Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Pahamilah


__ADS_3

Zahra berjalan pelan menyusuri taman belakang sekolah dengan gontai. Saat melewati pasangan muda-mudi di depannya, sesekali Zahra menghela kan nafasnya dengan berat. Namun saat Zahra akan melewati pasangan muda-mudi yang berada di bangku santai, tiba-tiba langkah Zahra terhenti dan memilih untuk menguping pembicaraan pasangan tersebut.


"Serius?, ayah sama mama kamu ngajak liburan ke Lombok?"


"Iya, sayang aku serius. Mereka bilang gini nih ke aku 'Ayu, mama sama papa mau ngajak kamu liburan sekalian mengganti waktu yang terlewati karena kesibukan kami berdua.."


"Wah, ternyata mama sama papa kamu perhatian juga, Yu. Akhirnya kamu bisa pergi liburan bareng mereka, pasti mereka sayang banget sama kamu."


"Iya, dong. Kan mereka orang tuaku, ya kali mereka benci dengan anaknya. Orang tua mana sih yang begitu, mustahil kalo ada."


Zahra melanjutkan lagi perjalanannya sambil memikirkan obrolan tadi.


Ucapan gadis itu terus berputar putar di kepala Zahra, hingga ia tak menyadari jika ada batu yang berada di depannya dan


Bem


"Aw, sakit." Keluh Zahra merasakan sakit seraya memegang lututnya yang tergores batu-batuan tanah saat terjatuh.


Zahra mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya pelan, "Aku bukanlah gadis cengeng!" Batin Zahra menyemangati.


Setelah menyemangati dirinya, Zahra pun berdiri kembali dan melanjutkan perjalanannya ke bangku favoritnya. Yah, bangku favorit Zahra adalah sebuah bangku yang berada di tempat yang sunyi nan sepi. Tepat di atas bangku tersebut berdiri sebuah pohon besar kokoh nan rindang


Sunyi?


Sunyi adalah penggambaran suasana hati Zahra yang haus akan kasih sayang orang tuanya.


Sepi?


Sedangkan sepi adalah penggambaran suasana hati Zahra yang sepi akan panggilan sayang, kecupan sayang, dan berbagai hal tentang sebuah kebahagian dari orang tua dan semua ini hanya dimiliki oleh dia.


Dia adalah Zahra Affianisha, si haus akan kasih sayang.


Setelah sampai tujuan, Zahra pun mendudukan tubuh lelahnya di bangku tersebut. Semilir angin yang sejuk menerpa wajah sendu Zahra dengan ramah, hingga membuat rambut hitam lebat miliknya terbang melambai-lambai.


Pandangan Zahra menatap lurus kedepan, namun pikiran Zahra tak sejalan dengan pandangan Zahra. Pikiran Zahra lebih memilih untuk menerawang ke obrolan beberapa waktu yang lalu.


"..orang tua mana sih yang begitu?mustahil kalo ada."


"Ada, kok." Ucap Zahra seperti berbisik. tiba-tiba dari mata Zahra keluar cairan bening dan hangat mengenai pipi merahnya.


"Aku."


"Aku tak seperti kak Annisa!,"


"Aku juga tak seperti kalian yang dimanjakan dan bermandikan kasih sayang." Ucap Zahra terisak seraya memeluk dadanya.


Rasa sakit itu kembali hadir, pedihnya luka yang ia rasakan di lututnya belum seberapa dengan luka yang ia rasakan di hatinya.


"Aku, aku tak pernah merasakan itu semua!"


"Aku tak pernah merasakan itu semua walaupun aku memintanya!"


"Berbeda dengan kalian yang tanpa kalian minta pun kalian akan selalu mendapatkannya."


"Aku, aku terkadang berpikir bahwa apakah aku sebenarnya adalah anak kandung mereka atau apakah aku hanya anak angkat bahkan aku berpikir apakah aku adalah anak pungut?" Zahra terisak sedih, mengeluarkan rasa sakitnya yang tidak bisa ia hilangkan. Rasa sakit yang tidak ada seorang pun yang mau mengerti dirinya.


Sakitnya, kalian tidak akan mengerti ini.


"Kamu adalah anak kandung Zahra, apapun yang telah mereka lakukan kepada mu pasti mempunyai alasan yang baik." Tiba-tiba suara seseorang mengintrupsi Zahra, membuat Zahra terkejut.


Alif P. O. V


Aku berjalan jalan menyusuri taman di belakang sekolah ini, yah sekolah yang sudah 18 hari aku bekerja untuknya dan untuk kesempatan hari ini, aku mempunyai waktu luang untuk berjalan jalan di sekitar sekolah. Namun baru saja aku sampai depan taman, aku sudah dibuat beristigfar oleh pemandangan yang ada di sekitar taman. Banyak sekali pasangan yang bukan muhrim berduaan di tempat yang indah ini, sayang sekali tempat seindah ini harus mendapatkan laknat dari Allah.


"Astagafirullah, ini benar-benar sudah akhir zaman. Dimana-mana sekarang ada pasangan yang bukan muhrim berduaan, as-"


"Aw, sakit." Teriak seorang gadis yang berhasil memotong ucapan ku. Mendengar itu aku pun bergegas melihat siapa yang telah berteriak.


"Gadis itu.."


Gadis itu, untuk apa dia di sini?Tunggu, dulu. Ya Allah, apakah dia terluka?, tapi apa yang telah terjadi kepadanya, kenapa lututnya bisa berdarah?. Apakah dia tersandung batu?, sepertinya iya.


Tapi gadis itu bukanlah gadis cengeng, lihat saja lututnya berdarah pun ia tak menangis berbeda dengan gadis yang lain.


Lecet sedikit saja nangis nya seperti ketabrak truk.


Astagafirullah, kenapa aku berpikiran seperti ini, ampuni dosa hamba ya Allah.


Mau kemana dia dengan luka di lututnya, apakah dia tak merasakan sakit sama sekali?sepertinya dia adalah gadis yang kuat.


Kenapa dia menuju ke pohon itu,


apakah ada yang disembunyikan di sana?. Tapi, ah ya..ternyata di sana ada bangku santai. Sigh, pantas dia ke tempat ini, ternyata tempat ini sangat sunyi dan sepi.


"Ada, kok." Gadis itu terdengar berbisik.


"Aku."


"Aku tak seperti kak Annisa!"


"Aku juga tak seperti kalian yang dimanjakan dan bermandikan kasih sayang." Gadis itu terdengar menangis.


Ternyata, dia hanya terlihat tegar dan kuat di depan saja.


Namun di belakang dia sangat lemah.


"Aku, aku tak pernah merasakan itu semua!"

__ADS_1


"Aku tak pernah merasakan itu semua walaupun aku memintanya!"


"Berbeda dengan kalian yang tanpa kalian minta pun kalian akan selalu mendapatkannya."


"Aku, aku terkadang berpikir bahwa apakah aku sebenarnya adalah anak kandung mereka atau apakah aku hanya anak angkat bahkan aku berpikir apakah aku adalah anak pungut?"


Tidak, kamu tidak boleh berpikir begitu, Zahra!. Mereka tak sejahat itu, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Zahra!. Sungguh, orang tua mu adalah orang tua yang kuat dan baik.


Karena aku tak tahan hanya diam dan tak melakukan apa-apa akhirnya aku memilih untuk keluar dari persembunyianku.


"Kamu adalah anak kandung Zahra, apapun yang telah mereka lakukan kepada mu pasti mempunyai alasan yang baik." Ucap ku spontan.


Melihat diriku yang keluar tiba-tiba dari belakang pohon membuatnya sedikit terkejut. Dan saat yang bersamaan, mataku dan matanya bertemu.


Deg


Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku.


Author P. O. V


Dan saat yang bersamaan, kedua mata mereka pun bertemu dalam satu arah.


Deg


Ada perasaan aneh yang menyusuri tubuh Alif, yah perasaan ini yang ia sangat takutkan jika bertemu dengan perempuan. Tubuh Alif seketika menjadi dingin dan gelisah karena ini pertama kalinya ia berduaan di tempat yang sepi seperti ini bersama wanita yang bukan muhrim, apalagi belum ia kenal sama sekali.


Menyadari jika dirinya sedang menatap mata Zahra, Alif pun langsung mengalihkan pandangannya dari Zahra dan cepat-cepat beristigfar memohon ampun kepada Allah Swt.


Asstagafirullah, ingat Alif, Zahra sudah menjadi milik orang lain. Batin Alif memperingati dirinya sendiri.


Berbeda dengan Zahra yang awalnya sangat terkejut dengan kedatangan Alif, tapi setelah menyadari situasi ia pun merasa bahwa ya, beginilah lebih baik. Ia bisa berduaan dengan Alif dan bisa juga lebih cepat jatuh cinta. Inilah yang dia inginkan, bukan?


Zahra menatap wajah Alif yang sedang menunduk pasrah. Ia melihat penampilannya dari kaki sampai gaya rambut.


"Ternyata, dia lebih tampan jika di lihat dari dekat." Gumam Zahra menilai.


"Hm, Alif, kamu ngapain kesini." Tanya Zahra penasaran.


Mendengar namanya di sebut, Alif sedikit terlihat terkejut. Karena dimana-mana atau intinya di area sekolah ini selalu memanggil atau menyebutnya dengan sebutan "pak Alif", berbeda lagi dengan di pondok pesantren. Di sana para santri dan santriwati bisa memanggilnya dengan panggilan 'Gus Fansyah' karena Alif adalah anak dari pemilik pondok pesantren maka Alif di panggil oleh para santri dan santriwati dengan awalan "Gus".


"Assalamualaikum, maaf saya lupa mengucapkan salam sebelumnya.." Alif meminta maaf.


"Oh, iya Lif gak apa-apa." Jawab Zahra dengan gaya sok akrabnya.


"Menjawab salam itu wajib, Zahra." Tegur Alif.


Ah, dia mengenalku.


"Eh, iya Lif, sorry aku lupa, Waalaikumsalam.." Jawab Zahra semakin sok akrab dan terus memandangi wajah Alif yang membuat Alif semakin risih dengan kelakuan zahra.


"Iya, Lif."


"Apakah kamu bisa memanggil saya dengan sebutan sewajarnya?, karena saya kurang suka dengan panggilan kamu kepada saya saat ini." Alif meminta dengan tulus karena sejujurnya ia tidak menyukai panggilan Zahra kepada dirinya.


Zahra bingung, "Maksud kamu, Lif?" Tanya Zahra tak mengerti.


"Maksudnya sayang..." Zahra menebak geli.


"Maksud saya, saya ini kan guru kamu dan secara notabene saya lebih tua dari kamu jadi tidak sepantasnya dan sewajarnya kamu memanggil saya dengan sebutan Alif dan lagi jika kamu mengulanginya dan tak mau mendengar maka saya akan sangat merasa tersinggung sekali dengan kelakuan kamu." Alif memperingatkan Zahra secara halus.


Deg


"Tapi'kan Lif umur kamu gak terlalu tua dan tidak jauh berbeda dengan aku.." Zahra coba bernegosiasi.


Alif sangat risih dan sangat merasa tidak suka jika dipanggil seperti ini.


"Sebagaimana pun tidak jauhnya berbeda umur kita bukan berati kamu harus memanggil saya seperti ini bukan?" Alif merasa geram.


Kehadiran Zahra sangat membuat Alif merasa gerah hari ini, memang di akui Alif telah sangat salah mengikuti Zahra ke tempat ini karena dengan begitu setan akan lebih mudah menjatuhkan pertahanannya.


"Iya, sih Lif. Ta-"


"Dan itu sangat menyinggung saya!" Potong Alif cepat karena tidak mau mendengarkan alasan Zahra lagi.


Zahra menghela kan nafasnya dengan berat.


"Hm, Lif-eh, maksud aku pak ayo kita duduk dulu di bangku ini agar kita lebih nyaman mengobrol.." Tawar Zahra mencari kesempatan.


"Maaf, saya tidak bisa, kamu saja yang duduk saya di sini. Saya lebih nyaman seperti ini." Tolak Alif halus.


Mendengar jawaban Alif, Zahra hanya ber'oh ria dan langsung duduk menyilangkan kakinya ke atas sehingga rok nya sedikit naik dan tidak menutupi sebagian pahanya yang putih mulus. Pemandangan itu sontak membuat Alif semakin menundukkan kepalanya seraya memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah.


"Cobalah untuk memahami kemauan orang tua mu, karena tak ada orang tua di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya ke lubang yang salah atau lubang dosa." Nasihat Alif membuka percakapan kembali.


Zahra langsung mengangkat kepalanya setelah mendengar nasihat yang baru saja di dikatakan oleh Alif.


"Mereka melakukan ini kepada mu karena untuk kebaikan mu Zahra." Ucap Alif lagi, dengan suara yang meyakinkan.


"Itu bohong, pak. Tak semua orang tua berniat baik kepada anaknya." Zahra menyangkal dengan suara yang lemah.


"Itu benar Zahra, mengertilah."


"Bapak tidak tau apa-apa tentang aku dan keluarga aku." Elak Zahra membenarkan dirinya sendiri.


Alif mengambil nafas dengan berat dan melepaskannya, "Saya memang tidak tau apa-apa tentang kamu dan keluarga kamu, tapi yang saya tau pasti bahwa masalah kamu adalah sebuah kesalah pahaman," Menatap ke arah lain, Alif membelakangi Zahra.


"Zahra, mereka melakukan itu karena ingin melihat mu menjadi apa yang mereka inginkan."

__ADS_1


"Kesalah pahaman?" Tanya Zahra seraya tersenyum licik.


"Oh, seperti yang mereka inginkan, berati aku harus menjadi seseorang seperti Annisa, memakai pakaian syar'i?. Berperilaku sopan, baik, anggun, dan lemah lembut?." Zahra bertanya dengan emosi yang mendominasi suaranya.


"Katakan pak Alif, apakah aku harus menjadi seperti Annisa?" Zahra bertanya menuntut.


"Tidak, Zahra, kamu tak perlu menjadi seperti kakak mu!" Alif menjawab dengan suara tegasnya.


"Lalu, maksud bapak apa?"


"Maksud saya kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri, namun sesuai dengan perintah dari orang tua kamu,"


"Pahamilah kemauan orang tua mu Zahra."


Zahra menghapus air matanya dan berdiri di depan Alif, tepatnya dibelakang Alif karena punggungnya yang di depan Zahra.


Alif tetap tidak goyah dan tetap pada posisinya semula.


"Kenapa aku harus memahami kemauan mereka, sedangkan mereka sama sekali tak mau perduli dan tak mau memahami kemauan ku!. Apakah itu adil, pak?" Zahra bertanya dengan suara gemetarnya, menahan emosi.


"Kamu masih belum mengerti Zahra, pahamilah mereka.


In shaa Allah, kemauan mereka adalah kemauan kamu juga.." Alif menasehati dengan lembut, tidak ingin memancing emosi labil Zahra lagi.


Zahra tak mengerti dengan maksud Alif dan kembali duduk ke bangku santai tersebut.


Tiba-tiba dari arah belakang, Fia datang dengan Fira.


"Zahra, kamu gak apa-apa kan.." Tanya Fia khawatir seraya mendekati Zahra.


"Pak alif..." Kaget Fira ketika mendapati Alif berdiri membelakangi Zahra.


"Terimakasih atas kedatangan kalian, tolong tenangkan Zahra dan saya mohon undur diri, assalamualaikum." Alif berniat melangkah, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tanpa berbalik ia mengatakan sesuatu yang memang ditujukan kepada Zahra.


"Yang saya tau, tak ada orang tua yang ingin menjatuhkan anaknya." Ucapnya pelan seraya melanjutkan langkah kakinya lagi.


Zahra menatap punggung Alif yang semakin menjauh dan setelah punggung Alif benar-benar hilang dari pandangannya, Zahra mengalihkan perhatiannya ke arah Fia. Namun ketika pandangannya jatuh pada Fia, Zahra juga mendapati Fira yang kini juga menatapnya.


"Fira, ngapain lo di sini?" Zahra bertanya tidak suka. Ia tidak suka jika orang asing melihat sisi dalamnya, dan ya, air mata Zahra masih belum ia bersihkan otomatis Fira bisa melihat jejak air matanya yang masih basah.


"Jadi kamu gak sadar kalo dari tadi kita sama Fira?" Tanya Fia dengan tampang bloon.


"Gak." Jawab Zahra seadanya.


Fia memukul keningnya dengan tangan kanannya.


Ya, Allah, Engkau memang adil. Kau ciptakan gadis secantik dia tapi tidak sepintar yang terlihat.. Batin Fia tak habis pikir.


"Fir, lo jangan masukin ke hati bekas air mata yang ada di wajah gue. " Zahra menatap Fira dengan tatapan mengancam.


"Maksud kamu apa?" Fira tidak mengerti.


Zahra memutar bola matanya malas, " Gue gini tuh cuma ekting biar bisa dapet simpati Alif. " Zahra berbohong.


Fira memegangi dadanya, rasanya sakit sekali mengetahui jika orang tersayang nya harus di permainkan Zahra.


"Zahra, kamu keterlaluan banget jadi orang. Inget, Ra, dia guru mu bukan orang lain. " Fira marah dengan apa yang telah Zahra katakan.


"Ah, lebay lo. Mending lo pergi deh, jangan sok drama gini di depan gue."


Menahan sakit hati, Fira menggenggam tinjunya erat.


"Ra, inget, bahwa apa-pun yang kamu lakukan sekarang akan kamu tuai di masa depan."


"Mending lo pergi dari tempat ini sebelum gue tonjok muka lo yang sok-sok'an pake acara ceramah segala, pergi!" Usir Zahra tak sabaran.


Fira agak terkejut dengan teriakan Zahra, namun langsung segera di atasi dengan menghirup nafas secara pelan.


"Fi, aku ke kelas dulu yah, assalamualaikum..." Pamit Fira seraya pergi sebelum mendengar jawaban salam Fia.


"Waalaikumsalam." Jawab Fia bersimpati. Ia tau jika Fira pasti merasakan sakit karena orang yang dia sayang dipermainkan orang lain. Namun Fia juga tidak ingin menyalahkan Zahra, Zahra masih dalam langkah kebingungan. Ia masih tertutup untuk didekati orang lain.


Zahra menatap Fia, ada yang aneh dengan dirinya.


"Fi, kok aku perhatikan makin hari makin panjang aja rok yang kamu pake ke sekolah. Kemaren, sampai lutut, sekarang sampai mata kaki." Zahra menatap bingung.


Fia melihat rok yang ia kenakan dan baju yang ia kenakan. Sudah menutup aurat, hanya saja ia belum menggunakan hijap.


"Aku rindu Dia, Ra." Jawab Fia seraya tersenyum.


"Dia?" Tanya Zahra tidak mengerti.


"Kekasih kita yang sebenarnya.."


"Hah"


Zahra bingung dengan semua jawaban Fia yang seolah-olah seperti sebuah teka-teki.


"Zahra, aku mau rok kamu di bawahin dikit, biar gak terlalu menonjolkan paha kamu." Fia meminta dengan hati-hati.


"Tap-"


"Ya udah, kita masuk kelas yuk." Ajak Fia seraya menarik tangan Zahra mengikutinya.


Dia, siapa Dia?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2