Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Lembar Terakhir


__ADS_3

"Kak..I-ni..? " Bingung Zahra sambil menatap Razi shock.


Razi tersenyum hangat dan membisikkan sesuatu kepada Zahra.


"Kakak telah menepati janji kakak yang pertama, membawa putri kecil kakak kembali. " Bisik Razi hangat.


Zahra menatap Razi tak percaya, ia pikir Razi telah melupakan semua nya. Termasuk janji mereka berdua.


"Kakak... Hiks.. " Tangis Zahra langsung pecah dalam pelukan hangat Razi. Razi yang belum siap dipeluk hanya bisa tersenyum tipis.


"Zahra. " Panggil Umi lembut seraya berjalan mendekati Zahra dan Razi. Zahra melepaskan pelukan nya dari tubuh Razi, namun ia sama sekali tak mau mengangkat wajahnya menatap Umi.


"Zahra, liat Umi sayang.. " Tangis Umi memohon.


Zahra masih tak bergerak dan masih dalam posisi yang sama. Ia merasa canggung dan malu di waktu yang bersamaan.


"Maafkan kami, nak. Kami tau kami telah salah paham terhadap diri mu. Kami mengabaikan pertumbuhan mu saat kecil dulu dan memilih sibuk mengurusi urusan bisnis. Kami minta maaf karena telah membuat mu merasa terabaikan dan kesepian. Kami minta maaf jika selama ini tidak bisa menyadari dan melihat kemauan mu, nak. Maafkan ka-"


"Umi. " Potong Zahra cepat. Ia mengangkat wajah nya pelan dan menatap mata Umi nya langsung. Menatap wajah sembab umi nya miris.


"Umi dan Abi gak salah. Gak ada yang salah dengan kalian semua, tapi ini semua karena Zahra, Umi."


"Seharusnya Zahra mengatakan sedari dulu jika Zahra butuh kalian semua, tapi ini salah Zahra! Zahra diam dan memilih menutup mulut! Zahra minta maaf Umi. " Isak Zahra seraya memeluk Umi nya hangat.


Umi membalas pelukan Zahra tak kalah lebih kuat, ia menggeleng pelan dengan semua pernyataan Zahra. Ia tak setuju dengan semua itu.


"Kami yang salah, nak. " Ucap Abi seraya memeluk Umi dan Zahra hangat. Zahra menggeleng keras dalam pelukan mereka.


"Zahra minta maaf, Abi. Zahra sering banget buat Abi marah dan kesel. Zahra sering nyusahin dan ngerepotin Abi. Zahra sering buat Abi malu, Zahra minta maaf Abi. "


"Enggak-enggak! Abi yang salah, Abi yang salah, nak. "


"Gak, gak ada yang salah. Gak ada yang salah. Abi, Umi, kak Annisa dan kak Razi gak salah. Gak ada yang salah. " Putus Zahra tak ingin membuat perdebatan.


"Yah, termasuk kamu, dek. Kamu juga tidak bersalah dalam hal ini." Suara Annisa tulus.


Semua yang di sana pun sepakat mengiyakan hal tersebut. Setelah usai acara maaf-maafan dan melepas rindu ria, mereka semua pun memutuskan untuk memulai acara makan-makan.


Zahra kembali tersenyum setelah sekian lama menunggu. Ia akhirnya mendapatkan apa yang ia cari. Zahra bahagia.


                               ***


Dear, diary.


Malam ini aku dihubungi oleh Ann. Kau tau apa yang dia katakan kepada ku? Hem, akan aku beritahu. Yah, dia mengatakan bahwa aku harus melakukan sebuah tindakan untuk membuat Alif menjadi milikku. Awalnya aku berpikir ini gila, bagaimana tidak? Karena ini adalah sesuatu yang sangat mustahil untuk aku lakukan. Aku harus menembak Alif! Tapi, dear, setelah aku pikirkan secara menyeluruh memang tidak ada salahnya aku mencoba. Lagi pula Ann, benar. Alif adalah cinta pertama ku. Aku harus merasakan pengalaman indah, manisnya masa-masa pacaran. Heh, aku akan mencoba nya besok. Alif harus menjadi milikku! Bukan Fia! Aku tak akan sanggup melihat Alif bersama Fia, sahabat ku. Oh, tidak! Maksud ku mantan sahabat ku. Tuhan, ku mohon jauh dari lubuk hati ku yang paling dalam, kabulkan lah permohonan ku yang satu ini. Aku hanya ingin bersama Alif, cinta pertama ku.


Dear, mungkin hanya sampai di sini saja. Aku lelah. Bye.


Razi menutup lembar terakhir dari buku harian Zahra dengan tersenyum miris. Ia menatap buku berwarna hitam tersebut dengan perasaan terluka nya.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, kak? " Tanya Dira yang sudah berdiri disampingnya. Ia tersenyum kecut kepada Razi. Razi gelagapan dan terlihat membenarkan mimik wajahnya yang sempat sendu beberapa waktu lalu.


"Aku tak tau harus memilih siapa, akan tetapi melihat mu terluka seperti ini dengan perjuangan yang bisa dikatakan sangat tidak mudah untuk dilalui, aku pikir kakak orang yang hebat. " Sambung Fia dengan wajah kalemnya.


Razi tersenyum hangat dan menggeleng pelan.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, kakak tidak apa-apa. Dengarkan kakak, kakak tak pernah mengatakan atau membuat pilihan kepada kalian. Itu tidak benar, kalian tak perlu memihak siapa pun. Kalian cukup mendukung pilihan Zahra dan terus menjaganya. Ajari dia dan tegur dia jika dia melakukan kesalahan. Akan tetapi, bertanya lah terlebih dahulu sebelum memberikan nya sebuah nasihat ketika ia melakukan kesalahan. Kakak gak mau kejadian dulu terulang lagi. Kakak gak mau dia terluka lagi. " Ucap Razi memberikan nasihat di akhiri dengan sebuah senyuman hangat.


Dira dan Fia termenung mendengar nasihat yang Razi sampaikan kepada mereka berdua. Ini terdengar janggal dan aneh. Mereka seakan merasakan jika Razi sedang menyampaikan pesan terakhir nya.


"Kakak mau kemana?. Berlari dari masalah? " Kejar Dira sendu.


Razi tertegun, terlihat berpikir. Kemudian ia kembali menggeleng.


"Kakak bukannya berlari dari semua ini, akan tetapi kakak hanya ingin pergi menenangkan diri. Dan juga kakak ingin meraih mimpi kakak yang sempat tertunda. "


Mimik wajah Dira langsung menegang.


"Jangan bilang kakak akan pergi ke Mesir?" Tanya Dira khawatir.


"Benar, kakak akan ke Mesir. Melanjutkan pendidikan kakak ke jenjang yang lebih tinggi." Senyum Razi tak pernah hilang dari wajah tampan nya.


"Kapan?" Kali ini Fia yang angkat suara.


"Satu bulan lagi, setelah pernikahan Zahra. " Tutur Razi lembut.


"Kakak harus menepati janji kakak yang terakhir , kalian mengerti maksud kakak kan? "


"Tapi kenapa cepat sekali?. Kenapa kakak tidak mau menunggu waktu yang lebih lama lagi, kakak baru saja menyelesaikan pendidikan kakak di sini, apakah kakak tidak lelah atau ingin beristirahat untuk beberapa waktu lagi?" Tanya Fia tak habis pikir.


"Kakak gak lelah, Fi. Apa lagi yang namanya menuntut ilmu, itu bukanlah sesuatu yang melelahkan. Malahan sangat menghibur untuk kakak." Jawab Razi mencoba tenang.


"Tapi kenapa harus di Mesir, kan di Indonesia juga ada, kak?. Apa kakak tidak merasa bosan jika tinggal di Mesir? " Kekeh Fia.


"Itu adalah impian kakak, Fi. Dan juga kakak tidak ingin di sini terus. Kakak ingin lebih sibuk dan cepat-cepat meraih mimpi kakak di sana. Jika kakak di sini terus, yang ada kakak akan terus terjebak dengan semua ini. Kakak akan terus terbayang masa lalu kakak, dan itu sangat melelahkan, Fi."


"Masa lalu apa?, apakah ini berhubungan dengan Zahra atau orang tua kakak?" Tuntut Fia masih belum mengerti.


Razi terdiam. Bingung menjawab apa hingga akhirnya Dira angkat suara.


"Tapi kakak janji yah selalu menghubungi kami, walaupun kakak adalah kakak sepupu kami, tapi bagi kami kakak adalah kakak kandung kami." Sela Dira tersenyum hangat.


"Tentu saja, kalian tak perlu khawatir." Jawab Razi tulus.


"Baiklah, seperti nya kami harus membantu yang lain di dapur. Kami pamit, kak. Assalamualaikum. " Pamit Dira seraya menggiring tubuh Fia yang sempat tak mau keluar. Sebelum benar-benar menutup pintu, Dira menatap punggung teduh Razi dengan tatapan sendunya.


Mungkin ini yang terbaik, kau harus istirahat dan belajar melupakan nya. Aku tau kau sakit. Batin Dira sendu seraya menutup pintu dengan pelan.


Setelah kepergian Fia dan Dira, Razi kembali menatap buku harian Zahra dengan senyuman tipis.


"Allah mengabulkan doa mu, dek. Allah juga meridhoi Nya. Kakak bahagia melihat kamu bisa tersenyum lagi, seperti dulu. Dan hari ini adalah hari yang paling kamu tunggu, dek. Alif akan datang meminta mu langsung dihadapan semua keluarga. Kakak ikhlas dan ridho jika kamu memang menginginkan nya."


Tik.


Satu tetes air mata lolos keluar dari persembunyian nya.


Aku bukan nya berlari, akan tetapi aku hanya ingin beristirahat. Ini melelahkan dan membuat ku terus-terusan merasakan sakit. Aku ingin berhenti, dan itu semua hanya bisa dilakukan dengan menjauh darinya.


 


\*


 


"Jadi, apakah kau akan memaafkan kami berdua?. Maksud ku, kami telah menyakiti mu dan membuat mu dipindahkan ke tempat ini. Ak-"


"Aku tak marah." Sela Zahra.


Ia mengulum senyum manisnya seraya menggapai tangan Ann dan Latifa. Menggenggamnya dengan lembut. Ann dan Latifa tersenyum kikuk mendapatkan perlakuan hangat dari Zahra.


"Bahkan aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua, karena kalian berdua aku bisa berada di sini. Di tempat ini. Dan karena kalian pula aku mendapatkan kebahagiaan ku kembali, dikelilingi oleh orang-orang yang ku sayangi. Terima kasih. " Ucap Zahra tulus dengan senyuman yang tak pernah ia hilangkan sedari tadi. Ann meneguk ludahnya gugup, ia malu. Bukan hanya Ann yang merasakan perasaan malu karena kehangatan sikap Zahra, namun Latifa juga pun merasakannya. Bahkan Latifa sangat menyesali perbuatan nya terhadap Zahra. Ia sangat menyesali nya.


"Zahra, aku minta maaf karena telah membuat mu seperti ini. Aku sungguh tak tau jika kau sangat peduli terhadap ku. Aku..minta maaf. " Pinta Latifa tulus dan terdengar sangat menyesal.


Zahra menggeleng pelan.


"Itu tak usah dipikirkan."


"Yang penting saat ini kalian telah kembali kepada ku, ayo kita mulai semuanya dari awal. "


Ann dan Latifa tersenyum antusias mendengar ajakan Zahra. Lantas, mereka bertiga langsung berpelukan. Menyalurkan perasaan hangat kepada satu sama lain. Berjanji akan terus saling menjaga dan berpegangan erat di saat apa-pun yang terjadi telah terpatri erat di masing-masing hati mereka. Yah, pengalaman mengajarkan mereka bahwa semua nya butuh perjuangan dan komunikasi yang lebih serta terbuka. Mereka berjanji.


"Ekhem." Suara Dewi muncul dari balik pintu kamar. Yah, ini bukan lagi di asrama namun juga bukan lagi di rumah nya. Ini rumah umi, istri dari pemilik pondok pesantren ini. Sekaligus ibu dari Alif.


"Cie yang lagi kangen-kangenan, saking serius nya kita semua yang ada diluar dilupain. Sakit aku tuh. " Suara Fia terdengar mengejek.


Zahra tersenyum simpul dan merentangkan kedua tangan nya lebar. Memberikan gestur agar mereka semua memeluknya. Tentu saja ajakan itu tak mungkin ditolak oleh mereka semua. Lantas dengan antusias nya Fia, Dewi dan Dira langsung berhamburan memeluk Zahra. Mereka semua tertawa bahagia menyalurkan perasaan kelegaan dari hati mereka.


"Lho, Marwah nya mana?" Tanya Zahra setelah menyadari jika ia tak mendapati keberadaan Marwah yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Marwah di sini, mbak. " Ucap Marwah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan dengan riangnya ia langsung berlari memeluk Zahra. Zahra pun dengan sama bahagia nya menyambut dan membalas pelukan Marwah.


Setelah acara kangen-kangenan mereka selesai, mereka pun memilih untuk duduk bermalas-malasan didalam kamar.


"Kalian masih tak ingin menjelaskan sesuatu kepada ku?" Tanya Zahra memulai percakapan yang dialamatkan kepada Fia dan Dira.


"Atau aku ak-"


"Fia adalah adik sepupu ku. " Sela Dira kalem. Zahra tidak merespon. Bahkan ia terlihat memberikan gestur bahwa ia sedang menyimak.


"Bukan hanya Fia, namun Fira juga. Mereka adik sepupu ku. Gus Fansyah juga adalah adik sepupu ku, namun karena ia lebih dulu lahir jadi aku memanggilnya sebagai kakak, karena bagaimana pun juga ia lebih tua dari ku. " Sambung Dira menjelaskan semua ikatan yang ia sembunyikan dari Zahra.

__ADS_1


Zahra terlihat berpikir.


"Jadi, selama ini kalian?"


"Iya. Kau benar." Kali ini Fia yang menyahut.


Ia bisa menebak jika pikiran Zahra mengatakan sesuatu yang mengarah kepada sesuatu yang sudah sangat terencana.


"Kak Razi. " Mulai Fia terdengar serius.


"Kau ingat bukan kak Razi pernah mondok di sini?"


"Iya, aku tau. "


"Kak Razi yang merencanakan semua ini."


"Kenapa? "


"Kau tau, ia sangat terluka dan bersedih ketika kau mulai berubah. Ia selalu menceritakan semua tentang mu jika ia pulang ke rumah. Ia menceritakan jika dirimu tak se'ramah dulu jika bertemu dengan nya. Hingga, pada puncak nya 2 tahun yang lalu. Ketika ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan tinggal di kota. Kami semua menyusun rencana agar dapat kembali dekat dengan mu. Dan itu dimulai dari aku dan disusul dengan Fira. Aku bisa dekat dengan mu tapi Fira tak bisa. Jadi begitulah. " Jelas Fia membuat mimik wajah Zahra seketika murung.


"Lalu bagaimana dengan Alif?"


"Ah, iya. Kak Alif memang bagian dari rencana ini. Namun, kami semua tak menyangka jika permasalahan ini akan berlanjut ke pondok pesantren. Dan yang kau bisa lihat sendiri, Dira pun turut ikut campur." Tutup Fia dengan helaan nafas kelegaan nya.


"Kau bisa merasakan semua ini karena perjuangan kak Razi. " Sambung Fia sendu.


Zahra menatap aneh ekspresi Fia, pasalnya ekspresi tersebut tak menggambarkan wajah kebahagiaan yang seperti ia rasakan. Justru, ekspresi itu bagi Zahra adalah sebuah ekspresi kesedihan. Ada sesuatu yang disembunyikan di wajah tersebut.


"Yah, kau benar. Aku sangat bahagia akan semua ini, perjuangan nya. Ah ya, ini semua bukan hanya karena perjuangan kak Razi juga, akan tetapi kalian semua pun sangat berperan penting dalam hal ini dan aku sangat berterima kasih untuk semua ini. " Ungkap Zahra tulus berusaha terdengar tenang.


Zahra menghela nafasnya pelan, kemudian beralih menatap teman-teman nya ragu.


"Apa ada yang tau jika hari ini ada acara apa di sini?. Mengapa semua orang sangat sibuk dan aku tak diperbolehkan keluar dari kamar ini. Kalian tau, aku sangat bosan. Aku ingin membantu para umi di dapur. Aku juga ingin ikut mengobrol dengan para abi di luar. Tapi kenapa justru aku di sekap di sini sedangkan kalian bisa bebas keluar masuk tempat ini!. Ah, ini sangat tidak adil!." Keluh Zahra. Ya, sejak pagi ia tak boleh keluar dari kamar ini barang sejengkal pun. Ia juga tak boleh ikut campur urusan para orang tua di luar. Jangan kan ikut campur, mendengar pembicaraan mereka saja tidak boleh. Tentu saja semua ini membuat Zahra bosan bercampur kesal. Walaupun semua teman-teman Zahra menemaninya mengobrol di dalam kamar, akan tetapi semua itu sangat tak cukup untuk Zahra. Jauh dari lubuk hatinya, ia ingin sekali keluar dari kamar ini dan ikut bercengkerama bersama yang lain. Ia juga sudah sangat merindukan sosok kakaknya yang tampan. Ah, bukan hanya sosok pangeran nya juga yang ia rindukan. Akan tetapi sosok Alif juga. Ia ingin sekali meminta maaf atas semua sifat dan kelakuan nya yang sangat buruk terhadap Alif. Ia ingin.


"Tentu saja kamu tak boleh keluar, ini kan hari spesial mu. Hari yang kau sangat tunggu Zahra, aku pun sangat iri dengan mu karena ini. " Ujar Dewi riang.


Zahra mengernyitkan dahinya, tak mengerti.


"Bagaimana bisa ini adalah hari yang sangat spesial untuk ku, sedang kan diriku di sini hampir mati kebosanan karena tak bisa kemana-mana!. " Kesal Zahra semakin bertambah.


"Sudah, kau tak perlu memikirkan nya. Kau akan segera mengetahui nya, jadi bersabarlah. " Putus Dira.


Zahra manyun, namun ia tetap saja mengiyakan keputusan Dira. Bagi Zahra Dira itu aneh, bahkan sangat aneh. Dan setelah semuanya terbongkar pun Dira masih tetap bersikap aneh, bukan hanya Dira, namun Fia pun juga mulai bersikap aneh kepada Zahra. Dan Zahra tidak bodoh dengan tidak menyadari semua itu. Iya, dia sangat merasakan ke anehan tersebut. Ia menyadari betul perubahan sikap Fia terhadap nya.


"Em..bisakah aku meminta bantuan kalian semua? Ku mohonnn.. " Ucap Zahra memelas.


"In shaa Allah jika kami masih mampu, bantuan apa? " Jawab Fia kalem.


Zahra menyunggingkan senyum lima jarinya dan beringsut memeluk lengan Fia manja.


"Kau sangat bisa membantu ku dalam hal ini. "


Fia tersenyum hangat mendengar ucapan Zahra, ah ia sangat rindu dengan sikap Zahra yang manis ini.


"Tolong panggilkan aku kak Razi, aku sangat merindukan nya. " Pinta Zahra manja.


Seketika senyum yang sempat bertengger manis di wajah Fia dan Dira langsung hilang. Mereka sedikit bingung harus menjawab apa dengan permintaan Zahra yang satu ini.


"Ya.. Ya.. Ku mohon. " Rengek Zahra.


Fia meneguk ludahnya kasar, melirik Dira. Memberikan sinyal kepada kakak sepupunya itu.


"Hm, Zahra. Itu seperti nya tak bisa kami bantu. " Dira angkat suara.


"Kenapa?" Ini bukan Zahra yang bertanya melainkan Ann. Pasalnya ia juga sudah sangat terhipnotis dengan pesona Razi.


Zahra mengangguk setuju dengan pertanyaan Ann.


"Dia kan laki-laki. " Jawab Dira spontan.


Fia menepuk jidat gemas mendengar jawaban aneh Dira.


"Lalu kenapa jika ia laki-laki, bukan kah ia adalah kakak nya Zahra?" Tanya Ann semakin dalam.


"Iyah, tapi kan di sini ada kalian. Bukan muhrim. "


"Ah, itu. Kami bisa keluar jika itu yang sangat mengganggu. Jadi Zahra bisa bertemu dengan kak Razi. " Kali ini Latifa yang bersuara. Tentu saja pendapat nya sangat ditolak Ann, akan tetapi sangat didukung oleh Zahra.


"Ok, kak Razi sedang sibuk di luar. Ia tak bisa diganggu. " Putus Fia tak tahan.


"Memangnya kak Razi sesibuk apa hingga bertemu dengan ku saja sangat sulit. " Protes Zahra tak terima.


"Dia sedang sibuk membantu kak Annisa di dapur membuat kue, jadi tak bisa diganggu. " Jawab Fia jujur.


Kali ini Dira yang menepuk jidat gemas, pasalnya jika membawa-bawa nama Annisa dalam lingkup Razi sangat lah sensitive bagi Zahra. Yah, walaupun mereka semua sudah saling berbaikan. Akan tetapi semua nya masih terasa canggung.


"Oh, dia sedang bersama kak Annisa. " Gumam Zahra sendu.


Ini aneh, bukan?. Padahal ia sedang bersama kak Annisa, adiknya juga. Akan tetapi kenapa rasanya sangat sakit?. Dada ku juga terasa sesak, apa ini?. Batin Zahra miris.


Ada perasaan menyesal yang menguar dari Fia, ia tak tau jika Zahra sangat sensitif dalam hal ini.


***


"Zahra, gunakan lah pakaian ini. Kau akan terlihat sangat cantik jika memakai pakaian ini, nak. " Perintah umi seraya melayang kan sebuah pujian kepada Zahra jika ia mau memakainya.


"Lho, hari ini emang nya ada acara apa sih umi, kenapa semua orang sangat aneh. Terutama umi, setelah menyekap dan tak membiarkan Zahra keluar tiba-tiba umi datang dan menyuruh Zahra mengenakan pakaian ini!. " Rajuk Zahra memanyunkan bibirnya.


Umi tersenyum maklum seraya menggeleng kan kepalanya gemas.


"Udah, ah. Jangan merajuk dulu, nak. Ini hari penting mu."


Zahra mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Semua orang kenapa sih, setiap Zahra tanya kenapa jawabannya sama semua. Ini hari spesial Zahra, hari spesial apa sih Umi? Kan Zahra lagi gak ulang tahun, juga. "


"Nanti Zahra pasti tau. "


"Tuh kan, ah nyebelin. " Rajuk Zahra.


Umi mengelus pipi lembut Zahra hangat.


"Umi, kak Razi kenapa gak pernah nemuin Zahra hari ini?. Zahra kangen, Umi!" Keluh Zahra menyampaikan uneg-uneg dirinya saat ini.


Umi tersenyum hangat.


"Kakak mu lagi sibuk, dek. " Jawab Umi singkat.


Zahra semakin merenggut mendengar nya.


"Sibuk ngapain?. Kencan sama kak Annisa atau sama Nabila?" Tanya Zahra tak suka. Pertanyaan Zahra justru lebih kepada menuduh Razi yang tidak-tidak.


"Huss, gak boleh gitu, dek. Kakak mu sedang melakukan sesuatu untuk mu. Ini hari spesial mu, jadi dia ingin memberikan sesuatu yang akan selalu kamu kenang katanya. "


Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya tersipu sekaligus penasaran.


"Kak Razi emang ngapain sih, Umi?" Tanya Zahra dilanda penasaran.


"Nanti kamu akan tau sendiri, dek. " Jawab Umi singkat seraya merapikan beberapa pakaian yang berserakan di atas kasur.


Sementara Umi dengan kerjaannya, Zahra justru sedang asik melamunkan sesuatu yang terkadang membuat nya menyunggingkan sebuah senyuman, manis.


                            ***


Razi P. O. V


Suasana rumah Alif tampak ramai dan hangat. Rencana ku sudah sembilan puluh lima persen siap, hanya tinggal menunggu kedatangan Zahra.


Yah, malam ini tepatnya saat ini. Setelah membaca catatan diari terakhir Zahra, aku memutuskan untuk memberi tahu semua keluarga tentang hal itu. Dan Alhamdulillah semua orang menyambut dengan baik rencana ku tersebut. Janji terakhir yang bisa ku berikan kepada dia yang ku rindu adalah hanya ini.


Aku menatap wajah tirus ku di depan cermin. Tidak terlalu menarik dengan setelan baju ala-ala anak pondok, simpel. Aku bukan nya tidak mengikuti zaman dengan hanya menggunakan pakaian seperti ini. Tapi, Aku tahu kondisi, situasi dan tempat. Saat ini aku sedang dalam lingkungan pondok, jadi pakaian nya harus di sesuaikan dengan tempat ku saat ini. Jika ini di rumah, sudah pasti Aku akan mengenakan pakaian seperti halnya pemuda lainnya. Baju santai atau casual yang penting tidak aneh dan terasa nyaman untuk ku.


"Kak. " Panggil seseorang yang ku yakini adalah Dira.


Aku menoleh kepadanya dan memberikan senyum terbaik ku.


"Hari ini Zahra nyari kakak terus. " Ucap nya terdengar hati-hati.


Aku tersenyum kecut, memang sedari pagi aku tidak pernah menemuinya. Aku melakukan itu bukan berarti aku ingin lari dari semua ini, akan tetapi ini aku lakukan karena aku harus menjaga jarak dengan nya. Mungkin dulu, saat di rumah 2 tahun lalu aku bisa menjaga jarak dengan bersikap cuek dan jutek. Tapi, sekarang berbeda. Dia telah kembali menjadi putri kecil ku dan aku tak bisa lagi mengelak dengan berpura-pura tidak perduli padanya. Aku tak bisa.


"Setiap kali Zahra bertanya tentang kakak, kami selalu kelimpungan akan menjawab apa. " Sambung Dira lagi terdengar lelah.

__ADS_1


Aku mengerti, pasti Dira sangat kewalahan menghadapi sifat cerewet Zahra. Aku pun begitu, dulu jika Zahra bertanya sesuatu kepada ku, aku pasti akan sangat kewalahan menghadapi sifat ingin tahunya yang sangat besar. Hem, aku rindu masa-masa itu.


"Terima kasih." Ucap ku tulus sambil mengalihkan pandangan ku. Berusaha tak menatap matanya. Dira itu sangat aneh, ia sangat tau apa-pun yang ku sembunyikan. Bukan rahasia ku, akan tetapi sikap ku. Ia tau jika aku sedang berbohong.


"Jangan bosan mendengar kan perkataan dan keluhan nya." Mohon ku tulus. Aku berusaha bersikap sewajarnya saat ini.


Ia terdengar menghela nafas, "Kenapa kakak tidak bisa melihat bahwa Zahra menganggap kakak lebih dari seorang kakak?. Dia mempunyai sesuatu seperti yang Kakak rasakan. "


Deg


Tidak!


Jangan lagi!


Jangan lagi mengatakan hal yang tidak mungkin seperti itu!. Aku tak ingin terus terjebak seperti ini. Karena Aku tau apa arti dari semua yang tertulis di buku diari itu. Zahra tak pernah mengharap kan ku. Ia mencintai Alif. Ia menginginkan Alif.


"Ayo kita keluar, sudah waktunya." Putus ku mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kakak harus mengorbankan perasaan kakak?. Dia mem-"


"Cukup, Dira!. Dia tak seperti yang kamu pikirkan. Dia menyukai seseorang yang jauh lebih baik untuk nya. Dan semua itu bukan omong kosong belaka, aku tau hal itu. Jadi, ayo lupakan semua masalah ini. Jangan pikirkan yang tidak-tidak dengan diri ku, karena aku baik-baik saja. " Potong ku cepat.


Dira terdiam. Tatapan nya berubah menjadi tatapan yang sangat ku benci. Aku tidak menyukai tatapan itu. Hei, aku baik-baik saja. Aku tidak sendiri jika kamu lupa. Aku bersama Allah. Jika Zahra memang bukanlah jodoh ku maka mungkin itulah yang terbaik. Aku tak mengapa, sungguh.


"Ayo." Ucapnya mengiyakan ajakan ku. Aku berjalan lebih dulu dan tentunya yang langsung di ikuti Dira di belakang ku.


Setelah sampai ruang keluarga di sana sudah ku dapati semua keluarga ku sudah berkumpul. Aku mengucapkan salam sebelum ikut mendudukkan diri ku di salah satu sofa. Dira sudah pergi entah kemana aku tak tau. Mungkin pergi menyusul Zahra dan teman-teman anehnya. Mengingatnya itu sangat menggelikan.


Dan tak lama kemudian sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Zahra terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan gamis syar'i berwarna merah muda yang lucu. Sudah ku duga, ia pasti akan berlipat-lipat sangat cantik jika menggunakan pakaian ini. Ah, syukurlah, seperti nya ia menyukai pakaian pemberian ku itu. Tak ada yang tau selain Umi, tapi aku jamin Umi tak akan pernah mengatakan hal ini kepada Zahra atau pun yang lain nya.


"Kak Razi!" Panggilnya merajuk membuat lamunan singkat ku langsung hilang. Zahra berjalan mendekati ku dengan langkah yang sengaja ia hentak-hentakan. Terlihat lucu dan manis.


"Kakak kemana aja, sih?. Zahra kangen! " Rajuknya seraya memeluk lengan ku manja.


Aku bahagia, namun sebelum benar-benar terlarut aku langsung tersadar akan sesuatu. Semua orang menatapku aneh, termasuk Alif. Tidak, ini tak boleh.


Dengan susah payah aku mengumpulkan suara ku dan meneguk ludah ku kasar.


"Zahra, hei,"


"Duduklah di antara Umi dan Abi. Kau tak boleh seperti ini." Peringat ku hati-hati tak ingin merusak suasana hati nya.


Ia menggeleng kuat.


"Kakak jahat!, kakak gak mau deket-deket sama Zahra lagi, yah? Kakak jahat banget dari tadi pagi kakak gak pernah nemuin Zahra, Zahra kan kangen sama Kakak tapi ternyata kakak gak mau ketemu sama Zahra, Zahra kesel?!" Keluhnya terdengar serak. Astaga, kenapa dia terlihat sangat manis jika merajuk seperti ini?. Tapi apa tadi, suaranya serak!. Oh, astaga ini pasti karena ia sedang menahan tangisnya.


"Zahra sayang, kakak bukannya gak mau ketemu sama Zahra. Tapi kakak beneran sibuk, sayang. Jadi kakak gak bisa bertemu dengan mu, dek. Hei, sudah. Jangan menangis, putri kakak lebih cantik jika sedang tidak menangis. Apa lagi saat ia tersenyum, ia sangat terlihat cantik dengan seperti itu. Oke, nanti setelah acaranya selesai kakak akan menemui mu. Tapi dengan satu syarat, duduklah di antara Umi dan Abi dengan patuh. Mengerti?"


Zahra tersenyum patuh dan mengangguk. Tapi apakah aku salah lihat?. Zahra ah tidak, tapi pipi Zahra terlihat merona?.


Mungkin, mungkin aku salah lihat.


Sesuai dengan perintah ku, Zahra langsung duduk di antara Umi dan Abi. Aku tersenyum kecut dan lebih memilih menundukkan pandangan ku. Berusaha menutup kuping ku dengan rapalan-rapalan ayat suci Al-Qur'an yang memang dengan kuasa Allah bisa ku hapalkan.


Hingga suara Alif pun bergema di ruangan ini, suara yang penuh dengan wibawa. Meminta dengan penuh pengharapan jika permintaan nya langsung di iyakan oleh sang putri.


Aku meremat tangan ku sakit, hati ku terasa sesak dan nyeri. Ini membuat ku sangat tidak nyaman dan risih. Aku tak kuat!


Aku tak kuat!.


"Zahra Affianisha, mau kah engkau menerima permintaan ku ini. Menjadi pendamping hidupku di saat susah mau pun senang. Di saat suka maupun duka dalam ikatan rumah tangga, menjadi ibu untuk anak-anak ku kelak dan menjadi rumah untuk kembali di saat lelah maupun letih. Mau kah engkau menjadi pelengkap separuh agama ku?" Ucap Alif lantang dan tegas.


Aku menahan nafas ku sakit, tak ingin mengangkat pandangan ku takut. Hingga satu suara berhasil membuat ku tersadar akan sesuatu.


"I...iiya. Aku mau." Ucap Zahra terdengar gugup dan malu-malu.


Aku tersenyum miris, riuh suara ucapan bahagia dan ucapan selamat terus bergema di ruang ini.


Aku mengangkat wajah ku perlahan, menatap wajah Zahra yang terlihat sangat bahagia. Ia tersenyum malu-malu di sana, menyembunyikan rona wajahnya dalam pelukan lembut Umi.


Aku ikut tersenyum, akhirnya semua ini benar-benar berakhir. Akhirnya semua ini benar-benar jelas. Sudah saatnya memang, sudah saatnya seperti ini.


Satu hal yang harus ku sadari dengan semua ini, bahwa aku tak punya pilihan selain pergi. Semuanya telah hilang dan berakhir. Aku seharusnya menyadari semua ini dari jauh-jauh waktu, jika mencintanya memang harus berakhir sakit.


Tidak!


Ini bukan salah nya, bukan juga salah sang Kuasa. Akan tetapi ini memang murni kesalahan ku. Aku seharusnya bisa menahan perasaan ini, seharusnya aku bisa.


Pah, mah, bagaimana ini?. Aku tak tau jika rasanya akan sesakit ini.


"Kak. " Panggil Dira yang sudah berdiri di samping ku. Aku menoleh dan menemukan jika dirinya saat ini sedang tersenyum hangat kepada ku. Walaupun saat ini ia sedang tersenyum, akan tetapi matanya menjelaskan semuanya. Matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.


Aku membalas senyuman nya dengan tersenyum hangat pula. Walau bagaimana pun aku harus kuat. Ini pilihan ku bukan?


"Dira butuh bantuan kakak di luar, bolehkan?"


Aku tersenyum hangat lagi dan mengangguk pelan.


Dira berjalan mendahului ku. Aku memberikan salam kepada yang lain dan berlalu mengikuti langkah Dira. Aku tak tau kemana ia membawa ku, kami keluar. Seperti nya ke arah gerbang.


"Pulang lah." Ucapnya datar.


Aku mengernyitkan dahi ku tak paham.


"Kau sedang tidak baik-baik saja, jangan terlalu memaksakan diri." Ucapnya masih terdengar datar. Ia membalikan badannya menghadap ku. Aku menatap wajahnya yang terlihat basah. Ia menangis.


"Apa kau pikir aku bodoh?, kau sangat terlihat menyedihkan saat ini jadi pulang lah, biarkan aku yang akan mengurus yang lain di sini."


Aku tersenyum hangat dan menepuk pundaknya lembut.


"Kau tak perlu seperti ini, sungguh ak-"


"Jangan memaksakan diri ku bilang!. Apa kau pikir saat ini aku sedang bercanda?, kau terlihat sangat kacau dan menyedihkan saat ini!. Jika masih tetap keras kepala dan tak perduli dengan semua ini tapi setidaknya pikirkan hati mu!!"


Aku terdiam, "Kenapa kau sangat keras kepala, apa kau tau saat ini dirimu terlihat sangat pucat!. Dengan keadaan seperti ini memang nya orang mana yang akan mengatakan jika keadaan mu saat ini baik-baik saja?. Kau jangan bodoh!, lihat hati mu!, dia sakit, dia kelelahan, dia lelah, kak!"


"Apa kau akan terus-terusan mengatakan 'tak apa-apa' di saat hati mu selalu terluka?. Dan ya, ini untuk yang kesekian kalinya!"


Aku bungkam, Dira benar. Selama ini hati ku memang tak pernah baik-baik saja, aku memang selalu menyangkalnya jika selama ini aku baik-baik saja.


Tapi saat ini efek nya luar biasa sangat menyakitkan. Aku sangat sangat terluka dengan semua ini. Aku sakit.


"Aku tak bisa pergi walaupun aku mau, ini adalah hari spesial Zahra. Hari bahagia nya." Ucap ku mencoba terdengar baik-baik saja.


Dira menatap ku nyalang. Aku tau adik ku yang satu ini memang keras kepala.


"Pulang lah, kau tak perlu memikirkan hari ini. Kau bisa datang di hari pernikahan Zahra satu bulan lagi, tapi sebelum itu pulang lah. Persiapkan hati mu untuk sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Kau tak perlu khawatir dengan yang di dalam, aku bisa mengurusnya." Dira berucap sarkas, membuat ku seketika terguncang.


Terdiam. Menyiapkan hati untuk sesuatu yang lebih menyakitkan. Ah, seharus nya aku sudah tau akan hal itu.


Menghela nafas, "Baiklah, kakak pulang. Tolong sampaikan salam kakak kepada mereka semua." Putus ku akhirnya. Dira mengangguk. Kini tatapan nya lebih lembut dan lunak dari sebelum nya.


"Kau harus istirahat. " Gumamnya.


Aku berjalan meninggalkan Dira yang masih berdiri teguh di sisi gerbang. Aku membawa pandangan ku ke sembarang arah. Ah, ternyata patah hati sesakit ini. Pantas tak banyak orang yang berakhir mengakhiri hidupnya lantaran putus cinta.


Setelah sekian lama berjalan, sampailah aku di depan gerbang sebuah rumah mewah yang sedang ku tinggali saat ini. Aku memasuki halaman rumah dan berakhir masuk ke dalam rumah. Ku lihat semua dekorasi indah yang menghiasi rumah ini, semuanya adalah dekorasi kesukaan Zahra. Semua tata letak barang dan warna cat tembok ku sesuaikan dengan kesukaan Zahra. Setelah puas menatap semua dekorasi tersebut, aku berjalan menaiki anak tangga pelan. Sampai akhirnya sampai lah aku di sebuah kamar. Kamar dengan nuansa garden yang semakin terlihat alami dengan suasana hutan di sini. Aku tersenyum kecut.


"Akhirnya sudah pasti begini. " Ucap ku lelah seraya menjatuhkan badan ku di atas kasur. Hingga akhirnya aku pun jatuh tertidur.


                            ***


"Papah! " Panggil ku setelah mendapati wajah papah di samping ku.


"Hei, jagoan papah sudah bangun rupanya. Bagaimana tidurnya, hem?" Tanya nya seraya membantu ku untuk duduk.


Aku mengucek-ngucek mata ku, menyelaraskan sinar matahari yang masuk ke dalam retina mata ku.


"Aku baik, pah. " Jawab ku asal.


Papah terdengar tertawa mendengar jawaban ku.


"Jagoan papah jangan nakal, yah? Harus jadi orang yang baik dan penurut. Jangan nyusahin orang lain selama papah dan mama pergi, ok?"


"Kemana, Pah?" Tanya ku mengabaikan pertanyaan papah.


Papah tersenyum lembut seraya mengusak rambut ku.


"Nanti Razi pasti tau, kok. Tapi yang jelas, papah sama mama sangat berharap Razi akan menjadi sosok yang kuat dan hebat. Dan untuk semua nya, tolong maafkan papah dan mama. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2