
Zahra?
Tunggu dulu, ini seperti kehidupan nyata ku. Jangan-jangan yang di maksud mereka adalah..
"Alvin?" Tanyaku dengan suara nyaris tidak terdengar.
"Hahaha..yap, lo bener. Nama anak cowok itu adalah Alvin, gue benar kan kalo lo itu emang kenal sama Alvin. Iya, kan.." Tawa Andrini seketika meledak.
Berbeda dengan Andrini, Latifa justru diam membisu.
Sorotan matanya yang tampak sangat berbeda saat ini membuat ku takut.
Ada apa dengan hari ini,?
Kenapa hari ini sangat penuh dengan hal-hal yang sangat ku benci.
Semua penghinaan yang terjadi hari ini membuat hatiku semakin sakit dan di penuhi dengan luka-luka yang sangat perih. Di tambah lagi, Andrini dan Latifa bersikap sangat aneh di sini.
Author P. O. V
"Tapi bagaimana ini Zahra?, gue lupa lanjutan ceritanya..ops..gue lupa juga nih, tapi akhirnya inget juga kalo di antara kita bertiga ini yang paling tau kelanjutan ceritanya kan cuma lo doang," Ucap Andrini dengan nada yang bersemangat.
"So, lo bisa kan melanjutkan lagi sambungan cerita ini." Tanya Latifa yang sudah mulai bersuara.
Zahra menggigit bibirnya pahit, ada rasa kesal bercampur takut karena mengungkit masa lalunya yang kelam.
"Lo siapa, Ann?" Tanya Zahra memberanikan diri.
Jangan bilang bahwa apa yang aku pikirkan adalah benar, aku takut jika Alvin adalah orang yang dekat bagi mereka.
Mendengar pertanyaan polos Zahra, Andrini dan Latifa langsung saling pandang dan tertawa heboh. Menertawakan kepolosan Zahra yang terlihat seperti Zahra yang bukan biasanya.
"Lo kenapa Zahra?, lo terlihat seperti bukan Zahra yang selama ini gue kenal.." Tanya Latifa memancing.
Zahra mendengus kesal karena di perlakukan seperti sedang bermain-main oleh Latifa dan Andrini.
"Diam, Fa..saat ini gue sedang gak bercanda. Gue serius!" Jawab Zahra kesal sekaligus geram.
"Ann, lo sebenarnya siapa?" Ulang Zahra masih penasaran.
"Hahaha, Zahra, lo kenapa jadi begok gini sih?. Gue ya gue lah..siapa lagi kalo bukan Andrini." Jawab Andrini sambil tertawa garing.
Merasa tidak puas, Zahra akhirnya Zahra mengungkapkan apa yang ia rasakan saat pertama kali bertemu Andrini. "Ann, awalnya dulu gue pikir kalo selama ini gue cuma ngayal aja tentang lo yang mirip sama seseorang, akan tetapi ternyata hari ini semuanya sudah jelas tanpa gue minta sekalipun. Lo kakaknya Alvin kan?, iya kan?" Zahra bertanya takut, ia yakin jika apa yang ia katakan memang benar. Tapi tetap saja, ia masih merasa takut.
Andrini mengalihkan pandangan nya menjadi fokus memperhatikan Zahra.
"Gak, lo salah Zahra. Gue bukan kakaknya Alvin, melainkan kakak seorang laki-laki yang lo bunuh.!" Ucap Andrini tajam namun jelas akan sorot yang dingin.
"Yang gue bunuh?" Tanya Zahra shock.
Mereka bilang aku pembunuh?Batin Zahra shock.
Flash back on
"Zahra apa salah ku sehingga kamu selalu mengabaikan keberadaan ku di sini?, jawablah Zahra, apa salah ku sehingga kamu sangat tega bersikap seperti ini kepada ku?" Tanya seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan Zahra dengan wajah lelahnya.
Zahra tersenyum sinis melihat laki-laki yang berdiri di depannya ini, dalam senyumnya Zahra seperti meremehkan sosok laki-laki ini.
"Udahlah Alvin, lo gak capek apa ngikutin gue terus?. Ini udah 3 jam lho lo ngikutin gue jalan?" Bentak Zahra tidak suka kepada laki-laki yang bernama Alvin itu.
Alvin mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat sambil menggeleng cepat, mematahkan dugaan Zahra tentang dirinya yang lemah.
"Dengar Zahra, aku sudah lama sembuh dan dokter pun sudah memvonis ku seratus persen telah sembuh dari penyakit kanker ku, aku bisa jamin itu dan aku bukanlah pria yang lemah Zahra, sungguh. Aku adalah pria yang kuat Zahra.." Ucap Alvin bersungguh-sungguh seraya mengangkat tangan nya menyentuh wajah Zahra.
Mengusap keringat yang membanjiri wajah Zahra akibat kelelahan.
Namun tangan Alvin tak sampai menyentuh wajah Zahra karena Zahra langsung menepis tangan Alvin kasar .
"Basi, gue tau lo itu udah sembuh tapi bagi gue, lo itu cowok cacat!ngerti lo!!" Ucap Zahra sinis.
Alvin mengernyitkan keningnya bingung.
"Cowok cacat, maksud kamu apa Zahra?. Bukankah aku ini sudah jelas-jelas di vonis sembuh total dari penyakit ku oleh dokter.." Tanya Alvin tidak mengerti sekaligus tak terima jika dirinya di anggap cacat oleh Zahra karena sudah jelas-jelas dokternya menyatakan bahwa ia sudah sembuh total dan hanya perlu beberapa kali datang kontrol ke rumah sakit.
"Hahaha, ih lo budek atau apa sih?, kan gue udah bilang kalo lo itu emang udah sembuh dari penyakit lo tapi lo lupa satu hal.." Tawa Zahra meledak mendengar penuturan polos Alvin.
Alvin semakin bingung dengan penjelasan Zahra yang terkesan berbelit-belit.
"Satu hal, maksud kamu.." Tanya Alvin penasaran.
Zahra langsung terdiam.
Sorot matanya berubah menjadi tatapan yang dingin dan tajam.
Terlihat serius.
"Lo cowok penyakitan, Alvin. Lo cacat karena lo adalah cowok penyakitan!. Walaupun lo udah sembuh atau pun di vonis sembuh total oleh dokter tapi tetap saja Al, tetap saja lo itu adalah cowok penyakitan! " Emosi Zahra terdengar serak seperti ingin menangis. Sejujurnya ia tidak sejahat itu mengatakan hal ini kepada Alvin, hanya saja ini adalah jalan terbaik yang bisa Zahra lakukan untuk nya.
Alvin sangat terkejut dengan ucapan Zahra, ia langsung tertunduk lemah menyadari bahwa dirinya selalu tidak sempurna di mata pujaan hatinya.
Tersenyum kecil, "Zahra, apakah kamu tahu?," Tanya Alvin dengan suara yang sudah melemah sambil mengangkat wajahnya berat. Menatap sang pujaan hati dengan tatapan sendunya.
"Bahwa aku berusaha keras untuk tetap hidup melawan monster yang terus-terusan menggerogoti tubuh ku hanya karena kamu Zahra aku rela melakukan pengobatan apa-pun hanya untuk kamu Zahra!. Apakah di hati mu tidak ada ruang sedikit pun untuk ku?" Tanya Alvin dengan suara putus asa.
"Zahra jika itu orang lain, mungkin dia akan lebih memilih untuk mati saja karena berhadapan dengan penyakit monster itu, mungkin mereka akan lebih memilih mati daripada terus melakukan pengobatan yang membuat kita merasa lelah dan sakit!. Tapi itu sama sekali tidak berlaku untuk ku, Zahra, itu karena kamu. Karena orang yang aku cintai..jadi aku harus tetap berjuang.."
Zahra mengalihkan perhatiannya menghadap jalan raya.
"Tapi sayangnya gue gak perduli.." Ucap Zahra dengan nada bicara santainya.
"Tetap saja, bagi gue..lo hanya seseorang yang penyakitan.." Ucap Zahra enteng sambil tersenyum meremehkan.
Mengabaikan Alvin, Zahra tersenyum kecil seraya membawa langkahnya menyeberangi jalan raya.
"Pergilah, Alvin. Sungguh gue gak butuh sama sekali dengan kehadiran lo di kehidupan gue.." Pesan Zahra seraya terus berjalan menjauhi Alvin.
Karena ada orang yang lebih membutuhkan kamu daripada aku, aku yakin bersamanya adalah pilihan terbaik untuk mu.
"Dan berjanjilah tidak akan pernah muncul lagi di hadapan gue karena dengan begitu gue bisa hidup tenang.." Sambung Zahra.
Zahra terus berjalan tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya. Hingga sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi yang searah dengan Zahra terus melaju kencang tanpa memperhatikan ada orang yang menyeberangi jalan.
"ZAHRAAAAAAAA....AWAS..." Teriak seseorang sambil mendorong tubuh Zahra jauh dan..
BRAAAKKK
Suara dentuman keras langsung bergema di telinga Zahra.
"Ssuu-suara apa itu?" Tanya Zahra ketakutan dengan tubuh yang masih telungkup di atas tanah.
"Astagafirullah, dek..adek baik-baik aja kan.?" Tanya seorang mas-mas yang berumur awal 30 an kepada Zahra.
Mas tersebut bersama dua temannya membantu Zahra untuk berdiri.
Dengan wajah yang sudah pucat pasi dan tubuh yang terus bergetar Zahra melangkah mendekati kerumunan warga yang sedang berkumpul di samping mobil box.
"Dek..ini temen adek yah?" Tanya seorang ibu-ibu kepada Zahra.
"Teman?" Tanya Zahra dengan pikiran yang sudah kacau balau.
Dengan tubuh yang masih bergetar Zahra masuk ke dalam kerumunan.
Alvin? Batin Zahra shock melihat sosok yang ia baru saja temui sudah bersimbah darah segar.
Zahra langsung berjalan mundur seraya menggeleng-geleng kan kepalanya kuat.
"Mmaaff..buk..dia bukan teman saya.." Ucap Zahra terbata-bata. Ia ketakutan dan merasa cemas. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena semuanya begitu tiba-tiba.
Alvin yang masih setengah sadar dapat mendengar penuturan Zahra yang sangat terdengar kejam di pendengaran Alvin.
"Zah...ra.." Gumam Alvin sebelum akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri.
Sementara Alvin tidak berdaya dan dilarikan ke rumah sakit, Zahra justru pergi meninggalkan Alvin jauh sambil meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bersalah dalam insiden ini.
Flash back off
"Jangan pura-pura amnesia deh lo!, asli gue jijik banget sama lo dasar cewek gak punya malu!" Umpat Latifa emosi yang langsung membuyarkan Zahra dari ingatan masa lalunya yang pahit.
"Gak, lo salah Ann..itu hanya salah paham.." Elak Zahra dari tuduhan Andrini.
Mendengarnya, Andrini tersenyum tipis, tepatnya lebih kepada tidak suka atau kesal.
"Salah paham?" Tanya Andrini sinis.
"Hahaha...sayangnya saat itu kami berdua juga sedang di sana.." Tawa Latifa terdengar di paksakan dan terdengar garing.
"Kalian berdua ada di sana?" Tanya Zahra tidak percaya.
"Zahra, lo pikir lo bisa bohongin gue begitu saja, hah?. Gue di sana Zahra, gue di sana!. Gue melihat dengan jelas apa yang telah lo lakuin ke Alvin, gue lihat semuanya!." Teriak Andrini dengan emosi yang meluap-luap.
Ya, hari ini adalah kesempatan yang tidak mungkin ia sia-sia kan begitu saja setelah berhasil menjebak Zahra dalam permainannya ia pun juga berhasil membuat Zahra terluka dengan mempermalukannya di depan banyak orang. Ia telah benar-benar membuat pertahanan Zahra runtuh di depan banyak orang dengan meyakinkan Zahra untuk mengungkapkan rasanya yang bertepuk sebelah tangan.
Andrini tau, Zahra pasti merasakan luka yang sangat perih karena mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi. Ia tau itu.
Akan tetapi, rasa belas kasihannya sudah tertutupi oleh tabir kebencian yang semakin hari semakin membesar saja.
Dan sekarang, Andrini sudah benar-benar merasa sampai di puncaknya, hanya tinggal tahap ini maka Andrini akan benar-benar puas dengan kerja kerasnya selama satu tahun ini, ia rasa.
"Gak, lo salah, gue sama sekali gak bermaksud melukai Alvin. Apa yang lo lihat tidak semuanya benar, Ann..." Bantah Zahra meyakinkan Andrini yang sudah sangat emosi.
Andrini terlihat tertawa garing sambil bertepuk tangan dan memutari tubuh Zahra.
Ia menatap mata Zahra tajam seraya tersenyum sinis.
"Oh, jadi menurut lo mata gue katarak gitu?, karena apa yang gue lihat gak semuanya benar!. Oh, atau jangan-jangan maksud lo mata gue buta lagi karena yang gue lihat semunya gak benar, iya?. Maksud lo gitu kan!". Bentak Andrini tidak suka. Andrini di hari itu melihat dengan bagaimana Alvin menyelamatkan Zahra dari mobil box tersebut, tapi Zahra begitu kejam kepada Alvin. setelah diselamatkan ia meninggalkan Alvin hari itu, bersikap seolah-olah ia tidak mengenalnya sama sekali.
Zahra tertegun, ini pertama kali nya ia melihat Andrini semarah dan sekeras ini.
"Ann, lo salah..Ann-"
"Cukup!," Potong Andrini cepat. Ia sedikit iritasi mendengar Zahra terus mengelak.
"Jangan sebut nama gue lagi dengan mulut lo yang kotor itu, gue gak sudi sekaligus jijik.." Sambung Andrini tidak suka.
"Satu tahun."
"Selama satu tahun gue terus menahan rasa jijik dan benci gue selama bersama lo!. Gue hampir menyerah Zahra, hampir saja karena yang gue hadapi adalah seorang monster yang kehadirannya sangat di benci oleh semua orang!. Lo monster Zahra, lo adalah gadis yang menjijikan dan lo kotor." Ucap Andrini meluapkan emosinya.
"Monster?"
"Lo keterlaluan, Ann! lo itu gak tau apa-apa, apa yang lo lihat waktu itu belum tentu adalah sebuah kebenaran." Bela Zahra tidak terima. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini karena sejujurnya mereka tidak tahu apa-apa.
"Sebuah kebenaran kalo lo itu cewek kotor?, lo benar-benar gak punya hati Zahra, lo munafik." Sulut Andrini semakin emosi. Jelas Andrini tidak terima begitu ucapan nya diragukan kebenarannya.
"Gue sudah berulang kali mengatakan kalo lo berdua ini cuma salah paham aja sama gue!." Zahra berteriak marah, mengabaikan tatapan benci Andrini dan Latifa terhadapnya.
"Alah, basi lo!," Putus Andrini tidak suka.
Mengalihkan tatapan nya menatap Latifa yang juga menatap iritasi Zahra. "Fa, dari tadi gue ngomong kok slalu di anggap salah ya sama dia. Kok kesannya di sini dia yang slalu benar yah.." Tanya Andrini memancing argumen Latifa yang sedari tadi tidak banyak bicara dan dominan menonton Andrini dan Zahra yang saling beradu argumen.
"Ya elah Ann, kayak lo gak kenal dia aja. Dia kan orangnya gitu, keras kepala dan slalu mau menang sendiri." Jawab Latifa seadanya.
Latifa berdiri dari tempat duduknya seraya berjalan mendekati Zahra yang sudah tidak stabil detak jantungnya.
"Ra, lo tau gak?" Tanya Latifa dengan nada santainya.
Zahra mendongakkan kepalanya menatap Latifa.
"Gue..gue sangat iri dengan lo," Lanjutnya tetap dengan nada santainya.
"Lo itu gadis yang cantik, Ra. Selain cantik lo juga hebat Ra, lo hebat dalam menyakiti semua orang." Ucap Latifa terdengar lebih serius.
Zahra diam tidak merespon, ia lebih memilih untuk bungkam dan mendengarkan ocehan Latifa.
"Alvin, cinta pertama gue. Gue rela dia lebih milih lo karena mungkin dengan begitu dia bisa bahagia." Latifa bercerita sendu, mengingat betapa terluka nya ia begitu mengetahui bahwa orang yang ia cintai ternyata mengharapkan gadis lain.
Zahra mengkerutkan keningnya.
Jadi, gadis itu benar-benar Latifa?. Batin Zahra sedikit terkejut. Ia memang tau gadis yang menyukai Alvin bernama Latifa, tapi Zahra tidak pernah menduga bahwa gadis tersebut adalah Latifa yang selalu bersamanya di sekolah.
"Bahkan gue sempat berpikir lo adalah gadis yang hebat. Lo bisa membangun semangat buat Alvin agar terus tetap bertahan dan berjuang melawan penyakitnya, ya, lo hebat."
"Akan tetapi, setelah gue perhatikan cukup lama ternyata selama ini gue salah tentang lo. Lo itu sebenarnya racun bagi Alvin, lo itu ular! " Ucap Latifa dengan suara menyesal. Jika ia tau bahwa Zahra bukanlah gadis yang baik dan memberikan Alvin kepadanya adalah sebuah kesalahan yang besar, maka ia lebih memilih untuk mengejar cinta Alvin.
"Jika saja waktu itu lo mau mendengarkan Alvin dan memberikannya kesempatan untuk tetap bersama lo, Alvin pasti masih hidup sampai saat ini." Ucap Latifa dengan suara yang kian melemah. Terdengar parau seakan menahan isak tangisnya.
Bukan hanya menahan tangisan nya, tapi ia juga sudah lama menahan rasa sakit yang sudah mengakar didalam hatinya. Sulit rasanya melupakan bagaimana sang pujaan hatinya dalam kondisi tidak berdaya.
"Tapi lo munafik Zahra!, lo memilih pergi dan berpura-pura tidak mengenalnya padahal saat itu dia yang menyelamatkan nyawa lo!. Loebisa di sini dan bernafas karena Alvin, lo..lo benar-benar gadis kotor Zahra!." Teriak Latifa meluapkan amarahnya. Ia tidak akan bisa melupakan betapa kejamnya gadis ini terhadap sang pujaan hati dan karena itulah Latifa mengukuhkan bahwa, ya, tidak ada pintu maaf untuk gadis kotor ini.
Wajah Zahra langsung pucat pasi. Ada rasa sakit di dalam hatinya saat mendengar ucapan Latifa tentang dirinya yang kotor.
Dengan ragu ia bertanya, "Gadis kotor?" Tanya Zahra lemah. Hei, Zahra tidak pernah merasa kotor karena ia tau ia tidak bersalah. Ia tidak pernah melakukan apa-apa dan itu adalah murni kecelakaan. Kalaupun Alvin menyelamatkan nya maka itu adalah kemauan Alvin sendiri, bukan darinya.
"Iya, lo adalah gadis kotor!. Lo belum sadar juga sampai sekarang, hah?" Jawab Andrini memperjelas ucapan Latifa.
Zahra memegangi dadanya sakit, ada sesak yang sangat menyiksa di dalamnya.
"Apa karena aku pergi meninggal kan Alvin pada saat itu maka kalian berdua mengambil kesimpulan bahwa aku adalah gadis yang kotor?" Tanya Zahra hati-hati sambil mengambil kesimpulan dari dirinya sendiri. Jika benar maka itu juga tidak bisa dianggap kesalahan dirinya karena saat itu ia begitu terkejut dan ketakutan.
Latifa dan Andrini langsung saling pandang yang kemudian diakhiri dengan tertawa cekikikan.
Mereka pikir bahwa Zahra sangat lucu hari ini.
Mengabaikan tawa mengejek mereka, Zahra menjelaskan apa yang terjadi hari itu. "Ann, gue lari karena gue takut. Gue takut semua orang berpikir kalo gue adalah pembawa sial untuk Alvin, gue takut jika gue bersama Alvin maka Alvin akan terus terluka.." jujur Zahra meyakinkan Andrini. Ya, ini juga salah satu alasan ia menjauhi Alvin. Ia takut Alvin akan bernasib sial jika terus didekatnya.
"BOHONG!," Teriak Andrini menolak dengan keras kejujuran Zahra.
"Gue kenal lo Zahra dan lo bukanlah tipe orang yang seperti itu."
"Ck..ck..pantas saja semua orang membenci lo Zahra, pikirkan dan renungi semua yang telah lo lakukan sehingga semua orang sangat membenci kehadiran lo." Ucap Latifa bersuara dengan gaya khasnya.
Zahra menyipitkan matanya tanda tidak mengerti.
Mengernyit bingung, "Maksud lo apa, Fa?" Tanya Zahra penasaran.
"Oh, lo yah keterlaluan banget jadi orang!" Kesal Latifa.
Mengambil inisiatif, "Biar gue aja." Sergap Andrini.
"Zahra, lo tau gak semua orang yang ada di keluarga lo hampir putus asa menghadapi lo yang sangat tidak mau di atur dan selalu membangkang di keluarga lo."
Tiba-tiba tubuh Zahra menegang, namun ia mencoba mengendalikan keterkejutan nya dengan bersikap diam.
"Mereka sangat kebingungan mengatasi sikap lo yang terkadang bisa melewati ambang batas dalam bersikap." Tersenyum miring, Andrini mulai mempermainkan emosi Zahra.
__ADS_1
"Lo, lo benar-benar keterlaluan Zahra. Kok lo bisa sih ngejebak kakak lo masuk ke dalam Club?" Tanya Andrini tidak habis pikir dengan sikap Zahra yang sangat kelewatan batas. Ia memberikan ekspresi sempati terhadap Annisa yang menjadi korban kekejaman Zahra, adiknya.
"Hei, Zahra, lo lupa atau pura-pura lupa kalo lo dan kakak lo sangat jauh berbeda. Lo gak sama seperti dia, hanya karena lo hidup di sana bukan berati kakak lo juga harus bisa hidup di sana!."
"So, kita gak perlu heran kenapa pak Alif lebih memilih Annisa dari pada dia, toh perbedaan mereka cukup besar." Ucap Latifa menyambung perkataan Andrini.
Zahra P. O. V
DEG
Annisa?
Jadi gadis yang akan di nikahi Alif adalah Annisa?
Tidak mungkin!
Mereka pasti sedang berbohong. Yah, saat ini mereka dalam keadaan emosi sehingga membuat mereka jadi berlebihan seperti ini.
"Bohong!, kalian pasti berbohong." Elak ku menebak pikiran mereka. Aku yakin bahwa apa yang mereka ucapkan adalah hal yang tidak mungkin, ya, walaupun aku tau bahwa Annisa dan Alif saling mengenal tapi bukan berarti gadis itu adalah Annisa bukan?
"Wow, reaksi lo cepet juga yah soal pak Alif." Ucap Latifa dengan suara anehnya. Aku tau ia sedang mengejek ku saat ini.
Shit!
Aku benci mereka!
Jika saja aku tidak mendengarkan kata mereka maka semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Bohong?"
"Hahaha..dasar bodoh. Lo masih belum menyadarinya juga, lo tau gak kita dapat info ini darimana?"
"Fia, gue tau dari Fia."
Fia?
Ada apa ini?
Mengapa semua ini sangat membingungkan, sebenarnya siapa Fia?
Mengapa Ia bisa dekat dan tau siapa Alif, termasuk rahasianya.
"Fia?" Tanya ku tidak percaya. Karena jika iya, Fia dan Annisa pasti sudah mengenal sejak lama, tapi aku tidak tau tentang itu. Aku tidak yakin bahwa mereka berteman dibelakang ku.
"Yaps, Fia." Jawab Latifa cepat.
"Bagaimana-"
"Kok bisa?, ya-iya lah bisa. Bukankah pak Alif adalah sepupu tersayang Fia. Mereka adalah keluarga sayang." Perjelas Andrini yang langsung membuatku bungkam sekaligus merasakan sakit.
Kenapa, kenapa Fia sejahat itu kepada ku?
Kenapa ia tidak pernah menceritakan semua kebenaran ini?
Kenapa ia tidak pernah memberi tahu ku?
SAKIT!
Sungguh ini sakit Tuhan. Apa lagi ini?
Apa lagi yang ingin Kau tunjukan kepada ku?
Tidak cukupkah semua yang terjadi hari ini?
Tidak cukupkah?
"Kenapa Zahra?. Oh, lo shock yah?, lo terkejut karena Fia menutupi semua ini dari lo?. Hahaha..lagian Fia mana mau sebaik itu ama lo, lha wong pak Alif sukanya sama Annisa."
"Ih, pak Alif mana mau sih sama Zahra yang cantik tapi dalamnya kotor!, menjijikan." Ucap Latifa enteng.
Kotor?
"Bagaimana kalian bisa mengatakan hal aneh seperti ini?. Aku bukanlah gadis yang kotor!." Elak ku mematahkan tuduhan mereka kepada ku. Aku tidak kotor karena sejauh ini aku tidak pernah melakukan sesuatu yang menjijikkan.
"Lo kotor Zahra, lo memang kotor. Apa lo gak bisa melihat itu semua dengan jelas?, semua orang membenci kehadiran lo!bahkan keluarga lo yang notabene adalah orang yang slalu mensupport lo justru membenci kehadiran lo!" Andrini tertawa sinis, mengatakan kata-kata ini dengan mudah dan santai. Seakan-akan ini adalah sesuatu yang biasa.
Ah, ya.
Membenci ku.
Ah, mereka benar. Keluarga ku selalu mengabaikan keberadaan ku di rumah. Akan tetapi itu bukan berati mereka membenci ku kan?
"Karena apa Zahra?, karena lo adalah gadis yang kotor dan apa lo gak bisa menyadari semua ini dari awal?, perbuatan lo yang sudah menjebak kakak lo semakin membuat mereka benci sama lo. Lo berbeda, mereka tau aturan sedangkan lo gak!"
"Gue juga gak yakin deh, kayak nya kali ini keluarga lo gak akan ngebiarin lo bertindak lebih jauh lagi. Bisa jadi lo akan-"
Ini buruk, "CUKUP!" Teriak ku tak kuat.
Ada sesak di sini, sangat terasa dan rasanya?
Rasanya sangat sakit dan cukup bisa membuat ku mengaduh sakit.
"Kenapa Zahra, lo gak terima kalo lo itu dikatakan kotor?" Tanya Latifa santai, ada ekspresi kemenangan di sana. Aku bisa melihat nya.
BULLSHIT!
Aku benci ini.
Aku benci di katakan kotor!
Aku tidak terima, aku tidak terima Tuhan.
"Aku bukanlah gadis yang kotor!!" Teriak ku penuh marah. Aku sudah berulang kali mengatakannya bahwa aku tidak seburuk itu, tapi mereka masih saja tidak mau mendengar.
"Lo..lo benar-benar keras kepala Zahra. Lo itu jahat Zahra, bahkan semua orang-orang yang mendekati lo pasti akan berujung terluka karena lo. Karena apa?, karena lo gak punya hati Zahra!, lo gak punya perasaan."
"Jika saja lo punya pasti semua ini gak bakal terjadi. Keluarga lo gak bakal marah, Alvin gak berujung mati, kakak lo gak bakal terluka dan pak Alif gak bakal merasakan malu."
"Mereka semua lo sakiti Zahra, jadi jangan heran jika pak Alif lebih memilih Annisa. Pak Alif dan Annisa satu level, sama-sama berpendidikan. Sedangkan lo? lo jauh dari harapan, lo kotor."
"Wajar saja jika tidak ada yang benar-benar sayang sama Lo. Wajar saja." Ucap Andrini mengakhiri perkataannya.
SAKIT!!!
Hati Ku serasa di remukan.
Kenapa?
Kenapa semua yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran untuk ku.
TAPI KALIAN SEMUA TIDAK MENGERTI!!!
Kalian tidak pernah mau mencari tahu dan bertanya mengapa aku seperti ini. Kalian sama saja, berpikir aku lah yang jahat.
"HENTIKAN..." Intruksi ku sudah tidak tahan lagi.
Ku coba untuk mengerahkan seluruh tenaga ku yang tersisa agar tubuh ku bisa terangkat.
Sulit.
Tubuh ku sulit untuk di ajak bekerja sama hari ini.
Terlalu banyak kekacauan.
Terlalu banyak beban yang mengejutkan tubuh lemah ini. Akan tetapi, apa boleh buat. Aku harus kuat, aku harus kuat walaupun tak ada satu pun yang mendukung ku.
"Oh, lo-"
"HENTIKAN! apa kalian tidak mengerti?, aku bilang hentikan!" Potong ku marah.
Andrini langsung diam tidak merespon.
Tersenyum miris, "Baiklah, Akulah yang jahat. Tidak mengapa.." Ucap ku bergumam pada diriku sendiri seraya berjalan menjauh dari pandangan mereka.
TIK.
Aku menangis?, baguslah.
Setidaknya mereka tidak melihatnya.
Tuhan, apa benar aku sekotor itu?
Apa sungguh aku sangat kotor?
Benarkah jika kehadiran ku adalah racun untuk semua orang?
Katakanlah Tuhan, itu tidak mengapa.
Bukankah kau memang menciptakan aku untuk ini?
Hahaha..
Untuk apa aku bersedih, toh tidak akan ada yang benar-benar perduli.
Bahkan Tuhan sekalipun.
Setelah aku benar-benar jauh dari gudang, ku usap semua air mata yang membasahi pipi ku.
Perasaan dingin dan kesepian kini benar-benar menyelimuti ku. Ini tidak seperti biasanya, perasaan ini seakan-akan mengatakan bahwa aku tidak punya tempat untuk kembali.
Andrini dan Latifa benar bahwa Aku salah. Tapi bukan berati aku kotor. Aku tidaklah kotor.
Suatu hari nanti, kalian akan menyesali semua yang telah kalian lakukan kepada ku hari ini dan aku bisa pastikan itu. Batin ku bersedih.
Author P. O. V
"Zahra.."
Langkah Zahra langsung terhenti.
Ia mengenali suara ini, sudah lama tidak terdengar namun kali ini tiba-tiba terdengar kembali.
Mungkin karena ada sesuatu yang mendesak.
"Fira, lo kok-"
"Aku kasihan sama kamu Zahra.." Ucap Fira dingin.
Suara ini bukan seperti yang pernah Zahra dengar.
"Apa apaan sih, lo gak jelas banget jadi orang."
"Maaf, bukan kepada mu akan tetapi kepada orang-orang terdekat mu. Tepatnya, aku kasihan kepada keluarga mu.." Lanjut Fira.
Zahra semakin kesal dengan ocehan Fira yang sangat tidak mendasar, ia marah.
"Eh, lo jadi orang kok sok tau banget sama hidup gue?. Emang lo siapa?, berani-beraninya komentarin hidup gue yang lo belum tentu tau!" Sungut Zahra emosi.
Tersenyum simpul, "Kau lupa Zahra, aku adalah Fira,"
"Adik kandung Alif." jawab Fira dingin.
Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya kaget, pengakuan Fira sebagai Adik kandung Alif semakin membuatnya bingung.
"Apa?, Adik kandung Alif?" Ulangi Zahra tidak percaya.
"Tapi bukankah Fia?" Tanya Zahra tidak mengerti.
"Fia adalah sepupu kami, aku tidak habis pikir mengapa orang tua mu bisa sekuat ini menghadapi kamu yang sangat keras kepala dan egois?" Tanya Fira memulai argumen.
Pertanyaan Fira berhasil menohok hati Zahra. Bagaimana bisa Fira bertanya hal yang sangat mustahil untuk di jawab.
"Maksud lo apa?, walaupun lo adik kandung Alif, gue gak bisa mentoleransi lo kalo cara ngomong lo juga begini!" Balas Zahra tidak terima.
"Aku pun juga begitu Zahra, walaupun kau adik kandung kak Annisa, aku gak bisa mentoleransi kamu setelah apa yang telah kamu lakukan kepada Alif." Jawab Fira tidak mau kalah.
Zahra tertawa sinis, rasanya ia ingin sekali menjambak jilbab yang menutupi kepala Fira.
"Emang gue udah ngelakuin apa ke Alif?, gue kan care-care aja sama dia.." Sulut Zahra tak mau kalah.
"Care?. Jadi penghinaan yang telah kamu lakukan tadi kepadanya adalah sebuah sikap kepedulian?. Astagafirullah, pantas saja ia lebih memilih Annisa dari pada kamu.."
Deg
Ada dentuman keras yang mengenai ulu hati Zahra yang paling terdalam.
Sangat terasa.
"Maksud lo apa?" Tanya Zahra melemah dengan suara serak terdengar ingin menangis.
"Alif tidak mau pacaran dan prinsipnya itu adalah harga matinya, kamu tidak mengerti karena kamu adalah gadis yang tidak berpendidikan!. Kamu hanya memikirkan dunia mu saja."
Zahra bungkam tidak merespon Fira.
"Apakah kamu tau?" Tanya Fira serius.
"Perbuatan mu tadi telah mencoreng harga dirinya!. Apalagi dengan kejadian semalam kamu berhasil membuatnya semakin membenci mu!!!"
"Kamu adalah gadis yang kotor Zahra!!"
"Kamu pembawa sial Zahra!!!"
"Kamu tidak pantas berada di sisi mereka!" Ucap Fira bertubi-tubi kepada Zahra.
Zahra melangkah mundur kebelakang. Ucapan Fira sungguh telah mengiris hatinya.
Zahra menyentuh dadanya pelan, merasakan sebuah sesak yang kian detik ia rasakan sesak itu semakin menyiksanya.
Zahra P. O. V
Benarkah?
Sekotor itu kah aku?
Hingga keberadaan ku pun sangat di benci oleh mereka. Apakah aku sangat kotor?
Hingga keberadaan ku adalah racun sekaligus kesialan bagi mereka.
Lantas mengapa mereka tidak mengatakannya langsung?. Agar aku tidak usah berulah lebih jauh lagi di sana. Agar aku tidak usah banyak tingkah lagi di sana.
Agar Aku tau diri, bahwa aku kotor.
"Apa aku sangat kotor?" Tanya ku penuh hati-hati kepada Fira.
Fira menatap ku jengah, seperti ada ekspresi kebosanan di sana.
__ADS_1
Aku bisa melihatnya.
"Iya, kau sangat-sangat kotor. Semua orang membenci mu. Bahkan aku pun sangat membenci mu!. Apa kau tau?
Alif pun sangat membenci mu.
setiap aku menyebut nama mu di depannya, tergambar jelas ada api kemarahan di sana."
Alif membenci Ku?
Itu sudah pasti.
Seperti yang mereka katakan, karena aku bukanlah levelnya.
"Zahra, kau sungguh tidak pantas berdiri di samping mereka. Kau sama sekali tidak mempunyai tempat di hati mereka. Tidak ada yang benar-benar membutuhkan mu di sana." Ucap Fira menasehati ku.
TIK
Tanpa ku sadari air mata Ku mulai mengalir membasahi wajah ku, lagi. Anehnya, untuk kali ini aku tidak mempermasalahkan bahwa diriku menangis di tempat yang salah.
Semua kebenaran yang ku dengar hari ini membuat ku sangat terluka.
Aku tak tau, tapi semua yang di katakan Fira benar.
Kenyataannya tak ada tempat ku di sana.
Tak ada yang benar-benar menganggap ku ada di sana.
Yah, aku salah!
Aku memang salah!
Aku selalu menyakiti mereka.
Tapi itu karena ak-
"Jika saja kau mempunyai sedikit saja rasa belas kasihan, maka semua orang akan memaklumi mu. Akan tetapi faktanya, hati mu ini memang telah buta. Penderitaan abi dan umi mu saja kau abaikan, seakan-akan kau tidak pernah melakukan sebuah kesalahan, kau memang sungguh biadab dan kini semuanya telah benar-benar hancur, tak ada tempat untuk mu lagi di sisi mereka. Di sisi kami."
Benarkah?
"Sudahlah Zahra, tangis mu tidak akan pernah bisa merubah apa-pun. Kau adalah gadis yang kotor dan tidak berpendidikan! apa-pun yang kau lakukan kau adalah sampah bagi mereka. Tidak ada yang benar-benar mengharapkan kehadiran mu, gadis kotor." Ucap Fira dingin seraya berjalan meninggalkan Aku sendiri.
Aku langsung terduduk lemas.
Rasanya semua ini bagaikan mimpi buruk untukku.
Terlalu banyak luka!
Terlalu banyak kebenaran yang pahit!.
Dan semua itu berhasil membuat Ku tersadar bahwa Aku memang gadis yang kotor.
Aku gadis liar yang tidak berpendidikan.
Aku adalah gadis yang sangat tidak di harapkan.
\*\*\*
Author P. O. V
Zahra berjalan dengan gontai saat memasuki halaman rumahnya.
Di halaman rumahnya, Zahra juga mendapati mobil abi yang parkir dengan apik di depan pintu rumahnya.
Zahra menaiki lantai dingin rumahnya dengan perasaan enggan dan ragu.
Zahra P. O. V
Masih berhak kah aku menginjakan kaki ku di rumah ini?
Entahlah akan ku coba.
Aku pun berjalan mendekati gagang pintu. Dengan ragu ku angkat tanganku agar bisa menggapai gagang pintu, namun belum sempat aku menyentuhnya tiba-tiba pintu itu di buka dari dalam oleh seseorang.
"Umi.." Panggil ku spontan karena mendapati yang membuka pintu adalah umi.
Umi hanya merespon ku dengan tatapan sayunya, sepertinya ia sedang bersedih.
Umi mempersilahkan ku masuk ke dalam dan mengintruksikan ku untuk menuju ruang keluarga. Yang di sana telah ku dapati abi, kak Razi dan Annisa sedang berkumpul.
Ini tidak biasanya terjadi, acara kumpul seperti sangat jarang terjadi jika tidak membicarakan hal yang serius.
Aku pun di persilahkan duduk di sofa tengah oleh Abi.
Ini semacam sidang bagiku.
Setelah semua anggota keluarga di nyatakan lengkap oleh Abi. Abi pun mulai membuka pembicaraan.
"Zahra, abi dengar hari ini kamu membuat masalah lagi di sekolah..apakah benar begitu?" Tanya Abi dengan suara khasnya yang tegas.
Aku pun mengerti kemana arah pembicaraan ini. Seperti dugaan ku, ini adalah acara sidang untuk Ku.
"Membuat masalah?, Zahra tidak pernah merasa membuat masalah di sekolah tadi kok, bi" Jawab ku mengelak tuduhan abi. Karena seperti yang ku katakan berulang kali, aku tidak merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi.
Abi menghela nafas berat, menahan sesuatu.
"Berhentilah, Zahra. Sampai di sini saja kamu bermain-main, sudah waktunya kamu serius." Ucap Abi tegas dengan suara beratnya.
Aku sedikit terkejut dengan perkataan abi, ini seperti ia mengatakan bahwa aku hanya bermain-main saja.
"Maksud abi?, Zahra tidak mengerti." Tanya ku jujur.
Abi terdengar menggertakan giginya, ini pertanda emosi abi sedang tidak stabil.
Di samping abi, umi terus mengusap-ngusap pundak abi dengan lembut. Seperti mengisyaratkan untuk tetap bersabar.
"Pertama, kamu menjebak Kakak mu Annisa untuk pergi ke club malam. Kedua, tepatnya hari ini kamu telah menghina dan mempermalukan guru mu di sekolah..apakah ini bukan masalah bagi mu, Zahra?" Tanya abi dengan wajah tegasnya kepada ku.
Aku menghela nafas pelan bersiap menjelaskan semuanya dengan jelas.
"Abi..abi itu salah paham. Zahra membawa kak Annisa ke club malam itu cuma buat iseng-iseng aja, tapi abi tau sendirikan kak Annisa manjanya kayak gimana..di giniin dikit aja langsung nangis-"
"Zahra!!!" Bentak abi kepada ku.
Aku langsung berjenggit kaget mendengar bentakan abi yang sangat menakutkan bagiku.
"Benarkan, bi..kalo kak Annisa manja.."
"Cukup Zahra! kali ini kamu sungguh sudah melewati batas. Abi sangat kecewa kepada kamu!" Potong abi cepat dengan emosinya.
Aku tertawa kecil mendengar ucapan Abi.
"Melewati batas?, Hahaha..kenapa baru sekarang?.
Kenapa abi baru menyadarinya sekarang.?" Tanyaku menantang.
"Astagafirullah.." Ucap abi beristigfar seraya mengelus-ngelus dadanya dengan tangan kanannya.
Melihat itu umi langsung bertindak dengan membawa tubuh abi kembali duduk di atas sofa.
Author P. O. V
"Kami merindukan Zahra kecil kami.." Ucap Annisa tiba-tiba bersuara.
Zahra tertegun mendengar penuturan Annisa.
"Zahra kecil kami yang manja dan ceria, kami sangat merindukannya. Zahra kecil yang selalu mewarnai rumah ini dengan canda dan tawanya yang ceria. Kembalilah..kembalilah menjadi Zahra kecil kami yang dulu." Mohon Annisa lembut kepada Zahra.
Zahra bungkam tidak merespon.
Dalam benaknya terus saja berputar-putar memori masa kecilnya yang indah.
"Aku yakin..jauh di dalam dirimu adalah Zahra kecil kami. Aku tau itu.." Yakin Annisa lembut seraya menyentuh tangan Zahra.
Zahra tersadar dengan kata-kata terakhir yang Annisa ucapkan. di hati Zahra, ada luka lama yang telah di bangkitkan oleh Annisa.
Sebuah luka yang dalam dan merubahnya menjadi Zahra yang sekarang.
Luka yang tidak pernah mereka semua sadari dan mengerti.
Zahra menepis tangan Annisa dengan kasar seraya memberikan tatapan dinginnya.
"Benar, Zahra kecil yang kamu rindukan masih hidup dan bernafas. Oh, maaf maksud ku Zahra kecil itu sudah mati!" Ucap Zahra sengit.
"Zahra kecil yang kalian rindukan itu telah mati, Zahra yang ada di depan kalian ini adalah Zahra yang sekarang dengan dunia bebasnya!"
"Apa maksud mu, dek?" Tanya Annisa lemah.
"Zahra kecil mu tidak akan pernah kembali, ia sudah mati bersama mimpinya!"
"Apakah kau lupa?, Zahra kecil mu itu telah kau bunuh!. Kau yang membuatnya mati, Annisa!,"
"Dan Zahra yang ada di depan mu ini adalah Zahra yang berbeda."
Menatap wajah kakaknya terluka, "Kau tau karena kau semua orang membenci ku. Karena kau semua orang menganggap aku sampah!, karena kau, aku tidak mempunyai tempat sedikit pun di sini...kau egois Annisa!"
"Aappa maksud mu, dek. Bagaimana bisa..?" Tanya Annisa tidak mengerti.
"Semua itu karena kamu Annisa, semua itu karena kamu yang selalu ingin di mengerti. Jika saja kamu tidak ada, jika saja kamu mati-"
"ZAHRA!!!"
PLAAKK
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Zahra dan berhasil membuat Zahra terhempas ke lantai.
Zahra memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan tersebut.
Satu tetes
Dua tetes
Air matanya kini mulai berjatuhan dari matanya yang indah.
Sementara itu, Razi memandangi tangannya dengan ekspresi terkejut dan menyesal.
Apa yang telah aku lakukan ya Allah?
Razi menggeleng-gelengkan kepalanya kuat seraya mundur kebelakang, takut, ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berlaku kasar pada perempuan yang ia sayangi. Merasa kacau, Razi lebih memilih berbalik arah, berjalan cepat ia menaiki tangga bermaksud kembali ke kamar nya.
Melihat kepergian Razi, Zahra hanya bisa tertawa. Pahit.
Menyadari dirinya yang sudah benar-benar tidak mempunyai tempat di sini membuat Zahra merasa lucu.
"Tidak mengapa, kak..ini tidak sakit kok." Teriak Zahra keras setelah melihat Razi masuk ke dalam kamarnya.
"Zahra bangunlah..sudah waktunya kamu berangkat ke pondok pesantren.." Ucap Abi tegas.
JEEDDDEERRR
Bagai di sambar petir Zahra merasa jika hatinya remuk berkeping-keping.
"Apakah karena aku sangat kotor?" Tanya Zahra hati-hati masih dalam posisinya terduduk di atas dinginnya lantai.
"Berhentilah berbicara omong kosong Zahra, ini karena kamu memang membutuhkan pendidikan yang lebih ketat di sana." Jawab abi jujur.
"Hahaha..aku lupa, jika aku memang kotor. Hingga kalian merasa sangat jijik bersama ku..iya kan, bi? abi jijik kan sama Zahra?" Zahra bertanya seraya tertawa kecil, tapi yakinlah ini adalah tawa kesakitan nya.
"Zahra tau jika kalian semua memang membenci Zahra, Zahra tau jika di sini Zahra hanya di pandang SAMPAH oleh kalian semua!. Zahra tau itu, tapi kenapa harus ke tempat itu kalian ingin membuang ku?. Apakah tidak ada tempat lain selain PENJARA itu?" Tanya Zahra dengan suara lemahnya.
"Umi, Annisa bawa Zahra masuk ke mobil...sementara Razi akan membawa koper-koper pakaian Zahra.." Intruksi abi berjalan menjauhi Zahra.
"Kenapa terburu-buru begini, abi?. Jika abi mau membuang Zahra..tolong jangan buang Zahra ke tempat itu..Zahra lebih suka di buang di jalanan saja.." Teriak Zahra.
Namun Abi terus saja berjalan menjauhi Zahra tanpa berbalik sedikit pun.
Ini persis yang kalian semua lakukan 10 tahun yang lalu kepada ku. Batin Zahra terluka.
Zahra merasa miris mendapati dirinya di perlakukan secara tidak adil seperti ini.
Lukanya kian dalam dan membesar.
"Jika kalian membenci ku, bunuh saja aku langsung daripada kalian mengirim ku ke tempat neraka itu..lebih baik kalian bunuh saja aku.." Teriak Zahra histeris.
"Ayo, nak.." Ajak umi sambil mengangkat tubuh Zahra dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Umi, Zahra tau jika kalian semua membenci Zahra, tapi tolong..jangan buang Zahra ke penjara itu...buang saja Zahra di jalanan! buang saja Zahra di jalanan..Umi.." Tangis Zahra meminta kepada uminya dengan tulus.
Umi hanya menggeleng sedih, air matanya yang terus mengalir dari wajahnya menggambarkan betapa ia sangat terluka dengan kepergian anak bungsunya.
Setelah Zahra benar-benar memasuki mobil, maka mobil pun berangkat menuju lokasi pondok pesantren yang lumayan jauh dari kotanya.
Di dalam mobil, tangis Zahra sudah tidak sekeras di rumahnya. Zahra justru menjadi lebih pendiam dan matanya hanya menatap pemandangan luar.
"jika kalian memang tidak pernah bisa memberikan ku kasih sayang, setidaknya tolong kabulkan saja permohonan ku. Karena dengan begitu aku akan merasa jika keberadaan ku sedikit berharga di mata Kalian dan dengan begitu pula, aku bisa mematahkan perkataan mereka mengenai sikap kalian. Itu setidaknya." Gumam Zahra pahit.
"Ternyata, semua yang mereka katakan bukanlah sebuah kebohongan belaka. Aku memang gadis yang kotor, hingga kalian saja yang menjadi keluarga ku lebih memilih membuang ku ke tempat yang sangat ku benci.."
Sekotor itu kah aku?
hingga aku tidak mempunyai tempat sedikit pun di sisi kalian.
Apakah aku sangat kotor?
sehingga kalian sangat ingin membuang ku ke tempat itu.
Apakah aku sangat menjijikan?
sehingga kalian sangat ingin mengirim ku ke tempat itu.
Apakah benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untuk ku di sini?
Apakah Aku benar-benar pembawa bencana untuk kalian semua?. Apakah aku memang sekotor itu?
Hingga tiada lagi tempat untuk ku kembali selain ke tempat penjara sampah itu. Lalu, apakah kalian akan benar-benar mengenyahkan ku dari kehidupan kalian?
Apakah tak ada satu pertanyaan pun terbesit di hati kalian tentang mengapa aku menjadi seperti ini?
Apakah aku sungguh tak pantas?
benarkah?, ku rasa iya.
"Sekotor itukah Aku ?." Gumam Zahra pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1