
*ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ
"Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)" [QS. An Nuur (24):26*].
***
Zahra menatap kosong bayangan cantik nya didepan cermin. Perlahan tangan lembut Annisa menyematkan sebuah cadar teransparan yang terlihat sangat serasi dengan gaun pengantin yang Zahra kenakan. Annisa tersenyum takjub dengan hasil kerjanya beberapa jam yang lalu. Ah, menghias pengantin tak semudah yang ia pikirkan.
"Selesai, sekarang Zahra tinggal menunggu kedatangan pangeran tam-ehem calon suami Zahra dengan tenang di sini. " Intruksi Annisa membuat Zahra sempat mengernyit kan kedua alisnya bingung. Namun tidak ingin mempermasalahkan nya Zahra memilih bungkam.
"Zahra, apakah kau melihat sound yang ada di sana? " Tunjuk Annisa terhadap pengeras suara yang sudah terpasang cantik di atas sana.
Zahra mengangguk sebagai respon.
Annisa tersenyum penuh makna seraya mengelus puncak kepala Zahra yang sudah tertutup jilbab.
"Kau bisa mendengarkan calon suami mu menghalalkan mu dari sini, kamar pengantin ini. "
Zahra mengerjap lucu, ia tak tau jika konsep pernikahan yang mereka gunakan sangat lah aneh. Ia pikir jika setelah calon mempelainya datang ia akan turun ke lantai bawah tempat akad berlangsung, tapi ternyata ia salah.
"Apa Zahra tidak turun kebawah?" Tanya Zahra polos.
Annisa mengerutkan dahinya bingung.
"Untuk apa?" Tanya Annisa.
Zahra merematkan pakaiannya takut-takut atau gugup lebih tepatnya.
"Mendampingi calon suami Zahra." Jawab Annisa ragu.
Ah, Annisa mengerti. Ternyata Zahra masih belum mengetahui konsep pernikahan nya. Mungkin dibenak Zahra bahwa ia akan melaksanakan pernikahan nya dengan konsep non islami atau seperti kebiasaan orang Indonesia yang jika menikah langsung duduk berdua untuk melakukan bersama.
Dengan hati-hati ia raih tangan Zahra yang saling bertaut gelisah, ia genggam dengan hangat. Ah, betapa dingin nya tangan Zahra.
"Zahra, keluarga kita tidak melakukan konsep pernikahan yang seperti itu. Konsep pernikahan yang dianut keluarga kita adalah islami secara kaffah, dipisah sebelum halal. " Jelas Annisa yang ternyata masih belum membuat Zahra mengerti, ekspresi matanya yang berbicara.
"Begini, dalam konsep ini yang bermain adalah mempelai pria dan mempelai wanita dipisah. Mempelai wanita akan menunggu kedatangan suaminya yang tentu sudah halal untuk datang menjemputnya di dalam kamar pengantin. Yang seperti Zahra lakukan sekarang, Zahra hanya menunggu dan mendengar kan calon suami Zahra menghalalkan Zahra dari kamar ini. Dia akan datang setelah ijab selesai dilakukan, apakah Zahra mengerti?" Jelas Annisa membuat Zahra tanpa sadar mengangguk kan kepala nya mengerti, ah betapa menyesalnya Zahra telah melupakan pernikahan nya sendiri, bagaimana bisa ia sejahat ini?
"Zahra mengerti, tapi apakah Zahra akan menunggu nya disini sendirian?"
Annisa menggeleng pelan sebagai jawaban, ia semakin mengeratkan genggaman tangan nya terhadap Zahra.
"Tentu itu tidak terjadi, kau akan menunggu di sini bersama umi, aku, Dira, dan Fira. " Jawab Annisa lembut.
Zahra mengerjapkan matanya tidak yakin, namun mau tak mau bibirnya bertanya juga.
"Fira?" Bingung Zahra, pasalnya ia tidak pernah dekat dengan gadis yang bernama Fira. Walaupun fakta yang ada mengungkapkan bahwa Fira adalah adik kandung calon suami nya, tapi tetap saja mengapa harus dia yang juga menemani nya. Zahra masih ingat betul apa yang dikatakan gadis itu dulu walaupun mereka sudah saling memaafkan di pondok pesantren tapi tetap saja rasanya akan sangat canggung dan kaku, ya setidaknya itulah yang dipikirkan Zahra untuk saat ini.
Berbeda dengan Dira yang walaupun terkesan aneh dimata Zahra namun mereka dekat dan bisa dikatakan bahwa Dira adalah salah satu sahabat nya.
Annisa mengangguk mantap sebagai jawaban membuat Zahra mau tidak mau menghela nafas lelah.
Berbicara tentang sahabat, apakah sahabat nya datang menemuinya?
"Em, kak?"
"Iya, Zahra. Ada apa? Apa kau haus? "
Zahra menggeleng pelan karena memang ia tidak haus walaupun sudah berjam-jam lama nya dikurung ditempat ini, ah kamarnya lebih tepatnya.
"Apakah semua teman-teman Zahra datang ke acara pernikahan Zahra? " Tanya Zahra to the point.
Zahra sangat merindukan mereka. Sudah dua hari ini teman-teman nya tidak pernah datang mengunjungi nya.
Lagi-lagi Annisa tersenyum hangat sebagai jawaban nya.
"Tentu saja Zahra, mereka pasti datang hari ini. " Jawab Annisa yakin membuat Zahra bernafas lega.
Mereka berdua terdiam lagi, sibuk dengan pikiran masing masing.
Saat ini yang ada dipikiran Zahra adalah memulai semuanya dengan sosok yang baru, walaupun terlihat tidak mudah namun Zahra tetap akan melakukan nya. Sudah cukup, benar yang dikatakan Razi kepadanya bahwa siapa pun suami nya ia harus menerima nya dan belajar mencintai nya. Karena bagaimana pun semuanya terjadi karena tentunya sudah digariskan oleh Allah swt, sang maha romantis.
Ya, walaupun mereka berdua sama-sama tersakiti di sini tapi inilah jalannya, mereka tidak bisa mengelak.
Tok~
Tok~
Tok~
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengintrupsi kegiatan melamun mereka. Setelah mendapat kan izin masuk sang empu pengetuk pintu pun membuka pintu perlahan sehingga menampakkan wajah cantik Dira yang terbalut gamis yang sederhana namun terlihat anggun. Tidak lupa juga dibelakang nya ada Marwah dengan wajah mata berbinar nya. Ah, ia hapal betul ekspresi ini.
"Mbak Zahra! Marwah kangen. " Teriak Marwah rusuh siap memeluk Zahra namun sebelum itu terjadi Dira sudah lebih dulu bertindak dengan menahan tubuh brutal Marwah. Melihat itu Zahra hanya menggeleng pelan seraya merentangkan kedua tangan nya lebar, mempersilakan mereka memeluk Zahra.
Mendapatkan kode, Dira pun melepaskan tubuh Marwah dan berucap,
"Jangan rusuh, pelan-pelan saja. " Peringat Dira membuat Marwah yang tidak terukur polosnya mengangguk berbinar.
Mereka berdua pun memeluk Zahra hati-hati karena tidak ingin merusak pakaian pengantin yang Zahra kenakan.
"Masyaa Allah, mbak Zahra teh cantik banget hari ini. Marwah aja kalah cantik sama mbak Zahra. " Celoteh Marwah membuat Zahra dan yang lain mau tak mau tertawa lepas.
Zahra menghapus air matanya yang hampir jatuh mengalir, ia sangat puas tertawa hari ini. Kepolosan Marwah sangat menghibur kegundahan hatinya.
"Terima kasih. " Ucap Zahra tulus. Ia tidak mengelak jika kepolosan Marwah yang bisa dikatakan sudah memasuki fase akut telah berjasa menghibur nya.
Marwah tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala nya, mendudukan dirinya disamping Zahra. Lalu dengan antusias nya memeluk lengan Zahra posesif.
"Hari ini adalah hari yang luar biasa, mbak Zahra terlihat sangat cantik dan ustad Razi juga terlihat sangat tampan dengan balutan pakaian pengantin, wah..kalian sungguh pasangan yang serasi. "
Deg
Seketika semua terdiam, suasana menjadi canggung, sementara Zahra? Ia seakan ingin menangis saat ini. Oh, ayolah Zahra melupakan sesuatu yang sangat penting. Yah, ia melupakan bahwa Razi pun hari ini akan menikah.
Wajah Zahra berubah menjadi sendu, seketika membuat mereka yang ada di sana dilanda panik.
"Mbak Zahra tau tidak jika ust-"
"Zahra, apa kau haus?" Potong Dira cepat. Kali ini dan untuk yang kesekian kalinya ia merutuki betapa polosnya Marwah. Jika saja Dira tidak melupakan hal penting ini mungkin ia lebih memilih tidak membawa Marwah ke kamar Zahra. Ceroboh nya ia.
"Tidak, aku masih belum haus. " Jawab Zahra jujur. Ia akan melupakan semua hal yang berbau makanan atau minuman di saat seperti ini. Pikiran nya lebih condong ke suasana hati nya. Apa kalian juga seperti ini jika sedang patah hati?
"Oh, begitu. " Respon Dira kalem.
"Mbak-"
"Marwah tolong ambilkan Zahra air minum di bawah!" Suara Dira memaksa, bahkan ia memberikan tatapan tajamnya kepada Marwah.
Marwah menatap bingung ke Dira, sangat terlihat jika ia ingin membantah.
"Mbak Zahra kan gak haus, Dir. " Tolak Marwah polos.
Dira berdecak tak sabar.
"Aku! Aku yang haus, jadi bisakah kau ambilkan aku air minum dan juga untuk Zahra. Mungkin untuk sekarang Zahra tidak akan haus tapi untuk kedepannya kita tidak tau, bukan?. Maka dari itu ayo ambilkan Zahra air minum untuk berjaga-jaga. " Tekan Dira ya walaupun dengan keraguan yang jelas Marwah mengangguk setuju seraya pamit dari ruangan tersebut. Setelah kepergian Marwah barulah Dira dapat bernafas dengan lega, ia bahkan telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi melibatkan Marwah dalam hal apa pun lagi.
"Jangan seperti itu lagi, Dir! Kau sangat tau bukan jika Marwah adalah gadis yang polos. " Tegur Zahra membuat Dira mau tidak mau tersenyum bangga. Ah, Zahra nya kini sudah bisa berpikir dewasa ternyata, sebuah perubahan yang sangat luar biasa baginya.
"Yah, tentu. Kau tak perlu khawatir. " Jawabnya seraya mengeratkan pelukan nya dilengan Zahra. Zahra sebenarnya risih, namun karena Dira bukanlah orang lain baginya maka ia memutuskan untuk membiarkan Dira bersikap seperti ini.
"Zahra, setelah menikah dengan nya nanti aku mohon hidup berbahagia lah. Kalian berdua sudah terlalu banyak melewati rintangan, maka dari itu tolong hidup lah dengan baik bersama nya." Pinta Dira memohon. Zahra mengernyitkan alisnya bingung, Dira berlaku aneh lagi dan jujur ini membuat Zahra mau tidak mau terus memikirkan nya. Ini membuat nya terganggu.
"Dira-"
"Jangan bertanya, karena aku tidak akan menjawabnya. Kau tau jawabannya akan datang sendiri kepada mu tanpa kau cari. " Potong Dira berhasil membuat Zahra bungkam, bagaimana bisa ia tidak bertanya jika setiap ucapan yang Dira ucapkan justru semakin menambah kadar keingintahuannya yang tinggi.
Dan juga apa iya jawaban yang ia cari akan datang sendiri kepada nya, bagaimana caranya?
Apa itu benar?
Jika benar, bagaimana jika jawaban yang ia harapkan tidak sesuai dengan apa yang ia dapat kan?
***
Pemuda itu masih saja tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, ia menatap rumah yang ia pijaki sekarang berubah menjadi tempat yang sangat indah. Dipenuhi dengan dekorasi cantik dan terlihat anggun. Dan didepan nya kini, berdiri seorang pria paruh baya yang sedang menatap nya bahagia. Dari sorot mata nya yang mulai berkaca-kaca menahan air mata, ada sorot kelegaan yang tergambar di sana. Ia bahagia karena menitipkan-ah, lebih tepatnya yang akan menjaga putri tercinta nya adalah seseorang yang tepat. Seseorang yang ia percaya bisa mengawal dan membimbing putrinya ke jalan yang lebih baik lagi dan ia sangat lega akan semua itu.
"Abi. " Panggil pemuda tersebut seraya memeluk pria paruh baya itu dengan pelukan yang dalam akan sorot kerinduan.
"Abi mendidik mu untuk menjadi pria yang tangguh, bukan pria yang lemah terlebih cengeng. " Ejek pria paruh baya yang dipanggil abi, mengetahui bahwa pemuda yang ia besarkan penuh kasih sayang telah tumbuh menjadi pria dewasa yang kuat dan tegas kini sedang menangis dipelukannya.
Pemuda itu hanya bisa tersenyum simpul seraya menghapus jejak air mata diwajah tampannya. Sekali lagi ia tersenyum, tersenyum bahagia hingga lesung pipinya menampakkan dirinya malu-malu.
"Hiduplah berbahagia. " Pinta abi membuat pemuda tersebut tersenyum penuh arti seraya mengangguk semangat.
Abi menepuk pundak pemuda itu pelan seraya membawanya masuk ke dalam, menuju tempat yang akan menjadi gerbang untuk menghalalkan putri kecilnya yang ia impikan sejak dulu.
"Apakah kita bisa mulai sekarang? " Suara pria paruh baya kepada seluruh undangan dan kerabat, terlebih kepada seorang pemuda yang sedang duduk bersila dengan beraninya dihadapan para tetua dan penghulu.
Anggukan semua orang dan pemuda itu membuat para tetua mengangguk setuju dan memulai acaranya. Membuka gerbang pembatas secara perlahan dan mulai mengikat seseorang yang akan mendampingi sang pemuda menuju ridho nya.
Perlahan pemuda itu mengambil nafas sambil terus mengingat-ngingat firman Allah swt.
*يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1*)
Firman tersebut terus membuat hati pemuda tersebut menghangat, ia yakin seyakin-yakinnya jika putri kecilnya yang akan menjadi bagian dari hidup nya adalah tulang rusuk nya yang Allah takdir kan untuk nya. Ia bahkan tidak lupa bagaimana kerasnya perjuangan dan rintangan yang ia lewati untuk sampai pada titik ini. Ia juga tidak lupa bahkan beberapa waktu yang lalu ia lebih memilih untuk menyerah memperjuangkan putri kecilnya, namun ternyata kuasa Allah adalah skenario terbaik untuk nya. Bagaimana manusia untuk berlari atau pun mengangkat tangan atas segala nya, sekali lagi Allah tidak akan tinggal diam. Jika manusia itu lelah, maka dengan kebaikan Allah dan kasih sayang Allah Sang Maha Romantis yang akan melanjutkan nya. Dan ya, pemuda itu sangat bersyukur atas kebaikan dan kasih sayang Allah untuk segala nya. Terlebih untuk hari ini.
***
Zahra P. O. V
Sekali lagi aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, aku terus melakukan nya untuk meredam suara detak jantung ku yang masih tidak mau ku kendalikan. Jangan tanyakan bagaimana perasaan ku saat ini, sudah tentu sangat tidak karuan. Semua nya campur aduk menjadi satu.
Ada rasa takut, gugup, gelisah juga sedih. Semua nya bergejolak disini, tepat di dada ku. Rasanya?
Tentu saja tidak nyaman jika kalian ingin tahu.
Untuk mengalihkan pikiran ku, aku lebih memilih menatap kamar ku yang sudah dihias dengan berbagai macam bunga yang menebarkan berbagai wangi sehingga membuat kamar ku sangat harum.
Ah, begini yah bunga pengantin.
Indah, karena terdiri dari berbagai bunga yang memang terkenal akan keindahan nya.
Lalu, mata ku tertuju pada seseorang wanita paruh baya yang berjasa melahirkan dan membesarkan ku didunia ini. Ya, umi. Wanita cantik dan baik hati yang sedari tadi menggenggam tangan ku yang terasa seperti es batu saking dingin nya, jangan lupakan bahwa aku sedikit gemetaran, yah hanya sedikit.
Dari awal beliau masuk, umi selalu membisikkan ku kata kata yang menenangkan. Dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan umi yang telah memberikan kata kata yang menenangkan.
Lalu, di samping kiri ku juga duduk seorang gadis yang umur nya tidak jauh berbeda dengan ku. Ya, kalian benar. Dia Annisa, satu-satunya ku di dunia ini. Dia sama halnya dengan umi, selalu memberikan ku kata kata penenang. Yah, mereka sama. Sama-sama lembut dan baik hati. Aku sangat bersyukur bisa hadir dan hidup diantara mereka, walaupun karena permainan ku sendiri aku malah salah paham dengan semua kasih sayang yang mereka coba berikan dan hanya permintaan maaf yang tuluslah yang bisa aku berikan kepada mereka seraya mencoba memperbaiki sikap dan sifat ku agar menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Oh, ya. Tentang Annisa, aku pernah bertanya suatu hal kepada nya beberapa hari yang lalu.
Aku bertanya mengapa aku lebih dulu menikah daripada ia yang notabene adalah kakak ku atau lebih jelas nya ia lebih tua dariku. Karena sejujurnya aku memang sedikit heran mengapa aku yang lebih dulu menikah daripada dia.
Dan dengan tenang nya ia menjawab bahwa jodoh ku lebih cepat datang dari pada jodoh nya. Dan ya, dia juga mengatakan bahwa tentunya semua yang terjadi sudah digariskan oleh sang maha romantis, Allah swt.
Dan setelah itu aku tidak bertanya lagi.
Kita lanjutkan, di samping Annisa juga duduk seorang gadis cantik yang bisa dipastikan bahwa aku dan dia seumuran. Gadis dengan seluruh keanehan nya siapa lagi jika bukan Dira. Tentu, kalian mengenalnya. Jika Marwah adalah si ratu polos tingkat akut, maka Dira adalah si ratu dengan segala keanehan nya. Sedari tadi ia tidak pernah berbicara, ia hanya menatap ku dengan senyuman anehnya. Sejujurnya aku sedikit ngeri dengan senyuman nya itu, pasti ia berpikir yang tidak-tidak tentang aku. Ah, menyebalkan.
Dan yang terakhir, Fira. Sama halnya dengan Dira, Fira pun tidak pernah berbicara. Aku dan ia lebih ke canggung dan enggan. Entah lah, hanya saja ucapan nya masih membekas di hatiku. Aku tidak dendam kok, serius. Sama halnya dengan luka, jika sembuh pasti akan meninggalkan bekas. Dan itulah yang terjadi di hatiku, membekas.
Tiba-tiba acara pembacaan Al-Qur'an oleh calon suami ku pun akan dimulai. Jangan salah, mahar yang ku minta adalah hapalan surat Ar-Rahman. Selain karena aku menyukai nya juga karena surat ini mengingatkan aku bahwa betapa Allah sangat menyayangi hambanya serta surat ini seakan memberi tahu bahwa kita harus mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Dan yang juga membuat ku menyukai surat ini adalah kak Razi. Pernah suatu hari aku terbangun dari tidur ku, di tengah malam itu aku mendengar kak Razi mengaji seolah-olah berada di depan kamar ku. Awalnya aku tidak tau surat apa yang ia baca hingga saat aku kembali belajar mengaji bersama Dira dan Marwah aku mendengar Dira membaca surat Ar-Rahman dengan penghayatan yang luar biasa, jadi dari situlah aku mengetahui bahwa surat yang ia baca Razi dimalam itu adalah Ar-Rahman.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Deg
Tiba tiba fokus ku teralihkan. Suara ini?
Aku seperti mengenal nya, bukan kah ini suara...
اَلرَّحْمٰنُ
"(Allah) Yang Maha Pengasih,"
Kak Razi?
Razi?
Benarkah?
Tapi bukan kah calon suami ku adalah Alif, lalu bagaimana bisa yang membacakan mahar ku adalah Razi? Apa ini juga mahar yang diminta Nabila kepada Razi?
Tapi bagaimana bisa mereka menikah di sini?
__ADS_1
Apa Razi ingin memamerkan kebersamaan nya dan kebahagiaan nya bersama Nabila kepada ku?
Jika benar, maka kak Razi adalah orang yang benar-benar jahat.
عَلَّمَ الْقُرْاٰنَ
"Yang telah mengajarkan Al-Qur'an."
خَلَقَ الْاِنْسَانَ
"Dia menciptakan manusia,"
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
"mengajarnya pandai berbicara."
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
"Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,"
وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدٰنِ
"Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya)."
وَالسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَ
"Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,"
اَ لَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ
"Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu."
وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ
"Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu."
وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ
"Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya),"
فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِ
"Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,"
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ
"Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Tiba-tiba sapuan tangan hangat umi di pipi ku membuat ku menoleh kepadanya, umi tersenyum hangat kepada ku bahkan bukan hanya umi, namun mereka semua tidak terkecuali Fira.
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,"
وَخَلَقَ الْجَآ نَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Sejujurnya, mendengar Razi yang mengaji seperti ini membuat ku sedikit meluap kan harapan ku. Aku tidak bisa menampik bahwa aku merasa jika surat Ar-Rahman yang ia baca saat ini adalah untuk ku.
Boleh kah aku berharap walaupun aku tau itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin?
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَ رَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
"Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِ
"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,"
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِ
"Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّـؤْلُـؤُ وَالْمَرْجَانُ
"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَئٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِ
"Milik-Nya lah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa,"
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
سَنَفْرُغُ لَـكُمْ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِ
"Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai (golongan) manusia dan jin!"
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْا ۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍ
"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّنْ نَّارٍ ۙ وَّنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرٰنِ
"Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas) sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya)."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَاِذَا انْشَقَّتِ السَّمَآءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ
"Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْئَـلُ عَنْ ذَنْۢبِهٖۤ اِنْسٌ وَّلَا جَآ نٌّ
"Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَ الْاَقْدَامِ
"Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُوْنَ
"Inilah Neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa."
يَطُوْفُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيْمٍ اٰنٍ
"Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِ
"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
ذَوَاتَاۤ اَفْنَانٍ
"Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِمَا عَيْنٰنِ تَجْرِيٰنِ
"Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجٰنِ
"Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰن
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِــئِيْنَ عَلٰى فُرُشٍۢ بَطَآئِنُهَا مِنْ اِسْتَبْرَقٍ ۗ وَجَنَاالْجَـنَّتَيْنِ دَانٍ
"Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ ۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَآ نٌّ
"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
__ADS_1
كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُ
"Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ
"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَمِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِ
"Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُدْهَآ مَّتٰنِ
"Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِمَا عَيْنٰنِ نَضَّاخَتٰنِ
"Di dalam keduanya (surga itu) ada dua buah mata air yang memancar."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌ
"Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma, dan delima."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيْهِنَّ خَيْرٰتٌ حِسَانٌ
"Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
حُوْرٌ مَّقْصُوْرٰتٌ فِى الْخِيَامِ
"Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَآ نٌّ
"Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِـئِيْنَ عَلٰى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَّعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ
"Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah."
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
تَبٰـرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَـلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
"Maha Suci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan."
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك
َ(sesuai dengan hadis rasulullah.)
Doa nya mengalun lembut menutup bacaan Qur'an nya. Tiba-tiba suasana didalam kamar ku sedikit berubah dan tidak setegang beberapa waktu lalu, aku menatap mereka yang juga menatap ku dengan sebuah senyuman yang ku pikir adalah sebuah ungkapan kebahagiaan.
Mungkin, mereka bahagia dengan pilihan Razi. Jika dipikir gadis itu sangat lah beruntung mendapatkan Razi, ya dia gadis yang beruntung.
Aku meraba dada ku yang berdenyut sakit, sudah biasa memang. Bahkan akhir-akhir ini memang rutin terjadi. Perasaan hampa dan nyeri itu adalah hal yang biasa, sangat biasa.
Ah, bahkan dihari bahagia seperti ini aku masih saja bersedih, melayani betapa manjanya hati ini, menyedihkan sekali bukan?
***
Razi P. O. V
Setelah mengakhiri bacaan Qur'an ku dengan doa yang dianjurkan rasulullah, aku mengambil nafas lega setidaknya satu kunci telah ku dapat kan. Ya, kunci yang sangat penting. Kalian tau?, Putri kecil ku meminta mahar sebuah hapalan surat Ar-Rahman, aku begitu takjub sekaligus kagum dengan dirinya. Ku pikir ia akan meminta sesuatu yang biasa diminta oleh gadis-gadis diluar sana tapi ternyata aku salah, putri kecil ku berbeda bukan?
Setelah mengambil nafas yang cukup aku pun memberikan sebuah anggukan kepada abi, ya aku siap menerima dan membawa sang putri kembali ke dalam dekapan ku.
Abi menjulurkan tangannya yang langsung ku sambut dengan perasaan yang amat sangat tidak bisa ku gambar kan.
Aku menatap sorot mata tajam abi yang serasa mengikat ku untuk membalas tatapan nya. Setelah saling menjabat tangan, tampak jelas abi mengambil nafas sebelum mengucapkan kata-kata yang sakral.
"Ananda Muhammad Affianka Razi BIN Muhammad Affianka Fahriandi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Zahra Affianisha binti Muhammad Affiarul Hadi dengan... "
***
Author P. O. V
Zahra sesekali menghembus kan nafasnya bosan. Ia bosan terus-terusan berdiam diri di sini. Ia ingin melihat Razi sebenarnya karena masih penasaran dengan proses pernikahan kekasih tidak sampai nya itu. Ia ingin mendengar suara tegas Razi saat mengucapkan ijab kabul walaupun sebenarnya itu bukan untuk dirinya tapi setidaknya dengan mendengar kan suara Razi ia bisa mengandaikan bahwa nama yang disebut di sana adalah namanya bukan nama gadis lain ya walaupun ini semua hanya pemikiran egois Zahra sebenarnya.
Mengingat nya lagi-lagi Zahra tersenyum kecut, bohong jika Zahra tidak tersiksa hari ini. Ia bahkan telah berencana untuk menangis sejadi-jadinya dikamar mandi, ah memalukan sekali bukan?
"Umi, kenapa kak Razi tidak melakukan ij-"
"SAH! " Teriakan para undangan dan tamu berhasil membuat Zahra terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca kecewa, bahkan dengan jahatnya Razi melakukan ini kepada nya. Razi bahkan tidak memberikan nya kesempatan untuk mendengar suaranya, ya mendengar suara itu untuk yang terakhir kalinya.
Zahra bahkan tidak berkomentar apa-apa melihat semua orang yang ada di sekeliling nya berucap syukur. Zahra ingin menangis sebenarnya tapi ia sadar sedang berada dimana dan bersama siapa, ia cukup tau diri untuk tidak melakukan nya.
Bahkan uminya hari ini terlihat sangat bahagia dengan berlangsung nya pernikahan Razi yang sangat lancar, ah Zahra semakin iri saja atau lebih tepatnya terluka?
Tok~
Tok~
Tok~
Suara nyaring ketukan pintu langsung mengintrupsi mereka semua, termasuk Zahra.
Berbeda dengan Zahra yang memasang ekspresi tidak berminat, mereka yang ada dikamar Zahra justru memasang senyum penuh maksud yang membuat Zahra mengernyit tidak mengerti.
"Ayo berdiri nak. " Intruksi umi membuat Zahra mau tidak mau ikut berdiri mengikuti uminya.
Dira yang sedari tadi terus tersenyum akhirnya bergerak untuk membuka pintu.
Dengan perlahan pintu yang seharusnya tertutup rapat kini mulai bergerak terbuka hingga menampilkan sosok seseorang yang berhasil membuat Zahra membeku.
Zahra menatap sosok tersebut marah bercampur rindu. Ia marah karena sosok tersebut telah resmi menjadi milik orang lain namun, ia juga rindu bahkan sangat rindu akan sosok yang sedang mengisi hati Zahra.
"Ra..zi? "
Ya, sosok itu adalah Razi. Seorang pemuda yang berdiri dengan gagahnya menatap Zahra dalam.
"Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh. " Salam Razi seraya perlahan masuk kedalam kamar Zahra. Membuat Zahra semakin membeku ditempat. Rombongan yang mengiringi Razi hanya menatap geli Razi dari luar kamar, bahkan Dira dan Fira secara terang-terangan melontarkan kata-kata menggoda, membuat wajah tampan Razi merona malu.
"Waalaikumussalam.. " Bisik Zahra menjawab salam Razi. Ia masih belum percaya dengan seseorang yang kini tepat berada didepannya.
"Kenapa kakak ada di sini? " Suara Zahra mulai terdengar serak, bahkan air matanya pun telah mengalir mulus dikedua pipinya.
Razi tersenyum hangat.
"Apakah tidak boleh jika suami mu ini datang menjemput istrinya?" Goda Razi semakin membuat Zahra shock bercampur bingung.
"Bukankah..bukankah hiks.. " Isak Zahra tidak bisa melanjutkan ucapan nya, Zahra meremat pakaian pengantin nya gelisah, ia ingin memeluk Razi sebenarnya namun ia takut jika Razi menolaknya.
"Kemarilah, sambut suami mu ini dengan pelukan hangat mu. " Suara Razi seraya membawa tubuh bergetar Zahra dalam pelukan penuh kerinduan nya. Mendapatkan pelukan dadakan seperti itu membuat Zahra mau tidak mau memeluk balik Razi dengan pelukan yang tidak kalah eratnya. Zahra menenggelamkan wajah cantik tertutup cadarnya dibalik dada bidang Razi, menangis dan menumpahkan rasa rindunya yang telah menggunung.
Mereka yang hadir di sana melihat betapa haru dan bahagia nya kedua mahluk tersebut, mereka pun tidak dapat mengelak jika ada cinta yang dalam dari sorot mata yang mereka berikan.
"Ehem, jangan terlalu asik sendiri, masih ada acara yang harus kalian lewati hari ini. " Tegur abi yang sontak membuat Razi dan Zahra melepaskan pelukan mereka, bahkan mereka baru menyadari tatapan mengejek juga menggoda dari orang orang yang hadir di sana.
Dengan malu-malu Razi mengeluarkan sebuah cincin emas bermata intan yang disematkan dijari cantik Zahra. Zahra yang mendapatkan perlakuan sehangat itu hanya bisa tersenyum malu-malu karena ia juga melihat dijari Raz-eh, tepatnya Zahra melihat tangan manis suaminya juga tersemat cincin perak yang terukir sederhana.
"Zahra, cium tangan suami mu nak. " Bisik umi membuat Zahra mengangguk kikuk.
Dengan bergetar ia raih tangan kanan suaminya dan ia cium dengan ketulusan yang dalam.
Dan dengan malu-malu juga dibalas oleh Razi, mengecup keninya sayang seraya mengucapkan doa betapa bahagia dan bersyukur nya ia saat ini.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.13 malam dan acara pernikahan sekaligus resepsi pernikahan telah usai dilakukan. Para tamu dan kerabat yang datang perlahan-lahan meninggal kan acara dan pamit pulang. Begitu pula keluarga atau undangan dari pondok pesantren yang setelah usai acara langsung undur diri.
Saat ini Zahra sedang duduk termenung menatap cincin emas berhias intan yang tersemat dijari manisnya, sesekali iya akan menyunggingkan senyuman diwajah cantik tertutup cadarnya seraya mengelus cincin tersebut lembut.
Jika di ingat-ingat untuk bisa sampai ke tahap ini Zahra harus mengorbankan banyak air mata yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, akan tetapi walau bagaimana pun itu ia tetap bersyukur karena jalan ini juga mengantarkan nya ke titik ini.
"Nak. " Panggil umi lembut membuat Zahra mengalihkan atensinya menatap umi.
"Iya, umi? " Jawab Zahra bertanya dengan suara yang tidak kalah lembut nya.
Umi menatap Zahra dengan senyuman yang sangat tulus dari wajah cantik nya.
"Apa kau bahagia? " Tanya umi masih dengan senyuman tulusnya.
Zahra tersenyum antusias dan mengangguk bahagia, ah rasanya berbeda sekali.
"Tentu saja Zahra bahagia umi, apa umi juga bahagia melihat Zahra menikah? "
Umi membawa tangan Zahra kedalam genggaman nya seraya memberikan senyuman tulusnya.
"Umi sangat bahagia, nak. Apalagi suami mu adalah Razi, pemuda yang sudah kami hapal betul sikap dan perilaku nya, maka dari itu kami ridho melepas mu bersama nya, nak. " Jawab umi dengan serius.
Zahra tidak bisa menahan senyum kebahagiaan nya, inilah kebahagiaan yang ia cari, inilah kebahagiaan yang ia inginkan. Melihat senyuman tulus dan bahagia dari orang-orang terkasih nya adalah kebahagiaan yang ia inginkan. Dan ya, Allah selama ini mendengar keluh kesah lagi doanya. Allah selama ini mendengar suara cengeng dan manja Zahra disaat mengeluh, dan benar, Allah tidak tidur. Allah terus mengawasi kehidupan nya, menyiapkan sebuah skenario yang indah kepada nya di waktu yang tepat. Dan waktu itu adalah saat ini bukan, sungguh skenario sang maha romantis sangat lah tidak terduga.
"Tapi, Zahra masih kesal dengan kalian semua. Terutama kepada umi, tega sekali membohongi Zahra!. " Rajuk Zahra membuat umi tertawa kecil.
Ia usap dengan lembut tangan Zahra yang ia genggam.
"Jangan bertanya kepada umi tentang hal itu, tapi tanyakan lah kepada suami mu yang kaku itu." Jawab umi seraya membawa pandangan nya ke arah ruang tamu, di sana para lelaki muda dan tua sedang terlibat obrolan yang panjang dan tidak jarang mereka akan tertawa dengan obrolan tersebut.
Melihat uminya menatap ke arah sana, Zahra pun mengikuti arah atensinya dan mendapati Razi-suaminya sedang berbicara ringan dengan para lelaki.
Zahra menatap lekat suaminya, mengagumi betapa indah mahluk ciptaan Allah yang satu ini. Karena terlalu asik mengagumi suaminya, tanpa ia sadari kini sang suami juga menatapnya bahagia. Ia tersenyum tampan kearah Zahra dan memberikan gestur yang mengisyaratkan Zahra harus segera istirahat.
Melihat perlakuan suaminya, Zahra mau tidak mau tersenyum kikuk karena ketahuan menatap suami nya. Zahra mengangguk sebagai balasan namun tidak beranjak sedikit pun dari posisi nya. Ia masih saja asik memandangi suaminya yang kembali mengobrol ringan dengan yang lain.
Hinga...
"Jangan terlalu berpikiran yang aneh-aneh, sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk malam pertama mu nanti. Jangan sampai kau menyerah ditengah jalan dan membuat suami mu kecewa.. " Bisik Latifa membuat bulu kuduk Zahra berdiri.
"A-apa? " Kaget Zahra dengan wajah merah meronanya yang malu-malu. Ia menatap kesal sebenarnya kepada Latifa si biang onar dan mereka yang menatap Zahra menggoda.
"Mengapa kau menjadi sok polos begini? " Tanya Fia mengejek yang langsung disambut dengan gelak tawa dari yang lain. Ah, rasanya senang sekali menggoda pengantin baru ini.
"Uh, kau sangat frontal! aku tidak suka." Rajuk Zahra membuat mereka semua semakin terpancing menggoda Zahra.
Mendengar sang istri yang digoda oleh teman-teman anehnya, Razi hanya menggeleng takjub melihat interaksi mereka.
ketahuilah, sebenarnya sedari tadi Razi pun tidak bisa menahan degup jantung nya yang berdetak hebat, ia gugup bahkan sangat gugup.
**Tamat
Yah, ini benar-benar berakhir. Saya sudah tidak punya hutang lagi kepada readers untuk buku ini kecuali ada 2 extra part bonus yang akan saya up kepada readers atas partisipasi nya dalam membantu dan menyemangati saya dalam menulis. Terimakasih, sampai jumpa di karya saya berikutnya dan sampai bertemu lagi di part bonus selanjutnya.
__ADS_1
Semoga kita diberikan umur yang panjang dan Allah pun ridho akan pertemuan kita semua di sini.
Salam hangat, author**.