Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Sekotor Itukah Aku Part 21 End


__ADS_3

Sekotor Itukah Aku Part 21 End


Ia dengan gagah dan berkeyakinan tinggi menatap mata tajam laki-laki paruh baya yang ada di depannya. Meskipun sudah menua dan dimakan usia namun ketajaman mata laki-laki paruh baya itu sama sekali tidak berkurang, justru menurut pemuda yang kini sedang berhadapan dengannya, laki-laki paruh baya ini mempunyai mata yang lebih tajam dari 10 tahun yang lalu.


"Alif," Laki-laki paruh baya itu memegang pundak Alif dengan pandangan seorang Ayah yang tegas dan tidak tersentuh.


"Mulai hari ini tanggung jawab untuk mengurus putriku akan berpindah kepada mu dan oleh karena itu sebagai seorang Ayah yang akan ditinggal oleh satu-satunya putriku, aku mohon tolong jaga ia dengan baik. Jangan sampai ia terluka atau kau melukainya karena orang yang akan merasa paling sakit adalah aku, Ayah yang sudah membesarkannya." Ketika mengatakan ini kedua mata laki-laki paruh baya itu terlihat basah sehingga membuat tatapan tajamnya meredup.


Putri satu-satunya hari ini akan resmi menjadi milik orang lain dan sebagai Ayah, ia tentu saja merasakan perasaan tidak rela melepaskan putrinya ke pelukan orang lain meskipun orang itu adalah putra yang sudah ia besarkan dengan kedua tangannya sendiri.


"Abi, yakinlah bahwa satu-satunya orang yang paling berharga di dalam hidupku adalah Fira. Aku tidak akan pernah membiarkannya terluka apalagi orang yang melukainya adalah aku karena sama seperti Abi, orang yang akan merasa paling terluka adalah aku." Dia mencintai Fira dan perasaan ini mungkin sudah ada sejak kecil meskipun ia tidak menyadarinya pada saat itu.


Perasaan cinta yang ia rasakan mungkin bisa dikatakan sebagai perasaan yang posesif karena Alif sangat menyadari bahwa ia tidak bisa jauh dari Fira, ia juga tidak bisa melihat Fira terlalu dekat dengan laki-laki lain meskipun itu hanya sekedar berbicara santai. Ia tidak suka semua itu dan terkadang berpikir untuk mengurung Fira hanya untuk dirinya sendiri. Hanya mereka berdua, di suatu tempat yang hanya mereka berdua tahu.


Meskipun tidak suka, Alif menahannya karena ia sadar Fira punya orang-orang yang sayangi di sekitarnya. Oleh karena itu, selama tidak bersama laki-laki lain Alif memberikan Fira ruang untuk selalu terhubung dengan orang-orang disekitarnya.


🍃🍃🍃


Tangan ku rasanya sangat kedinginan meskipun aku sudah beberapa kali meremasnya kuat untuk mendapatkan kehangatan. Itu akan selalu berakhir sia-sia saja karena rasanya masih saja sangat dingin.


Lukisan hena yang indah terukir manis di kedua tanganku. Jari-jari yang biasanya tidak menarik kini tiba-tiba sudah bermetamorfosis menjadi keindahan yang memanjakan mata, aku sebagai pemilik jari-jari ini juga tidak bisa memalingkan wajahku dari ukiran indah ini. Hem, ini sangat indah dan orang-orang di sekeliling ku pun mengakui hal yang sama. Mereka bilang warnanya sangat bagus dan terlihat serasi dengan kulitku yang langsat.


Laki-laki itu sangat pintar memilih warna, apakah ia pernah melihat warna kulitku? Atau ini hanya tebakannya saja karena biasanya kulit perempuan manapun akan seperti ini.


Ini indah, tapi aku tidak menyukainya.


Bayangan akan apa yang terjadi nanti malam terus menghantuiku. Aku ingin melarikan diri ke suatu tempat untuk bersembunyi tapi aku takut semua orang akan berteriak marah kepada ku karena bersikap ceroboh. Aku juga takut jika Mas Alif membenciku, lari dari pernikahan yang ia buat adalah hal yang paling menakutkan.


Membicarakan tentang Mas Alif, apakah ia sudah datang? Jika sudah lalu mengapa ia tidak datang menemui ku di sini?


Apa karena ia sedang sibuk dengan pernikahannya juga?


Tapi Umi tidak pernah mengatakan apapun mengenai pernikahan Mas Alif. Jika Mas Alif belum mempersiapkan pernikahan maka kemana saja ia selama ini?


Kenapa tidak datang mencari ku?


"Aku haus." Ucapku merasa lelah.


"Diam di sini, aku akan segera mengambilkan mu air minum." Dira bangkit dari duduknya, menepuk pundak ku pelan ia lalu pergi meninggalkan ku sendiri di sini. Hem, ini adalah kamar ku yang sudah dihias indah dengan ber-bagai macam bunga pengantin yang segar juga sangat harum.


Kata Umi, bunga-bunga ini tadi malam dibawa oleh calon suamiku. Suamiku mengatakan kepada Umi bahwa aku sangat menyukai bunga-bunga ini jadi dia turun tangan sendiri untuk mencarinya dan menguraikannya menjadi serpihan kelopak yang beraneka ragam juga memanjakan mata.


Meraihnya segenggam, aku kemudian mengangkat tangan ku untuk menghirupnya sepuas hati. Di dalam benak aku bertanya-tanya mengapa laki-laki ini sepertinya tahu tentang apa yang aku sukai?


Apakah selama ini ia sudah mengamati ku?


Tapi siapa?


Ah, aku tidak akan pernah tahu sebelum bisa melihatnya secara langsung. Tapi aku tidak ingin melihatnya, aku tidak bisa memberikannya sebuah perasaan kepalsuan. Jadi, haruskah aku lari?


Mataku lalu terjatuh pada jendela kamarku yang sudah dihias indah. Sejenak, ketika melihat ini aku lupa tujuan ku untuk menatap jendela. Mereka terlalu indah untuk diabaikan!


Tapi tidak, aku tidak akan tertipu karena jika terus diam seperti ini aku tidak hanya akan menghancurkan perasaan orang lain namun diriku juga. Aku ingin pergi-


"Lari dari sini, yakinlah kamu akan sangat menyesalinya seumur hidup." Suara Dira mengagetkan ku.


Menyesalinya seumur hidup, benar, jika Mas Alif tahu aku lari maka orang yang akan paling marah adalah dia. Mas Alif mungkin tidak ingin lagi melihatku di masa depan dan aku pikir hal yang paling menyakitkan adalah kehilangannya.


"Aku tidak ingin lari, kok." Bantah ku seraya duduk kembali di tempat ku semula.


Meliriknya, "Aku hanya bosan duduk sendirian di sini dan ingin melihat pemandangan yang ada di luar untuk menghilangkan kejenuhan." Sambung lagi ingin lebih meyakinkannya. Seharusnya ia cukup mengerti bukan apa yang aku rasakan dan tidak merasa curiga lagi?


"Lucu sekali, satu-satunya pengantin wanita yang aku lihat merasa bosan dengan kamar pengantinnya sendiri hanya kamu seorang. Biasanya pengantin wanita akan sangat gugup di dalam kamar ini, mereka tidak ingin bergerak atau melakukan apapun yang bisa merusak keindahannya." Dira sepertinya sedang mengejekku.


Dira, mungkin itu berlaku untuk mereka yang saling mencintai. Atau mungkin itu juga berlaku untuk setiap orang yang belum merasakan cinta, tapi aku sudah. Aku mencintai laki-laki lain dan harus menikah dengan laki-laki yang tidak ku kenal, rasanya tentu saja sakit.


Jadi aku tahu, mungkin kamu tidak mengerti apa yang ku rasakan.


"Dimana yang lain?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan, aku tidak ingin berduaan dengan Dira karena dia terlalu jeli dengan situasi ku saat ini.


"Mereka akan segera datang." Jawab Dira sambil memberikan ku segelas air putih.


"Di luar sangat ramai, orang-orang pondok sangat senang dengan acara pernikahan mu. Mereka bilang ini adalah momen yang tidak bisa dilupakan." Ceritanya setelah duduk nyaman di samping ku.


Aku tersenyum tipis, menganggukkan kepala ku merasa setuju dengan ucapannya. Aku memang tidak terlalu terkenal di sini, tapi sebagai putri dari pemilik pondok pesantren tentu saja pernikahan ku adalah momen yang tidak bisa dilupakan.


Cklak


Pintu kamar ku tiba-tiba dibuka, memperlihatkan wajah konyol Fia yang sudah tampil cantik dengan gamisnya yang sudah di modif dengan beberapa kain kebaya. Itu terlihat sangat cantik.


"Fira, Mas Alif dibawah sangat tampan! Dia terlihat gugup saat berhadapan dengan Pak kyai-"


Plak


Zahra dengan dingin memukul kepalanya, ia terlihat mengatakan sesuatu kepada Fia melalui tatapan matanya tajam. Mungkinkah itu adalah sebuah ancaman?


Tapi mengapa Zahra harus mengancam Fia-ah, jangan-jangan mulut ember Fia sudah menyebarkan rahasia ku kepada Zahra. Tidak salah lagi, Fia pasti membagikan rahasiaku kepada Zahra karena ia sangat menyukai Zahra selama ini.


Aku memang agak kesal tapi Fia bilang tadi ada Mas Alif di bawah?


Itu artinya Mas Alif datang ke acara pernikahan ku, tapi mengapa ia tidak datang menemui ku?


Mengapa ia hanya berdiam diri di bawah, apakah dia tidak merindukan ku setelah 2 minggu lebih tidak bertemu! Kemarin saja saat lebaran ia tidak datang mencari ku, mengapa Mas Alif tidak pernah menemui ku?


"Kenapa Mas Alif tidak datang menemui ku?" Tanyaku merasa sedih.


Tiba-tiba, semua orang yang ada di sekeliling ku menjadi terdiam. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan dan membuat ku bertanya-tanya ada apa dengan orang-orang pondok selama ini?


Kenapa mereka selalu melemparkan ku dengan tatapan ini?


Mereka seharusnya mengatakan apa yang ada di pikiran mereka saja daripada melemparkan ku tatapan aneh itu!


"Dia akan segera datang, jadi kamu tidak perlu khawatir." Zahra menghibur ku dengan senyuman manisnya yang tampak sangat tulus. Ini, aku sedikit tidak terbiasa dengan sikap Zahra yang lembut seperti ini.


"Duduklah, acara mu akan segera di mulai." Ucapnya lagi sambil menekan bahu ku ringan agar duduk kembali ke tempat ku.


Aku duduk dengan patuh, meremat tangan ku merasakan kekhawatiran yang tiba-tiba melonjak di dadaku. Saking gugupnya, aku bisa merasakan kedua kakiku yang sedang bergetar samar menunjukkan betapa paniknya aku sekarang.


"Dimana Umi-"


Cklak


"Umi!" Panggil ku panik ketika melihat Umi masuk ke dalam kamar ku.


Umi tersenyum lembut melihat ku, menutup pintu kamar ia lalu berjalan mendekati ku dengan gerakan isyarat agar aku tidak boleh berdiri. Cukup duduk dan ia akan datang kepadaku.

__ADS_1


Patuh, aku duduk menunggunya.


"Sebentar lagi sayang, jadi kamu harus lebih tenang." Ucapnya setelah mencium kedua pipi ku. Ia lalu mendudukkan dirinya di samping ku dengan kedua tangannya yang masih dengan lembut menggenggam tangan kanan ku. Memijit-mijitnya dengan gerakan ringan Umi mungkin bermaksud menenangkan perasaan gugup ku.


Hem, ini aneh sekali. Padahal tadi aku tidak merasakan gugup tapi kenapa tiba-tiba sekarang menjadi sangat gugup? Aku bahkan lebih bingung lagi dengan suara debaran jantung ku yang terdengar jelas di kedua telingaku. Membuat ku agak takut jika Zahra dan Umi mendengarnya karena saat ini mereka berdua sangat dekat dengan ku.


Merasakan suasana yang sepi, tiba-tiba sebuah suara yang mengalun lembut namun agak samar bisa aku dengar dari luar. Jika diperhatikan dari alunannya yang indah mungkin orang itu sedang membaca Al-Qur'an, ayat-ayat suci Allah yang sangat indah.


Suaranya begitu lembut, sejenak aku memikirkan bahwa orang yang sedang membaca Al-Qur'an ini adalah Mas Alif. Aku mengatakan ini karena suaranya sama persis dengan Mas Alif, begitu merdu dan mengalun syahdu.


Suara itu seolah menarik ku untuk mengikutinya pergi, memberikan sebuah perasaan bahwa ada sesuatu yang manis ingin ditujukan kepada ku. Aku mengakui bahwa mendengar suara ini membuat hatiku berdebar kencang karena terlena, kedua tangan ku pun tidak bisa lepas dari pengaruhnya. Karena suara ini kegugupan ku semakin meningkat saja dan tiba-tiba ada perasaan haru yang aneh menyelimuti hatiku. Rasanya aku sangat gugup juga malu-malu, dan ada perasaan rindu yang kuat ingin segera dilepaskan. Ini...ini karena suara yang mengalun lembut ini. Suara yang tidak asing untuk ku.


Aku bukan orang naif yang tidak bisa membedakan perasaan rindu juga perasaan palsu untuk penghiburan diriku karena sangat jelas bahkan aku sangat yakin bahwa ini adalah suara Mas Alif.


Mas Alif sedang membicarakan ku sebuah surat cinta terbaik di dunia ini, sebuah kata-kata manis yang ditulis Sang Pencipta untuk semua hamba-Nya yang bertaqwa.


Namun, jika itu benar Mas Alif maka apa yang dilakukan calon suamiku di bawah? Bukankah seharusnya yang membaca Al-Qur'an ini adalah calon suamiku?


Tapi mengapa tugas ini diberikan kepada Mas Alif? Huh, jangan bilang jika calon suamiku ini tidak bisa membaca Al-Qur'an!


Setelah sekian lama mendengarkan alunan indah itu bergema di dalam kamarku, perasaan tidak nyaman yang sempat ku rasakan malam ini akhirnya tersapu bersih dengan alunan penuh kerinduan ini. Menyiram hatiku dengan sapuan yang amat sangat menyejukkan sehingga suasana berat yang sempat ku rasakan akhirnya menjadi lebih ringan dan nyaman.


Ah, sudahlah!


Karena tidak mungkin lari dari semua ini maka pasrah saja. Biarkan waktu yang memberikan jawaban kepada ku apakah hati ini bisa berpaling atau tidak. Aku hanya perlu berpasrah diri dan mengikuti alurnya saja.


Lama mendengarkan suara penyejuk hati itu, aku akhirnya bisa mendengarkan jika pemilik suara ini atau mungkin aku bilang Mas Alif mengakhiri bacaan doanya. Lalu suasana kembali sunyi.


Tidak hanya di dalam kamarku tapi di luar juga aku tidak bisa mendengarkan apapun.


"Ini sudah waktunya." Bisik Umi sambil mengeratkan kembali genggaman tangannya di tangan kananku. Ini mungkin bentuk penghiburan Umi agar aku bisa lebih tenang di dalam suasana menegangkan ini.


"Aku takut Umi." Di saat detik-detik menegangkan seperti ini akhirnya aku mengeluhkan perasaan terdalam ku kepada Umi.


Umi menatap ku dengan pandangan yang sangat lembut seraya meyakinkan ku, "Nak, yakinlah suamimu adalah laki-laki terbaik yang pernah kami lihat di dunia ini jadi kamu tidak perlu takut untuk hidup bersama dengannya." Ucapnya dengan kedua matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.


Mungkin sedari tadi Umi hanya berpura-pura kuat di depan ku karena nyatanya saat ini aliran hangat air matanya sudah mengalir lembut di atas wajahnya. Umi terlihat begitu rapuh saat ini dan aku menyesal sudah mengeluhkan perasaan ku jika aku tahu Umi akan menangis.


"Aku...aku tidak meragukannya jadi jangan menangis Umi." Ucapku mengelak dengan panik, aku tidak ingin meragukan pilihan kedua orang tua ku meskipun aku tidak menyukainya. Tidak apa-apa...aku tidak apa-apa menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang tidak ku cintai asalkan Umi tidak menangis.


Asalkan Umi merasa bahagia dan puas-


"SAH!"


Aku tertegun dan tanpa sadar aku menggenggam kuat tangan Umi dan Zahra yang sedang mengapit ku. Perasaan gugup ku kini sudah berada pada puncaknya sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya tersenyum.


"Nak, ayo kita berdiri." Umi dan Zahra membantu ku berdiri sementara Dira dan Fia merapikan pakaian pengantin ku yang sempat kusut karena ku duduki. Mereka berdua juga dengan main-main meraih segenggam bunga untuk ditaburkan di depan pintu guna menyambut calon-ah, kini ia sudah menjadi suamiku.


"Jangan menampilkan ekspresi wajah seperti itu, apa kamu tidak takut jika suami mu akan salah mengartikannya?" Ucap Fia bercanda seraya memberikan ku tatapan main-main.


Ya Allah, izinkan aku suatu hari nanti membalas sikapnya ini. Di hari pernikahannya kelak aku ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan kepada ku!


Tok


Tok


Tok


Rasanya tubuhku menjadi kaku saja setelah mendengar ketukan takdir ku. Di balik pintu kamar ku ini ada seorang laki-laki yang sudah resmi menjadi suamiku. Perasaan tegang juga berdebar adalah hal yang paling memenuhi sekarang. Entah itu perasaan enggan atau tidak berdaya semuanya seketika terhapus ketika aku terjebak di dalam posisi ini. Hah sudahlah, aku sudah memegang garis takdir ku sehingga aku hanya perlu menjalani semuanya dengan ikhlas saja.


Karena garis yang Allah berikan kepadaku adalah takdir yang sangat-


Cklak


"Assalamualaikum, istriku?" Salamnya lagi-lagi memberikan kejutan yang selama ini aku imajinasikan setiap kali menjelang tidur.


Mas Alif?


Suamiku ternyata Mas Alif, laki-laki yang selama ini terus membayangi malam-malam tanpa tidur ku. Aku tidak mempunyai nafsu makan dan berat badan ku semakin turun ketika memikirkannya. Jadi...jadi inikah alasannya selama ini menghilang dari ku? Itu karena suamiku adalah dirinya?


Aku memang tidak pernah menyangka jika Mas Alif adalah suamiku. Tapi bukankah kits saudara kandung?


"Lihat, apa yang kamu rasakan selama ini bukanlah penyakit melainkan sebuah fitrah." Bisik Dira tenang di belakang ku, terdengar menikmati keterkejutan yang aku rasakan.


Ini bukan penyakit?


Jadi, kami berdua tidak punya hubungan darah dan selama ini Mas Alif juga memiliki rasa kepada ku?


"Fira," Umi memanggil ku.


"Y-ya, Umi?" Jawabku dengan susah payah karena saat ini tubuhku seolah diluar kendaliku. Aku kesulitan mengendalikannya seperti biasa.


"Jawab salam suamimu, sambut kedatangannya." Ucap Umi dengan senyuman hangatnya. Ia meraih pundak ku dan dengan lembut mendorong ku ke depan Mas Alif yang masih belum masuk ke dalam kamar ku-ah, kamar kami.


Di dorong langsung ke depan Mas Alif, diam-diam aku memperhatikan ekspresi semua orang yang terlihat bersemangat. Jika dilihat dari ekspresi mereka aku bisa menyimpulkan bahwa selama ini mereka tahu tentang Mas Alif yang akan menjadi suamiku. Yah, semua orang tahu sedangkan aku tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh yang tersesat di suatu tempat.


Memikirkannya membuat ku kesal!


"Fira, assa-"


Kesal dengan kebodohan ku selama ini maka langsung saja ku terkam Mas Alif. Aku memeluknya dengan kuat sambil memuaskan diriku mencium wangi Mas Alif yang sudah lama aku rindukan. Memeluknya seerat mungkin, aku ingin ia tahu bahwa selama ini aku sangat merindukannya. Aku ingin ia tahu bahwa kepergiannya membuat ku sangat tersiksa dan aku ingin Mas Alif tahu bahwa tanpanya aku akan sangat tidak berdaya.


"Fira, aku sangat merindukanmu." Bisik Mas Alif begitu lembut di telingaku. Ia mungkin menebak bagaimana perasaan ku saat ini ketika melihatnya karena aku juga sangat merindukannya.


"Ngilang lagi Fira gak akan pernah mau ketemu sama Mas Alif !" Jika ia mengulanginya maka aku akan sangat marah kepadanya. Aku tidak ingin melihat wajahnya jika ia sampai meninggalkan ku lagi tanpa mengatakan apapun!


"Tidak akan pernah terulang lagi karena berpisah denganmu adalah hal yang paling menyiksa ku selama ini."


"Ehem...masih ada acara lagi setelah ini." Suara penuh godaan dari orang-orang yang ada di sekeliling kami sontak membuat ku dan Mas Alif langsung tersadar jika kami belum menyelesaikan rangkaian acara hari ini.


Karena malu dengan mereka semua, aku hanya bisa menyembunyikan wajah ku dengan menundukkan kepala setelah melepaskan pelukan Mas Alif. Lalu, tangan Mas Alif terulur meraih tangan kiriku yang sudah dihias dengan hena yang cantik. Mengingat ini dibeli langsung di kota Mekkah, aku jadi teringat ketika Mas Alif menyelesaikan studinya ia sempat ke Mekkah untuk berziarah ke rumah Rasulullah dan Allah SWT. Lalu setelah itu ia tidak langsung kembali ke pondok karena melamar magang menjadi guru agama di tempat ku dan Fia sekolah sewaktu di kota dulu.


Jadi, alasannya ini. Jujur aku tidak pernah berpikir jika semua ini adalah apa yang Mas Alif siapkan untuk ku. Membelikan ku hena dengan warna yang cantik, mungkinkah Mas Alif sudah menyukai ku sejak saat itu?


"Sama seperti yang aku pikirkan, warnanya sangat cantik ketika dilukis di tangan mu." Ucapnya terdengar berbisik seraya memasangkan sebuah cincin yang indah di atas jari manis ku.


Meraih cincin yang sama namun dengan ukiran yang lebih sederhana, perlahan tangan bergetar ku mulai menyelipkan cincin itu ke jari manis Mas Alif. Rasanya begitu mendebarkan!


"Terimakasih Mas Alif, Fira sangat menyukai warnanya." Ucapku balik berbisik tanpa melihat wajahnya. Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Mas Alif saat ini.


Sejak awal aku sudah tertarik dengan hena ini namun ketika aku tahu itu dari laki-laki lain hatiku begitu enggan untuk menggunakannya. Akan tetapi saat tahu ini dari Mas Alif, tiba-tiba aku menyayangkan betapa bodohnya aku selama ini. Seharusnya aku menjaga hati-hati hena ini agar warnanya tetap cantik dan jelas di tangan ku!


Setelah menyelesaikan pertukaran cincin pernikahan kami, aku lalu dengan penuh kasih mencium tangan kanan Mas Alif yang anehnya terasa hangat dan menyenangkan untuk digenggam. Ini berbeda dengan kedua tangan ku yang saat ini sudah membeku layaknya es batu!


"Istriku, ayo kita membuka lembaran baru bersama di dunia-" Meraih kepala ku, sejenak aku bisa merasakan sebuah sapuan yang hangat di atas keningku. Perasaan hangat yang sudah lama aku rindukan, Hem...sejak kapan rasanya begitu berbeda?

__ADS_1


"Dan di akhirat." Lanjutnya berbisik. Mendengarnya mengatakan kata-kata yang indah ini membuat hatiku tiba-tiba menjadi sangat nyaman. Lalu, cairan hangat yang ku kenal sebagai air mataku mengalir dengan deras di pipiku. Kali ini aku tidak kesal dan tidak menghapusnya karena apa yang aku rasakan sekarang adalah sebuah perasaan bahagia bukan perasaan sakit yang menyesakkan.


Begitu indah rasanya mendengarkan kata-kata manis ini, aku sangat menyukainya.


"Hem, bersama sampai jannah-Nya." Ucap ku menyanggupi. Kami tidak hanya menjadi pasangan hidup di dunia ini saja namun kami juga akan menjadi pasangan yang sejati sampai kembali ke tempat yang seharusnya. Di Jannah Allah, kami akan selalu bersama dengan ikatan yang sama bersama generasi-generasi kami lahir dan besarkan. Hem, ikatan ini tidak akan terputus meskipun kami di akhirat kelak.


"Cie yang udah halal, tidurnya sekarang udah gak sendirian lagi nih~"


"Patah hati massal nih~"


"Adik sama Kakak seleranya menantang semua nih~"


Dan banyak lagi kata-kata ejekan yang kami berdua dapatkan dari mereka. Perasaan gugup karena merasakan momen yang sakral ini perlahan redup digantikan dengan kegembiraan semua orang melihat kami dipersatukan. Itu tidak terkecuali untuk Umi dan Abi ku.


Mereka berdua menatap ku dengan senyuman haru yang sangat menyentuh hati ku. Seakan-akan mereka merasa lega menitipkan ku bersama Mas Alif, laki-laki yang dibesarkan langsung oleh Abi sendiri. Tentu saja itu karena mereka jelas mengerti kekurangan ku dan satu-satunya orang yang paling mengenaliku selain mereka adalah Mas Alif. Jadi, menikah kan ku dengan Mas Alif adalah keputusan terbalik untuk mereka.


Hem, aku juga merasa ini adalah keputusan yang sangat baik.


Semua orang bahagia dan tersenyum di hari pernikahan kami akan tetapi aku sedikit tidak nyaman saat tahu bahwa Mbak Annisa dan Aisha tidak datang di hari pernikahan ku. Aku dengar dari Dira jika Mbak Annisa pulang ke kota sementara Mbak Aisha memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota lain.


Sejujurnya aku tahu, yah, mungkin mereka kecewa melihat Mas Alif menikah dengan ku dan aku tahu betapa sakitnya perasaan kecewa itu. Tapi mau bagaimana lagi orang yang ingin Mas Alif nikahi adalah aku jadi mereka tidak bisa memaksakan perasaan mereka kepada Mas Alif.


Aku memang tidak nyaman dengan mereka berdua namun aku yakin lambat laun mereka berdua akan menerimanya dan mau bertemu dengan ku lagi. Hem aku yakin karena mereka adalah orang-orang yang baik dan lembut.


🌹🌹🌹


Sekarang mereka berdua sudah ada di dalam kamar pengantin mereka. Setelah menyelesaikan segala macam rangkaian acara pernikahan, mereka akhirnya bisa beristirahat di dalam kamar. Lelah dan letih memang mereka akui akan tetapi itu sama sekali bukanlah jenis keluhan. Mereka bahagia meskipun lelah dan mereka senang meskipun letih, siapapun akan tahu bahwa hari ini mereka berdua sangat menikmatinya. Tidak ada kata bosan dan jenuh dengan acara yang agak merepotkan karena jauh dari dalam hati mereka mengakui bahwa ini adalah momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Mampu bersanding dengan orang kita cintai adalah hal yang paling semua orang impikan.


Tak jarang orang akan duduk di singgahsana yang sakral ini bersama orang yang tidak mereka cintai. Hem, itu mungkin akan cukup miris bagi mereka yang mendambakan cinta mereka.


Namun beruntungnya, Fira dan Alif justru disatukan oleh Sang Pencipta. Mereka diberikan kesempatan untuk saling terikat dan mengikat di dunia sementara ini. Tentu saja Fira dan Alif tidak akan membiarkannya hanya bertahan sementara karena mereka sudah bertekad untuk membawa ikatan ini sampai ke jannah-Nya.


"Mas, kenapa kita tinggal di sini?" Tanya Fira setelah menyelesaikan acara sholat Sunnah mereka. Melihat sekeliling, Fira memang terpesona dengan kamar yang sudah dihias indah ini namun ia agak bingung mengapa Alif membawanya ke sini dan bukannya tinggal di rumah Umi dan Abi. Padahal kamar Fira sudah dihias dengan begitu indah oleh banyak orang jadi membiarkannya kosong rasanya agak tidak nyaman karena Fira malu jika orang-orang itu tahu ia dan Alif tidak tinggal di kamar yang sudah susah payah mereka buat.


Meraih tangan istrinya, Alif sangat menyukai saat ia bisa menyentuh tangan Fira. Apalagi sekarang mereka sudah halal dan Alif sudah bebas melakukan apapun kepada Fira membuat Alif tidak bisa berhenti tersenyum.


"Karena ini adalah rumah yang Papa tinggalkan untuk aku dan Razi tinggali. Fira, mulai malam ini kita akan hidup bersama di sini jadi aku harap kamu tidak keberatan." Jawab Alif selembut mungkin kepada istrinya. Ia tidak ingin membuat istrinya tersinggung atau tidak nyaman karena Alif tidak ingin membuat melukai hal yang paling berharga di dalam hidupnya ini.


Ada sesuatu yang menarik perhatian Fira ketika mendengar jawaban suaminya, "Papa? Apa hubungan Mas Alif dengan Mas Razi?" Tanyanya bingung.


Mengecup punggung tangan istrinya, diam-diam Alif menikmati wangi bunga mawar yang tercium samar dari kulit tangan Fira.


"Kita tidak bersaudara adalah kunci aku bisa memiliki mu. Melewati petunjuk sholat istikharah aku akhirnya tahu bahwa kita tidak punya hubungan darah. Lalu, satu demi satu rahasia yang tersembunyi Allah tunjukkan kepada ku sampai akhirnya aku tahu jika Razi dan aku adalah saudara kandung." Memperhatikan wajah istrinya yang memerah merona, Alif tidak bisa memungkiri jika malam ini entah mengapa ia merasa jika Fira terlihat sangat cantik.


Tidak, sebenarnya ia memang selalu cantik akan tetapi malam ini sedikit berbeda. Alisnya, matanya, hidungnya, dan bibir merahnya yang ranum tidak bisa tidak membuat jantung Alif berdebar kencang. Semua itu-ah, lebih tepatnya Fira akhirnya sudah halal untuknya. Fira kini resmi menjadi milik Alif seutuhnya!


Diperhatikan seintens ini oleh suaminya membuat Fira salah tingkah, kedua pipinya juga terasa semakin panas dan mendebarkan. Ia sangat tidak kuat ditatap seperti ini oleh Alif!


"La-lalu?" Tanya Fira gugup ditatap seperti ini oleh Alif.


Tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik Fira, Alif malah semakin tertarik melihat kedua pipi istrinya yang semakin terlihat merah saja.


"Kami bersaudara kandung namun terlahir dari Ibu yang berbeda karena Papa punya dua istri. Istri pertama Papa adalah Ibu Razi dan istri kedua Papa adalah Ibuku. Mereka hidup rukun tanpa ada konflik serius sampai-Fira, bagaimana jika kita tunda dulu pembicaraan ini karena-" Alif dengan bersemangat membopong tubuh ringan istrinya ke atas ranjang yang sudah dipenuhi bunga mawar merah yang menggoda.


"Kita punya urusan yang sangat mendesak untuk di selesaikan." Lanjutnya setelah membaringkan Fira yang terlihat sangat shock di atas ranjang.


Membaringkan Fira yang terlihat terkejut, Alif lalu dengan hati-hati menilai ekspresi istrinya yang terlihat tidak benar. Mungkinkah Fira masih belum terbiasa dengan perlakuan intim seperti ini?


Gugup dengan respon Fira, tangan kanan Alif lalu bergerak menyentuh pipi lembut Fira yang sudah memerah. Mengelusnya dengan sayang kedua mata mereka saling terhubung seakan mencoba untuk menebak pikiran masing-masing.


"Apakah kamu takut dengan perhatian intim seperti ini?" Tanya Alif khawatir. Karena mereka terbiasa terikat dengan hubungan adik-kakak, Alif takut jika Fira masih belum menerimanya menjadi seorang suami secara penuh mengingat ikatan mereka selama beberapa tahun ini.


"...aku tidak takut." Jawab Fira terdengar malu-malu.


"Aku hanya terkejut saja melihat betapa dekatnya kita sekarang." Lanjut Fira mengakui.


Begitu dekat sampai sulit untuk mempercayainya, itulah yang Fira rasakan sekarang.


Lega mendengar jawaban Fira, senyuman lembut penuh kasih sayang kemudian tersungging di wajah tampan Alif. Membuat Fira yang sedang menatapnya menjadi semakin terpesona dan berpasrah diri di kuasai sedominan ini oleh Alif.


"Sayang, mulai malam ini kamu harus membiasakan diri karena kita akan sangat sering melakukan kontak yang jauh lebih dekat dari ini. Lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku, aku harap kamu tidak merasa risih." Ucap Alif begitu lembut. Tangan kanannya yang sempat mengelus pipi Fira kini beralih mengelus bibir merah nan ranum Fira dengan tatapan terpesona. Mengelusnya lembut Alif perlahan-lahan menundukkan kepalanya ingin merasakan bagaimana rasa manis bibir merah itu. Suatu godaan yang selama ini sudah beberapa kali mengganggu pikirannya.


Mengecupnya lembut, Alif lalu menjaga jarak dari bibir merah Fira beberapa sentimeter seraya membisikkan kata-kata mendebarkan.


"Rasanya sangat manis." Ucap Alif terkejut yang langsung kecanduan ingin menyentuh lagi.


Menginginkan lebih, Alif sekali lagi mengecup bibir Fira. Sekali tidak cukup, ia mengulanginya lagi sampai akhirnya sebuah pikiran yang sangat vulgar muncul di kepalanya.


"Sekarang aku akan mencicipi dalamnya, apakah kamu jijik aku melakukan itu?" Alif hanya ingin mengantisipasi apakah Fira tidak suka melakukan sentuhan sedalam itu karena ini sangat intim.


Gugup juga senang, kedua tangan Fira yang kini sudah meraih leher Alif diam-diam meremat rambut basah Alif untuk menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak keberatan atau merasa jijik.


"Aku senang jika itu adalah Mas Alif." Bisiknya dengan suara yang mengecil.


Agak terkejut dengan sikap malu-malu istrinya yang manis, sejenak Alif tidak bisa berpaling dari wajah merah Fira yang menggoda.


"Kalau begitu Mas akan hati-hati karena ini adalah pengalaman pertama kita." Ucap Alif sayang setelah tersadar dari keterkejutannya.


Mendapatkan anggukan malu-malu istrinya, Alif kemudian menundukkan kepalanya seraya memperhatikan kedua mata Fira yang sudah basah, pipinya yang memerah memberikan kesan yang sangat intim untuk Alif pribadi.


Berharga, ia tidak akan pernah mengizinkan laki-laki manapun melihat sisi sensitif Fira di dunia ini. Hanya ia dan akan selalu hanya ia yang berhak melihat semua itu. Melihat sisi indah istrinya.


Senang dengan reaksi Fira, Alif kemudian membawa matanya menatap bibir merah yang sudah berulang kali ia kecup tadi. Merendahkan kepalanya ia mulai mengecup bibir merah Fira dengan gerakan sayang, lalu menjadi lembut karena bibir merah itu perlahan ia makan. Menyatukan benda kenyal itu di dalam mulut, mereka sama sekali tidak merasakan perasaan jijik saat melakukannya. Bahkan walaupun ini adalah yang pertama kali mereka melakukannya dan agak kesulitan, itu tidak bisa membuat mereka untuk menyerah. Malah mereka berdua merasa jika ini tidak cukup dan butuh kontak yang lebih dalam lagi sampai akhirnya suara ketukan panik membuat mereka berdua tersedak.


Tok


Tok


Tok


"Maaf aku mengganggu waktu kalian tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa melihat Zahra yang terus saja muntah-muntah di kamar mandi." Teriak Razi panik membuat Fira dan Alif menatap kosong wajah masing-masing.


Alif yang sedang dimabuk cinta, "....."


Fira yang sedang dimabuk cinta, "....."


TAMAT


Catatan penulis


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, buat reader mohon maaf jika saya up ini telah karena jujur saya agak kesulitan waktu nulis ini. Author juga minta maaf karena ada part vulgarnya meskipun gak terlalu yakin ini benar atau enggak, saya juga gak bisa matiin kalau itu akan disensor apa enggak sama NovelToon.


Dan yah, novel akhirnya bisa saya selesaikan setelah sekian banyak rintangan untuk menulisnya. Jadi, buat reader sampai jumpa di novel yang lain. Saya harap kalian bisa menikmati apa yang saya tulis meskipun punya banyak kelemahan dan kekurangan.


Terimakasih untuk waktu kalian selama ini dan sampai jumpa 😘

__ADS_1


Author


Lili H.


__ADS_2