
"Mas Alif ih, udah waktu makan malam juga masa masih mau ditunda lagi. Lagian kan bentar lagi waktu isya masuk, masa iya Mas Alif gak pergi sholat ke masjid?" Lagian Kakak kok aneh banget sih, inikan udah waktunya makan malam tapi masih aja mau aku masak.
Udah gitu waktu magrib kan gak lama dan bentar lagi masuk waktu isya, masa iya Mas Alif lebih milih dapur daripada sholat. Gak mungkinlah!
"Kakak malam ini sholat di masjid tapi tidak menjadi imam dan waktu makan malam Kakak juga bisa ditunda menunggu masakan dari kamu." Ucap Mas Alif terdengar keras kepala.
Uh,
Hanya karena bukan aku yang masak Mas Alif kenapa jadi ngotot gini?
Lagian yah yang mau nikah kan aku jadi kenapa yang lebih repot Mas Alif?
"Mas Alif nunda makan itu gak baik lho." Rayu ku mencari celah. Aku ingin segera bebas dari dapur ini dan melarikan diri ke asrama. Tidur bersama yang lain agar Mas Alif tidak bisa memaksaku lagi.
"Nunda sekali juga gak apa-apa dan juga ini tidak seperti Kakak tidak makan satu minggu jadi mengapa harus takut?"
Hem, Mas Alif benar juga. Sebenarnya tidak ada gunanya seperti ini karena Mas Alif juga akan kekeh dengan pilihannya, lagipula juga aku khawatir melihat Mas Alif terlambat makan.
Ya sudahlah, daripada Mas Alif gak makan sama sekali lebih baik aku masakin saja. Toh, enak atau enggaknya itu kan urusan belakang yang penting aku sudah menuruti perintahnya maka semuanya tidak apa-apa.
"Ya udah Mas, Fira mau masak asalkan Mas Alif gak boleh protes nanti kalau masakan aku gak enak." Aku menyanggupinya asalkan dia tidak boleh protes dengan apa yang aku masak nanti.
Enak atau tidaknya itu sudah menjadi resiko!
"Hem, kamu tidak perlu memikirkan itu." Sanggupinya tanpa berpikir panjang.
Nah, bagaimana jika nanti aku meracuninya?
Apa dia akan tetap bersikap seperti ini?
Astagfirullah, apa yang telah aku pikirkan! Dia ini Kakak ku jadi mana mungkin aku bisa meracuninya?
Yah, kecuali jika itu benar-benar tidak disengaja.
"Terus Fira mulai masaknya kapan?" Tanyaku memastikan karena saat melihat waktu ini sebentar lagi sholat isya.
Dia melihat jam tangannya, lalu mengatakan "Setelah sholat isya, kamu dilarang balik ke asrama sebelum menyelesaikan tugas kamu." Peringatnya sambil bangun dari duduknya.
"Terus makanan di atas meja ini gimana?" Tanyaku lagi bingung karena jika ia tidak mau memakannya maka siapa yang akan memakannya?
Jika aku bawa ke atas meja makan mungkin orang-orang sudah mulai beres-beres. Tapi jika tidak ada yang memakannya maka makanan ini mubazir, lalu sebuah dosa lah yang ku dapatkan!
__ADS_1
Mas Alif meliriknya, beberapa detik kemudian matanya kembali menatap ku.
"Kamu bisa makan untuk jadi bahan referensi atau kamu juga bisa berikan kepada yang lain untuk-"
"Assalamualaikum, Mas Alif?" Tiba-tiba suara Mbak Annisa masuk ke dapur sambil membawa piring kotor yang mereka untuk makan tadi.
"Waalaikumussalam, ini?" Ekspresi Mas Alif terlihat meragu melihat wajah cantik Mbak Annisa.
Mungkinkah Kakak ku ini tertarik dengan Mbak Annisa?
Ini..wajah Mbak Annisa terlalu sempurna jadi wajar saja Mas Alif tertarik padanya.
"Aku adalah Annisa, Mas." Akuinya seraya tersenyum malu-malu.
Kedua pipinya bahkan merona terang melihat keterkejutan Mas Alif.
"Ah, ternyata ini Annisa." Ucap Mas Alif terlihat lebih terkejut.
Mungkin Mas Alif tidak menyangka jika Mbak Annisa akan melepaskan cadarnya karena aku pun juga sangat terkejut pada awalnya. Terlebih lagi dia terlalu cantik dan wajahnya sama persis seperti Zahra, hanya kelopak matanya yang lebih besar dibandingkan Zahra dan sikapnya yang terlalu lembut dan pemalu.
"Em..gimana Mas, masakan kami sesuai tidak dengan lidah Mas Alif?"
Aku melirik sepiring tumis kangkung yang masih utuh di atas meja, tidak pernah tersentuh dan berkurang dari porsinya sejak awal. Mungkinkah Mas Alif akan menolak makanan ini lagi seperti tadi?
Lalu,
Mas Alif kemudian mendudukkan dirinya di atas kursinya semula, menarik sepiring tumis kangkung ke hadapannya. Melihatnya bertindak seperti ini sebenarnya aku sangat terkejut tapi rasa itu segera ku buang jauh-jauh karena kedua tangannya sibuk mencari tempat nasi yang ada di pinggir meja.
Namun sebelum kedua tangan ku dapat menyentuhnya, kedua tangan Mbak Annisa sudah bergerak cepat mengambilnya dan mengaturnya secara rapi dan lembut di sebuah piring bersih. Kemudian ia dengan cekatan menempatkan sepiring nasi putih itu ke depan Mas Alif yang sudah mulai menyendok tumisnya.
Tidak hanya itu, Mbak Annisa juga dengan cepat dan lancar menyiapkan berbagai macam lauk yang tadi mereka masak di dapur. Menyajikannya dengan lihai di depan Mas Alif lengkap dengan segelas air putih yang menyegarkan.
Melihat semua yang Mbak Annisa tubuh ku tiba-tiba terasa kaku dan kebingungan. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri diam memperhatikan kontak mereka berdua yang lebih terlihat seperti suami-istri dalam keadaan sehari-hari.
"Ayo Fir, kamu ikut gabung dengan Mas Alif. Mbak tahu kok kalau sedari tadi kamu belum makan malam." Suaranya memecahkan lamunan ku.
Meliriknya yang sedang tersipu, aku kemudian dengan cepat mengerti suasana ini. Tersenyum tipis, "Aku enggak deh Mbak, soalnya aku lagi gak nafsu makan."
Ini benar adanya.
Sebelumnya aku kelaparan ingin makan sesuatu tapi ketika melihat adegan ini tiba-tiba nafsu makan ku bilang. Memperhatikan betapa seriusnya Alif makan tanpa memperhatikan sekelilingnya, akhirnya aku memahami sesuatu.
__ADS_1
Mungkin mereka butuh sendiri karena sepertinya Mas Alif sudah mulai tertarik kepada Mbak Annisa.
"Aku sepertinya harus balik ke asrama dulu ya, Mbak, Mas. Aku lupa jika ada tugas yang masih belum ku selesaikan."
Setelah mengucapkan salam langsung saja aku keluar dari dalam dapur. Membebaskan diri dari suasana yang anehnya begitu tidak nyaman untuk ku.
Menghirup udara segar, tangan kanan ku terangkat memukul pelan dadaku. Perasaan tidak nyaman itu anehnya hari ini terus saja muncul di sini.
Mengapa?
Aku tidak tahu pastinya.
Akan tetapi rasanya terlihat begitu menyesakkan.
Mungkin... mungkin karena aku masih belum bisa menerimanya, secepat itu mereka akan bersama. Tapi justru itu bagus karena dengan begitu Mas Alif bisa hidup dengan tenang.
Lihat saja tadi saat ia bertemu dengan Mbak Annisa yang tanpa cadar, ia begitu terkejut dan bahkan ia melupakan keberadaan ku di sana.
Mereka berbicara seolah-olah tidak ada aku di sana, ini.. membuat ku kesal!
Jatuh cinta sih enggak apa-apa tapi jika sampai melupakan keberadaan ku itu sama saja membuat ku sakit.
"Dira.." Panggilku sedih seraya memeluknya mencari perlindungan.
Malam ini suasana hati ku sedang tidak baik jadi aku butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah mu.
"Kamu kenapa, Fir? Datang-datang kok cemberut gitu?" Tanyanya ingin tahu.
Aku memeluknya kuat seraya menggelengkan kepalaku, dia bertanya kenapa aku seperti ini?
Aku pun juga tidak tahu mengapa aku seperti ini. Hanya merasa tidak nyaman saja.
"Kamu sakit ya, Fir?" Tiba-tiba suara khawatir Fia masuk ke dalam pendengaran ku.
Mengangkat kepalaku, ada Fia yang berdiri khawatir di samping Dira. Ia melihat ku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Aku..aku hanya pusing." Jawab ku beralasan seraya melepaskan pelukan Dira dan menjatuhkan diriku di atas ranjang Fia.
"Ya udah, kalau kamu pusing lebih baik tidur aja. Istirahat dan kalau kamu merasa pusingnya tambah parah, jangan lupa bilang ke aku biar nanti kamu bisa minum obat." Pesan Fia khawatir sambil mendudukkan dirinya di samping ku.
Aku tidak mengatakan apapun untuk meresponnya dan hanya mengangguk kecil. Membiarkan kedua mata ku tertutup rapat untuk segera mengenyahkan perasaan abnormal ini. Lalu, suara-suara berisik yang ada di kamar ini perlahan menghilang, mungkin itu karena mereka harus sholat isya ke masjid atau akunya saja yang sudah masuk ke alam mimpi.
__ADS_1
Aneh, mengapa rasanya tetap saja hampa?
Bersambung...