Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Di sepertiga malam, gadis itu menyibukkan dirinya dengan menangis dan mengadu kepada Allah. Gadis itu seakan mempertanyakan usaha yang ia lakukan selama ini tak ada hasilnya. Dalam keadaan sesak gadis itu memeluk Al-Qur'an nya dengan sangat erat.


"Ya Allah, apakah hamba harus menyerah saja?, apakah hamba harus berhenti saja?," Gadis itu bertanya dengan suara yang putus asa.


Balutan kain muknah yang panjang dan hangat melindungi tubuh gadis itu dari dinginnya malam. Ia juga terlihat cantik dan anggun walaupun ia saat ini sedang menangis.


"Berhenti?, apakah kau sudah tak yakin adanya Allah, hingga kau ingin berhenti dari semua pengorbanan besar yang telah kita lakukan?" Tanya seorang gadis dibelakangnya karena tak terima dengan pernyataan gadis tersebut.


Gadis itu terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap gadis yang menyahuti nya tadi.


"Fia, sejak kapan kamu di sini?" Gadis itu terkejut dengan keberadaan Fia yang tiba-tiba dan kini sudah ada dibelakangnya.


Yah, gadis yang ada di belakang dan menyahuti gadis itu adalah Fia.


Sahabat Zahra.


"Pertanyaan itu tidak penting!" Ucap Fia menahan marah.


Fia mendekat kan posisi duduknya dengan gadis itu. Dinginnya malam tak membuat Fia lemah karena saat ini ia sedang menggunakan muknah panjang yang sama motifnya dengan gadis di depan tersebut.


Fia menatap gadis di depannya dengan lembut dan seakan memohon untuk menjauhkan pikiran tersebut dari hati gadis itu.


"Apakah pengorbanan kita selama ini tak ada artinya, jawab Fira, apakah pengorbanan kita selama ini tak ada artinya?" Tanya Fia lembut kepada gadis yang bernama Fira.


Benar, gadis itu adalah Fira. Gadis yang selalu berusaha untuk dekat dan berteman dengan Zahra namun selalu tak bisa karena Zahra sangatlah sulit untuk didekati.


"Aku gak tau, Fia." Jawab Fira bingung.


Fia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kita melepaskan hijap kita, berpakaian mini tanpa sepengetahuan keluarga di pondok apakah itu namanya bukan pengorbanan?" Tanya Fia ingin jelas.


Fira menatap mata Fia dengan lemah dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Itu pengorbanan besar, Fi." Jelas Fira.


Mendengar jawaban Fira, Fia pun tersenyum seraya meraih tangannya.


"Lantas apakah kita rela melepaskan semua pengorbanan besar tersebut tanpa mendapatkan hasil?" Tanya Fia memancing.


Fira kembali menatap Fia dan menggeleng cepat tanda tak rela.


Fia tersenyum puas dan mengeratkan genggaman tangannya ke Fira.


"Latahzan ukhti, sesungguhnya Allah bersama kita. Yakinlah saudaraku yang cantik, Allah tidak tidur dan tidak akan pernah tidur. Dia akan selalu bersama kita." Terang Fia mencoba menyemangati Fira.


Fira tersenyum dan menutupi wajahnya dengan tangannya karena merasa malu dengan penjelasan Fia.


"Kamu kenapa, Fir?" Tanya Fia penasaran seraya mencoba membuka tangan Fira dari wajah Fira hingga akhirnya berhasil terbuka.


"Aku malu, Fi." Jawab Fira ragu.


"Aku malu sama kamu, Fi."ucap Fira memperjelas.


Mengernyit, "Kamu malu sama aku karena apa?" Tanya Fia semakin penasaran.


"Ya, aku malu aja. Udah,ah, gak usah di bahas. Mending kita ambil air wudhu lagi, kan sebentar lagi mau masuk subuh." Ucap Fira mengalihkan pembicaraan.


"Aku malu,Fi. Aku malu karena kamu bisa menasihati aku. Padahal umurku lebih tua dari kamu, tapi ternyata kamu lebih dewasa dari aku. Namun, aku juga iri kepada mu Fi, kenapa kamu bisa bersahabat dengan Zahra sementara aku tidak?, memang nya apa perbedaan ku dengan dirimu?, bukankah kita sama-sama ingin dekat dan bersahabat dengannya?, aku tak tau. Tapi, mungkin ini adalah yang terbaik untuk Zahra. Hanya untuk misi ini, hanya karena misi ini." Ucap Fira membatin dalam hati dan pergi mengambil air wudhu lagi.


Sementara itu di lain tempat Zahra sedang berusaha untuk memejam kan kedua matanya karena sedari tadi matanya tak bisa di pejam kan.


Zahra membalik-balikkan tubuhnya ke kiri dan kanan namun tetap tak bisa, sehingga akhirnya ia pun memilih untuk menikmati saja saat ini karena ia jarang sekali terbangun di tengah malam seperti ini.


Hingga akhirnya Zahra pun teringat ucapan Alif saat ia sedang mengobrol dengannya di taman belakang sekolah kemarin.


Zahra memilin-milin selimut hangat yang sedang menghangatkan tubuhnya dengan kedua tangannya seraya berpikir keras kenapa Alif tau tentang Annisa?

__ADS_1


"Kok Alif tau yah kalo annisa itu kakak aku?, bukankah aku gak pernah bilang kalo Annisa itu kakak ku." Ucap Zahra bingung.


Zahra merubah posisi tidurnya menghadap ke arah balkon seraya melihat gemerlap bintang-bintang di tengah dinginnya malam.


"Annisa dan Alif?, apa mereka saling mengenal yah?. Kalo iya, dimana dan kapan?" Tanya Zahra semakin bingung dan kembali merubah posisi lagi menjadi posisi semula menghadap langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu.


"Perasaan Alif kan baru pulang dari Mesir, setelah menyelesaikan kuliahnya di Kairo?, tapi kok dia tau sih kalo Annisa adalah kakak aku?, kok bisa?" Tanya Zahra mulai berpikir keras.


Hingga ia berada pada kesimpulannya yang terakhir.


"Apakah mereka pacaran?" Tanya Zahra sedih.


Namun beberapa saat kemudian ia pun tertawa kecil seraya membungkam mulutnya sendiri.


"Hahaha..bodoh kamu, Ra. "


"Pacaran?, ya, enggak mungkin lah Alif pacaran sama Annisa!. Kan Alif sendiri yang bilang kalo dia sangat anti pacaran atau bahkan tidak akan pernah pacaran!"


Di saat sedang asiknya tertawa sendiri, tiba-tiba terdengar suara lembut alunan ayat-ayat suci yang di bacakan oleh Razi. sangat indah dan mengalun, membuat hati Zahra menjadi tenang dan damai sehingga sesak di hatinya terasa hilang dan damai.


"Apakah itu kak Razi?," Ucap Zahra bertanya-tanya.


"Benar, ini suara kak Razi. Suara yang indah, namun kenapa suara ini sangat dekat?, seperti kak Razi yang membaca di depan kamarku?. Benarkah?" Tanya Zahra lagi penasaran seraya bangun dan mendekat kan telinganya ke sisi pintu.


"Kenapa kak Razi seperti berada di depan pintu ini?" Tanya Zahra lagi sambil memegang knok pintu, namun niat untuk membuka pintu di urungkan dan memilih untuk kembali tidur keranjang nya.


Mendengar suara kak Razi mengaji membuat Zahra mengantuk dan akhirnya kembali terlelap.


"*Suara itu, sungguh aku merindukannya. Suara itu, sungguh ku berharap bahwa suara itu hanya untuk ku. Aku berharap bahwa ayat-ayat suci yang kau bacakan saat ini adalah hanya untukku. Aku tak tau tapi aku sangat berharap bahwa kau melakukannya untukku. Entah, namun aku seperti merasa kau sedang menangis untukku saat ini. Benarkah?, entahlah, namun aku merasa begitu."


Zahra Affinisha*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2