Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Part 16


__ADS_3

Sekotor Itukah Aku Part 16


Sepulang sekolah Dira dan Fira langsung bergegas kembali ke asrama. Hari ini masih siang dan saat-saat yang genting untuk semua orang yang berpuasa. Mereka dilanda haus dan kelaparan jadi pilihan terbaik adalah kembali ke asrama secepat mungkin. Karena dibandingkan di dalam kelas, asrama jauh lebih nyaman dan adem untuk berteduh. Tidak banyak orang di dalam karena kebanyakan para santriwati sibuk dengan urusan masing-masing. Entah mereka pergi ke perpustakaan karena saking pintarnya atau ke kebun untuk mencari sayur tambahan buka nanti, atau mungkin bagi orang yang terlalu baik mereka akan membantu staf memasak di dalam dapur. Apapun itu alasannya, Fira tidak terlalu perduli karena yang paling penting adalah segera balik ke asrama dan mandi untuk menghilangkan gerah ditubuhnya!


Bagaimana ia tidak tersiksa, di saat sedang berhalangan dan diterpa terik matahari yang sangat panas membuat sekujur tubuh berkeringat dan kepanasan. Bayangkan bagaimana tidak nyamannya itu.


"Assalamualaikum, Ukht?" Sapaan sopan dari seseorang menghentikan langkah mereka berdua. Bingung dengan siapa yang mereka sapa, Fira dan Dira lantas tidak langsung membalas sapaan mereka.


"Benar Ukht, kami sedang menyapa kalian berdua." Salah satu laki-laki yang lebih tinggi mengakui bahwa yang mereka sapa adalah Fira dan Dira, bukan orang lain.


"Waalaikumussalam akh, apa ada yang bisa kami bantu?" Setelah mendapatkan konfirmasi dari laki-laki itu, Fira dan Dira lantas tidak mengabaikan mereka dan membalasnya dengan sopan pula.


Laki-laki yang lebih pendek tersenyum sopan, "Apakah kita boleh mengobrol sebentar? Tidak apa-apa di sini saja asalkan ukht mau berbicara dengan kami." Ucapnya setenang mungkin. Ini adalah langkahnya untuk mendekati para ukht yang sudah menjadi incaran mereka.


Mendengar permintaan laki-laki tersebut, Fira dan Dira langsung saling pandang. Mereka ragu untuk bergabung akan tetapi sangat tidak sopan rasanya untuk menolak apalagi mereka menawarkan untuk berbicara di tempat yang ramai, yang bebas dari fitnah.


Menimbang sejenak, Fira tahu bahwa Alif tidak akan suka jika ia berbicara dengan laki-laki lain. Akan tetapi Fira juga ingat jika ia harus segera melupakan Alif dan mencari laki-laki lain untuk mengalihkan perasaannya, lagipula Fira seharusnya tidak bisa kalah dengan Alif. Masa iya Alif bisa berbicara dengan Annisa sedangkan ia tidak bisa?


Huh, Fira tidak akan kalah!


"Bisa, asalkan tetap dalam batas wajar." Jawab Fira yang tidak disangka-sangka Dira. Ia menatap Fira dengan pandangan tidak percaya juga perihatin, pasti Fira melakukan ini karena termakan hasutan Fia. Padahal seharusnya Fira tahu betul bagaimana konyolnya otak Fia, mengikuti idenya adalah sebuah kesalahan.


Nah, sekarang karena Fira sudah terlanjur ingin melayani pembicaraan dua laki-laki ini maka Dira yang sebagai pengamat hanya bisa berdoa agar Alif tidak melihat kelakuan bodoh Fira saat ini karena jika iya, Dira tidak bisa mengukur bagaimana kemarahan Alif nanti. Hei, Alif adalah pengurus pondok pesantren yang terkenal tegas dan tidak mau tahu, apalagi jika ini berhubungan dengan orang yang ia sukai maka mungkin kemarahannya adalah sebuah bencana untuk ditanggung Fira.


"Alhamdulillah, terimakasih ukht untuk waktunya." Laki-laki yang lebih tinggi tidak pernah menyangka jika Fira akan langsung menyetujuinya.


"Ukht, nama saya adalah Faiz. Kebetulan akhir tahun ini saya akan lulus dari sini dan segera diberangkatkan ke Mesir untuk pendidikan selanjutnya." Laki-laki yang lebih tinggi memperkenalkan dirinya dengan rendah hati, ia juga menyebutkan bahwa masanya di pondok pesantren tinggal beberapa bulan lagi dan akan segera melanjutkan pendidikannya ke Mesir.


Dira tahu, meskipun terlihat rendah hati tapi Faiz sengaja memamerkan potensinya yang cukup pintar. Ia akan dikirim ke Mesir tentu saja itu adalah sebuah prestasi yang tidak mudah didapat, apalagi jika diperhatikan baik-baik Faiz cukup tampan untuk bisa bersaing dengan Alif!


Oh tidak, jika Fira sampai kepincut Faiz maka hidup Dira akan benar-benar diporak-porandakan oleh Alif nanti. Ia harus segera mencegahnya sebelum Fira jatuh hati kepada laki-laki ini!


"Fira, aku pikir kita harus segera kembali-" Dira mencoba menasehati namun belum apa-apa ia sudah dipotong saja oleh Fira.


"Namaku adalah Fira, masih di bangku kelas XII. Jika boleh tahu alasan akh apa ya ingin mengajak Fira berbicara? Karena setahu Fira, kita tidak pernah bertemu dan seharusnya tidak ada alasan untuk kita berbicara?" Fira sadar bahwa Faiz mengincar dirinya. Meskipun ini adalah berita yang baik namun entah mengapa Fira tidak nyaman dengan hal ini. Ia takut jika Alif melihatnya berbicara dengan laki-laki lain meskipun ini ia lakukan untuk melupakan Alif!


Melihat ekspresi tidak nyaman Fira, Faiz pikir jika ia harus lebih halus menghadapi Fira. Namun sebelum ia bisa mengatakan apapun suara berat Alif menghentikannya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya itu sangat menyenangkan?" Tanyanya dengan wajah tersenyum namun sesungguhnya itu sama sekali tidak tersenyum!


Ini menakutkan, Dira tahu betul ini adalah bentuk kemarahan Alif.


Dengan santai Alif menempatkan tangannya di pinggang ramping Fira, menarik Fira untuk lebih dekat lagi dengannya. Ini seolah-olah ia sedang menunjukkan bahwa Fira adalah miliknya dan tidak bisa diganggu gugat!


Melihat kedatangan Alif yang tiba-tiba serta sikap posesifnya yang jelas, udara tiba-tiba terasa membeku. Pembicaraan yang awalnya dilakukan dengan santai tiba-tiba menjadi berat, membuat Faiz dan temannya entah mengapa menyesali tindakan bodoh mereka mendekati Fira. Fira adalah adik Alif tentu saja mereka tahu itu, akan tetapi yang tidak mereka tahu dan duga adalah betapa posesifnya Alif kepada Fira. Mereka seperti melihat seorang suami yang datang menyelamatkan istrimu dari para pengganggu yang menyakiti mata.


Melihat dari sikap Alif, jelas mereka berdua mengerti jika Alif tidak suka melihat mereka dekat-dekat dengan Fira.


"Gus Alif, " Sapanya dengan senyum kaku.


"Saya hanya menyampaikan kepada Fira bahwa sebentar lagi saya akan lulus." Faiz menjelaskan dengan gugup karena kedua mata tajam Alif sedari tadi terus saja mengawasinya. Bahkan perasaan dingin yang sangat tidak nyaman bisa ia rasakan disekitar tengkuknya. Mengapa aura Alif sangat menakutkan?


Apakah ia benar-benar manusia, ah!


Alif tersenyum ramah seraya menarik Fira semakin dekat dengannya, matanya yang tajam tampak tersenyum mengawasi Faiz dengan pandangan dingin yang samar.


"Oh, jadi seperti itu. Memangnya kenapa Fira harus tahu kamu akan segera lulus dari sini?" Tanyanya masih dengan senyuman yang sama.


"Itu..itu..saya bermaksud untuk segera melama-"


"Adikku sudah menjadi milik orang lain." Lanjutnya menjatuhkan vonis yang langsung membuat lutut Faiz serasa lemas. Meskipun sudah tahu berakhir kecewa namun tetap saja rasanya mengejutkan. Ia juga malu karena sebelum ia bisa mengatakan apa-apa Alif sudah menolaknya duluan, ini seperti Alif tahu niat kedatangannya ke sini.


Mendengar nada tegas Alif yang menolak Faiz, ada rasa senang juga marah yang Fira rasakan. Fira sangat senang karena Alif sangat perduli kepadanya, ditambah perlakuan khusus yang romantis ini membuat Fira semakin berharap banyak. Akan tetapi semua itu sirna ketika Alif menegaskan bahwa ia sudah menjadi milik orang lain, seakan-akan Alif sangat senang melihatnya bersanding dengan laki-laki lain!


Sementara Fira dengan perasaan yang hitam putih, Dira yang hanya menjadi pengamat justru merasakan jika perutnya saat ini menjadi kram karena terlalu lama menahan tawa. Bagaimana ia merasa jika perasaan cemburu Alif sangat lucu?


Menolak laki-laki lain langsung ditempat tanpa memperdulikan harga diri orang lain. Ah, cemburu memang berbahaya.


"Ya sudah, kalau gitu kalian kembali ke tempat kalian. Jangan lupa belajar lebih banyak lagi untuk ujian kelulusan kalian." Perintah Alif tidak ingin berlama-lama menghadapi saingan cintanya.


Dengan malu, Faiz dan temannya mengucapkan maaf atas kelancangan mereka terhadap Fira. Mereka juga menyatakan undur diri mereka dengan sopan kepada Alif yang masih betah dengan sikap posesifnya kepada Fira.


Begitu mereka berdua menghilang dari pandangan mereka bertiga, lantas Alif tidak lagi menahan kemarahannya kepada Fira. Ia langsung menarik tangan Fira untuk mengikutinya pulang ke rumah, Alif harus memberikan Fira pelajaran untuk semua kekacauan yang sudah dibuatnya.


"Mas Alif, lepasin tangan Fira...tangan Fira sakit, Mas!" Keluh Fira sedih merasakan pergelangan tangannya yang ditarik Alif menjadi sakit. Ia juga tidak menyangka jika Alif akan bersikap kasar seperti ini kepadanya.

__ADS_1


Namun, Alif bukannya berhenti dan melepaskan tangan Fira, ia malah semakin mengeratkan genggaman tangannya sambil mempercepat langkahnya menyeret Fira pulang.


"Mas Alif, kasian Fira tangannya jadi sakit. Kalian bisa bicarakan masalah kalian nanti di rumah secara baik-baik dan bukannya seperti ini." Dira yang melihat Fira kesusahan tentu saja langsung membantunya. Ia tidak tahan melihat kedua mata Fira yang sudah mulai memerah ingin menangis.


Dira juga sebenarnya turut bersalah di sini, jika saja ia tadi menghentikan Fira untuk mengobrol dengan Faiz mungkin Alif tidak akan semarah ini dan Fira tidak akan menderita sakit dipergelangan tangannya.


Meskipun Dira membantu Fira namun Alif masih saja tidak mendengar sampai akhirnya Razi dan Zahra kebetulan melewati mereka.


"Mas Razi! Mas Razi tolongin Fira!" Teriak Fira meminta bantuan pada Razi.


Razi yang mendengarkan teriakan Fira sontak menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya mencari asal suara yang ternyata tidak terlalu jauh dari mereka berdiri. Di sana ia melihat Fira yang berusaha melepaskan diri dari tangan Alif. Sekilas, Razi tahu jika Alif saat ini sedang marah. Wajahnya yang mengeras langka juga tatapannya yang dingin tidak bersahabat menjadi bukti bahwa suasana hati Alif sedang tidak baik.


"Alif, apakah ada masalah?" Tanya Razi dengan ekspresi wajahnya yang tenang juga bersahabat seperti biasa.


Alif kali ini tidak bersikap keras dan melonggarkan genggamannya agar pergelangan tangan Fira tidak terlalu sakit. Merasakan genggaman Alif melonggar, Fira justru memanfaatkan ini untuk segera menarik tangannya kuat. Berhasil menariknya keluar Fira kemudian tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan langsung melarikan diri ke arah asrama tanpa mengatakan apapun kepada yang lain.


"Yah, aku yakin saat ini dia benar-benar marah." Keluh Dira merasa agak kesal menghadapi mereka berdua. Sejujurnya, ini memang baru beberapa hari namun entah mengapa Dira seakan merasa ini sudah berbulan-bulan terjadi!


"Aku akan segera menyusulnya." Mengangguk ringan kepada Zahra, Dira lalu mempercepat langkahnya mengikuti jejak Fira. Tentunya arah yang ia tuju tentu saja ke asrama. Karena asrama adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa Alif masuki!


Jadi, menggunakan kelemahan ini Fira akan selalu menghabiskan waktu di asrama jika bermasalah dengan Alif.


🍃🍃🍃


"Abi sudah menghubungi kedua orang tua Annisa?" Tanya Umi terdengar tidak sabar melihat kepulangan suaminya ke rumah. Ia juga dengan lembut menunaikan baktinya sebagai istri untuk melayani perasaan lelah sang suami setelah bekerja.


"Abi belum menghubungi mereka." Jawab Abi jujur tidak menyembunyikan apapun dari istrinya. Terus terang saja, ia tidak setuju Alif dengan Annisa. Bukan karena Annisa punya kekurangan atau sebagainya, akan tetapi Abi menginginkan ini karena Fira. Ia lebih setuju melihat Alif bersama Fira seperti Razi yang sukses menikahi Zahra.


Mendengar jawaban Abi, langsung saja Umi cemberut yang menyiratkan betapa tidak puasnya ia. Umi tahu jika suaminya memang sibuk namun sesibuk apapun Abi itu tidak akan menghalanginya untuk menghubungi kedua orang tua Annisa. Entah itu 5 menit atau 10 menit tidak akan bisa menghalangi pekerjaannya!


"Kita bisa membicarakannya dengan Alif dulu sebelum membuat keputusan." Ucap Abi mencoba membujuk istrinya agar lebih bersabar. Mereka perlu mendapatkan keputusan Alif karena biar bagaimanapun yang akan menjalani kehidupan rumah tangga adalah Alif bukan mereka berdua.


"Abi, janji adalah janji dan harus ditepati. Lagipula, Abi tidak perlu khawatir mengenai Alif karena Umi yakin Alif dan Annisa sudah saling menyukai." Tidak ada yang perlu mereka bicarakan karena semuanya sudah jelas jika mereka berdua saling menyukai. Karena sama-sama mempunyai rasa seharusnya mereka berdua segera dinikahkan agar terhindar dari segala macam fitnah. Itulah sebabnya mengapa Umi sangat gencar ingin melihat Alif dan Annisa segera menikah.


"Jika Abi tidak mau maka biarkan Umi saja yang menghubungi mereka." Putus Umi tidak sabar seraya mengambil handphone genggam Abi dari kantong celananya. Abi juga tidak bisa mengelak dan hanya bisa melihat istrinya yang sangat senang membicarakan tentang pernikahan Alif dan Annisa.


Menghela nafas lelah, perlahan Abi mulai merilekskan tubuhnya bersandar di sandaran sofa. Kedua matanya yang agar keriput mulai mengendor nyaman, mengantarkan Abi untuk segera masuk ke dalam mimpinya.

__ADS_1


Ia sangat lelah baru-baru ini.


Bersambung...


__ADS_2