Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 9


__ADS_3

Di sebuah kafe yang cukup ternama dengan pengunjung rata-rata kalangan elit, seorang lelaki tampan bermata sipit tengah makan malam dengan istri dan juga putrinya. Lelaki itu tak terlihat tua, meski telah memilki putra lajang, dan putri cantik yang berusia masih tujuh belas tahun. Tubuhnya tetap sehat terjaga, dengan postur yang masih sempurna.


Dialah Alex, ayah biologis Marcel Dinata, tengah makan malam dengan istri dan anaknya, Aridha dan juga Hesti. Lelaki yang terkenal sangat penyayang pada keluarga itu, menikmati momen kebersamaan ini yang tidak setiap hari didapatnya.


Tak banyak yang tahu tentang kisah lelaki itu. Yang banyak orang tahu adalah, Alex bahkan rela mengorbankan nyawa demi istrinya. Sayangnya, hanya beberapa kolega bisnis yang mengetahui bahwa Alex memiliki seorang putra yang bernama Marcel Dinata. Darah dagingnya yang terlahir dari mantan kekasihnya di masa lalu, Inora.


Bersama Aridha, Alex dikaruniai seorang putri cantik yang bernama Hesti Wulan Atmadja. Gadis itu meski berbeda Ibu dengan Marcel, nyatanya ia sangat menyayangi Marcel. Terlepas, ibunya sudah tak bisa melahirkan lagi akibat kecelakaan, Hesti berpikir, satu-satunya saudara satu ayah yang dimilikinya hanyalah Marcel.


Ketiganya menikmati momen spesial ini dengan bercanda ria. Sesekali, Hesti akan menyuapkan makanannya ke dalam mulut Papanya. Hingga berakhir Alex yang kewalahan.


"Mas, bagaimana kabar Marcel? Aku sibuk beberapa Minggu terakhir ini, membantu mengatasi masalah di perusahaan cabang yang dipimpin Seno. Ngomong-ngomong, aku rindu pada Marcel. Semalam pun aku hanya melihatnya sekilas saat peresmian di lantai dasar." Ungkap Aridha.


"Sepertinya dia baik. Aku juga hanya melihatnya terakhir kali sebelum menjelang makan bersama. Setelahnya aku tak tahu dia menghilang kemana. Kulihat mobilnya tadi pagi masih terparkir nyaman di garasi karyawan paling belakang. Sepertinya dia menginap di hotel tempatnya bekerja." Jawab Alex.


"Apa? Menginap di hotel? Bukankah Alex sudah punya apartemen yang kau belikan? Kenapa dia harus menginap di hotel?"Tanya Aridha tak mengerti.


"Ya, aku tak tahu. Mungkin dia sedang bermalam dengan karyawan lain, entahlah. Anak itu selalu menurut pada keempat orang tuanya, jika kau memintanya untuk menemuinya sekarang, mungkin dia akan datang." Alex menatap istrinya lembut.


"Tidak perlu menyuruhnya datang. Ini belum larut, bagaimana kalau kita mengunjungi apartemen kak Marcel, pa?" Ungkap Hesti tiba-tiba. Gadis itu sangat cantik dengan kulit serupa Alex yang bersinar.


"Ide bagus. Mama setuju, kita akan mengunjunginya selepas makan malam. Ya sudah, ayo cepat habiskan. Keburu malam nanti kak Marcel tidur. Mama akan mengiriminya pesan agar menunggu." Aridha menyahuti putrinya.


Tak lama, makan malam mereka telah selesai. Tak lupa, Aridha juga memesan makanan untuk ia bawa pada Marcel. Meski tidak terlahir dari rahimnya sendiri, namun Aridha sangat menyayangi Marcel. Baginya, Marcel sudah seperti darah dagingnya. Keinginan Alex untuk memiliki putra sebagai pewaris, tak bisa Ridha penuhi akibat Ia tak lagi bisa melahirkan lagi. Hanya Hesti anak yang ia miliki bersama Alex.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Aridha telah selesai makan malam dan mereka segera menuju ke apartemen elite milik Marcel. Suasana cukup sepi, ketika ia berjalan ke unit Marcel. Rupanya, Marcel sudah menunggu dengan wajah berbinar.


'Ya tuhan, setiap melihat Marcel, aku seperti melihat suamiku sendiri. Mereka bak kembar Kakak Adik.'


Batin Inora yang tersenyum.


"Kak Marcel." Panggil Hesti yang berlari memeluk Marcel. Anak itu senang sekali semenjak mendengar kabar, bahwa ia memiliki kakak laki-laki. Menurutnya, kakak laki-laki pasti melindunginya.


"Hai, cantik. Kau, Mama dan Papa dari mana?" Tanya marcel kemudian.


"Makan malam. Tadinya mama menghubungimu, tapi kau mengabaikan panggilan ponselnya." Jawab Hesti.


"Maaf, aku tidur sejak selesai mengantar temanku pulang siang tadi. Ayo." Pandangan mata Marcel beralih pada Papa dan juga Mama. "Mama, apa yang Mama bawa?" Tanya Marcel kemudian.


"Ini makan malam untukmu. Ayo Hesti, bawa ke dapur dan siapkan makan malam untuk kakakmu." Jawab Aridha yang kemudian memerintah Hesti. Hesti mana berani membantah? Anak itu segera berjalan menuju ke arah dapur minimalis dalam apartemen kakaknya.


"Em, semalam aku menemui temanku yang kebetulan menginap disana." Jawab Marcel yang berusaha tenang. Sayangnya, orang tuanya di hadapannya ini bisa menangkap gelagat gugup Marcel.


"Teman? Perempuan? Kalian ... bermalam bersama?" Tanya Alex yang menatapnya tajam, meski bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Marcel salah tingkah. Pemuda itu tidak terbiasa berbohong. Namun untuk jujur, ia takut Alex memarahinya.


"Ya, perempuan. Aku berbincang dengannya semalam."

__ADS_1


'Berbincang dan saling mendesah, pa. Astaga, maafkan aku, pa. Aku tak berniat begitu awalnya. Dia teman baikku.'


Tentu saja itu hanya bisa diucapkan Marcel di dalam hati. Lelaki itu benar-benar khawatir, sebentar lagi Alex akan marah.


"Marcel, dengar. Kau masih terlalu muda. Masa depanmu masih panjang dan kau harus cukup untuk bersenang-senang. Nikmati masa mudamu dengan puas bermain, agar kelak kau tak menjadi pria hidung belang yang nakal. Hanya saja, bisakah kau tak melakukan sesuatu yang melanggar norma masyarakat? Aku khawatir nanti kau terjerumus pada hal-hal negative, nak." Kali ini Aridha yang bersuara.


Susah payah Marcel meneguk salivanya. Terlambat bila mamanya ini menasihati dirinya sekarang. Nyatanya, ia telah menggumuli anak gadis orang semalam.


"Iya, Ma. Tentu saja." Jawab Marcel. Seketika salivanya terasa pahit dan menyumpal tenggorokannya.


'Aku hanya tak mau kau juga mengalami garis takdir yang sama dengan papamu, Marcel. Meski kau tak terlahir dari rahimku, tetapi kau sudah seperti anakku sendiri. Jangan membuat wanitanu menderita nanti. Cukup ayahmu saja yang menyakiti hati dua wanita. Dengar, nak. Aku juga sakit saat tahu bahwa papamu telah memiliki anak dari wanita lain. Tetapi aku tak seberapa sakit tentunya, bila dibandingkan dengan ibumu, Nora.'


Aridha membatin.


"Oh ya, Marcel. Mama dan Papa kemari, karena ada yang ingin kami sampaikan." Alex berkata tiba-tiba.


Marcel tentu aja menatap Alex penuh tanya. Bisa dilihatnya dengan jelas, Alex sedang dalam mode serius.


"Ada apa, Pa?" Marcel merasakan gugup. Ia takut jika yang akan dibahas oleh papanya, adalah tentang Lusi.


"Papa berencana untuk melanjutkan sekolahmu, untuk meraih S2. Mungkin tiga atau empat bulan lagi, kau harus sudah mulai kuliah." Ujar Alex. Lelaki itu melihat putranya yang menghela nafas lega.


'Selamat, Marcel, Papa tidak lagi membahas kemana aku semalam.'

__ADS_1


Marcel membatin.


**


__ADS_2