, Renata ingin memilih, agar Lusi tidak dengar saja tentang percakapan Marcel dengan sahabatnya itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada waktu lagi bagi Renata berdiam diri dan melampiaskan kemarahannya pada Marcel.


"Apa yang terjadi, Renata? Dimana Lusi?" Marcel menatap Renata bingung. "Kenapa kau marah, Renata?"


"Apa yang kau katakan? Bicara yang jelas, apa yang membuatmu datang kemari? Jujur saja, aku benar-benar tidak tahu, Renata." Ujar Marcel. Ia dilanda bingung. Dan juga, mengapa Renata dan Lusi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Marcel? Bukankah itu namanya lancang?


Di sudut ruangan, Joseph hanya mengamati dengan tersenyum simpul penuh misteri.


Renata menatap Marcel lekat-lekat. Apa maksud dari Renata, Marcel benar-benar tidak tahu.


"Selamat, marcel. Lusi benar-benar telah pergi sekarang. Kau tidak berniat untuk menikahinya, bukan? Keinginanmu akan terpenuhi. Harusnya dari awal, meski tak ada cinta diantara kalian, kau tetap harus bertanggung jawab karena kau yang sudah menidurinya, Marcel. Kau keterlaluan." Renata berkata lirih.


"Apa maksudmu, Renata? Bicara yang jelas." Marcel semakin bingung. "Apa aku salah, jika aku mengatakan jujur bahwa aku tak mencintainya? Lebih salah lagi jika aku membohongi semua orang dan membodohi Lusi? Jawab aku, Renata, aku harus bagaimana menurutmu? Pura-pura menerima Lusi? Lagi pula Lusi terlalu sensitif juga. Dari awal dia sendiri tahu jika aku tak memiliki rasa apapun padanya."

__ADS_1


"Dia terlalu sensitif, karena pengaruh hormonal, Marcel. Tidakkah kau tahu, dia mengandung darah dagingmu? Sakit yang selama ini ia derita, bukan karena penyakit, tetapi karena dia hamil." Renata berbicara pelan. Rasanya tenaganya habis karena marah sejak tadi.


Marcel memucat di tempatnya. Ia tidak menyangka, Tragedi di malam panas bersama Lusi, telah menghasilkan janin dalam rahim Lusi.


"Kau, kau tidak sedang bercanda, Renata? Kau tidak sedang membohongiku?" Marcel memastikan keseriusan Renata. Ia berharap, ini hanya mimpi, atau sekedar candaan receh Renata.


Tanpa menjawab, Renata meraih sebuah kertas hasil laboratorium rumah sakit, yang menyatakan bahwa Lusi benar-benar sedang mengandung.


"Ambil dan baca ini, Marcel. Kita sama-sama dewasa, kita juga tak saling dekat dari awal. Jika menurutmu ini hanyalah sebatas candaan, aku tak peduli." Renata berlalu pergi, berniat menyusul Lusi dan perlu menenangkannya.


"Kau, apa yang aku takutkan sejak awal ternyata menjadi kenyataan, Marcel. Kau menghamili anak orang." Joseph tiba-tiba bersuara. Ia menatap Marcel dan mendudukkan Marcel yang berdiri kaku, sambil memegangi kertas rumah sakit yang Renata berikan.


"Jika sudah begini, jangan menolak Lusi dengan dalih tak ada cinta. Ada anak diantara kalian. Kau harus menikahinya segera." Joseph menepuk lengan kokoh Marcel beberapa kali.


"Ya Tuhan. Bagaimana caranya aku menyampaikan kabar ini pada keempat orang tuaku, Jo? Aku pasti dihajar ibuku setelah ini. Astaga, aku melanggar perjanjian dengan ibuku."


Marcel mengusap kasar wajahnya, sebagai tanda frustasi.


"Katakan saja pada ibumu, ini hanyalah sebuah kecelakaan. Hanya saja aku tak yakin, Tante Nora sanggup menghajarmu. Apakah om Alex dan om Dion tidak lebih garang dari Tante Nora?" Joseph bertanya, dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Kau hanya tidak tahu, Jo. Papa dan Mama terkenal garang dan jago bela diri. Tetapi mereka tak akan sanggup menghajar diriku. Kalaupun ada, Ibuku jauh lebih kuat menghajarku, jika aku tak mengikuti nasihatnya." Marcel lemas tak bertenaga. Inilah akhirnya. Berurusan dengan ibu, Marcel selalu lemah dan kalah. Kelemahan Marcel, adalah ibu yang melahirkannya.


**

__ADS_1


__ADS_2