Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Razi


__ADS_3

"Ugh..." Razi membuka matanya perlahan. Mencoba membiasakan cahaya lampu tidur masuk ke dalam penglihatan nya. Setelah penglihatan nya lebih jelas, Razi langsung mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan. Masih di kamar yang sama, namun kali ini ada yang berbeda. Di pergelangan tangan kirinya tertancap jarum infus. Tidak hanya satu jarum, namun ada dua jarum infus dengan selang berbeda. Infus yang satu dengan selang yang berisi cairan bening putih dan selang yang ke dua atau yang terakhir berisi cairan berwarna kuning.


Terasa pegal.


Itulah kesan pertama yang Razi rasakan terhadap pergelangan tangan kirinya.


Razi mencoba menggerakkan tangan kirinya, akan tetapi itu justru membuat tangan kirinya terasa ngilu karena tak sengaja menabrakkan pergelangan tangan kirinya dengan bantal guling yang memang sudah ada sejak Razi bangun.


"Uh." Keluh Razi menahan ngilu.


Spontan tangan kanan Razi langsung bergerak mengangkat tangan kirinya dan memperbaiki posisi yang lebih baik.


Razi mendesah lega.


Cklek


Tiba-tiba pintu kamar nya terbuka dan di ikuti dengan masuknya seorang wanita paruh baya.


Ia tersenyum lega mendapati Razi telah bangun.


"Umi." Panggil Razi lirih kepada Umi.


Umi tersenyum lembut seraya mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Ia mengangkat tangan nya lembut guna mengelus rambut Razi.


"Alhamdulillah, gimana nak, masih pusing enggak?" Tanya umi lembut.


Razi menggeleng ragu.


"Sedikit." Jawabnya.


Razi kembali terdiam. Sunyi.


Selang beberapa menit kemudian masuklah Abi ke dalam kamar ikut bergabung dengan Razi dan Umi.


"Sudah siuman, Alhamdulillah." Syukur Abi seraya mendudukan dirinya di pinggir ranjang samping Umi. Abi mengangkat tangan nya dan menempelkan punggung tangannya pada kening Razi.


Lalu, Abi mengangkat tangan nya dari kening Razi sambil menganggukkan kepala nya tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.


Suasana kembali sunyi. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Sudah berapa lama Razi begini?" Tanya Razi memulai pembicaraan.


"Terhitung lima hari dengan malam ini." Jawab Umi yakin.


Razi kembali terdiam, kemudian tersenyum miris.


"Ah, padahal rasanya baru kemarin saja Razi membantu acara lamaran Zahra." Ucap Razi terkekeh.


Umi masih diam, menatap Razi dengan tatapan sendunya.


"Malam itu, kenapa kau tak kembali setelah pamit membantu Dira di luar?" Suara Abi sarat akan tuntutan.


Razi sedikit terkejut, namun sedetik kemudian ia dapat menguasai ekspresi nya.


Ia membawa pandangan nya ke arah langit-langit kamar.


"Maafkan Razi, Abi. Malam itu tiba-tiba Razi ada urusan mendadak sehingga Razi tidak sempat pamit kepada kalian semua. Razi sangat menyesal." Sesal Razi.


Suasana kembali hening, tak ada yang ingin kembali membuka percakapan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jangan lari, Razi." Suara Abi tenang terdengar tegas.


Umi menghentikan kegiatan tangannya seraya menurunkan nya dari puncak kepala Razi. Ia genggam tangan kanan Razi lembut. Menyalurkan sebuah kehangatan.


Sementara Razi?


Ia masih saja dapat mempertahankan ekspresi nya, mencoba terlihat kuat seakan tak pernah terjadi apa-pun.


"Abi dan Umi tak akan pernah menceritakan kepada mu bagaimana keadaan Zahra setelah kamu tinggal malam itu, jika kamu tak bertanya." Sambung Abi.


"Jika kau pikir dengan cara berlari dari semua ini bisa membuat mu melupakan nya, kau salah, nak. "


"Rasa itu akan semakin besar dan tentu nya semakin sakit. "


Razi mengalihkan wajah nya menghadap Umi dan Abi nya. Wajah Razi terlihat basah, yah ia menangis. Pertahanannya telah runtuh di depan kedua orang tua nya.


"Jangan khawatir kan Razi, Abi. Razi baik-baik saja. Razi tidak apa-apa." Suara Razi lirih.


Umi menggeleng lemah, menatap putra tersayangnya dengan perasaan bercampur aduk.


Bagaimana mungkin ia bisa percaya dengan apa yang di ucapkan sang anak, jika keadaan dan realita yang ia dapatkan jauh dari apa yang di ucapkan.


Tidak, Razi sangat jauh dari kata baik-baik saja. Ia sangat rapuh saat ini.


"Jangan menangis, nak. "


Tidak, ini bukan suara Umi. Melainkan suara Abi yang mencoba menjadi penopang untuk putra nya kembali berdiri.


Abi mengusap air mata Razi yang mengalir dengan wajah sendu nya.


"Kau sama sekali tak pandai berbohong, nak. " Ucap Abi lirih.


"Kalian tak boleh seperti ini, sungguh Razi tak apa-apa. Ini memang resiko yang harus Razi dapatkan karena pilihan Razi sendiri. Kalian tak perlu cemas dan mengkhawatirkan ku, karena semua ini sudah jauh-jauh hari Razi pikirkan. Sungguh, mungkin ini adalah yang terbaik. Ini adalah rencana Allah. Jadi Razi sungguh tak masalah dengan semua ini. " Ucap Razi mencoba meyakinkan kedua orang tua nya.


Razi mengeratkan genggaman tangannya di tangan Umi seraya memberikan senyuman terbaiknya.


Mengalihkan pembicaraan, "Umi, Abi. Razi pengen peluk.." Rengek Razi manja.


Mendengar rengekan manja Razi, umi dan Abi hanya bisa tersenyum sendu seraya beringsut mendekati Razi dan memeluknya dengan hangat.


\*\*\*


"Kak. " Panggil Dira hati-hati.


Mendengar panggilan Dira, Razi langsung mengalihkan pandangan nya dari arah jendela dan beralih menatap wajah Dira yang sedang tersenyum tipis di samping pintu kamar.


Razi berdehem ringan memberikan Dira kode agar masuk ke dalam kamarnya. Dira mengangguk patuh dan menutup pintu kamar Razi perlahan.


Dira berjalan pelan mendekati ranjang Razi, setelah sampai di samping Razi, Dira sama sekali tak mendudukan dirinya. Ia hanya berdiri, menatap wajah tenang Razi yang sarat akan ketenangan.


"Maafkan Dira, kak. " Ucap Dira meminta maaf. Ia masih fokus pada kegiatan awalnya. Menatap wajah sang kakak.


"Seharus nya malam itu Dira tak perlu mengatakan-"


"Kakak sudah melupakan nya, dek." Potong Razi tenang. Ia tatap wajah Dira dengan aura ketenangan nya.


Mata Dira terlihat berkaca-kaca menahan tangisnya.


"Malam itu Zahra nyariin kakak terus, Zahra juga enggak mau keluar sebelum kakak datang. Semua orang bingung dengan sikap Zahra. Mereka tak tau harus melakukan apa untuk membuat Zahra keluar dari dalam kamarnya." Suara Dira terdengar serak.


"Kakak akan menemuinya, kakak akan menjelaskan semuanya. " Putus Razi bermaksud menghentikan pembicaraan ini.


Dira terdiam, cukup lama. Ia tau jika Razi saat ini mencoba untuk bersembunyi dari masalah nya.


"Zahra ada di sini." Ungkap Dira.


Dira menggigit bibirnya takut-takut.


Razi tersenyum simpul, menganggap bahwa ucapan Dira adalah sebuah lelucon.


"Zahra memang ada di sini, di pondok pesantren lebih tepatnya. " Ralat Razi.


Dira semakin menggigit bibirnya takut-takut. Ia pejamkan matanya kuat.


Ya, Dira, jangan takut. Akhiri semua omong kosong ini, tenang, ada Allah di sisi mu. Batin Dira memberikan semangat.


Dira membuka matanya dengan yakin, menatap Razi dengan penuh keberanian nya.


"Zahra ada di sini, di rumah ini." Suara Dira berani.


Razi membelalakkan matanya kaget.


"Dira, apa yang kamu pikirkan dek?" Tanya Razi tak habis pikir dengan jalan pikiran Dira.


Dira tersenyum kecut.


"Seperti yang kau bilang, Kau ingin menemuinya bukan?. Sekarang kau bisa menemuinya. Ah, tidak, kakak tak perlu bersusah payah datang menghampiri nya karena dia sendiri yang datang menemui kakak, dia ada di luar jika kakak ingin tahu." Ucap Dira tegas tanpa rasa takut.


Razi mengusap wajahnya kasar. Ia marah sekaligus senang mendengar Dira yang mengatakan jika Zahra berada di rumah ini.


Ia marah karena masih belum siap untuk bertemu Zahra. Ia juga masih dalam keadaan yang tidak fit untuk beban yang lebih berat. Apalagi ini adalah hal yang menyangkut soal hati. Sesuatu yang sangat sensitif untuk situasi Razi saat ini.


Akan tetapi di samping Razi marah dan sedih, ia juga merasa bahagia karena sang pujaan hati datang menemuinya. Yah, setidaknya rindu yang ia pendam bisa sedikit terobati. Hanya sedikit, tidak lebih. Karena walau bagaimana pun juga ia sangat sadar betul posisinya di mata Zahra.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, dek?" Frustrasi Razi menghadapi sikap Dira yang tidak bisa di tebak.


Dira tersenyum kecut.


"Mencegah mu lari dari masalah mu sendiri. Kau tau betul cara memulai sebuah permainan, akan tetapi kau tak tau atau pura-pura tak tau cara mengakhirinya." Jawab Dira sarkatis.


Razi menggeleng lemah. Mencoba mengenyahkan pikiran Dira.


"Kakak tidak lari dari masalah ini, tapi kakak justru sedang berusaha untuk mengakhirinya." Timpal Razi tak terima.


Dira memutar bola matanya jengah, lelah sekali Ia menghadapi kepala batu Kakak nya ini.


"Kau bodoh, itulah kesan yang ku dapatkan dari mu. "


"Kau pikir apa yang kau lakukan saat ini adalah akhir bahagia dari permainan yang kau mainkan sendiri?, kau egois!."


"Dira, jaga ucapan mu dek. Kau tak seh-"


"Jangan harap untuk saat ini, kau sudah menyerah bukan?. Maka biarkan aku yang mengambil alih permainan ini. Kau hanya perlu duduk dan menikmati nya. Kita lihat, seberapa bodoh diri mu saat ini." Putus Dira tak mau di bantah.


Razi menggeleng tak terima, ia ingin membantah akan tetapi suara ketukan pintu menginstrupsikan ucapan nya.


"Bersyukur lah, kamar mu kedap suara. " Ejek Dira seraya berjalan mendekati pintu. Sebelum membuka pintu ia menatap Razi remeh, memberikan senyuman miringnya. Menyeringai. Razi sendiri merasa ngeri sendiri mendapati perubahan sikap Dira yang sangat cepat.


"Permainan telah di mulai, maka bersiaplah." Suara Dira sarat akan ejekan.


Dira langsung membuka pintu, mempersilahkan seseorang untuk masuk ke dalam kamar.


Zahra masuk ke kamar Razi dengan senyum hangat nya. Ia langsung berlari begitu mendapati Razi yang juga sedang tersenyum hangat kepadanya.


"Kak Razi, Zahra kangen." Ungkap Zahra seraya memeluk Razi tak sabaran.


Razi meneguk ludah nya kasar. Ia bingung akan bersikap seperti apa di depan Zahra.


Ia menatap Dira khawatir, meminta pertolongan. Akan tetapi bukan nya membantu, Dira justru mengangkat bahu nya acuh. Ia membuang pandangan ke arah lain, tak peduli.


"Dir.. Di-"


"Zahra, aku keluar sebentar yah. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Umi dan Abi." Potong Dira girang.


Razi menepuk jidatnya kesal. Ia benar-benar di permainkan oleh Dira.


"Oh, tentu saja. Kau bisa pergi." Jawab Zahra menyetujui ucapan Dira.


Sekali lagi Dira tersenyum miring menatap kekakuan Razi menghadapi sikap Zahra.


"Baiklah, aku pergi." Pamit Dira seraya membuka pintu kamar dan keluar.


Razi merutuki betapa gilanya rencana Dira, sepupunya itu memang sangat sulit untuk di tebak. Bahkan Ia sampai ngeri sendiri menghadapi kelabilan sikap Dira.


"Kak Razi?" Panggil Zahra pelan. Suaranya sedikit teredam dada Razi. Razi berdehem tak nyaman dengan posisi seperti ini.


Mengerti hal itu Zahra langsung melepaskan pelukan nya lantas langsung bergerak naik ke atas ranjang. Menyingkap selimut Razi dan ikut membaringkan dirinya disamping Razi. Ia jadikan lengan kanan Razi sebagai bantalnya.


Sementara itu Razi hanya melongo mendapati pergerakan Zahra yang bukan lagi membuat tak nyaman akan tetapi menjadi sangat risih.


Hei, jangan lupakan fakta bahwa Razi menyimpan sebuah rasa lebih kepada gadis ini. Ia juga sedang berusaha untuk mundur dan menghilang dari sang gadis. Tapi, apa sekarang?

__ADS_1


Tentu saja hal ini membuat Razi semakin tersiksa dan frustrasi. Yah, tidak seharusnya mereka seperti ini. Ini adalah hal yang sangat dihindari Razi sedari dulu.


Asstagafirullah, jika Abi melihat ini maka tamatlah riwayat ku. Batin Razi khawatir.


Zahra menutupi sebagian tubuhnya dan Razi dengan selimut. Kemudian ia memposisikan tubuhnya menyamping ke arah Razi. Mencari posisi yang nyaman dan berakhir memeluk Razi hangat. Zahra menenggelamkan wajah cantiknya di dalam dada hangat Razi.


Dug


Dug


Dug


Zahra dapat mendengar dengan baik suara detak jantung Razi yang berdetak tak normal. Namun, Zahra tak ambil pusing dengan pikiran itu. Ia lebih memilih mengabaikan nya.


Mungkin ini karena efek sakitnya. Batin Zahra tak ambil pusing.


Berbeda dengan Zahra yang memilih mengabaikan nya, Razi justru menganggap hal ini adalah hal yang berbahaya. Bagaimana tidak, Razi sedang berusaha sekuat tenaga menetralkan suara detak jantung nya yang tak mau di ajak kompromi. Apalagi Zahra memeluknya hangat, menempelkan wajahnya pada dada bidang milik Razi, tentu saja Razi semakin frustrasi dengan hal ini. Jantung nya semakin tak bisa di ajak kerja sama.


"Zahra?" Panggil Razi hati-hati.


Zahra terdiam. Ia tak merespon.


"Zahra, jangan seperti ini dek. " Ucap Razi hati-hati tak ingin menyinggung Zahra.


Zahra tak merespon, bahkan ia semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Razi. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di atas dada bidang Razi.


Razi semakin bingung dengan sikap Zahra yang sangat aneh. Baiklah, Razi akui Zahra memang manja semenjak hari itu. Tapi, ia tak semanja hari ini. Zahra justru terkesan menyembunyikan sesuatu jika bersikap aneh seperti ini.


"Zahra, hei. " Kaget Razi ketika merasakan baju di bagian dadanya basah.


"Hiks-" Isak Zahra mulai terdengar.


Zahra menangis, itulah kesimpulan nya. Akan tetapi apa yang menyebabkan Zahra menangis?. Apa yang menjadi sumber penyebab Zahra menangis seperti ini?


Razi bingung sekaligus marah.


Yah, Razi bingung mengapa gadis pujaan hatinya tiba-tiba menangis. Razi juga marah karena melihat gadis pujaan hatinya menangis. Dan satu lagi jangan dilupakan, bahwa Razi seperti orang bodoh yang tak tau apa apa penyebab Zahra menangis. Ia seperti orang yang asing untuk Zahra.


Razi menggeser tubuhnya menyamping ke kanan. Membuat Zahra semakin nyaman dengan posisi nya. Razi mencoba mengangkat tangan kirinya dengan hati-hati. Efek jarum infus masih membuat tangan nya terasa kram. Akan tetapi itu bukan lah masalah yang besar bagi Razi.


Razi memposisikan tangan kirinya di atas tubuh Zahra, lebih tepatnya di punggung Zahra. Ia peluk Zahra hati-hati, menariknya lembut dalam dekapan hangat nya.


Menciumi puncak kepala Zahra sayang. Mengelus lembut punggung Zahra, menariknya semakin dalam ke dekapan nya. Menyalurkan sebuah rasa rindu yang amat dalam. Kehangatan yang tak pernah ia rasakan dan dapatkan dari siapa-pun. Zahra menyadari itu.


Tak ingin kalah dari Razi, Zahra pun melakukan hal yang sama. Mencari posisi senyaman mungkin dalam dekapan Razi dan semakin mengeratkan pelukan nya. Ia sangat rindu. Tidak, ah ini bukan sekedar rindu.


Tapi rasa saling membutuhkan.


Rasa saling ingin melengkapi,


Dan


Rasa saling ingin memiliki.


Razi semakin mengeratkan pelukan nya, menghirup wangi shampoo yang menurut Razi sekarang menjadi candu untuk nya.


Ya, Allah. Aku tau ini salah. Aku tau ini tak seharusnya terjadi, ia bukan orang yang halal untuk ku, aku tau benar akan hal itu. Akan tetapi, untuk saat ini ya Rabb, hanya untuk saat ini sebelum aku benar-benar pergi, izinkan aku bertindak egois. Batin Razi sendu.


Lama mereka dalam posisi seperti ini tak ada yang mengeluarkan suara. Sunyi.


Senyap.


Mereka enggan untuk mengucap satu patah kata pun. Tak ingin merusak suasana.


Hingga Razi tersadar akan sesuatu. Ia tersenyum miris.


"Zahra, kita tak seharusnya seperti ini. " Peringat Razi hati-hati. Namun, berbeda dengan apa yang di ucapkan, tubuh Razi justru mengingkari lisannya. Ia masih tak bergerak dari posisi nya.


Enggan.


"Kak Razi, Zahra kangen." Suara Zahra serak.


Razi tersenyum kecut, ia pun sama halnya dengan Zahra. Bahkan sangat rindu.


"Malam itu kakak kemana?. Zahra sedih, kenapa kakak meninggal kan Zahra?" Tanya Zahra sendu.


"Bukankah kakak berjanji setelah acara selesai kakak akan menemui Zahra, tapi kenapa kakak pergi?" Tuntut Zahra sedih.


Razi mengelus punggung Zahra lembut.


Jangan seperti ini, kakak akan semakin sulit melepaskan mu dek. Batin Razi sendu.


"Maafkan kakak, dek. Malam itu tiba-tiba kakak ada urusan. Kakak ingin pamit kepada kalian, tapi kakak tidak sempat. Jadi kakak wakilkan saja lewat Dira, dek. Maafin, kakak." Sesal Razi, berbohong.


Ia meneguk ludahnya kasar, gugup. Berdoa di dalam hati semoga Zahra dapat menerima alasannya dan tak perlu bertanya lebih lagi.


"Urusan apa?" Dan doa Razi pun tertolak, jangan lupakan rasa ingin tahu Zahra sangatlah besar. Razi pun harus bersabar dengan rasa ingin tahu Zahra kali ini.


"Urusan kantor, ada beberapa dokumen yang harus kakak periksa." Bohong Razi.


Zahra terdiam. Razi pikir jika Zahra telah menyerah untuk kembali bertanya. Tapi, lagi-lagi Razi harus meneguk ludahnya kasar. Zahra belum menyerah.


"Seberapa penting dokumen itu sehingga kakak harus pergi meninggalkan Zahra?. Apa Zahra hiks-"


"Hei, jangan menangis dek. Tidak, kamu lebih penting dari apa pun. Bahkan nyawa kakak sekalipun, kamu jauh lebih penting. Kakak tak bermaksud meninggalkan mu, akan tetapi jika kakak menyerah kan semua pekerjaan itu kepada Abi, rasanya kakak sangat jahat berlaku seperti itu. Kakak tak ingin membebani siapa-pun. Lebih baik kakak yang menanggung nya." Potong Razi setengah jujur.


Ia mengangkat tangan kirinya perlahan. Menyentuh pipi lembut Zahra, mengelusnya hati-hati. Zahra hanya terdiam mendapati perlakuan Razi, ia diam-diam bahagia.


Razi tersenyum hangat dan mengangkat tangan kirinya dari pipi Zahra. Namun, pergerakan nya terhenti ketika Zahra yang tiba-tiba menahan tangannya. Menurunkannya perlahan pada posisi semula. Menyentuh pipi Zahra.


Razi terkejut, tentu saja. Ia tak menyangka jika Zahra melakukan ini.


Apalagi tanpa diduga, Zahra mengeratkan pegangannya pada punggung tangan Razi agar tidak terlepas dari pegangannya.


Ia menatap mata hitam Razi dalam. Razi pun melakukan hal yang sama. Mereka terbuai akan pikiran masing masing. Lama terdiam, tiba-tiba entah siapa yang memulai mereka berdua pun saling mendekat, mengikis jarak yang sempat menjadi penghalang bagi mereka. Zahra perlahan menutup matanya, menunggu sesuatu yang sangat ia harapkan sampai akhirnya suara pintu terbuka menghancurkan suasana mereka.


Razi spontan menjauh kan wajahnya dari wajah Zahra , mengangkat tangan kirinya tak sadar dan itu sukses membuat tangan kirinya terasa ngilu karena pergerakan spontan nya mengakibatkan jarum infus sedikit bergeser.


"Assalamualaikum.." Salam Dira seraya masuk ke dalam kamar tanpa rasa bersalah.


Razi bernafas lega karena dapat selamat dari perangkap setan.


Alhamdulillah. Batin Razi bersyukur.


"Masuk, kak. " Perintah Dira kepada seseorang yang ada di luar.


Zahra mengernyitkan kening nya heran, bertanya-tanya siapa kah sosok yang dibawa Dira.


Hingga masuklah seorang gadis cantik dengan sebuah nampan di tangannya.


Zahra tersenyum hangat, itu Annisa. Kakak perempuan nya.


"Assalamualaikum, kak?." Salam Annisa lembut seraya menyimpan nampan di atas nakas.


Razi dan Zahra menjawab salam Annisa sopan.


Annisa mengangkat tangan kananya, menempelkan nya pada kening Razi.


Beberapa detik kemudian, Annisa tersenyum hangat sambil menganggukkan kepalanya semangat.


Kemudian, ia menyiapkan air dan obat yang ia bawa. Membuka penutup bubur dan mencampurkan sebuah bubuk berwarna putih ke dalam bubur yang masih panas. Mengaduknya perlahan.


"Ayo makan, kak. Annisa suapin." Ucap Annisa seraya memposisikan tubuhnya menyamping ke arah Razi.


Razi mengangguk patuh, berniat menggeser kan tubuhnya namun tertahan oleh sesuatu.


"Ekhem, Zahra menyingkarlah dari kasur kak Razi. Kau lihat, ia sangat kesusahan hanya untuk sekedar memakan bubur saja. " Sindir Dira santai.


Zahra membola kan matanya tidak terima dan berakhir menatap tajam ke arah Dira.


"Kenapa harus turun, kak Razi masih bisa makan bubur kok walaupun aku tak turun. " Ucap Zahra sengit.


Dira menatap Zahra remeh, mengejek.


"Turun, kak Razi harus makan." Suara Dira masih sama.


Zahra memutar bola matanya malas, kemudian menggeser posisi nya sedikit.


Dira semakin memberikan tatapan mengejek, seperti menyampaikan 'Siapa-suruh-kau-bersikap-bodoh! '


"Turun, bukan bergeser." Kekeh Dira.


"Tapi kan ak-"


"Turun. "


"Iya-iya, aku turun. " Ucap Zahra mengalah seraya turun dari atas kasur dengan ogah-ogahan.


Dira tersenyum miring melihat sikap labil Zahra.


"Aku yang akan menyuapi kak Razi. " Putus Zahra seraya berjalan mendekati Annisa bermaksud mengambil sebuah mangkok bubur, namun langsung di tahan oleh Dira.


"Ini adalah tugas Annisa, kau tak perlu repot-repot." Suara Dira.


Zahra mengerang kesal, tak terima.


"Tapi aku ingin, lagi pula aku tak merasa repot." Elak Zahra.


Dira lagi-lagi tersenyum miring, menyeringai.


"Baiklah, akan tetapi kak Annisa lebih telaten melakukan hal seperti itu. Sedang kan kau?, aku ragu. Lebih baik tak usah, biarkan saja kak Annisa menyelesaikan tugasnya. Kau ikut aku, duduk di sini dengan manis. " Ucap Dira tegas seraya menarik Zahra untuk duduk di sebuah sofa.


Zahra menurut walaupun ogah-ogahan. Ia duduk dengan kesal. Memberikan tatapan membunuh kepada Dira.


Sementara Dira?


Jangan ditanya. Ia bersikap acuh tak acuh. Seolah-olah tak terjadi apa-pun.


Zahra mengalihkan pandangan nya ke arah Razi dan Annisa.


Annisa menyuapi Razi dengan telaten dan bersih. Sesekali mereka berbicara. Membicarakan sesuatu yang berakhir dengan sebuah gelak tawa dari Razi.


Zahra yang melihat pemandangan itu merasa sedikit risih. Ia seakan tak terima jika Razi dan Annisa bisa sedekat itu.


Ia terluka.


"Aku keluar. " Pamit Zahra langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari yang lain.


Razi menatap kepergian Zahra aneh. Ia seakan bisa merasakan jika Zahra cemburu.


Tapi apa benar?. Batin Razi meragu.


Sementara itu, Annisa dan Dira saling memberikan senyuman miringnya.


Baru permulaan. Batin mereka bersamaan.


                            ***


"Ini tema pernikahan nya Zahra maunya gimana, dek?" Tanya Umi serius seraya tetap fokus membongkar balikkan sebuah buku yang memperlihatkan gambar-gambar pernikahan dengan tema yang berbeda.


"......"


"Kamu maunya yang sederhana atau gimana, dek? "


"......."


Umi menghentikan kegiatan tangannya, mengangkat wajahnya dan beralih menatap Zahra yang terlihat sedang melamun. Umi menghela nafas nya berat, menatap sendu sang buah hati.


"Zahra? " Panggil Umi pelan seraya menyentuh pundak Zahra. Zahra terhenyak dan berhasil kembali dari lamunannya. Ia menatap Umi dengan tenang, seakan tak pernah terjadi apa-apa.


"Dek, kamu kenapa hem?" Tanya Umi dengan suara ketenangannya.

__ADS_1


Zahra gelagapan, menatap kesembarang arah asal jangan menatap mata tajam Uminya yang meneduhkan.


"Zahra gak apa-apa, Umi. " Jawab Zahra mencoba terlihat meyakinkan.


Umi terdiam dan memilih untuk mengiyakan saja jawaban Zahra, bukannya tak perduli. Akan tetapi Umi sengaja melakukan ini untuk menguji Zahra.


Umi melanjutkan lagi kegiatan nya, bungkam.


Zahra termenung kembali, memikirkan semua kejadian dan permasalahan yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu.


"Umi. " Suara Zahra terdengar lemah.


Umi tersenyum kecil, kemudian mengangkat wajahnya menatap Zahra. Tatapan hangat. Ia tak menjawab ataupun sekedar bersuara menimpali panggilan Zahra. Ia hanya memberikan tatapan bertanya nya.


"Apakah Zahra memang harus menikah?" Tanya Zahra mulai serius.


Umi tersenyum hangat kemudian menggapai tangan Zahra. Menggenggam nya hangat.


"Jika Zahra masih belum siap, kita bisa menundanya beberapa waktu. Umi tau di umur Zahra yang baru memasuki 18 tahun ini masih terbilang sangat muda untuk memulai sebuah rumah tangga. Jika Zahra memang masih belum siap, kita bisa menundanya untuk beberapa bulan. " Jawab Umi terdengar tenang. Mencoba menjawab kebingungan sang putri.


Zahra menggeleng kecil, tidak setuju dengan jawaban Umi.


"Zahra bukan nya belum siap, akan tetapi.. " Jeda Zahra ragu.


Umi menaikkan kedua alisnya penasaran.


"Apakah Zahra harus menikah dengan Alif? " Tanya Zahra hati-hati.


Umi menghela nafas nya pelan, memberikan tatapan teduhnya.


"Kenapa Zahra bertanya seperti itu, Zahra lupa Alif adalah pilihan Zahra sendiri, bukan kami. Jadi mengapa Zahra harus mempertanyakan pilihan Zahra sendiri di saat pilihan itu adalah pilihan Zahra. " Bingung Umi.


Zahra tertegun.


Benar, itu adalah pilihan nya. Bukan pilihan orang tua nya atau pun orang lain. Namun, ia sendiri lah yang memilih nya.


Akan tetapi Zahra punya alasan tersendiri mengapa ia melakukan ini, dan bodohnya Zahra, ia sangat ceroboh terhadap tindakan nya. Ia tak tau jika akibat kecerobohan nya dapat berimbas sampai sejauh ini.


"Apa Zahra ragu dengan Alif? " Tanya Umi memastikan kebingungan Zahra.


Zahra menggeleng yakin dengan jawaban nya.


"Alif orang yang baik, dan Umi tau betul akan hal itu."


"Lalu apa yang kau pikirkan, nak? " Bingung Umi memancing Zahra.


Zahra terdiam, ia tak ingin memberitahu Uminya akan permasalahan yang mendera hati nya. Ia juga ragu jika perasaan nya akan terbalaskan.


"Nak, pernikahan mu tinggal tiga minggu lagi. Tak ada waktu untuk bermain. Karena masalah rumah tangga adalah masalah yang serius bukan masalah sepele. " Ingat Umi kepada Zahra.


Zahra tersenyum kecut, ia lupa jika ini adalah memang kecerobohan nya.


"Kita akan pulang, nak ke kota. Kamu akan dipingit di sana. Zahra hanya boleh beraktifitas di dalam rumah. Tidak di luar. Sambil di pingit, Zahra bisa belajar memasak bersama Umi. Masalah pernikahan atau apapun itu serahkan saja kepada yang lain." Putus Umi seraya menutup buku tersebut. Berdiri dari tempat nya dan mengelus puncak kepala Zahra sayang.


"Kemasi barang barang mu, nak. Sore ini kita sudah berangkat ke kota. " Ucap Umi seraya pamit dan keluar meninggal kan Zahra yang sedang termenung. Mencerna setiap ucapan Umi dengan wajah lesunya.


"Aku terjebak lagi dengan pilihan bodoh ku hiks..aku bingung. " Isak Zahra mulai terdengar. Ia merutuki semua pilihan nya yang berakhir melukai dirinya sendiri.


                           ***


"Kak Razi duduk dibelakang bersama Zahra dan Annisa saja, Abi. Kasian, kakak kan masih sakit, ia tak bisa duduk dikursi depan bersama Abi. " Pinta Annisa kepada Abi yang sedang memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil.


Abi mengangguk patuh dan mengiyakan permintaan Annisa. Setelah mendapatkan persetujuan Abi, secepat kilat Annisa langsung mengambil alih Razi dari Umi dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Melihat pemandangan itu, Zahra hanya mendengus tak suka dan mengekori mereka masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Zahra hanya mengelus dada mendapati pemandangan yang dimana Razi sedang menyandarkan kepala nya dibahu Annisa.


Dengan mata terpejam Razi tak terlalu memusingkan sikap Annisa yang begitu aneh hari ini.


Razi duduk di antara Zahra dan Annisa. Dan tentunya ia masih belum menyadari keberadaan Zahra yang dari sebelum masuk mobil sudah memasang wajah ditekuknya. Moodnya benar-benar dipermainkan hari ini.


Mobil berjalan dengan kecepatan normal, santai. Tidak terlalu terburu-buru.


Zahra P. O. V


Aku memilih membuang pandangan ku ke arah luar, rasanya sangat risih melihat kak Razi yang tertidur manis dipundak kak Annisa.


Sesekali aku harus membuang nafas ku berat, entah tapi berada ditempat ini membuat dada ku sesak dan terbakar.


Oh, aku benci perasaan ini.


Hari mulai gelap, dan ini sudah satu jam lebih lama nya kami didalam perjalanan. Beberapa waktu lalu kami turun untuk menunaikan sholat magrib dan isya seraya beristirahat sejenak. Mampir ke sebuah rumah makan dan menyempatkan untuk kak Razi meminum obatnya.


Ah, aku ingin diposisi Annisa. Mengomeli kak Razi yang rewel minum obat dengan segudang ucapan mengejek. Jika saja.


Aku melirik kak Razi yang tertidur pulas dipundak Annisa, sangat damai dan tenang. Walaupun wajah nya terlihat pucat akan tetapi itu tidak mempengaruhi sedikit pun ketampanannya. Ah, aku jadi sangat merindukan nya jika seperti ini.


Suasana dalam mobil sangat sunyi, Umi, Abi dan Annisa tertidur pulas karena kelelahan. Sedang kan kak Razi, jangan ditanya. Dari awal perjalanan ia memang sudah tertidur didalam mobil.


Oh, Aku lupa. Kalian jangan berpikir jika yang mengendarai mobil adalah Abi. Bukan, itu bukan Abi. Tapi itu Pak Sumanto, supir pribadi Abi yang didampingi dengan istrinya Bik Sumar.


Bik Sumar terlihat masih segar menemani sang suami agar tetap sadar dan tidak mengantuk. Mereka bercerita tentang keadaan anak-anak mereka di rumah. Tidak ribut, bahkan hanya suara sayup-sayup.


Aku menghela nafas panjang, sangat bosan dengan suasana didalam mobil.


Tiba-tiba mobil berguncang hebat, melewati jalanan berlubang. Umi dan Abi tidak terganggu dan masih anteng terlelap. Annisa pun juga.


Pak Sumanto mengucapkan permohonan maaf kepada ku, aku menimpali nya dengan santai dan mengatakan bahwa itu bukan lah masalah.


Tiba-tiba perpotongan leher ku terasa hangat. Bukan hanya itu, namun pundak ku pun terasa berat.


Aku melirik ke arah samping kanan ku.


Deg


Ini kak Razi, dengan wajah pucatnya ia tertidur lelap di pundak ku. Aku tersenyum bersyukur, betapa Allah sangat mengerti keinginan ku.


Aku masih menatap teduh wajahnya. Ah, walaupun terlihat pucat ia masih saja tampan.


Kak Razi menggeliat tak nyaman dengan posisi nya dan bergerak mencari posisi nyaman. Aku tak ingin kak Razi berpindah lagi tertidur di pundak Annisa, maka dari itu aku pun membantu nya mencari posisi nyaman dengan memperbaiki posisi duduk ku. Kak Razi mendapat kan nya, benar-benar diperpotongan leher ku.


Uh, ini sangat geli dan terasa nyaman.


Aku tak bisa lagi melihat wajah nya karena posisi nya yang seperti ini. Akan tetapi aku senang dengan posisi ini.


Hahaha.. Ah, ku rasa aku mulai gila.


Aku melirik tangan kak Razi. Tangannya saling betautan. Seperti nya ia kedinginan. Akan tetapi kak Razi kan menggunakan jaket yang lumayan tebal.


Astagfirullah.. (Untung ingat, mencoba terbiasa).


Aku lupa, kak Razi kan sedang sakit. Ia butuh sesuatu yang hangat.


Aku berinisiatif menggapai tangan kak Razi, menangkup kedua tangan nya hangat dan sedikit memiringkan posisi duduk ku agar semakin nyaman.


Ini sangat nyaman.


Mata ku terasa berat, posisi ini membuat ku nyaman dan mengantuk. Lambat laun pandangan ku mengabur dan gelap.


                            ***


Aku terbangun ketika mendengar suara gerbang rumah ku yang sedang di buka oleh Pak Murjo dan Pak Dedi, satpam rumah ku.


Aku menghela nafas lega karena bersyukur bisa sampai rumah dengan selamat.


Aku melirik tangan ku yang sedang menggenggam tangan hangat kak Razi, berat memang. Tapi aku tak mau keduluan Annisa lagi jadi aku memutuskan untuk membangunkan kak Razi.


"Kak.." Panggil ku pelan. Aku tetap menggenggam tangan nya.


"Kak Razi bangun..." Panggil ku lagi. Kali ini kak Razi bereaksi, ia melenguh pelan menandakan ia terbangun dari tidur nya. Ku rasakan leher ku seperti digelitiki bulu-bulu halus dan ku yakini bahwa itu adalah bulu mata kak Razi yang sedang menyesuaikan matanya dengan cahaya mobil.


Setelah beberapa detik, aku merasakan tubuh kak Razi menegang.


"Zahra?" Panggilnya terdengar lemah.


Aku tersenyum hangat seraya membuka pintu mobil dan menarik kak Razi pelan agar mengikuti ku keluar dari mobil.


Kak Razi menurut dan ikut turun dari mobil.


"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya kak Razi bingung.


Ah, kenapa kak Razi jadi terlihat lucu hari ini. Jadi gemas.


"Nanti Pak Sumanto yang urus." Jawab ku seadanya seraya berjalan sambil memapahnya masuk ke dalam rumah.


Aku egois bukan? Terserah. Akan tetapi aku tidak mau didahului oleh Annisa lagi. Kali ini aku tak mau tinggal diam.


Aku membuka pintu kamar kak Razi dan menidurkan kak Razi di atas ranjang nya. Aku menekan saklar lampu, membuat kamar kak Razi menjadi terang.


Aku menarik selimut dan menaikan nya sampai ke dada kak Razi. Ia terlihat kelelahan.


"Kamu istirahat aja, dek. "


Aku menggeleng dan duduk disamping ranjang, menghadap kak Razi.


"Aku di sini aja."


"Kamu pasti capek, istirahat aja ya. Kakak gak apa-apa kok, udah di dalam kamar juga. " Kekeh Razi mencoba merayu Zahra.


"Bener nih, Zahra istirahat?" Tanya Zahra polos.


Razi tersenyum hangat.


"Iya kamu tidur, dek. Harus." Jawab Razi tegas.


Zahra mengangguk patuh dan berjalan ke arah pintu yang terbuka. Bergerak menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia berbalik arah berjalan ke arah Razi.  Tepatnya ranjang Razi.


Setelah sampai ia langsung menaikkan dirinya di atas ranjang Razi, menyingkap selimut dan memposisikan tubuhnya menyamping ke arah Razi. Menarik selimut hingga dada dan berakhir memeluk Razi hangat. Menghirup wangi Razi yang ia rindukan.


Sementara Zahra yang sudah nyaman dengan posisi nya, Razi justru malah terbengong dengan sikap Zahra yang seperti ini.


"Zahra?" Panggil Razi dengan suara lemah nya.


Zahra menggeleng, ia tau jika Razi pasti akan melarang nya tidur disamping nya. Ia tau Razi pasti akan menolak nya tidur di sisinya.


"Kak.. Hiks.. " Isak Zahra terdengar.


Razi terkesiap untuk yang kedua kalinya, yah ini yang kedua kalinya setelah kejadian dipondok pesantren.


"Zahra kamu kenapa, dek?" Panik Razi khawatir.


Zahra menggeleng, tak mau bersuara.


"Kakak minta maaf ka-"


"Cukup biarkan Zahra seperti ini. Zahra baik-baik saja selama bersama kakak. Zahra akan merasa nyaman dan tenang jika itu bersama kakak. Zahra mohon, biarkan seperti ini. " Suara Zahra serak.


Ada perasaan bahagia mendengar pengakuan Zahra, namun Razi sedikit bingung dengan Zahra. Entah, sejak hari ia menerima lamaran Alif, Zahra menjadi lebih pendiam dan cengeng. Zahra akan sangat cengeng jikpppa bersama Razi. Dan itu terbukti sudah dua kali.


Akan tetapi, setiap Razi bertanya kepada Zahra apa yang menyebabkan ia seperti ini Zahra pasti selalu bungkam dan tak mau berbicara.


Kamu kenapa, dek? Kenapa aku melihat seakan-akan kamu tak bahagia sejak hari itu. Jangan buat aku terus-terusan berharap, dek. Ya Allah, apa sebenarnya yang disembunyikan Zahra dari ku?. Aku takut jika apa yang ku pikirkan tak seperti yang aku harapkan. Batin Razi sendu seraya menarik Zahra kedalam pelukan nya.


Zahra terkejut, namun ia langsung membalas pelukan Razi.


Ia nyaman.


Dan tentunya bahagia.


**Bersambung..


PS!!

__ADS_1


Komentar boleh, akan tetapi jangan memerintah. Di sini saya menulis menyalurkan hobi saya, bukan untuk bekerja. Kalau pun iya, saya tidak mendapatkan apa-apa dari kalian. Kalian tidak menggaji atau pun memberikan saya uang, jadi ayo..saling menghormati. Saya tidak up berhari-hari bukan berarti saya lepas dari tanggung jawab, akan tetapi saya punya kesibukan tersendiri dan hidup saya tidak hanya tentang menulis. Okay, inilah yang membuat saya beberapa waktu lalu mulai enggan merespon komentar kalian.


TOLONG HARGAI SAYA**.


__ADS_2