Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Hanya Bayangan


__ADS_3

"Why?" Tanya Latifa seraya berkaca pinggang.


Yola mengangkat bahunya acuh, "Eyah, felling aja kalo hari ini si Zarah alias tukang jarah gak masuk."


Andrini terlihat menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Yola.


Memutar bola matanya, "Gue mau lo to the point aja dan gak usah buang-buang waktu gue hanya karena lo buat cerita karang-karangan lo yang gak masuk di akal!. Apaan felling, gak jelas!" Andrini berucap kesal, ia tidak menyukai alasan Yola yang sangat tidak logis baginya.


Yola mendengus tidak terima dengan ucapan Andrini yang seakan mengejeknya.


"Yah, lo kok nyolot sih?, biasa aja kali gak usah pakek acara bawa emosi. Lagian lo kan ngaku udah jadi sahabatnya Zahra, seharusnya lo tau dong Zahra kenapa gak masuk? " Yola membalas sindirannya lebih tajam seraya memberikan wajah ejekan yang jelas.


"Ya ellah, pake felling aja lo bangga. Apalagi sok bawa nama sahabat lagi, merasa paling bener aja. "


"Lo ya dikasih tau ngenyel banget, kalo gini gima-"


"Udah kenapa, sih!. " Latifa berteriak tidak tahan lagi. Ia menatap Yola dan Andrini dengan tatapan tidak suka.


"Kita ini satu misi, tapi hanya karena masalah sepele gini kalian jadi bertengkar. Yakin misi ini akan sukses jika kalian seperti ini? "


"Enggak, kan? "


Menghela nafas, "Sekarang kalian berdua baikan. Demi kelancaran misi kalian harus menyingkirkan sikap kekanak-kanakan kalian." Latifa berusaha membujuk agar Yola dan Andrini menghilangkan sifat kekanakan mereka. Berusaha mengikat mereka seperti semula lagi.


"Ayo dong kalian berdua jangan egois gini, masa sih kalian lupa sama tujuan awal kita?" Tanya Latifa berniat mencairkan suasana yang sempat tegang.


Namun, seberapa keras ia membujuk Yola dan Andrini masih menolak untuk mendengarkannya.


Mengalihkan tatapan pada Andrini yang masih bertingkah acuh tak acuh, "Ann, lo lupa sama adik lo, Alvin, adik tersayang lo". Memutar otak, Latifa berusaha memancing emosi Andrini. Mendengar pertanyaan Latifa, tatapan cemerlang Andrini perlahan meredup, memperlihatkan tatapan sendu.


Menunduk, "Fa, mana bisa aku lupa dengan dia. Aku tidak bisa melupakan bagaimana ia bisa pergi dari dunia ini, hari teragis itu adalah mimpi terburuk dalam hidupku. " Andrini menjawab sedih, namun walaupun begitu kilau matanya mengungkapkan kebencian yang amat besar.


Tersenyum puas, Latifa mengalihkan tatapannya kepada Yola.


"Dan lo Yo, lo lupa dengan cinta pertama lo yang direbut oleh Zahra?. Kak Revan dicampakkan juga persis seperti Alvin, apa lo mau suatu hari apa yang pernah terjadi kepada Alvin juga menimpa Revan? "


"Jangan bermimpi, Fa. Gue gak akan pernah bisa ngelupain rasa sakit itu dan gue juga gak akan pernah memberikan Zahra kesempatan untuk menyakiti Revan. Gak akan pernah. " Yola berbicara penuh dengan kebencian, yah, Alfi bukanlah orang yang ia sukai. Ia hanya kebetulan saja memanfaatkan Alfi yang kini sudah menjadi kekasihnya. Cinta pertamanya adalah Revan, laki-laki yang selalu mengejar Zahra. Akan tetapi sayang, disaat mulai merasakan manisnya cinta ia juga merasakan pahitnya luka. Revan tidak pernah meliriknya lagi semenjak Zahra sekolah di sini. Semua perhatian dan pandangan Revan hanya tertuju kepada Zahra sejak ia mengenal Zahra. Tentu saja rasa sakit ini akan terus membekas dalam hatinya.


"Jadi, apakah misi ini tetap dilanjutkan? " Latifa bertanya dengan suara yang mengejek.


Yola dan Andrini tidak mengatakan apa-apa, mereka hanya menganggukkan kepalanya penuh akan dendam.


Mendapatkan respon yang baik, Latifa menganggukan kepalanya penuh kemenangan.


"So, gue gak perlu ngomong lagi kan langkah kalian selanjutnya. "


"......" Yola.


"......." Andrini.


Beberapa saat kemudian.


"Maafin, gue."

__ADS_1


"Sorry."


Andrini dan Yola berucap bersamaan.


Terdiam lagi, mereka berdua saling tatap dengan ekspresi aneh hingga beberapa saat kemudian mereka tiba-tiba tertawa bersama. Mencairkan suasana yang tegang menjadi hangat kembali.


"Hahaha, kita aneh ya." Andrini menertawakan sikap konyol mereka.


"Iya kita aneh, masa berantem gara-gara hal sepele, aneh tau gak. Tapi biar bagaimana pun gue minta maaf, gue terlalu kekanak-kanakan." Yola meminta maaf, ia juga menyadari betapa kekanakannya ia pagi ini.


"Iya, gue juga minta maaf. Gue juga terlalu kekanak-kanakan, maafin gue yah." Saling memaafkan mereka mengakhiri nya dengan sebuah pelukan persahabatan.


Setelah selesai berpelukan mereka bertiga pun langsung melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda tadi.


"Eh, tapi Yo. Lo serius kalo Zahra beneran gak masuk?" Kejar Latifa yang masih penasaran.


Mengangguk, "Iyalah serius banget malahan, Fa. Tapi lonya aja yang gak percaya." Jawab Yola serius.


"Gimana gak percaya coba, lo ditanya darimana tau jawabnya dari felling. Halo nyonya Yola, felling gak selamanya benar tau gak sih." Kali ini Andrini ikut bersuara menjawab pernyataan Yola.


"Lo bener Ann, felling tak dapat di percaya." Dukung Latifa.


Memutar bola matanya, "Ya elah, gue serius kalo hari ini si Zarah alias tukang jarah gak masuk, sumpah" Yola berucap serius seraya memberikan sumpah.


"Felling?" Tanya Andrini masih meragu.


"Felling, ya enggalah. Masalah felling itu gue cuma bercanda kali."


"Iya, kalo bukan karena felling lo tau darimana kalo hari Zahra gak masuk sekolah." Untuk ke yang sekian kalinya ia mengulangi pertanyaan yang sama.


"Gue tau dari Fia. "


Flash back on


"Kalo gak karena tugas, gue pasti gak akan mau datang sepagi ini" Gerutu seorang gadis yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya.


"Pagi kak Yola." Sapa adik kelas kepada gadis yang di panggil Yola.


Menghentikan aktivitasnya, ia menatap adik kelas yang menyapanya. "Pagi dek." Jawab Yola ramah dan kembali melanjutkan mengobrak-abrik isi tasnya.


"Ah, ketemu" Ucap Yola senang sambil berlari keruang guru. Setelah menyelesaikan tugasnya diruang guru, Yola pun berjalan ke arah kelasnya. Namun, saat melewati taman langkah Yola terhenti lantaran ia melihat seorang gadis yang sedang mondar-mandir gelisah. Gadis itu sudag tak asing lagi bagi Yola.


"Fia?"


Fia terlihat mengotak atik handphone nya dan sesekali mendekatkannya di telinganya. Setelah menunggu beberapa menit kemudian Fia mulai bersuara.


"Hallo, assalamualaikum, kak."


".............."


"Ah iya kak, ini soal Zahra. Tadi saya telpon kok gak di angkat-angkat ya?."


".............."

__ADS_1


"Innalillahi, Zahra sakit yah kak. Jadi gak bisa masuk hari ini?."


".............."


"Oh, iya udah kak saya titip salam aja ke Zahra semoga Zahra cepat sembuh."


"..............."


"Ok, kak saya tutup dulu yah, assalamualaikum."


Flash back off


"Jadi gitu ceritanya." Ucap Yola mengakhiri ceritanya.


"Oh, bilang kek dari tadi." Ucap Andrini santai.


Menghela nafas, "Kan gue belum apa-apa lo udah main nyerocos-nyerocos aja." Balas Yola tak terima.


"Lagian loe kan-"


Kring...


Kring...


Kring...


Bel masuk pun berbunyi, menandakan bahwa jam pertama akan di mulai. Yola, Andrini, dan Latifa pun memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing. Setelah kepergian mereka, gadis yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok akhirnya keluar dari persembunyiannya.


"Kenapa harus Zahra, kenapa Tuhan?. Aku memang mengetahui misi balas dendam ini, tapi itu saat aku berpikir jika mereka hanya ingin main-main saja," Ia menyesali kebodohannya seraya menatap punggung Andrini dan Latifa yang menjauh.


"Apa aku harus memberitahu Zahra tentang semua ini?. Sungguh aku tak ingin membuat Zahra terluka lagi " Bertekat, gadis itu akan memberitahu Zahra apa yang telah ia dengar hari ini.


"Zahra, aku minta maaf jika selama ini aku tak pernah menyadari semua ini. Aku tak ingin membuat kamu menangis lagi, sudah cukup luka yang ada di hati mu itu. Sudah cukup."


"Aku harus memberitahu Zahra!ya, harus" Tekat gadis itu sudah bulat.


"Lho Dewi, sedang apa nak di sini, gak masuk kelas?" Tanya seorang guru kepada gadis yang bernama Dewi.


"Eh,iya buk ini mau masuk" Ucap Dewi seraya berlari ke kelasnya.


\-\-\-\-\-\-\-\-


Zahra P. O. V


Mataku perlahan-lahan terbuka saat ku rasakan sebuah kecupan lembut di atas keningku. Aku tak yakin tapi aku seperti melihat bayangan kak Razi yang sedang menggemgam tanganku dengan lembut, mungkinkah?


Untuk melihat kejelasannya ku kerahkan seluruh tenaga ku untuk membuka mataku lebih jelas lagi. Setelah mataku terbuka lebar ku arahkan pandanganku ke sembarang arah dan tak mendapati siapa pun di kamarku ini, kecuali sebuah bubur yang masih mengepul asapnya menandakan bahwa bubur ini masih panas dan tak lupa juga segelas air putih yang di sampingnya juga bertengger sebuah gelas yang berisi air warna orange seperti jus, akan tetapi berbau kunyit.


Tiba-tiba pintu kamar ku terbuka dan muncullah wajah wanita yang sangat ku rindukan kasih sayangnya, Umi. Ini pun membuat ku tersadar jika yang selama ini menjaga ku di kamar adalah umi dan bukan kak Razi. Sekali lagi, semua itu hanya halusinasi ku belaka.


Tuhan, apakah kau sedang mempermainkanku?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2