
"Mas Alif, tahu gak kemarin gadis itu bangun lagi setelah dua hari tertidur." Lapor Fira tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Fira, bukannya tiga malam yang lalu kamu bilang dia sudah siuman kenapa sekarang mendadak jadi tidur dua hari lamanya?" Bingung Alif dengan laporan Fira, adiknya ini beberapa malam yang lalu juga melaporkan tentang gadis itu namun hanya sekedar siuman.
Fira menepuk jidatnya spontan, "Ya Allah, Fira lupa ngasih tahu Mas Alif kalo setelah gadis itu makan dia tidur lagi dan baru bangun sekarang. Fira agak bingung sih kok dia tiba-tiba bangun dan tidur lagi selama dua harian?" Gumam Fira dengan pose berpikir.
Alif dengan lembut mencubit pipi gembul adiknya yang chubby, terasa hangat dan lembut.
"Ih, Mas Alif apa-apaan sih! Aku gak mau yah nanti dilihat sama santri lain kita dikira ngapa-ngapain. Kalau tampangnya kayak Mas Razi sih, Fira mau tapi kalau tampangnya kayak Mas Alif, Fira mana mau! Udah ah, gak usah dekat-dekat." Secepat kilat Fira melarikan diri dari Alif, menjaga jarak yang cukup agar Alif tidak bisa menjangkaunya.
Mengulum senyumnya yang tampan, "Bener nih Fira gak mau sama Mas? Padahal niatnya Mas mau nikah aja sama Fira daripada harus mencari perempuan yang lain. Tapi karena Fira udah nolak Mas duluan, pupus sudah deh harapannya Mas." Ujar Alif mencoba menarik senyuman manis dibibir tipis Fira terbentuk.
"Iya Mas, mending Mas Alif cari calon istri dari sekarang aja.. Hem, kalau Mbak Annisa gimana pendapat Mas tentang dia?" Fira menyusut kembali mendekati Alif, duduk di sampingnya seperti biasa.
"Annisa yah?, Dia baik kok seperti perempuan mulia diluar sana. Apalagi dia juga menggunakan cadar, semakin taat ia menjaga dirinya. Memangnya kenapa kamu nanya ini ke Mas?"
Annisa adalah perempuan yang baik di mata Alif dan ia tidak punya pendapat lain selain gambaran gadis yang mulia. Ia sangat menghormati dan kagum dengan ketaatannya dalam menjaga auratnya secara menyeluruh.
"Ih kok nanya kenapa sih, ya buat jadi calon istri Mas Alif lah. Mas Alif jadi cowok gak pekaan deh orangnya, untung aja Fira terlahir sebagai adik kandung Mas, kalau gak terus aku suka sama Mas bisa mati baperan aku gegara Mas Alif yang gak peka." Fira sampai-sampai ngurut dada dibuatnya, Kakaknya ini super duper gak peka!
"Kayaknya kamu beneran ogah banget ya nikahnya sama Kakak, padahal Zahra aja nikah sama Razi gak ada masalah tuh. Dia baik-baik aja, malahan senang banget waktu tahu Kakak gak jadi nikahin dia."
"Ih, kan dia beda Mas. Mereka kan gak sedarah dan Mas Razi juga orangnya lembut banget, perhatian lagi, siapa yang gak mau coba."
Lagian, Razi dan Zahra memang sudah dijodohkan sejak kecil oleh kedua orang tua mereka jadi tentu saja mereka akan mudah jatuh cinta. Apalagi Razi orang yang lembut dan perhatian jika menyangkut Zahra, maka wajar-wajar saja Zahra mudah menaruh hati kepadanya.
"Oh, jadi kalau kita gak sedarah emang Fira mau nikah sama Kakak?, Kakak kan orangnya juga perhatian dan lembut lagi sama Fira, beneran nih gak minat?" Tanya Alif santai dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Tiba-tiba senyuman Fira meredup, memeluk Kakaknya sayang ia tahu jika Alif sedang butuh pengalihan. Kakaknya baru saja patah hati dan orang yang merebut cintanya adalah sahabatnya sendiri, jadi tentu saja rasanya sakit.
"Mas Alif gak usah bahas mereka lagi yah, Fira minta maaf karena melupakan hal yang penting. Udah, kita lupakan soal mereka karena Kakak harus melangkah maju. Tulang rusuk Kakak mungkin ada disekitar Mas, jadi Mas Alif jangan sedih lagi. Fira yakin jodoh Mas Alif pasti lebih cantik dari Zahra, Fira yakin!" Hibur Fira merasa bersalah kepada Kakaknya.
Ia terus saja membicarakan Razi dan Zahra, tanpa sadar membangkitkan luka Kakaknya yang tidak berdarah.
Pasti rasanya sakit.
Alif mengangkat kedua tangannya, berniat ingin membalas pelukan Fira. Namun ketika ia mengingat jawaban dari sholat istikharahnya, ia pun mengurungkan kedua tangannya dan dengan tulus mengangguk. Mengiyakan kata-kata penghiburan dari Fira.
"Hem, lain kali kamu tidak diizinkan lagi membicarakan Razi apalagi jika sampai membandingkan Kakak dengannya, Fira hati Kakak rasanya sakit kamu tahu." Bisik Alif memberi tahu jika ia tidak suka dibandingkan dengan Razi.
Lagipula mereka adalah orang yang berbeda dan tentu saja punya sikap dan sifat yang berbeda.
"Iya..iya, Fira minta maaf." Ia semakin merasa bersalah ketika mendengar keluhan Kakaknya.
Sebenarnya Alif tidak jauh berbeda dengan Razi, ia begitu lembut dan perhatian ketika menyangkut orang-orang terkasihnya. Terkadang Fira selalu bingung, mengapa Alif dan Razi mempunyai temperamen yang mirip.
"Okay, kita lanjut lagi ke topik kita yang selanjutnya." Fira melepaskan pelukannya dari Alif dan dengan santai duduk lagi seperti biasa.
"Mas Alif tuh harus bahagia dong kalau nikah sama Mbak Annisa soalnya dia lembut banget, cocok deh jadi Ibu untuk anak-anak kalian di masa depan."
__ADS_1
Fira tidak bisa berhenti membayangkan jika Alif dan Annisa bersama, pasti itu akan sangat membahagiakan.
"Tapi..tapi kalau Mas Alif masih belum serek sama Mbak Annisa, kan masih banyak perempuan luar biasa lainnya yang ada di sini. Ada Mbak Nabila yang jadi ketua kedisplinan asrama putri, ada juga Marwah yang baik dan polos...ah, atau mungkin itu perempuan yang Mas Alif selamatkan, sepertinya dia juga orang yang baik." Fira tidak mau menyerah untuk membantu Alif move on dari Zahra, jadi ia berusaha menyebutkan perempuan-perempuan baik yang dikenalnya untuk sang Kakak.
Alif tersenyum samar, mencubit pipi merah Fira dengan gemas.
"Kenapa terburu-buru sekali melihat Kakak menikah, memangnya Fira tidak takut melihat kakak lebih sibuk dengan istri Kakak nanti ketimbang sama Fira dan keluarga?"
Fira menggigit bibirnya khawatir, jika ditanya takut ia jelas takut dan sedikit tidak rela melihat Kakaknya nanti menikah. Tapi ia juga tidak mau melihat Kakaknya terus-menerus galau, walaupun yah sebenernya dia masih belum pernah melihat ekspresi galau Kakaknya secara langsung.
"Fira takut tapi Fira gak mau lihat Mas Alif galau terus mikirin Zah-ah, mikirin istri sahabat sendiri. Jadi, Mas Alif secepatnya harus menikah." Jujur Fira tidak ingin menyembunyikannya lagi dari Kakaknya.
Ini sulit tapi jika Kakaknya bahagia kenapa enggak?
"Fira, dengarkan Kakak. Jangan terlalu terbebani karena Kakak juga sudah tidak memikirkannya lagi. Sekarang satu-satunya orang yang ada di dalam hati Kakak ya cuma tulang rusuk Kakak, jawaban dari sholat istikharah Kakak." Ucap Alif tidak ingin membuat Fira khawatir.
Karena tulang rusuknya ternyata selama ini selalu ada di dekatnya. Begitu dekat sampai ia harus mencarinya melalui malam tanpa tidur, melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk sampai akhirnya Allah memberikan jawaban yang sangat amat begitu jelas.
"Masyaa Allah, Mas Alif gak bohongkan?"
"Kakak gak berani bohong, dek."
"Terus.. Mas Alif lihat wajahnya gak?" Tanya Fira penasaran.
Alif dengan kalem mengangguk mengiyakan, "Selama tiga malam sholat istikharah Kakak diperlihatkan wajahnya dengan sangat jelas. Bahkan sampai saat ini Kakak tidak bisa melupakannya."
Penasaran, "Siapa dia Mas?" Jika begitu jelas maka pasti Kakaknya mengenalnya, apalagi Kakaknya bilang jodohnya ada di dekatnya selama ini.
Tersenyum misterius, "Rahasia, dek."
Kecewa, "Sama adik sendiri kok pelit."
"Bukan pelit cuman gak seru aja kalau tahu sekarang, tunggu bulan Syawal besok kamu pasti tahu nantinya." Ini rahasia Alif dan Allah jadi siapapun tidak diizinkan tahu.
"Yah kelamaan Mas, duluan Fira nikah nantinya." Fira berkata tidak serius.
"Itu gak bisa dek, lha wong calon kamu saja datangnya bulan Syawal." Bantah Alif terdengar tidak suka, namun samar.
"Lha, kok Mas Alif tahu calon aku datangnya bulan Syawal?" Bingung Fira karena selama ini ia tidak pernah berkomunikasi dengan laki-laki kecuali jika itu keluarganya.
"Yah kan Abi udah ada menerima lamaran seseorang yang in shaa Allah baik buat kamu, apalagi Kakak mengenalnya dengan baik." Jawab Alif membuka rahasia Abinya.
"Ya Allah, kok Fira sampai gak tahu Mas?" Biasanya saat laki-laki datang melamarnya Abi dan Umi akan konsultasi terlebih dahulu dengannya, semua keputusan diserahkan kepada Fira.
Tapi kenapa kali ini tidak?
"Nanti juga kamu tahu, dek."
"Ih..gak seru tahu, semuanya serba nanti. Masa cuma Fira yang gak tahu apa-apa di sini!" Gerutunya tidak percaya.
__ADS_1
"Udah, pantaskan saja diri kamu untuknya karena kamu adalah cerminan jodohmu." Pesan Alif seraya bangun dari duduknya, meregangkan otot-ototnya yang kram karena terlalu lama duduk.
"Oh ya, Razi tadi menghubungi Kakak. Dia bilang besok akan datang ke sini sambil mengantarkan Annisa untuk tinggal di sini. Sambut kedatangan mereka dengan baik, apalagi mereka adalah keluarga kita sekarang."
"Kakak ke kantor dulu, ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, assalamualaikum." Pamit Alif sambil berjalan keluar dari ruang tamu, meninggalkan Fira yang masih terdiam menatap kosong punggung tegap Alif menghilang.
"Apa ini cuma perasaan ku saja jika punggung Mas Alif sedikit mirip dengan Mas Razi?" Gumamnya bertanya-tanya. Lantas mengapa ia baru menyadarinya sekarang?
"Ah, sudahlah mungkin itu cuma perasaan ku saja. Daripada pusing mikirin hal yang gak jelas lebih baik aku balik ke asrama aja, Fia, Dira dan Marwah harus tahu jika besok ada tamu penting yang akan datang. Hah..gak sabar lihat calon Kakak ipar ke sini, gak salah lagi pasti yang dimaksud Mas Alif adalah Mbak Annisa." Gumamnya senang seraya berjalan keluar mengikuti jejak Kakaknya, namun tujuan Fira adalah asrama bukan kantor Alif.
\*\*\*\*
"Kak Annisa, ada yang bisa Zahra bantu enggak?" Tanya Zahra antusias seraya mendudukkan dirinya di samping Annisa yang baru saja selesai mengepak kopernya.
"Gak perlu dek, soalnya Kakak juga sudah selesai kok packing-packingnya." Semua sudah beres dan hanya perlu istirahat yang cukup saja untuk perjalanan besok.
"Syukur deh kalau gitu, Zahra jadi lega juga jika Kak Annisa sudah bisa istirahat."
"Dek," Panggil Annisa dengan suara lembutnya.
"Iya, Kak?" Jawab Zahra merespon cepat.
"Kakak tadi dapat SMS dari Fira." Cerita Annisa dengan perasaan senang yang membuncah.
"Fira bilang apa sama Kakak?"
Tersenyum manis, "Dia bilang Kakak dicari sama Mas Alif, itu bohongkan dek?" Ia masih belum bisa melupakan perasaan senangnya ketika membaca pesan itu. Membuat semangatnya semakin berkobar tinggi, sehingga tanpa terasa semua barang-barangnya tersusun rapi di dalam koper.
"In shaa Allah gak kok Kak, Fira bukan orang yang seperti itu apalagi jika menyangkut soal Mas Alif." Meskipun Fira pernah mengkasarinya dulu tapi Zahra bisa memakluminya.
Fira marah kepadanya karena gara-gara ia reputasi Alif menjadi buruk di sekolah.
"Hem, Kakak pikir juga begitu." Gumam Annisa dengan suaranya yang malu-malu, bahkan kedua pipinya kini bersemu merah.
Ah, Zahra mengerti apa yang sedang terjadi dengan Kakaknya. Jika Annisa memang menyukai Alif, maka ia pribadi akan mendukungnya. Siapa sih yang tidak ingin melihat Kakaknya bersama laki-laki yang baik juga hebat seperti Alif, tentu saja Zahra mau.
"Ya udah, Kakak istirahat aja dulu biar besoknya Kakak lebih santai di perjalanan, Zahra keluar yah, assalamualaikum." Pesan Zahra tidak ingin mengganggu waktu istirahat Annisa.
Ia juga harus istirahat agar besoknya bisa lebih nyaman, perjalanan yang akan mereka semua tempuh sangat jauh dari kota tempat mereka tinggal.
"Hem, waalaikumussalam." Jawab Annisa seraya memperhatikan Zahra menutup pintu kamarnya.
Setelah pintu benar-benar tertutup, mata mengantuk Annisa kemudian beralih menatap langit-langit kamarnya yang cerah. Diam memperhatikan pikirannya sudah dibawa melayang ke pondok pesantren, hari dimana ia pertama kali bertemu Alif.
"Mas Alif, Annisa sudah tidak sabar bertemu Mas lagi." Gumamnya mengantuk, beberapa detik kemudian matanya benar-benar terpejam bersama rasa lelahnya tadi.
Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Mas Alif.
Bersambung...
__ADS_1