
Zahra P. O. V
Setelah selesai melaksanakan sholat isya, aku, Dira dan Marwah langsung beranjak menuju stand makanan. Di sana kami dapati sudah banyak santriwati yang mengantri. Sekarang aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, walaupun membosankan akan tetapi jika bersama Dira dan Marwah akan terasa menyenangkan.
"Mbak Nabila kuat juga yah?" Terdengar suara perempuan dibelakang ku. Mereka sedang membicarakan mbak Nabila, ketua petugas kedisiplinan di asrama putri.
Awalnya aku acuh, akan tetapi entah mengapa aku tetap saja mendengar kan pembicaraan mereka.
"Kuat, maksudnya?"
"Iya, mbak Nabila kan dari dulu tetap kekeh memperjuangkan ustad Razi. Padahal terang-terangan ustad menolaknya. "
Deg
Razi, Ustad Razi?
Apa mungkin dia kak Razi?
Tapi bukan kah kak Razi tidak di sini?
Atau jangan-jangan selama ini kak Razi memang di sini?
Buku itu?
Wangi itu?
Apakah ini mungkin?
Aku,
...bahagia.
Aku bahagia Tuhan.
Aku sangat-sangat bahagia.
Aku-
"Zahra, kamu kenapa bengong. Yuk, makanan kamu sudah dibawa Marwah ke me-"
"Dira!" Potong ku seraya memeluk tubuhnya. Aku sangat bahagia. Ia ada di sini. Di sekitar ku.
Bagaimana cara ku mengatakan nya, ini sangat-sangat luar biasa. Bahkan entah kenapa aku sangat bahagia, lebih bahagia daripada mengetahui bahwa Alif juga berada di sini.
"Zahra kamu kenapa?. Kamu o-"
"Dia di sini. " Ucap ku berbisik.
"Dia?"
"Siapa?" Tanya nya terdengar khawatir.
"Pangeran ku."
Tak ada respon, yang ku dapatkan hanya usapan lembut dipunggung ku. Menenangkan.
"Bagaimana kau tahu?" Tanyanya terdengar pelan seraya melepas pelukan kami dan membawa ku berjalan mengikuti nya disebuah meja yang sudah diduduki Marwah lengkap dengan tiga porsi makanan dan air minum.
Aku duduk dengan senyuman yang masih belum bisa aku tinggal kan.
"Jadi?" Tanya Dira menuntut penjelasan.
"Nanti di kamar saja, jauh lebih baik." Ingat ku kepada Dira karena saat ini kami sedang makan.
"Baik." Putus Dira.
"Mbak Zahra kok dari tadi Marwah liat senyum-senyum terus, makin cantik deh." Ceplos Marwah polos.
Aku menanggapinya hanya dengan melempar kan senyum ku padanya seraya fokus menghabiskan makanan ku dengan semangat.
Setelah selesai makan aku, Dira dan Marwah langsung membawa bekas makanan kami untuk dibersihkan. Setelah semuanya beres. Kami pun langsung berjalan menuju asrama kami. Untuk beristirahat dan persiapan tidur.
Saat diperjalanan pulang, lagi-lagi aku merasa diperhatikan. Akan tetapi kali ini aku tidak bisa mencarinya dengan mudah lantaran disekitar ku penuh dengan para santriwati dan santri yang akan pulang ke masing-masing asrama kami.
Entahlah, aku tidak perduli. Jika dia adalah Alif aku tak akan ambil pusing. Sudah ku putuskan bukan untuk melupakan nya. Namun jika dia adalah kak Razi, maka baguslah. Setidaknya dia harus mencari tau kesalahan nya. Mungkin dengan begini ia bisa mengingat semua nya, yang mungkin mustahil untuk di ingat.
"Em, Marwah. " Panggilku membuka percakapan.
Sebelum aku benar-benar yakin bahwa dia adalah kak Razi yang ku cari, aku harus mengorek beberapa informasi tentang nya dari Marwah.
"Iya, mbak. "
"Ka-em.. Maksudku ustad Razi, ya ustad Razi itu siapa?" Tanya ku gugup.
"Ustad Razi, ustad Razi ya ustad di pondok pesantren ini mbak. "
Aku tak puas.
"Kamu mengenal nya? "
"Ya Allah mbak, siapa sih yang tidak mengenal ustad tampan itu. Ustad Razi sangat terkenal dikalangan santriwati mbak, sudah muda cerdas lagi. Apalagi wajah nya yang tampan dan tegas, ma syaa Allah mbak..ciptaan sempurna banget. "
Aku tersenyum geli, kakak ku itu memang tampan dan juga pembawaannya yang tegas sangat menuruni sifat Abi. Tapi aku tidak pernah tau jika kakak ku akan menjadi idola di sini, terlebih itu kaum perempuan. Ah, aku sedikit cemburu.
"Kak Razi itu dari umur remaja telah menuntut ilmu di sini mbak, bahkan ada kabar yang mengatakan jika mbak Razi itu berasal dari kota. Sama seperti mbak Zahra. Dan kabar itu semakin menguat setelah ustad Razi sempat pulang satu tahun yang lalu untuk bertemu sanak keluarga nya. "
Kini jelas bukan, jika selama ini kak Razi berada di sini. Walaupun dari penjelasan Marwah yang ku dapatkan jika ia memang mengabdi kan dirinya untuk menjadi pengajar di sini, dan bukan untuk ku. Akan tetapi aku tetap bahagia. Setidaknya aku berada di tempat yang sama dengan nya. Tak apa. Asal aku bisa bersama nya.
"Akan tetapi ustad Razi kembali ke pondok pesantren beberapa waktu yang lalu dan memutuskan untuk mengajar di sini. Sontak ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi kami Mbak, karena secara tidak langsung kami mempunyai kesempatan untuk bersanding dengan ustad Razi. " Pengakuan Marwah sambil tersenyum malu-malu.
Oh, aku cemburu. Kenapa kak Razi tidak diam saja di rumah. Jika tau begini, aku lebih rela melihat nya duduk manis dirumah daripada menjadi rebutan para wanita.
"Tapi Marwah tau diri kok mbak, ustad Razi gak mungkin tertarik dengan kami yang ada di sini. Ya walaupun jodoh di tangan Allah, tapi yang seperti kami lihat ustad Razi mempunyai adik perempuan. "
Deg
"Namanya mbak Annisa, cantik banget mbak. Pantesan mbak Annisa di sayang banget sama ustad Razi, bahkan saking cocoknya mereka berdua sebagian dari kami berpikir jika ustad Razi itu sebenarnya mempunyai hubungan yang lebih dari itu. Hehe..lucu ya mbak, iya sih. Tapi coba mbak pernah perhatikan wajah mereka berdua, gak ada mirip-mirip nya mbak. Mereka enggak mirip sama sekali, yang ada mbak Annisa lebih mirip sama mbak Zahra. "
Sakit .
Orang lain pun bahkan bisa melihat jika mereka sangat lah dekat. Aku cemburu. Cemburu mengetahui jika kak Razi sangat melindungi kak Annisa dibanding kan aku. Aku tak tau harus mengatakan apa, mungkin aku harus menyerah. Melupakan semua nya. Tentang janji masa lalu.
Hei, kau itu bodoh Zahra.
Janji anak kecil yang baru mengenal dunia? Haha.. Bukankah itu lucu?
Pasti itu dengan mudah dilupakan. Bahkan sangat mudah untuk dilupakan. Dia telah hilang. Dia melupakan nya. Apakah kamu tidak bisa melihat kenyataan yang jelas-jelas menjelaskan semuanya.
Baginya, kamu adalah masa lalu yang tidak berbekas.
Tapi tidak dengan ku, aku tidak bisa melupakan semua nya dengan mudah. Ingatan itu terus saja berputar-putar dalam pikiran ku. Aku ingin berhenti dan melupakan nya. Tapi itu sulit, walaupun aku ingin. Kenapa kak Razi bisa tapi aku tidak?
Aku lelah.
Janji itu terus mengukung ku. Mengikat diriku. Aku ingin lari tapi tidak bisa. Aku ingin terlepas tapi tidak bisa, aku lelah.
Sebenarnya apa yang aku inginkan darinya?
Apa yang aku inginkan dari kak Razi?
Apa?
Aku bingung. Ini sangat membingungkan. Aku tak tau harus bertanya kepada siapa?
Ini tidak adil.
"Ustad Razi tidak pernah tertarik pada siapa pun jika kau lupa Marwah." Ucap Dira yang tiba-tiba telah berada disamping ku.
"Baginya Annisa adalah adiknya dan seorang perempuan yang butuh perlindungan. Jadi jangan coba-coba berpikir jika ustad Razi adalah orang yang gila menyukai adiknya, kita semua jelas tau. Mbak Annisa adalah orang yang lemah secara fisik, itulah mengapa ustad Razi selalu melindungi nya."
Setelah menjelaskan semua pandangan nya terhadap Marwah, Dira beralih menatap ku. Ia tersenyum. Seperti menyampaikan sebuah pesan 'jangan khawatir '.
"Ayo, kita sudah sampai asrama. Dan Zahra, ingat janji mu beberapa waktu lalu, aku harap kau tidak melupakan nya." Ucap Dira mengingatkan aku tentang janji ku beberapa waktu seraya menarik tangan ku untuk masuk dan duduk diranjangnya.
"Aku tidak mungkin melupakan janji yang sudah ku buat, aku bukan dia yang dengan mudah melupakan janji. Terlebih janji itu dibuat sendiri olehnya." Balas ku sarkatis.
Dira merespon ku dengan menggeleng pelan, seakan menyuruh ku untuk menghilangkan pemikiran hal semacam itu dari pikiran ku.
"Kau bukan Allah, jadi jangan mencoba untuk menghakimi orang lain. Jangan pesimis, ingat. Mungkin saja saat ini dia sedang berjuang untuk sesuatu yang kau tidak ketahui." Nasihat Dira kepada ku.
Aku ingin membantah tapi ku urungkan. Karena percuma saja, aku pasti akan kalah.
"Cerita kan." Tuntut Dira kepada ku.
"Cerita kan?. Maksud kam-"
"Katanya bukan orang yang suka ingkar janji. Lha, buktinya sekarang sok bersikap gak tau. " Sindir Dira kepada ku.
Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk melupakan janji ku, ini hanya janji yang beberapa jam ku buat. Tentu saja aku masih ingat.
Janji yang 10 tahun lamanya saja masih ku ingat sampai saat ini, apa lagi yang sekarang.
Tapi mendengar cerita dari Marwah tadi entah kenapa membuat ku menjadi sakit hati. Apakah aku cemburu?
Oh, ayolah.
Aku sangat lah sering merasakan perasaan cemburu.
Tapi kali ini tidak, ini lebih kepada kecewa. Aku kecewa.
Ah, aku tidak bisa menjelaskan nya. Ini terlalu membingungkan.
Aku merasakan sakit didalam hati ku, ini lebih mengerikan saat aku tau bahwa Alif telah memilih Annisa.
Apakah ini wajar?
"Zahra, kamu kok melamun? "
Tanya Dira membuyarkan lamunan ku.
"Ah, aku tidak. " Sangkal ku kepada Dira.
"Baiklah, itu terserah kamu Zahra. Akan tetapi, kau harus ingat. Bahwa apa-pun masalah yang kau pendam dan hadapi, ada aku jika kau lupa. Aku adalah saudari mu, ku pasti kan bukan hanya didunia akan tetapi juga diakhirat. " Ucap Dira serius.
Aku terenyuh, aku bisa merasakan bahwa dirinya benar-benar tulus. Mengapa aku bisa tidak menyadari ketulusan nya?
"Maaf. " Ucap ku seraya berhambur kepelukannya.
"Hem. " Respon Dira singkat, namun bisa ku rasakan sapuan hangat di punggung ku. Lembut.
"Hari ini aku sangat bahagia, Dir. Itu awalnya, sebelum aku mendengarkan cerita Marwah. " Ucap ku memulai percakapan.
Dira diam menyimak seperti biasa. Ia tak bersuara.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa gadis saat menganteri makanan tadi. Mereka mengatakan jika mbak Nabila tidak pernah patah semangat memperjuangkan cinta untuk ustad Razi. Aku sangat bahagia mengetahui jika selama ini pangeran tampan ku ternyata berada disisiku." Ungkap ku tulus.
"Ustad Razi. " Aku tersenyum mengingat sosoknya.
"Aku merindukan nya. " Lalu, dada ku tiba-tiba terasa sesak.
Author P. O. V
"Ustad Razi. " Ucap Zahra seraya tersenyum mengingat betapa mengagumkannya sosok Razi dalam hidupnya.
"Aku merindukan nya. " Isak Zahra tak tahan. Dira semakin mengusap ngusap punggung Zahra lembut. Tanpa Zahra ketahui, Dira tersenyum tulus. Bahagia mengetahui jika perjuangan nya selama ini tidak sia-sia.
Ah, pasti Dia akan senang mendengar semua ini. Sudah lama aku tidak melihat nya tersenyum. Batin Dira tidak sabar.
"Hiks.. Aku tidak tau, tapi saat aku mengetahui jika selama ini dia disekeliling ku-Maksud ku saat tau dia juga berada ditempat yang sama dengan ku.." Zahra terdiam, memikirkan sesuatu.
"Aku semakin merindukan nya. " Ungkap Zahra sendu.
"Aku tidak masalah jika selama ini dia menjadi rebutan oleh wanita lain, karena hati ku mengatakan dia akan tetap kembali kepada ku. Akan tetapi, aku meragu saat Marwah mengatakan bahwa kak Annisa adalah orang yang spesial untuk kak Razi. Aku sakit. Tidak, bahkan mungkin aku cemburu. "
"Tidak, ini lebih dari cemburu. Aku bingung, ini terlalu rumit. " Keluh Zahra yang masih belum memahami perasaan nya.
"Kau cemburu," Putus Dira.
__ADS_1
Zahra terdiam. Mencerna ucapan Dira.
"Dan kecewa. " Sambung Dira.
"Cemburu?. Mungkin kau salah paham. Ini tidak-"
"Kau iya. " Potong Dira.
"Kau merasakan cemburu saat mengetahui bahwa ia sangat perduli kepada orang-orang disekitar nya. Satu sisi lagi, kau kecewa. Jika selama ini orang yang paling kamu percayai telah membuat sesuatu dalam dirimu merasakan sakit dan terluka. Entah itu karena janji atau apa, akan tetapi yang pasti kau kecewa. " Jelas Dira.
Zahra bungkam. Dalam hatinya ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Dira adalah benar. Ia cemburu dan kecewa disaat yang bersamaan.
"Mungkinkah itu wajar?" Tanya Zahra meragu.
Dira melepaskan pelukan nya dan menatap Zahra lembut. Ia seperti menyampaikan sesuatu kepada Zahra.
"Jawaban nya ada pada dirimu. Bahkan Allah sekalipun akan tetap diam jika kau tidak bergerak. Dan hanya waktu yang akan menjawabnya, jika kau ingin tau. " Ucap Dira serius.
Zahra terhenyak, Dira bertingkah aneh lagi. Dira seperti mengetahui sesuatu namun ia menyimpan nya untuk dirinya sendiri.
"Dir, sebenarnya siapa kamu?" Tanya Zahra penasaran. Ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Ia sangat penasaran akan sosok Dira yang tiba-tiba muncul dalam hidup nya. Dan dengan mudahnya Dira memasuki kehidupan Zahra yang sangat tertutup.
"Aku, bukankah sudah ku katakan jika aku adalah Dira. Aku sama dengan dirimu. Aku seorang santriwati jika kau lupa." Jawab Dira santai.
Zahra menggeleng. Tanda tak puas.
Bukan jawaban ini yang ingin didengar. Dira terlalu misterius untuk nya.
"Bukan, bukan ini yang ingin ku dengar." Tolak Zahra.
Dira diam, menampilkan ekspresi stabil nya. Ia tau dan sadar betul jika suatu saat nanti Zahra akan menanyakan semua ini kepadanya. Dan Dira pun sudah menyiapkan sikap yang akan ia perlihatkan kepada Zahra sejak jauh-jauh hari.
"Lalu?" Tantang Dira masih dengan ekspresi stabil dan nada santainya.
Di saat seperti ini, Dira harus pandai memutar balikkan keadaan. Ia yang akan berakhir kalah atau Zahra yang berakhir mempercayai nya. Hanya ada dua pilihan, tidak ada yang lain.
Kalah berati semua berakhir. Dan tak ada kesempatan lagi untuk nya berada didekat Zahra. Dan Dira sangat mewanti-wanti akan hal ini.
"Kenapa kau sangat aneh." Jujur Zahra tenang .
Dira tak merespon bahkan ia saat ini sedang menatap Zahra dengan tatapan yang hanya bisa diketahui dirinya sendiri. Zahra tak risih, bahkan membalas tatapan Dira dengan tenang.
"Kau orang baru dalam kehidupan ku, akan tetapi kau selalu bersikap dan mengatakan sesuatu yang seolah-olah kau selama ini telah terlibat dalam kehidupan sejak dulu. Kau seakan mengetahui kehidupan yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang yang benar-benar dekat dengan ku. " Jelas Zahra mengungkapkan rasa penasaran selama ini.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Zahra mengulangi pertanyaan nya.
Dira diam, memikirkan hal apa yang akan dia lakukan.
Zahra pun diam, menunggu jawaban Dira.
"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Dira. Sebuah pertanyaan bukan jawaban. Tentu saja ini membuat Zahra menampilkan ekspresi kebingungan nya di depan Zahra.
"Kenapa, maksud mu?" Tanya Zahra tidak mengerti.
"Kenapa kau bertanya seperti ini kepada ku, apa kau tidak mempercayai ku?" Jelas Dira memperjelas pertanyaan nya.
Zahra menggeleng kuat. Mematahkan tuduhan Dira. Ia sama sekali tidak berpikir seperti itu.
"Kemarilah." Ucap Dira seraya merentangkan tangan nya.
Zahra hanya menurut saja dan langsung dipeluk oleh Dira.
"Aku tidak akan membuat mu terluka jika itu yang kau khawatir kan. Bahkan aku di sini karena aku ingin kau merasakan sesuatu yang seharusnya kau sadari sejak lama. Aku tidak akan melukai mu, kau adalah orang yang spesial untuk ku. "
Zahra tak merespon. Ia lebih memilih menyimak.
"Kau akan mengenal siapa aku secara perlahan-lahan, tidak sekarang. Karena semua nya butuh waktu dan proses. Dan aku berjanji, setelah hari itu benar-benar datang ku mohon jangan pernah menyesali sesuatu yang sudah terjadi." Ucap Dira lembut.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Zahra lekat.
"Sekarang ayo kita tidur, besok aku ingin mengajak mu ke suatu tempat. Karena besok hari libur jadi kita bebas melakukan sesuatu." Putus Dira seraya membantu Zahra untuk berbaring. Zahra tak bertanya atau pun protes. Ia hanya menurut patuh.
Dira terdiam memandangi wajah Zahra yang baru saja terlelap damai. Ia menatap nya sendu.
Jika hari itu benar-benar datang, aku tak yakin kau akan menepati janji mu terhadap nya. Karena ku tau dan dia pun sadar betul jika hati mu selama ini sudah ada yang menempati. Kau tau? Kau benar. Ia adalah seorang pangeran yang tampan, bahkan bukan hanya sekedar fisik. Akan tetapi hatinya juga. Ia sudah menyerah untuk semua nya. Akan tetapi ia tidak bisa menyerah pada janjinya. Ia sedang berusaha membuat mu terbangun, membuat mu kembali menjadi Zahra kecil nya yang manis. Ia sedang berusaha. Bahkan ia sudah menutup pintu hatinya untuk siapa pun. Karena apa? Karena ia hanya milik mu. Namun, sejauh apa pun ia meyakinkan dirinya bahwa ia hanya milik mu. Ia tetap sadar akan satu hal, jika selama ini hati mu sudah dimasuki orang lain. Dan ia menyerah akan hal itu. Kau tau, aku selalu mendengar nya mengucapkan bahwa "Aku bahagia jika ia bahagia. "
Kau mengerti maksud ku bukan? Ia telah menyerah. Ia telah menyerah.
"Hiks.. " Isak Dira tertahan. Ia membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
Ia tidak ingin membuat tidur yang lain menjadi terganggu apa lagi itu adalah Zahra.
"Tapi dia harus kuat untuk seseorang yang berhasil mengisi hatinya atau tepatnya berpura-pura kuat selama berada di sini. " Ucap Dira bergetar di sela-sela isakkan nya. Dira menatap wajah Zahra sendu. Miris, itulah yang Dira bayangkan pada seseorang.
Ia mengusap puncak kepala Zahra lembut sebelumnya akhirnya ikut berbaring.
\*\*\*
Setelah menyelesaikan acara bersih bersih kamar, Dira langsung mengajak Marwah dan Zahra untuk berkunjung ke rumah umi. Mereka akan membantu Umi memasak di rumah nya.
"Assalamualaikum..Umi, Dira datang." Salam Dira seraya langsung berjalan ke arah dapur dan mendapati Umi dengan beberapa wanita yang sudah tidak asing dikalangan pondok pesantren.
"Waalaikumussalam..ayo sini Dir, bantuin Umi bikin kue untuk para tamu besok. " Jawab Umi seraya mengajak Dira langsung membantu nya. Dira tersenyum lembut dan mengangguk patuh. Ia berjalan mendekati umi tanpa bertanya.
"Sesuai permintaan Umi, Dira bawa Zahra sama Marwah juga. Mereka tidak keberatan membantu Umi di sini. " Ucap Dira menyadarkan Umi bahwa ia datang ke sini tidak sendiri melainkan bertiga.
"Asstagafirullah.. Maaf teh, Umi tidak lihat kalian berdua. Sini bantu Umi juga buat kue, gampang kok kalo sama Umi. " Ucap Umi ramah seperti biasa seraya menarik lengan Zahra dan Marwah dengan lembut.
Zahra tersenyum kikuk mendapati respon Umi, tetap saja walaupun Umi pernah merawat nya namun perasaan canggung itu masih ada.
"Eh, i-iya Umi. " Jawab Zahra canggung.
Dira hanya tersenyum lembut menanggapinya.
Dira, Zahra dan Marwah pun melaksanakan tugas mereka dengan serius sampai beberapa santriwati yang juga berada didapur memulai percakapan.
"Nabila dari tadi aku perhatikan senyum-senyum sendiri, sakit yah? " Ucap seorang gadis memecah keheningan.
Nabila menggeleng kan kepalanya kesal namun tetap mempertahankan senyum manisnya.
"Asstagafirullah.. Nanda kok mikirnya gitu. Gak boleh suudzon tau gak. " Timpal Nabila tidak terima kepada gadis yang bernama Nanda.
"Terserah kamu deh, Nan. Kalo itu membuat kamu bahagia aku enggak apa-apa kok di zolimi kamu. " Putus Nabila tak ingin memperpanjang masalah.
"Makanya kamu cerita dong kalo ada apa-apa. Kan aku berasa gak di anggap kalo begini. " Protes Nanda mengeluarkan unek-unek nya.
"Aku teh lagi bahagia, Nan. Maaf baru ngomong sekarang. "
"Iya, aku maafin kok. "
"Apa ini tentang ustad Razi?" Tebak Nanda.
Deg
Tubuh Zahra langsung tegang mendengar nama Razi di sebut-sebut dalam percakapan mereka.
"Iya, ini semua karena ustad Razi. "
Zahra diam menyimak.
"Kali ini ustad Razi kenapa lagi, hm?. Sampai bisa membuat kamu jadi senyum-senyum gak jelas begini. " Tanya Nanda penasaran.
Zahra menahan nafasnya untuk mendengar percakapan selanjutnya.
"Saat berpapasan tadi aku menyapanya dan dia menyapa ku balik. "
Zahra menghembuskan nafasnya pelan, ada kelegaan yang tersirat dari ekspresi nya.
"Udah biasa itu mah, siapa sih yang gak tau kalo selain tampan dan cerdas ustad Razi juga ramah pada siapa pun. " Balas Nanda tak ingin ambil pusing dengan alasan Nabila.
"Kau salah, ini masih belum berakhir."
"Oke, teruskan. "
"Dia sempat bertanya kepada ku apakah aku akan pergi kerumah Umi atau tidak?"
Nanda merespon cepat.
"Lalu?" Tanya nya antusias.
"Ya aku jawab saja dengan mengiyakan. "
"Bukan jawaban mu, tapi ucapan ustad selanjutnya. " Kejar Nanda tak sabaran.
"Oh, dia berpesan jika membuat kue jangan terlalu manis. Karena keluarga nya tidak terlalu menyukai hal-hal yang berbau manis." Ucap Nabila ringan.
"Pantas saja kau sangat teliti menakar semuanya, ternyata karena ini toh. Owalah, aku turut berbahagia ya, Bil. Akhirnya. " Respon Nanda antusias.
Sementara itu Zahra sudah tak fokus lagi menekuni pekerjaan nya. Ia gelisah.
"Tapi itu bukan lah hal yang membuat ku serasa melayang seperti ini. "
"Maksud mu?"
Zahra *** adonan kue yang ia genggam dengan perasaan kacau. Ada perasaan sesak yang menyelami dadanya.
"Pada saat aku akan melanjutkan perjalanan ku ke sini, ia menghentikan langkah ku dengan sebuah pertanyaan yang langsung membuat ku melayang terbang tinggi."
"Pertanyaan?"
"Iya."
"Tau gak ustad Razi nanya apa ke aku?"
"Mana aku tau, Bil. Kalo aku tau mana mungkin aku se'kepo ini ke kamu."
"Hehe..maaf."
"Terus dia ngomong apa ke kamu?"
"Dia ngomong gini ke aku ' Nabila, apakah kamu sudah ada yang khitbah?' gitu Nanda.." Seru Nabila bahagia.
Zahra memejam kan matanya bingung. Pasalnya ia belum tau apa itu khitbah.
Lama berpikir ia pun teringat akan ucapan Alif hari itu. Hari dimana cintanya di tolak lantaran ia telah mengkhitbah Annisa.
Miris.
Apakah itu berati kak Razi berniat menikahi mbak Nabila?. Batin Zahra terluka.
Tanpa ia sadari ia telah menghancurkan adonan yang sudah tercetak rapi.
Ia meremasnya kuat hingga satu suara membuat nya tersadar.
"Mbak Zahra adonannya han-cur?" Tanya Marwah menatap tidak percaya ke arah loyang adonan yang seharusnya tercetak rapi namun kini telah hancur.
Zahra terkejut dengan apa yang dilihat nya. Ia menggeleng frustasi.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi. Aku tidak bisa beker-"
"Istirahat lah di ruang keluarga, kau butuh waktu. " Ucap Dira seraya menarik tangan Zahra mengikuti nya berjalan ke arah ruang keluarga. Dira tau apa yang dipikirkan Zahra. Namun ia ingin membuat Zahra menjadi seorang Zahra yang tidak pesimis. Dengan kata lain membuat Zahra terbiasa.
"Duduklah, jika sudah selesai aku akan datang menemui mu." Ucap Dira dan langsung pergi meninggalkan Zahra tanpa menunggu jawaban dari Zahra.
Zahra terdiam.
Tangannya ia arahkan untuk menyentuh dadanya. Ia meremat pakaian yang menutupi dadanya.
Sakit.
Itulah yang dirasakan Zahra saat ini.
Ada sesak yang memenuhi rogga dadanya. Ada rasa nyeri disetiap detakan yang berdenyut hampa didadanya.
Ia tak bisa menahan nya lagi .
Jangan ditanya lagi, jawaban nya adalah iya.
__ADS_1
Zahra sedang menangis.
Iya, Zahra sedang menangis.
Dan untuk yang kesekian kalinya, Zahra terluka 'lagi'.
"Kak Razi bohong. " Gumam Zahra di sela-sela tangisan nya.
"Kakak bohong!" Isak Zahra tak kuat.
"Tapi tuan putri harus ingat, kemana pun pengeran pergi pasti akan kembali kepada tuan putri. Karena tuan putri adalah dunia kakak. Karena Zahra adalah pemilik hati kakak. "
Zahra semakin teringat akan janji Razi kepadanya. Ia memukul dadanya kuat.
"Kakak ingkar janji, kakak bilang kemanapun kakak pergi akan pulang dan kembali kepada ku.. Hiks.. Kakak janji karena aku adalah dunia kakak! Aku adalah pemilik hati kakak! Kakak janji akan pulang kepada ku! Tapi kapan?" Suara Zahra frustasi.
"Aku selalu berpikir untuk mengabaikan janji itu tapi tidak bisa. Aku seakan-akan berharap bahwa itu semua akan terjadi. Apa yang harus aku lakukan, ini sakit kak. "
"Aku juga masih mengingatnya. "
"Kakak janji saat bertemu Zahra nanti, kakak yang akan menjadi orang pertama yang membangun kan Zahra. Putri kecil kakak. "
"Aku masih menunggu kak.. Hiks.. Aku masih menunggu kakak. Apa kakak melupakan janji kakak, Kakak akan membawa ku kembali. Membawa Zahra kecil kakak kembali. Tapi kapan?"
"Ini memang mungkin tidak wajar, tapi aku tidak memungkiri semua ini. Ini terlalu sakit Kak. " Gumam Zahra putus asa.
"Zahra?" Panggil seseorang terdengar khawatir.
Zahra kenal suara ini. Bahkan suara yang telah dengan mudah nya menolak kejujuran hati Zahra.
"Alif."
"Kamu kenapa nangis?" Tanya nya khawatir.
Zahra tersenyum miris. Ia menatap Alif kosong.
Zahra P. O. V
Di depan ku sekarang berdiri sosok yang sudah beberapa bulan ini aku dambakan.
Ia menatap ku khawatir atau lebih tepatnya kasihan.
Aku sudah hancur sekarang. Aku tak mempunyai tujuan hidup lagi. Lagi pula Alif telah menolak ku. Keluarga ku membuang ku. Sahabat-sahabat ku meninggal kan ku. Dan pangeran ku telah hilang. Ia membenci ku. Harapan satu-satunya yang membuat ku terus bertahan walaupun harus melalui semua kerumitan ini adalah dia, pangeran ku.
Bahkan saat dirumah dulu aku dan dia tidak pernah bicara baik-baik. Ia selalu saja memarahi ku. Membandingkan aku dengan Annisa, kakak perempuan ku. Tapi apa aku perduli? Tidak.
Aku tidak perduli sekalipun ia memaki ku dengan mengabsen seluruh isi kebun binatang aku tidak perduli. Yang aku tau aku masih bisa mendengar nya menyebut nama ku. Berbicara dengan ku walaupun bukan pembicaraan yang baik.
Itu tidak penting.
Yang aku tau ia masih sudi mau berbicara dengan ku. Aku bahagia.
Apa tidak sakit?
Tentu saja sakit. Ia membanding kan diriku dengan kak Annisa. Tentu saja itu membuat ku terluka dan cemburu. Tapi selama aku bisa menatap dan mendengar suara semua itu tidak masalah. Rasa sakit itu bukan lah hal yang penting.
Karena aku ingin dia melihat ku 'ada'. Bukan mengabaikan keberadaan ku.
"Zahra lebih baik kamu katakan kepada saya, kamu kenapa menangis?"
Alif.
Ah, kehidupan ku telah hilang.
Semua orang membenci ku. Pangeran ku melupakan ku.
Lalu, apa yang aku pikirkan lagi?
Apa yang aku tunggu lagi di saat semua nya telah hilang dan musnah?
Oh, lebih baik begini. Mungkin.
Membuat semua orang membenci ku. Membuat semua orang menatapku sampah. Tak ada yang perduli bukan? Razi tidak akan melihat ku.
Lalu apa yang aku dapat kan jika terus seperti ini?
Mengakhiri semua ini.
Aku harus mengakhiri semua ini.
Tap
Tap
Tap
Sebuah suara langkah kaki dari arah dapur. Ini adalah kesempatan.
Aku tidak perduli lagi, mungkin setelah ini aku akan merasa kan lebih sakit lagi. Tapi itu semua bukan apa apa. Itu tidak ada apa apa nya dibanding kan sakit yang ku alami sekarang.
Suara itu semakin mendekat.
Aku langsung berdiri dari duduk ku. Menatap Alif sendu. Berjalan perlahan mendekatinya.
Hingga beberapa langkah lagi semuanya berakhir.
"Zahra kamu ke-"
Grap
Aku bisa merasakan jika tubuhnya menegang. Nafasnya memburu.
Aku semakin memeluknya erat. Tidak memberikan ia ruang untuk bergerak. Bahkan ia tidak membalas pelukan ku.
Bencilah aku.
Bencilah aku.
Dan ku harap setelah ini semua nya berakhi-
"Asstagafirullah.. Apa yang kalian lakukan!!! " Teriak seorang laki-laki yang telah berdiri dengan wajah terkejutnya.
Aku tidak melepaskan pelukan ku hingga Alif mendorong ku kuat. Aku terjatuh. Terduduk di dinginnya lantai.
Aku tidak menyesal.
Aku tidak merasa bersalah.
Aku tidak merasa malu.
Hatiku telah mati.
Hatiku telah beku.
Tak ada rasa lagi.
Ayo, sebarkan semua ini. Kata kan kepada semua orang bahwa akulah si sampah.
Akulah si hina.
Akulah si kotor.
Sebarkan hingga sampai pada telinga pangeran ku. Buat ia membenci ku. Semakin membenci ku. Inilah yang aku inginkan.
Ini yang ku mau.
"Ada apa ini ribut-ribut Furqon. "
"Ini Abi, gadis ini berniat melakukan sesuatu kepada Gus Fansyah. "
Aku tersenyum kecut. Ayolah caci aku. Maki aku.
"Benarkah itu Fansyah? "
"I-iya Abi, tap-"
"Bawa dia keruangan Abi, panggilkan Abi ketua kedisiplinan asrama putri. " Ucapnya tegas tak mau dibantah. Ah, ini tidak seru.
Padahal aku ingin melihat permainan Tuhan terhadap ku. Aku ingin melihat Tuhan mengakui kehebatan ku dalam permainan ini.
Langsung saja beberapa gadis membantu ku berdiri dan masuk ke dalam sebuah ruangan kerja. Di sana berdiri seorang laki-laki paruh baya yang dipanggil Abi oleh Alif.
Ia terlihat memijit-mijit kepala nya frustasi.
"Zahra, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya nya kepada ku.
Aku mengangkat wajah ku tanpa rasa takut sedikit pun. Ah, ia masih mengingat nama ku. Ingatan nya kuat juga.
"Aku memeluk nya." Jawab ku santai.
"Assalamualaikum.. Abi? " Salam mbak Nabila yang sudah berdiri diambang pintu.
"Waalaikumussalam.. Masuk. " Petintahnya tegas.
"Kau yang akan memberi kan hukuman kepada Zahra jika ia terbukti melakukan perbuatan tercela. "
Nabila hanya mengangguk patuh.
"Memeluknya?" Semua orang kembali fokus kepada ku.
"Kenapa? " Tanya Abi dengan nada penuh selidik.
"Karena aku ingin, aku sudah lama tidak melakukan nya di sini. Aku haus dan aku mem-"
Plakk
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi ku.
Aku tersenyum puas.
"Apakah orang tua mu tidak menga-"
"Orang tua ku telah mati 10 tahun yang lalu, jadi jangan tanyakan tentang mereka. " Ucap ku memotong ucapan sang pelaku utama yang telah membuat pipi ku berdenyut sakit. Nabila.
"Jika kebiasaan mu seburuk itu di luar sana maka jangan bawa kemari, kau datang ketempat ini untuk menghilangkan kebiasaan buruk mu itu. Bukan mengembangkan nya. " Marah Nabila terhadap ku.
Aku mengangkat wajah ku, menatapnya dingin.
"Aku tidak perduli. " Putus ku seraya pergi meninggalkan mereka keluar.
Aku berlari menuju asrama.
Heran.
Mereka tidak menahan ku sama sekali. Baguslah. Toh ini yang ku ingin kan. Semua orang membenci ku.
Aku memasuki kamar asrama dan langsung memilih tidur di ranjang ku. Menenggelamkan semua masalah ku dalam balutan hangatnya selimut.
Aku sakit.
\*\*\*
Author P. O. V
Razi masih mengingatnya dengan jelas.
Zahra memeluk Alif dengan sangat erat. Bahkan ia sambil menangis.
Apakah kau amat sangat menginginkan nya?. Batin Razi sendu.
Ia menatap kamar yang ia tempati sekarang dengan tatapan terluka.
"Kakak gak tau kamu berubah sampai sejauh ini. Kakak gak sadar jika selama ini kamu tidak lagi membutuhkan kakak. "
"10 tahun kakak berjuang agar bisa berada di sisi mu. Tapi ternyata semua nya hanya harapan semu kakak. "
"Asal kamu bahagia kakak juga bahagia, kakak akan tetap menepati janji kakak. Membangun kan mu. Membawa mu kembali menjadi Zahra kecil kakak. Putri kecil kakak. Begitu pun dengan janji yang lain, tidak pernah berubah. Putri kecil kakak adalah pemilik hati kakak. Tapi, hati mu bukanlah milik kakak. Kakak akan menyerah dengan hati mu. Tapi tidak dengan membawa mu kembali." Ucap Razi sendu.
__ADS_1
Mungkin inilah yang terbaik, Zahra lebih bahagia bersama pilihan hatinya. Dan itu bukan aku.
Bersambung...