
Sekotor Itukah Aku Part 20
Setelah Alif sepenuhnya tidak bisa melihat punggung Abinya, ia kemudian mengalihkan pandangannya menatap Razi yang juga sedang menatapnya. Lama saling menatap beberapa detik kemudian ada tawa renyah yang hadir di antara mereka berdua.
Razi menepuk pundak adiknya hangat, menariknya untuk duduk kembali di tempat mereka sebelumnya.
"Aku tidak menyangka jika kamu adalah adikku." Ucap Razi mengakui keterkejutannya. Meskipun tahu bahwa Papanya punya anak yang lain namun Razi tidak pernah berharap jika orang itu adalah Alif, sepupunya yang selama ini merangkap menjadi sahabatnya.
"Aku juga tidak pernah menyangka jika masalah keluarga kita akan serumit ini, tapi Razi setidaknya aku bersyukur Kakak ku adalah kamu. Jika itu orang lain, aku tidak akan tahu bagaimana responnya ketika melihat ku dan aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapinya." Syukurlah itu Razi, karena Alif tidak bisa menebak bagaimana perasaannya jika itu orang lain. Mungkin ada sedikit keengganan karena ia lahir dari istri kedua Papa.
"Yah, tapi untungnya ini adalah kita berdua. Rahasia Allah begitu sempurna sehingga aku tidak pernah berpikir akan ada kejadian seperti ini karena biasanya hal seperti ini hanya ada di buku cerita atau di dalam tv saja. Nyatanya karena ia sendiri yang mengalami Razi langsung bisa merasakan bahwa kenikmatan yang Allah berikan kepadanya tidak pernah ada putus-putusnya.
Ia sangat bahagia.
Mengingat skenario yang telah mereka lalui, Alif juga tahu karunia Allah kepada mereka terlalu indah. "Hem, Allah sangat baik kepada kita." Walaupun mereka kehilangan orang tua mereka di usia muda tapi itu tidak terlalu mempengaruhinya untuk merasa bersyukur. Pasalnya ia tidak terlalu ingat bagaimana bertemu dengan kedua orang tuanya karena saat itu usianya masih sangat kecil.
Kecil sehingga satu-satunya yang memenuhi kepalanya adalah kasih sayang kedua orang tua angkatnya yang selama ini membesarkannya.
"Mengenai Annisa, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya karena aku yang akan berbicara langsung kepada Abi dan Umi. Kamu hanya perlu menyiapkan dirimu dan segala persiapan yang kamu butuhkan di acara pernikahan mu nanti." Sebagai seorang Kakak, Razi yang akan menggantikan peran Ayahnya kepada Alif. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu sehingga perasaan persaudaraan yang saling membutuhkan tidak pernah mereka berdua rasakan secara nyata.
Alif tertegun, sejenak perasaan hangat mengisi kedalaman hatinya. "Maka aku akan sangat mengandalkan, Kakak." Ucapnya merasa tersentuh.
Ia mempunyai seorang Kakak sekarang dan perasaan yang ia rasakan ini berbeda ketika ia meminta bantuan kepada Abinya. Alif juga terbiasa bertindak membantu orang lain tanpa ada yang mau memayunginya. Malam ini, ia tidak lagi menjadi seorang pemuda yang kuat namun menjelma menjadi seorang adik yang penurut.
Ketika ia punya masalah nanti, ada Kakaknya yang akan membantunya menghadapi masalah itu. Sudah ia bilang bukan jika mulai malam ini ia tidak akan sendirian lagi karena ia punya Razi, Kakaknya.
Tersenyum tulus, "Lalu bagaimana dengan orang-orang pondok? Kamu dan Fira akan segera menikah yang pasti membuat mereka terkejut. Kalian sebelumnya adalah Kakak beradik jadi mengetahui kalian menikah membuat mereka mau tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Jadi, apakah kamu punya solusi untuk mengatasi ini?" Alif sudah dikenal bersaudara di pondok pesantren dengan Fira jadi akan sangat sulit untuk mengatasi situasinya.
Ini berbeda dengan kasus Razi yang tidak terlalu terkenal bersaudara dengan Zahra. Malah, Razi lebih terkenal karena persaudaraannya dengan Annisa yang selalu membuat orang menjadi iri.
"Soal itu.." Alif mencoba berpikir keras rencana apa yang akan ia jalankan untuk situasi ini. Hem, jika ia mengumumkannya secara langsung maka sudah pasti itu tidak mungkin karena Fira pasti akan langsung tahu. Alif tidak mau Fira tahu karena ini adalah kejutan untuk istrinya nanti. Ia ingin Fira terkejut pada saat hari pernikahan mereka berdua.
Berpikir lama, Alif akhirnya mendapatkan ide yang memang sedikit konyol tapi sangat mudah untuk dijalankan.
"Aku punya ide!" Teriaknya senang.
🦕🦕🦕
"Mas Razi kok lama banget pulangnya, memang Pak kyai habis ngomongin apa sama sama Mas tadi?" Begitu Razi membuka pintu rumah Zahra langsung menyambutnya. Ia dengan lembut meraih tangan suaminya dan menciumnya.
Sebelum menjawab keluhan istrinya, Razi mencium kening istrinya lama sebelum menariknya untuk duduk di sofa keluarga mereka.
"Zahra, aku baru saja bertemu dengan adikku." Lapor Razi senang tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Ia sangat senang bertemu dengan adiknya.
Terkejut, Zahra lantas meraih tangan suaminya untuk ia genggam. "Mas tidak bohong kan?" Tanya Zahra memastikan.
Razi tanpa ragu menganggukkan kepalanya yakin, "Adikku selama ini selalu ada disekitar ku dan tanpa sadar kami berdua sudah menjalin persahabatan sejak kami berdua kecil."
Persahabatan?
Entah mengapa pikiran Zahra mengarah pada Alif karena satu-satunya orang yang pernah Razi akui sebagai sahabat yah hanya Alif saja. Tapi itu tidak mungkin bukan karena Alif punya keluarganya sendiri?
"Mas, itu bukan Alif'kan?" Tanya Zahra ragu.
"Tidak, adikku memang benar-benar Alif. Tadi saat bertemu Pak Kyai, aku dan Alif dipertemukan untuk mengungkapkan rahasia yang sudah lama terkubur. Pak Kyai juga membenarkan bahwa kami berdua memang bersaudara yang lahir dari Ibu yang berbeda." Razi menjelaskan secara singkat pembicaraannya tadi saat bertemu dengan Pak Kyai dan Alif.
"Juga, ada berita penting yang kami bicarakan di sana. Alif tidak akan menikah dengan Annisa namun akan segera menikah dengan Fira. Ia mengakui kepada kami bahwa ia sangat serius ingin menikahi Fira, bahkan aku saja bisa melihat bahwa tekadnya sangat besar ingin menikah dengannya." Lanjutnya lagi menceritakan betapa teguh hati Alif ingin menikah dengan Fira. Melihatnya juga mengingatkan Razi pada pengalamannya saat memperjuangkan Zahra. Sama-sama menyukai adik angkat membuktikan bahwa garis takdir mereka sangat dekat, apalagi dengan selera yang sama Razi tidak bisa menebak apakah ini karena darah Papa mereka atau memang karena sudah jalannya begini saja.
"Apa? Kalian benar-benar luar biasa." Zahra tidak tahu harus tertawa atau menangis setelah mendengarnya. Dua bersaudara ini begitu aneh, menaruh minat pada adik angkat mereka. Astaga, gen Papa mertuanya benar-benar luar biasa.
"Jangan menertawakan kami." Razi mencubit hidung Zahra dengan gerakan main-main, ikut merasa geli dengan ekspresi Zahra yang terlihat sangat imut.
"Kami memilih pasangan masing-masing berdasarkan kedekatan sejak kecil. Jadi karena kami terbiasa bertindak posesif pada pasangan masing-masing tanpa sadar cinta itu tumbuh. Jadi, wajar saja ketika besar orang pertama yang ingin kami nikahi adalah kekasih masa kecil kami." Entah ini kebiasaan atau apa tapi Razi dan Alif sama-sama merasakan perasaan terikat ini semenjak menanamkan sikap melindungi kepada pasangan masing-masing.
Bertindak layaknya seorang Kakak yang protektif namun nyatanya itu adalah bentuk cinta mereka kepada pasangan masing-masing.
"Baiklah, aku tidak akan tertawa." Mengulum senyumnya.
"Tapi aku sedikit bingung, bukankah Mas Razi pernah bilang jika kalian berdua punya perjanjian 15 tahun yang lalu. Aku dengan Mas Razi, lalu Annisa seharusnya dengan Mas Alif. Tapi, mengapa tadi Mas bilang jika Fira dengan Mas Alif? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"Mereka dulu punya perjanjian, ah, lebih tepatnya kedua orang tua mereka yang punya perjanjian. Jadi mau tidak mau mereka harus mengikutinya.
__ADS_1
Melihat kebingungan istrinya, Razi langsung mengangguk mengiyakan dengan serius. "Inilah yang akan Mas urus besok. Karena Mas sekarang adalah seorang Kakak untuk Alif maka sudah pasti apapun urusan yang berbau tetuaan dan membutuhkan wali akan diserahkan kepada ku. Aku yang akan menggantikan tugas Papa nanti jika Alif menghadapi suatu masalah. Mengenai perjanjian 15 tahun yang lalu besok aku akan menghubungi Abi dan Umi untuk menjelaskan secara rinci bahwa Alif tidak bisa melaksanakan janji itu dikarenakan sudah mempunyai orang yang ia suka." Mulai dari sekarang ia adalah wali untuk adiknya, menggantikan tugas Papa yang belum sempat ditunaikan.
"Mungkinkah Kak Annisa akan senang mendengar semua ini? Karena saat aku melihatnya membicarakan tentang Mas Alif, ada kilatan kebahagiaan yang tercermin di dalam matanya." Waktu itu Zahra sempat menebak jika Annisa mempunyai rasa kepada Alif. Jika itu memang benar maka Annisa pasti akan sangat sakit hati mendengar keputusan Alif menikahi Fira. Zahra...yah, Zahra tidak tega melihat Kakaknya seperti itu karena Zahra sendiri pernah merasakan betapa sakitnya melihat orang yang kita sayang bersama dengan orang lain.
"Istriku," Mengelus lembut punggung tangan istrinya.
Ia lalu menatapnya dengan pandangan yang amat sangat lembut, "Jika memang Annisa menyukainya maka Mas yakin jika hatinya lapang. Ia akan merelakan perasaannya karena hati juga tidak bisa dipaksakan seperti halnya kamu dengan Alif akan menikah dulu. Bagaimana rasanya akan dipersatukan dengan laki-laki yang tidak kamu cintai?" Tanyanya masih dengan tatapannya yang lembut.
Di tanya seperti itu Zahra kembali teringat dengan hari dimana ia terjebak dalam kesakitan. Akan menikah dengan laki-laki yang tidak ia harapkan membuatnya sangat ketakutan dan sakit hati, ia tersiksa setiap membayangkan Razi meninggalkannya untuk mencari perempuan yang lain. Itu adalah saat-saat yang sangat menyiksa.
Menundukkan kepalanya sendu, "Yah, itu rasanya sangat menyiksa. Zahra gak mau inget masa-masa itu lagi." Ucapnya tidak senang seraya beringsut ke dalam pelukan Razi. Zahra menyandarkan kepalanya di atas dada bidang sang suami yang sangat menghangatkannya. Mencium wangi sang suami entah mengapa bisa membuatnya melupakan betapa tidak nyamannya saat-saat itu.
"Sayang, itu juga berlaku untuk Alif." Mengeratkan pelukannya, Razi kemudian mengangkat tangannya untuk mengelus lembut punggung Zahra seraya sesekali mencium puncak kepalanya yang wangi shampoo bunga mawar. Ini sangat harum dan Razi akui ia menjadi kecanduan dibuatnya.
"Alif tidak bisa memaksakan perasaannya untuk jatuh cinta kepada Annisa. Ia tidak meninggalkan Fira sehingga jalan satu-satunya untuk memuaskan perasaannya adalah dengan menjadikan Fira milik sepenuhnya. Alif tidak rela dan tidak bisa melihat Fira bersama dengan laki-laki lain selain dirinya, jadi apakah kamu mengerti sekarang mengapa Alif tidak ingin menikah dengan Annisa?" Lanjutnya lagi bertanya.
Zahra tidak ragu untuk menganggukkan kepalanya, Alif kini sedang memperjuangkan perasaannya. Ini juga dulu terjadi kepadanya saat ia memaksa Razi untuk menikahinya. Hem, itu adalah momen yang menyiksa.
"Mas Alif benar, hati memang bukan masalah yang sepele untuk diselesaikan." Menutup matanya nyaman.
"Lalu, bagaimana dengan Fira? Apakah ia tahu jika Mas Alif akan menikahinya?" Dulu mereka juga saling mengetahui tentang perasaan masing-masing sebelum menikah, jadi apakah mungkin Fira juga menghadapi masalah yang sama mengingat alur percintaan mereka sama persis.
"Fira masih belum tahu, sepertinya Alif berencana memberikannya kejutan saat hari pernikahan itu tiba. Seperti yang kita lakukan dulu, rasanya sangat menyenangkan melihat ekspresi terkejut mu yang lucu."
Razi tebak tujuan Alif adalah ini, sama dengan pernikahan ia dan Zahra dulu. Semuanya tampak samar untuk Zahra dan tidak terlalu membuatnya antusias. Akan tetapi setelah acara ijab Kabul selesai Zahra sangat terkejut melihat orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Razi, yah, wajah terkejut membeku itu masih terngiang jelas di dalam ingatan Razi dan itu tidak akan pernah terlupakan karena hanya terjadi sekali seumur hidup.
"Jika itu yang terjadi maka Fira pasti akan sangat terkejut. Mas Razi juga tidak bisa menertawakan ku saat itu karena siapapun pasti akan terkejut jika orang yang ia cintai memilih pergi tapi tiba-tiba dihari pernikahan datang sebagai calon suami. Zahra sangat terkejut, tahu!"
Saat itu ia ketakutan dan tidak percaya jika itu adalah hal yang nyata. Karena saat ia mengakui perasaannya kepadanya, Razi dengan tegas menolak dengan alasan tidak ingin melukai perasaan Alif. Tapi lihat siapa yang mengetuk pintu kamar Zahra? Yah, tentu saja itu adalah Razi sendiri!
"Siapa yang tertawa, aku malah sangat terpesona dengan mu saat itu." Bantah Razi merasa geli. Ia tidak punya waktu untuk tertawa karena hari itu ia sangat terpesona melihat betapa cantiknya Zahra dengan penampilan yang berbeda.
"Jadi sekarang udah gak terpesona lagi?"
Tertawa kecil, "Aku selaku terpesona melihat istriku setiap harinya. Tapi hari itu berbeda, saat itu kamu untuk yang pertama kalinya menggunakan penampilan seutuhnya muslimah yang baik. Karena itulah aku tidak akan pernah bisa melupakan hari penting itu, hari dimana istriku berhasil membuat para bidadari di surga cemburu melihatmu."
Merasakan pipinya memanas, "Mas Razi gombal, ih!" Semakin beringsut menempeli suaminya.
"Tapi jika mereka menikah nanti orang pondok pasti kebingungan melihat hal ini. Karena yang orang pondok tahu mereka berdua saudara kandung jadi itu tidak mungkin untuk menikahkan mereka." Zahra mengalihkan topik pembicaraan, tidak tahan menerima serangan gombal dari Razi.
Karena Zahra mengangkat masalah ini, Razi langsung teringat dengan ide yang ia dan Alif bicarakan sebelumnya. Memang terkesan konyol tapi setidaknya ini sangat membantu, "Nah, ini adalah tugas yang harus kamu selesaikan bersama Dira dan Fia."
Mengangkat kepalanya menatap wajah Razi, "Tugas apa?" Tanyanya bingung.
Tersenyum kecil, Razi tidak tahu apakah Zahra akan menerimanya karena yang ia tahu selama ini Zahra bukanlah tipe orang yang seperti itu.
"Ini terbilang mudah, kamu hanya perlu menyebarkan berita bahwa Alif dan aku bersaudara. Lalu, sebarkan juga tentang Alif yang tidak mempunyai hubungan darah apapun dengan keluarga pondok termasuk Fira. Jangan lupakan tentang rencana pernikahan mereka yang akan diadakan tanggal 2 syawal agar semua orang pondok tidak salah paham dengan ikatan Alif dan Fira nanti."
Terkejut, Zahra sontak menjauh dari Razi dengan tatapan yang agak rumit. Razi takut Zahra menolak keras pengaturan ini--
"Jadi, kami boleh bergosip?" Tanyanya terdengar konyol.
Razi ragu, "Sebenarnya tidak tapi karena ini bukan keburukan jadi tidak apa-apa." Jawabnya seraya menilai perubahan ekspresi istrinya yang terlihat bersemangat?
"Jangan khawatir Mas, masalah ini bukan masalah yang sulit untuk kami lakukan. Bagi kami kaum perempuan, membicarakan dan menyebarkan berita adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuk dilakukan. Hem, sudah lama aku tidak melakukan ini."
Razi yang sempat khawatir, "....." Ia lupa jika istrinya adalah perempuan tulen.
Menyeringai, Razi terang-terangan menatap istrinya dengan pandangan mengancam. "Tapi kamu harus ingat satu hal, saat menyebarkan berita itu jangan lupa untuk mengatakan kepada mereka bahwa berita ini boleh disebarkan kepada siapapun asal jangan sampai di dengar oleh Fira. Karena tujuan adanya misi ini adalah membuat kejutan untuk Fira jadi jangan sampai gagal. Dan kalau kalian gagal menyelesaikan misi ini maka kamu akan mendapatkan hukuman pribadi dariku sementara Fia dan Dira akan menemukan hukuman dari pondok pesantren." Huh, Razi mengancam dengan main-main bermaksud membuat Zahra menjadi lebih serius menyelesaikan tugasnya.
Zahra tahu apa yang ingin suaminya lakukan dan dengan patuh mengangguk-angguk kepalanya patuh tidak ingin membuatnya marah. Jika Razi marah itu adalah bahaya terbesar dalam hidup Zahra. Memang mereka tidak akan adu mulut atau bertengkar tapi Zahra harus rela terkapar tidak berdaya di atas kasur setelah semalaman melayani kemarahan sang suami.
Dia sangat buas, ah!
🐛🐛🐛
3 hari lagi lebaran dan suasana hati ku masih saja terasa buruk.
2 minggu yang lalu Umi dan Abi membicarakan Mbak Annisa bersama Mas Alif. Lalu setelah malam itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya meskipun aku berniat menghindarinya namun tetap saja selalu ada perasaan rindu dari hati ini.
__ADS_1
Berhari-hari tanpa keberadaannya tiba-tiba Umi dan Abi datang kepadaku, mereka mengatakan bahwa pernikahan ku jatuh pada tanggal 2 syawal besok. Jadi aku harus segera bersiap-siap untuk pernikahan yang tidak ku inginkan itu.
Aku seharusnya bisa terbiasa karena Mas Alif sudah memberitahu ku dari jauh-jauh hari bahwa aku sudah di khitbah orang lain dan akan segera menikah saat bulan Syawal nanti. Memang, ia sudah memberitahu ku berkali-kali tapi aku tetap masih belum terbiasa. Aku enggan menikah dengan laki-laki lain dan aku enggan menghabiskan hidup ku bersama laki-laki lain. Meskipun kata orang cinta datang karena terbiasa tapi aku meragukan itu karena aku ini sakit, menyukai saudaranya sendiri yang sedarah. Jadi aku pikir akan sulit untuk sembuh dari penyakit mengerikan ini.
Ah, memikirkannya membuat hatiku selalu saja menjadi sakit dan tanpa sadar aku lebih senang menghabiskan waktu di dalam kamar sendirian. Jika Mas Alif di sini mungkin rasanya akan berbeda tapi faktanya ia tidak pernah pulang. Jangankan pulang, mencari ku saja tidak pernah dan ini cukup membuat ku kebingungan.
Di dalam hati aku bertanya-tanya apakah ia tahu aku akan segera menikah? Ataukah apa ada perasaan tidak nyaman yang tersemat di dalam hatinya ketika tahu aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki lain?
Meskipun kecil, tapi apakah perasaan tidak nyaman itu ada di dalam hatinya?
Aku rasa..penyakit ku semakin parah saja rasanya. Mana mungkin Mas Alif tidak merasa nyaman ketika tahu aku akan menikah dengan orang lain karena yang mengusulkan pernikahan ini sejak awal adalah Mas Alif sendiri. Ia mendorong ku pergi...sangat jauh sampai batas dimana aku tidak akan bisa melihatnya lagi.
Ini sangat sakit, hatiku sangat sakit ya Allah.
"Fira, ayo lihat baju pengantin mu sudah jadi." Panggil Umi.
Mengalihkan pandangan ku dari cermin, aku melihat Umi berjalan mendekati ku dengan senyuman yang sangat manis. Seakan-akan mengirim ku hidup bersama laki-laki itu adalah pilihan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
Memangnya sehebat apa laki-laki itu sehingga membuat Mas Alif, Umi dan Razi sangat antusias menerimanya?
Aku benar-benar ingin melihat batang hidung orang ini!
"Ya, Umi." Jawab ku mematuhinya. Meraih tangan Umi, aku kemudian mengikutinya membawa ku ke ruang tamu. Di sana aku bisa mendengar suara gelak tawa para perempuan yang terdengar dalam suasana hati yang baik.
"Ini calon pengantinnya, Fira, ayo segera coba pakaian pengantin mu." Suara pemilik butik membuat semua orang terfokus memandangi ku. Sekilas aku bisa melihat tatapan iri mereka ketika memandangiku.
Aneh, mengapa semua orang selalu melihat ku dengan pandangan seperti ini? Ini tidak terjadi sehari atau dua hari tapi hampir dua minggu!
Mereka menatapku dengan pandangan yang campur aduk tapi lebih banyak perasaan iri dan godaan. Baik, aku memang akan menikah tapi tidak seharusnya mereka memperlakukan ku seolah-olah akan menikah dengan pangeran Arab. Huh...jelas mereka terlalu berlebihan kepadaku.
"Lihat, pinggang rampingnya sangat cocok dengan gaun ini." Pemilik butik itu sekali lagi membuat perhatian semua orang jatuh kepada ku.
"Benar, baju pengantin ini sangat cocok untuknya. Fira, bagaimana jika kamu mencobanya dulu di kamar? Aku ingin melihat apakah pakaian ini sesuai dengan bentuk tubuh mu." Ucap salah satu perempuan menyarankan.
Mencobanya?
Jika dilihat-lihat pakaian ini sangat rumit jadi mungkin aku akan kesusahan saat mengenakannya.
"Jangan khawatir, aku dan Umi akan membantu mu menggunakannya." Karena pakaian pengantin terkesan rumit maka pemilik butik menyarankan untuk membantu Fira mengenalkan.
Aku merasa sangat enggan tapi ketika melihat tatapan penuh harap semua orang aku merasa tidak enak untuk menolak mereka.
"Baiklah." Ucap ku memutuskan.
Lalu, aku dibawa kembali ke dalam kamar untuk mencoba pakaian pengantin ku.
"Makainya emang susah tapi gak apa-apa kan buat momen sekali seumur hidup." Katanya sambil membantu ku memakai pakaian pengantin ini. Gaunnya yang panjang dan terlihat anggun juga dengan warnanya yang putih lembut memberikan kesan seorang putri yang akan segera bertemu dengan penampilannya.
Melihatnya saja Fira sangat menyukainya tapi karena ini bukan untuk orang yang ia cinta maka ada rasa keengganan untuk memakainya.
"Yah, itu tidak apa-apa." Ucapku dengan senyuman yang coba ku buat sealami mungkin.
Sekali seumur hidup?
Fira tahu ia mungkin akan terlihat jahat saat mengatakan ini tapi jauh dari dalam hatinya Fira tidak ingin menghabiskan waktu sisa hidupnya bersama laki-laki lain. Ia tidak ingin menyakiti perasaan orang lain karena berharap kepadanya, Fira tidak ingin menjebak kebahagiaan laki-laki itu karena jauh dari dalam hatinya Fira tahu bahwa ia sakit.
Sakitnya tidak biasa dan mungkin tidak akan pernah bisa disembuhkan seumur hidupnya.
Setelah satu jam lebih bergelut dengan pakaian pengantin ku, kini saatnya aku menghias kedua tanganku dengan hena. Hena yang laki-laki itu ingin aku gunakan adalah hena coklat dari Mekkah langsung yang katanya laki-laki itu beli sebelum pulang dari masa studinya.
Umi bilang kepadaku saat laki-laki itu pulang dari masa studinya ia ingin memberikan hena ini langsung kepadaku. Tapi karena waktu itu ia ada urusan di kota selama beberapa bulan laki-laki itu tidak bisa memberikan ku. Kemudian saat lamarannya diterima oleh Mas Alif, laki-laki itu bertekad untuk memberikannya menjelang hari pernikahan kami. Dan sekarang, di depan ku sudah ada hena yang akan dihias di tangan ku.
Warnanya cantik sekali mengingatkan saat menjelang malam di kota Mekkah. Langit akan dibaluti sinar coklat yang samar namun menenangkan hati. Itu adalah warna yang sangat cantik.
Apakah laki-laki itu memikirkan pemandangan ini saat membelinya?
"Ulurkan tangan mu." Kata Umi kepada ku.
Aku mengulurkan tangan kananku untuk Umi hias terlebih dahulu. Diam, aku hanya menatap diam tanganku yang sudah mulai ia berikan garis yang indah juga menyenangkan mata.
Hem, hatiku serasa diremas ketika melihat ini. Mengapa..mengapa aku tidak terlahir dari orang tua lain saja agar aku dan Mas Alif bisa bersama?
Ya Allah, mengapa?
__ADS_1
Bersambung...