
Ketika hati sudah mulai terbagi, mungkinkah bisa disatukan kembali, dan diberikan hanya pada satu jiwa?
Satu tanya itu kembali muncul, ketika Marcel baru saja pulang dari pertemuan gelapnya bersama Renata. Hatinya berbunga ketika pada akhirnya, bisa menggenggam hati Renata. Ada sebuah kepuasan tersendiri bagi lelaki muda itu.
Tetapi sayang seribu sayang, kepuasan yang ia dapat, hanyalah kepuasan sesaat dengan banyak hal yang masih mengganjal.Katakanlah itu hanyalah sebuah kepuasan semu, alias abstrak. Jika boleh diungkit kembali, bahkan ia mendapatkan kemurnian alias kegadisan Lusi, bukan Renata. Harusnya Marcel bangga akan hal itu.
Bangsat. Marcel tak akan keberatan bila ia dijuluki si bangsat, memang itu kenyataan yang ada saat ini.
Setelah pulang dari acara makan siang bersama, lelaki itu harus menyelesaikan tugas percobaan dari dosen yang menjadi pembimbingnya. Tak sia-sia dirinya memiliki otak cerdas, nyatanya semua tugasnya itu bisa diselesaikan dengan mudah, dalam kurun waktu lebih cepat dari yang diperkirakan oleh sang dosen pembimbingnya.
Sore ini, Marcel bergegas hendak pulang, dan mengantar tugasnya itu malam nanti. Sesekali, ia ingin sekali membawa Lusi dan memperkenalkan istrinya itu, pada dosennya.
Hingga Marcel pulang, dan menikmati perjalanan sore yang jarang sekali ia dapatkan. Lelaki itu tersenyum senang, saat membayangkan Lusi berubah dan menyambutnya dengan lebih baik, tak seperti pagi tadi yang terasa dingin dan berjarak.
Setibanya di unit apartemen miliknya, Marcel melangkah cepat dengan langkah lebarnya. Sebuah parcel buah, ia bawa untuk ia jadikan kejutan untuk Lusi.
Sejatinya, Lusi tak sebodoh itu hingga ia lupa bagaimana kebohongan dirinya tentang Renata. Mana mungkin, Lusi akan dengan mudah luluh hanya dengan sogokan oarcelan buah untuknya?
"Lus, kau dimana? Aku pulang," teriak Marcel dengan udara lantang, ketika ia tak mendapati Lusi di dalam apartemen.
Di dapur, Lusi duduk melamun seorang diri, hingga ia lupa jika saat ini, Marcel telah tiba dari pekerjaannya.
"Lus, kau melamun?" tanya Marcel lagi, ketika ia mendapati Lusi duduk melamun di dapur, tepatnya di meja makan.
Lusi tersentak, saat bahunya diguncang oleh Marcel. Lamunan wanita itu terlalu dalam, hingga ia begitu kaget saat Marcel datang padanya.
"Hmm," jawab Lusi hanya dengan deheman saja. Mata wanita itu lantas menatap Marcel yang kini tengah duduk di depannya.
"Aku bawakan buah untukmu, makanlah," ungkap Marcel.
__ADS_1
Lusi tak menjawab, melainkan hanya mengangguk, dan memindah buah yang Marcel bawa, di dalam kulkas. Wanita itu lantas mengambil toples dari rak sebelah kulkas, dan mengisinya dengan kue kering yang baru ia buat, dari dalam loyang oven yang sudah dingin. Irit bicara, adalah sebuah senjata untuk menjaga hatinya.
"Kau membuat kue apa?" tanya Marcel, memperhatikan Lusi.
"Kukis coklat," jawab Lusi singkat, tanpa menatap suaminya itu.
"Biarkan aku bantu," kata Marcel.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," jawab Lusi, masih tanpa menatap Marcel.
Tahukah kau bagaimana sakitnya diabaikan? Marcel merasakan sendiri efeknya. Egonya sebagai pria tergores, saat menerima penolakan dari istrinya sendiri.
"Aku sudah mencoba bersikap baik padamu, Lusi. Tetapi jika kau menolak dan seolah tak menganggap aku ada, kiranya apakah aku tak bosan diperlakukan begini?" tanya Marcel, berhasil menyulut emosi si wanita hamil itu.
Gerakan tangan Lusi terhenti seketika, seraya berkata, "apa kau pikir kau menganggap aku ada? Katakan padaku Marcel, kau banyak dan sering mengabaikan aku, kiranya aku tak sakit hati atas itu semua? Egoku sebagai istri yang menuntut semua perhatian dan cintamu itu, tergores sudah. Kita sama-sama terluka dengan kebersamaan ini, sudah aku bilang, sebaiknya kita berpisah saja," jawab Lusi dengan enteng, dan pembawaan yang masih tenang.
"Aku baru pulang, Lusi. jangan mendebat diriku. Aku lelah," ujar Marcel kemudian. Lelaki itu menghembuskan napas panjang, dan menyandarkan bahunya ke bahu kursi, dan melipat kedua tangan di depan dada. Tatapan lelaki itu tajam menatap Lusi yang kembali memasukkan kue ke dalam toples.
"Kau yang memulai, Marcel. Masuklah ke kamar dan sebaiknya kau mandi," perintah Lusi.
"Kau ini kenapa sebenarnya Lusi?" tanya Marcel dengan nada penuh penyesalan.
"Kau yang kenapa, Marcel? Kau yang datang mengusikku. Aku pun hanya diam meski sudah mengendus aroma perselingkuhan mu dengan Renata. Katakan padaku, apa itu kurang bagimu?" tanya Lusi.
"Kau selalu mengungkit Renata dan meminta perpisahan. Tolong mengerti diriku, juga dirimu sendiri. Jangan pernah meminta perpisahan, sementara kau sedang mengandung anakku. Aku memang salah sudah menyembunyikan hubunganku dengan Renata darimu, tetapi perlu kau ingat satu hal, andai aku jujur dari awal, aku yakin kau tak mungkin mengizinkan diriku meneruskan hubungan dengan Renata," bantah Marcel, masih mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan.
"Kau manyakitiku, Marcel. Andai aku tak melindungi si pengkhianat, Renata itu, hidupku tak akan sekacau ini, cinta dirimu tak akan pernah ada untukku. Aku lelah," kata Lusi dengan mata berkaca-kaca. Suaranya masih pelan dan terkontrol dengan baik.
Suasana mendadak hening seketika. Marcel masih menahan diri untuk meledakkan amarah, mengingat Lusi dalam kondisi hamil. Juga Lusi yang masih meredam amarah, sebab dikhianati oleh dua orang yang ia sayang.
__ADS_1
"Renata memintaku untuk menikahinya, aku tak mungkin menidurinya terus menerus tanpa pernikahan. Dia juga sudah bercerai dari suaminya," ungkap Marcel kemudian.
Bak petir yang menyambar hati Lusi, Lusi mendadak pucat. Bahkan bayi tak berdosa itu, belum lagi Lusi lahirkan, namun Marcel sudah mengajukan pernikahan padanya, bersama dengan Renata. Sakit mana lagi yang belum Lusi rasakan.
Lusi bungkam, dengan air mata yang sudah mengalir, meski wajahnya masih tenang dan terlihat tegar. Percayalah, sudah sebatang kara, dijauhkan dari sang adik satu-satunya keluarga, juga rupanya harus menerima pengkhianatan dari lelaki tercinta. Hancur sudah.
"Kalau begitu, terserah padamu. Keputusan terbesar ada di tanganmu. Hanya saja maafkan aku, Marcel, aku tak akan merestuinya sampai kapanpun. Aku nyatakan, aku mundur dari pernikahan ini daripada aku harus dimadu," ungkap Lusi kemudian.
"Apa yang kau katakan, Lusi? Tidak. Aku tak akan melepaskanmu," ungkap Marcel.
"Aku tak tega sebenarnya, Lusi. aku tak tega begini padamu. Tetapi mengertilah, situasi seperti ini, aku tak pernah memintanya," ungkap Marcel kemudian.
"Aku juga tak pernah meminta situasi seperti ini, Marcel. Menikah denganmu, tak pernah tersusun dalam benakku. Aku tahu aku tak berhak atas cintamu. Tetapi satu hal yang perlu kau tahu, aku tak bisa berbagi suami, sekalipun itu dengan sahabatku sendiri," Lusi sudah mulai emosi.
Nada bicara wanita itu meninggi satu oktaf. Tak hanya itu, Lusi juga membiarkan emosinya meluap begitu saja. Ditahan terus menerus, hanya akan membuat Lusi tertekan.
"Lus, dengarkan aku dulu," cegah Marcel, ketika istrinya itu bangkit dan hendak pergi dari sana. Sayangnya, Lusi menepisnya dengan kasar.
"Aku tak mau mendengar apapun lagi, aku tak Sudi bila harus berbagi suami dengan Renata, sekalipun Renata dulu pernah baik padaku. Aku bukan wanita yang sempurna, Marcel. Aku tahu aku miskin, kastaku jauh lebih rendah di bawah kasta keluargamu. Tetapi kau tak akan mampu, menandingi rasa cintaku padamu, ketulusanku, bahkan pengabdianku padamu selama beberapa bulan menikah. Cintaku, tak akan bisa ditukar dengan apapun, tetapi berbagi dirimu dengan Renata, aku bersumpah aku tak akan membiarkan hatiku jauh lebih hancur dari saat ini, di masa depan!" seru Lusi lantang.
Tepat ketika cekalan tangan Marcel terlepas di tangan Lusi, saat itu juga pandangan mata Lusi dan Marcel, terpaku pada sosok tinggi tegap yang berdiri di ruang tamu, memperhatikan gerak-gerik sepasang suami istri itu.
Alex berdiri dengan rahang mengeras, dan tatapan tajamnya. Gigi lelaki itu bahkan bergemeletuk akibat terlalu di gulung amarah karena ulah putranya.
"Kemasi barang-barang pentingmu, Lusi. Jangan khawatir, Papa yang akan mengurusmu setelah ini, nak. Mulai sekarang, kedudukanmu dengan adik-adik Marcel, yakni Yasmin dan Hesti, akan sama di hatiku. Papa yang akan menjamin kebahagiaanmu di masa depan," ujar Alex, membuat Marcel seolah berhenti bernapas seketika.
Ganti wajah Marcel yang kini memucat.
**
__ADS_1