
Sekotor Itukah Aku Part 17
Ini sudah hampir seminggu Fira menghindari Alif. Dengan berbagai cara untuk bersembunyi ia terus saja lari dari Alif. Perasaan marah, cemburu, dan kecewanya membuat Fira keras kepala untuk tidak mau mengalah. Ia tidak mau bertemu Alif apalagi sampai berbicara dengannya. Fira juga tidak ingin bertemu Annisa ataupun Aisha, karena bagi Fira bertemu dengan mereka sama saja menguji hatinya.
"Umi dari kemarin nanyain tentang kamu lho, Fir. Yakin nih gak mau pulang nyapa, Umi?" Fia tidak bisa membantu dan merasa kesulitan melihat Fira yang begitu keras kepala. Ia tidak pernah melihat Fira seperti ini yang begitu betah melalukan perang dingin dengan Alif. Biasanya mereka tidak akan bertahan lama setelah beberapa hari akan kembali bertindak biasa. Akan tetapi kali ini sepertinya berbeda, perasaan Fira kepada Alif membuatnya tumbuh menjadi gadis yang cemburuan.
"Belum sekarang, nanti malam lebaran atau hari lebaran aku pulang kok silahturahmi sama Umi dan Abi." Rencananya ia akan pulang saat lebaran tiba jadi jika menghitung waktu maka mungkin itu 3 mingguan lagi lah.
"Astagfirullah, apa kamu gila? Melakukan itu sama saja kamu menantang batas kesabaran Mas Alif." Ia sudah mendengar betapa marahnya Alif hari itu kepada Fira jadi mau tidak mau ia juga merasa ketakutan dibuatnya. Karena biar bagaimanapun pelopor rencana hari itu adalah dirinya yang bodohnya langsung diikuti Fira tanpa memikirkan keselamatan dirinya.
"Yah, sejak awal Fira sudah melakukannya jadi kamu tidak perlu sok terkejut seperti itu." Ucap Dira santai begitu masuk dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Hari ini Mas Alif juga mencarimu, yakin tidak ingin menemuinya?" Tanya Dira selembut mungkin, memperhatikan dengan hati-hati perubahan ekspresi Fira yang ternyata tidak berubah sama sekali. Malah, tampaknya itu semakin tidak senang?
"Masih belum, tunggu calon suamiku datang baru aku mau berbicara dengannya." Dia sungguh tidak ingin bertemu dengan Alif! Ia masih marah juga sakit hatinya masih terasa berdenyut nyeri setiap kali dia mengingatnya!
Dari jawaban Fira saja Dira sudah tahu bahwa Fira masih belum berdamai dengan masalah satu minggu yang lalu. Jadi, karena ia sulit menerimanya maka suka tidak suka ia harus rela setiap malam tidur berhimpitan dengan Fia. Pasalnya ranjang Fia sudah dikuasai oleh Fira sehingga tidak memungkinkan bagi Fia tidur di ranjangnya.
"Ingin keluar jalan-jalan sebentar?" Karena mereka sedang libur jadi Dira ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengendurkan saraf tegang Fira.
"Kemana?" Ini bukan Fira yang bertanya, tapi Fia yang terlihat sangat tidak berdaya melihat wilayahnya diambil alih Fira.
"Ke kebun bagaimana? Siapa tahu kita bisa beruntung menemukan sesuatu yang menarik."
"Hem, kamu benar juga. Lebih baik melalukan kegiatan menghibur untuk menghilangkan stress." Memikirkan kondisi hatinya yang tertekan, Fira memutuskan untuk mengikuti saran Dira. Maka tidak menunggu waktu lama bagi mereka bertiga untuk segera pergi ke kebun pondok pesantren mereka yang masih dalam masa pertumbuhan.
🍃🍃🍃
"Padahal ini baru aja pukul 10 siang tapi kok panasnya udah terik aja?" Rencananya mereka akan bersantai di kebun tapi sesampai mereka di sana pikiran itu sedikit goyah karena paparan sinar matahari yang tajam. Mereka pikir kebun jauh lebih adem daripada asrama mereka tapi nyatanya justru sebaliknya.
"Iya juga yah, panasnya terik banget nih." Dira berkaca pinggang, memandangi seluruh area kebun yang meskipun dinaungi pohon tapi masih saja terasa panas!
"Jadi, kita balik lagi nih ke asrama?" Tanya Fia sambil menatap Dira untuk meminta persetujuannya. Dira tidak langsung menjawab karena pandangannya masih fokus menatap sekeliling area kebun yang rasanya sangat mengecewakan karena diterpa panas siang.
"Aku pikir duduk-duduk di pinggir sungai akan sangat menyejukkan." Karena mereka semua terdiam, Fira akhirnya menyuarakan pendapatnya. Dari tempatnya berdiri Fira bisa mendengar suara aliran sungai yang sedang mengalir teratur dan terdengar menyejukkan. Karena cuaca yang masih beredar dalam musim panas membuat aliran sungai jauh lebih tenang dan menggoda untuk di datangi.
Fira ingin ke sana untuk merendam kakinya sejenak. Jika bisa, ia juga ingin mandi di sana untuk melepaskan perasaan gelisahnya.
"Ah, itu ide yang bagus pergi ke sungai di saat cuaca sedang terik-teriknya begini." Mendengar kata sungai di telinga sontak membuat pori-pori kulitnya berteriak ingin segera merasakan betapa sejuknya sungai.
"Baiklah, memang kita tidak punya pilihan lain selain pergi ke sungai. Ya sudah, daripada berpanas-panasan seperti ini lebih baik kita segera ke sungai saja sebelum kita berkeringat banyak." Karena badan mereka sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi lembab karena keringat, mereka lalu tidak menyia-nyiakan waktu dan segera pergi ke arah sungai yang memang sangat dekat dengan kebun pondok pesantren.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya menemukan sungai yang mereka cari. Sungai yang mengalirkan air jernih yang terlihat menyejukkan juga beruntungnya tempat ini sangat teduh dibandingkan area kebun.
"Aku akan duduk di sana." Ucap Fira sambil berjalan ke arah sebuah batu yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk diduduki.
Mendudukkan dirinya dengan nyaman, ia kemudian menurunkan kedua kakinya ke dalam air sungai setelah menyingkirkan kaus kakinya yang sudah kotor oleh debu.
Hah, rasanya begitu nyaman dan menyejukkan. Membuat Fira bertanya-tanya mengapa tempat ini begitu menenangkan? Bahkan, angin sejuk yang bergerak sepoi-sepoi menerbangkan jilbab panjangnya dengan ringan. Gerakannya yang teratur dan ringan membuat Fira tidak terganggu sama sekali, malah ia cukup menikmatinya seakan-akan ada anak kecil yang berusaha menguasai punggungnya dengan susah payah. Itu terasa sangat nyaman.
__ADS_1
Merasakan emosinya yang perlahan stabil, Fira kemudian mencoba memanjakan matanya untuk melihat sekelilingnya. Aliran sungai yang tenang, angin sepoi-sepoi yang menyejukkan dan pohon-pohon hijau yang rindang membuat perasaannya seakan sedang diatur ulang. Kegelisahan juga kesedihannya perlahan-lahan mulai surut dari hatinya. Ia bisa merasakan detak jantung di dadanya bergerak jauh lebih santai dari beberapa hari yang lalu.
"Aw.." Suara teriakkan terkejut seseorang mengalihkan perhatian Fira dari pemandangan sekelilingnya.
Ia bertanya-tanya siapakah orang yang memiliki suara ini, membuatnya kehilangan fokus dari pemandangan yang memanjakan mata. Karena penasaran, ia lalu mengalihkan pandangannya mencari asal suara yang ternyata tidak terlalu jauh darinya. Di sana, ada 3 sosok seseorang dengan 1 laki-laki dan 2 perempuan. Figur mereka tampak tidak terlalu asing untuknya jadi untuk memastikan kecurigaannya ia lalu memfokuskan atensinya jauh lebih tajam untuk melihat siapakah mereka.
"Tolong hati-hati karena jalan di sini sangat licin." Laki-laki itu menasehati gadis yang hampir jatuh dengan nada khawatir yang sangat jelas. Membuat hati Fira seolah diiris-iris ketika melihat pemandangan romantis ini. Ah, rasanya sekarang Fira sedang melihat acara suami-istri secara live, membuat hatinya mengeluh sakit dan sesak.
"Fira, aku pikir sebaiknya kita harus pulang." Fia yang melihat perubahan warna pada wajah Fira segera mendatangi Fira, ia menyentuh pundaknya guna mengalihkan perhatian Fira dari pemandangan menyakitkan itu.
Ia terluka melihat orang yang ia sayangi bersedih seperti ini.
Fira mengalihkan matanya dari mereka dan menatap wajah khawatir Fia dengan senyuman tipisnya, "Aku baik-baik saja jadi kamu tidak perlu khawatir." Ucapnya menghibur sepupunya ini.
Bangun dari posisi duduknya, ia bermaksud akan meninggalkan tempat ini namun sebelum itu terjadi panggilan lembut dari Annisa menghentikan langkah beratnya.
"Fira, kamu di sini juga, dek?" Tanya Annisa terdengar sangat senang seperti biasanya ketika ia pertama kali bertemu dengan Fira, seolah-olah hubungan canggung yang sempat terjadi diantara mereka satu minggu lalu tidak pernah terjadi.
Entahlah, Fira kali ini tidak cukup senang dengan sikap Annisa yang biasa-biasa saja. Fira tidak suka menghadapi Annisa yang kali ini bersikap bahwa tidak ada yang pernah terjadi diantara mereka. Karena yang salah di sini adalah Fira dan Fira terus saja tersiksa oleh perasaan ini. Ia tersiksa betapa buruk perilakunya waktu itu dan betapa kecewanya ia melihat Alif mengedepankan Annisa daripada dirinya.
Perasaan kesal ini, mengapa sekali lagi merasuki hatinya?
Membalikkan badannya, Fira lalu memasang senyuman polosnya di depan Annisa dan Aisha, yah jangan lupakan Alif yang berdiri kosong menatapnya di sini.
Apa?
Apakah Fira mengganggu waktu kencannya!
"Fira-"
"Mas Alif, Fira tidak bermaksud mengganggu waktu kalian jadi kami akan segera pulang ke asrama dulu." Fira memotongnya dengan senyuman yang manis, tidak terganggu sama sekali dengan pandangan rumit yang Alif tujukan padanya.
Alif tidak suka Fira memperlakukannya seperti ini jadi ia tidak akan membiarkan Fira pergi begitu saja dari sini. Setidaknya Alif harus menghukum Fira karena sudah satu minggu menghindarinya. Di tambah masalah dengan Annisa masih belum ia hitung jadi hukuman yang seharusnya Fira dapatkan cukup berat.
"Siapa yang mengizinkan kamu kembali ke asrama." Ucap Alif tegas dengan aura dominannya yang agak menakutkan.
Tersenyum simpul menatap Fira yang terlihat agak terkejut, "Bantu Annisa dan Aisha mencuci sayuran ini di sungai, jika kamu tidak mau maka Mas tidak akan pernah mengizinkan kamu pulang. Jadi, mau tidak mau kamu harus segera menyelesaikan tugas ini." Perintah Alif terlihat tidak bisa diganggu. Sejenak, Dira dan Fia tertegun melihat sikap Alif yang sepertinya ingin mencari masalah dengan Fira.
"Baiklah, Fira tidak keberatan untuk membantu calon Kakak ipar ku." Dengan berlapang dada, Fira lalu menurunkan kembali kakinya ke dalam sungai. Ia sengaja mengalihkan matanya untuk sepenuhnya menatap aliran sungai di depan daripada melihat wajah dingin Alif.
Bersandiwara seperti ini, entah mengapa membuat Fira menjadi muak.
Menghela nafasnya lelah, diam-diam mata tajam Alif memperhatikan wajah cantik Fira yang sedikit pucat. Senyuman manisnya yang biasa menyambut paginya kini sudah satu minggu lebih tidak Alif dapatkan. Alif tidak tahu bagaimana harus menghadapi Fira karena ia juga seorang laki-laki yang harus bertindak adil. Fira pernah melakukan kesalahan dan Alif hanya ingin mendengarkan permintaan maafnya kepada Annisa. Namun, bukannya meminta maaf ia malah melarikan diri seenaknya.
Tidak hanya itu saja, puncak ketegangan mereka benar-benar terjadi ketika Alif melihat Fira berbicara dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Padahal Alif sudah memperingatkan Fira agar tidak dekat-dekat dengan laki-laki lain, namun hari itu Fira jelas tidak mengikuti perintahnya. Alif marah dan secara tidak sadar bersikap kasar kepada Fira, ia membuat pergelangan tangan Fira terluka dan seperti yang terjadi sekarang, sudah satu minggu ini Fira menjauhinya. Bahkan meskipun Alif terang-terangan datang mencarinya selalu saja ada alasan untuk Fira melarikan diri darinya.
Ini membuat Alif semakin kesal, Fira sangat menguji kesabarannya!
"Fira, soal hari itu Kakak minta maaf." Begitu mereka semua memasuki sungai Annisa langsung gencar mendekati calon adik iparnya. Ia sangat senang juga malu ketika mendengar Fira secara langsung mengakuinya sebagai calon istri Alif.
__ADS_1
Tentu saja, Fira tidak meresponnya dan memilih bersikap abai terhadapnya. Apakah Annisa tidak menyadari jika kata-katanya itu hanya berbau sarkas untuk Annisa?
Hah, Fira sungguh tidak tahu harus mengatakan apa kepada saingan cintanya! Dia sedang cemburu oke, bukan memberkati hubungan kalian berdua!
"Kakak tidak bermaksud merusak hubungan kalian berdua karena-"
"Mbak Annisa terlalu banyak bicara, Fira tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan semua ini!" Potong Fira kesal mendengar ocehan Annisa yang merasa sok bersalah. Jika benar ia tidak bermaksud membuat hubungannya dengan Alif bermasalah maka mengapa ia harus mengatakannya dengan suara yang keras-keras pada hari itu?
"Astagfirullah dek, Kakak sama sekali tidak bermaksud seperti itu." Annisa cukup terkejut melihat tindakan agresif Fira yang langka. Biasanya Fira akan selaku bersikap sopan kepadanya tapi mengapa hari ini ia tiba-tiba tidak menyukainya?
Melihat betapa terkejutnya Annisa, Fira tidak lagi bermaksud untuk meresponnya. Siapa yang akan tahan berbicara dengan saingan cintanya?
Fira pun begitu meski pernah mengidolakan Annisa untuk bersama kakaknya. Akan tetapi kali ini berbeda karena Fira juga menyukai Alif, sebuah perasaan terlarang yang biasa orang-orang katakan adalah sebuah penyakit mental.
Karena masih belum mendapatkan respon Fira, Annisa lantas mengangkat tangannya bermaksud untuk meraih lengan Fira. Akan tetapi sebelum ia benar-benar bisa menyentuhnya, Fira melirik gerakan itu dan dengan impulsif menepis tangan Annisa terkejut. Akan tetapi setelah ia melakukan tindakan impulsif itu Fira langsung menyesal ketika melihat hasil akhirnya. Annisa yang ia tepis tangannya karena terkejut sempat membawa kakinya mundur ke belakang, namun karena mereka ada di dalam sungai pijakan kaki Annisa menjadi tidak stabil dan goyah yang membuat tubuhnya langsung terjatuh ke dalam sungai.
Jburr
"Annisa!" Teriak Aisha ketakutan sontak membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya. Alif yang sibuk mengatur ikatan sayur di atas tanah pun ikut mengalihkan perhatiannya menatap Annisa yang sudah basah kuyup di dalam air sungai.
"Kenapa Annisa bisa jatuh ke dalam sungai?" Tanya Alif panik seraya membawa langkah cepatnya menuruni sungai. Ia segera membuka jaketnya dan memberikannya kepada Aisha untuk dikenakan pada Annisa.
"Gus Alif, tadi Fira yang mendorong Annisa ke sungai." Lapor Aisha ragu-ragu karena tidak yakin dengan yang ia lihat. Memang ia sempat melihat Fira dan Annisa melakukan kontak fisik namun itu hanya sekilas jadi ia tidak tahu apakah yang ia katakan ini benar atau tidak.
Mendengar laporan Aisha, Alif lalu mengalihkan matanya menatap wajah Fira yang ketakutan. Dinilai dari ekspresinya, Alif bisa melihat bahwa Fira mengakui perbuatannya itu. Akan tetapi Alif merasa sedikit aneh di sini, ia bertanya-tanya mengapa ia merasa jika mereka dibagi menjadi dua kelompok. Satu dengan Annisa dan Aisha, lalu kelompok kedua dengan Fira, Dira dan Fia. Perasaannya ini semakin menguat ketika tidak ada satupun yang membantu Annisa saat jatuh tadi. Dira dan Fia malah hanya berdiri diam memandangi Annisa dan Aisha yang saling membantu.
Hah.. apapun itu ia perlu menanyakannya nanti ke Dira karena sekarang perhatian satu-satunya adalah tidak membiarkan Fira melarikan diri lagi! Jika Fira melarikan diri dan mengurung sepenuhnya diri di dalam asrama, maka sudah dipastikan Alif akan frustasi karena tidak bisa melihat Fira!
"Kamu dilarang melarikan diri lagi." Ucap Alif bertindak cepat seraya meraih tangan Fira dengan tangan kanannya. Ia memegangnya dengan kekuatan yang kuat akan tetapi meskipun begitu Alif tetap mencoba mengontrol kekuatannya untuk jangan sampai melukai pergelangan tangan Fira lagi.
Fira tidak mengatakan apa-apa untuk menolak karena saat ini ia sudah sangat putus asa. Kedua matanya yang terasa agak perih mulai memerah menahan tangisan ketakutan yang akan pecah.
"Mas Alif, Fira sama sekali tidak bersalah di sini." Melihat sikap Alif yang jauh lebih serius dari hari itu Annisa merasakan firasat buruk bahwa akan ada hal yang tidak mengenakkan terjadi. Ia takut Alif sampai menjatuhkan tangannya kepada-
Sebelum khayalannya bisa ia selesaikan, Alif segera mengangkat Fira ke atas pundaknya. Ia melakukan ini karena tidak punya banyak pilihan, mengingat hari dimana ia menyeret Fira akhirnya malah menjadi kacau. Jadi untuk tidak memberikan Fira alasan untuk melarikan diri ia memutuskan untuk mengangkat Fira ke atas pundak kanannya seraya menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh.
"Ah... Mas Alif!" Teriak Fira ketakutan ketika merasakan ia sudah tidak di dalam air lagi. Ia tepat berada di punggung kokoh Alif, merasakan betapa kuatnya punggung itu dan bisa mencium betapa harumnya wangi Alif.
Ah, sudah lama sekali ia tidak mencium wangi ini.
"Jangan khawatirkan dia karena aku akan segera mengurus masalah ini di rumah. Untuk Annisa, kamu bisa pulang dulu dan beristirahat di sana dan jangan pikirkan masalah sayuran ini karena Dira dan Fia yang akan mengurusnya." Pesannya singkat setelah itu ia segera meninggalkan semua orang yang masih dalam mode terkejut. Mereka masih belum bisa berkata-kata apalagi untuk Dira dan Fia yang tahu bagaimana perasaan Fira kepada Alif.
Berdiri kosong melihat Alif dengan Fira di atas pundaknya, Fia diam-diam melirik Dira yang masih sama terkejutnya dengan dirinya. Mendekati Fira yang masih belum sadar, Fia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Dira yang membuatnya langsung tersadar dari keterkejutannya.
"Kenapa aku merasa jika Mas Alif juga menyukai Fira?" Bisik Fia ragu dengan apa yang ia lihat. Tatapan lembut Alif yang tidak biasa kepada Fira membuat Fia berpikir jika Alif sebenarnya juga menyukai Fira.
Memutar bola matanya malas, Dira kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. "Itu bukan rahasia lagi." Jawab Dira dengan nada mengejeknya.
Terkejut, "Apa? Maksud mu selama ini mereka... mereka sakit?"
__ADS_1
Dira, (*_*) kamu yang sakit!
Bersambung...