Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Pupus (Dua)


__ADS_3

"Umi.."


"Ya.."


"Emang kak Razi mau kemana?"


Umi terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan ku.


"Razi sama abi mau ke pondok pesantren, ada urusan." Jawab umi sebelum akhirnya memberi salam dan menutup pintu kamar ku.


Ke pondok pesantren?


Kak Razi?


Abi?


Apa yang sedang mereka lakukan di sana?


Apakah mungkin...ah, shit!


Ini benar-benar gila.


Apa ini Zahra?, Bahkan kau mempercayai Razi menyayangi mu hanya karena ia membantu mu tadi pagi, ini omong kosong Zahra!


Author P. O. V


Zahra merasakan dadanya menjadi sesak, ia pun memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya karena nyeri di perutnya sudah mulai menghilang.


Zahra berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan gusar dan gelisah.


Tak jarang juga sesekali Zahra mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar.


"Baiklah Zahra, ini belum terlambat untuk menghentikan semua ini. Tidak mengapa." Ucap Zahra berbicara kepada dirinya sendiri.


Ia pun berbalik menghadap jendela kamarnya dan mendapati pemandangan di halaman rumah.


Umi memeluk erat tubuh Razi dengan penuh sayang, seakan ia tak rela melepaskan kepergian Razi walaupun hanya sekedar berkunjung untuk beberapa hari.


"Jika ini yang kalian inginkan, maka baiklah.. Akan ku ikuti semua permainan kalian.." Gumam Zahra bertekad sambil tersenyum licik.


Zahra sudah tak tahan lagi dengan ketidak adilan yang ia dapatkan di rumah ini. Dan hari ini Zahra sudah putuskan untuk melawan, mengikuti semua permainan yang mereka mainkan kepada Zahra.


Tersenyum jahat, Zahra menatap tajam pemandangan tersebut. "*Kita lihat saja, siapa yang akan mengahiri permainan *** ini. Aku, Zahra Affianisha atau kalian yang akan mengahiri nya*." Batin Zahra licik.


Untuk memulai misi, Zahra memutuskan beranjak dari tidurnya dan bersiap mandi.


30 menit kemudian...


Zahra telah siap dengan baju lengan panjang serta dengan celana stocking panjang hitam nya. Tak lupa juga ia menggunakan bedak wajah dan merapikan rambut panjangnya yang terurai lepas.


"Ah, siap deh" Gumam Zahra bersemangat sambil menyunggingkan senyuman kepuasannya.


Sebelum beraksi, Zahra meraba perut bawah bagian tengahnya. Mengelus-elusnya dengan lembut sambil bergumam sendiri.


"Jamu yang umi berikan benar-benar hebat, sakit yang aku rasakan setiap halangan langsung hilang dan tidak meninggalkan bekas. " Gumam Zahra senang dan langsung beraksi menuju tujuannya.


\*\*\*


Zahra menuruni anak tangga dengan semangat dan ceria, berharap hari ini misi pertamanya bisa berhasil.


"Kak Annisa.." Teriak Zahra bergemuruh di ruang tamu.


Zahra belum menemukan Annisa di setiap ruangan, hingga ia putuskan untuk mencari Annisa ke haman depan karena biasanya Annisa akan memeriksa tumbuhan yang ia tanam selama ia di rumah ini. Sangat menyukai alam, itulah dia.


"Kak-" Ucapan Zahra terhenti ketika Zahra melihat umi sedang mengolesi salep ke tangan Annisa yang terlihat terluka mengeluarkan darah dengan ekspresi khawatir.


Melihat pemandangan itu, Zahra hanya bisa menahan rasa cemburunya dengan sekuat tenaga.


"Kuatkan aku Tuhan, ini sakit." Doa Zahra pasrah.


Karena tak ingin terlalu lama bergelut dengan pikirannya, Zahra pun memilih meneruskan misinya yang sempat tetunda.


Menguatkan hati, Zahra berjalan mendekati mereka berdua. "Kak.. Kak Annisa" Panggil Zahra seraya mendekati Annisa dan umi.


Annisa dan umi terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Zahra yang tiba-tiba, bukan karena Zahra masih sakit akan tetapi sikap Zahra yang tiba-tiba menjadi lunak dan ramah kepada mereka berdua adalah hal yang tidak biasa bagi mereka, terutama kepada Annisa.


Annisa sedikit merasa ganjal dengan sikap Zahra yang tiba-tiba memanggilnya dengan ceria dan sopan.


"Zahra? " Annisa sedikit terkejut.


"Salam atuh, sayang.. " Tegur umi halus.


Zahra cengengesan mendapat teguran dari uminya dan langsung mematuhi uminya.


"Hehe, maaf atuh, umi. Zahra lupa, assalamualaikum umi, kak Annisa. " Salam Zahra sopan.


Umi tersenyum dengan sikap kaku Zahra yang terlihat sangat gugup dan malu-malu.


Sementara umi bahagia dengan perubahan sikap Zahra, Annisa justru merasa jika Zahra sedang merencanakan sesuatu yang sudah pasti hanya Zahra dan Allah yang tahu.


Aku merasa seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Annisa, jawab atuh salam adek kamu." Tegur umi yang berhasil mengembalikan kesadarannya seperti semula.


"Ah, I-ya umi, ada apa? " Annisa gelagapan setelah kembali dari lamunannya.


Umi menggelengkan kepalanya, tanda gemas dengan salah satu putrinya, Annisa.


"Umi, bilang jawab atuh salam adek kamu. " Perjelas umi mengulangi perkataannya.


Annisa mengernyitkan dahinya tanda tak percaya sambil menatap umi meminta kebenaran. Menanggapi tatapan konyol Annisa, umi hanya mengangguk antusias bahagia. Annisa mengangguk-anggukan kepalanya seraya mengalihkan pandangannya menghadap Zahra. Mendapati Zahra yang tersenyum manis dengan rambut tergerai bebas tertiup angin, ia sangat cantik.


"Waalaikum salam." Ucap Annisa akhirnya menjawab salam Zahra.


Zahra menyambut jawaban salam dari Annisa dengan tersenyum lebar, berusaha membuat umi dan Annisa tidak berpikiran yang aneh-aneh tentang perubahan sikapnya. Sehingga ia bisa menjalankan rencananya dengan mulus dan lancar.


Jangan su'udzon, mungkin ini adalah awal yang baik untuk Zahra.


Annisa memutuskan untuk mempercayai Zahra daripada pikiran buruknya. Sungguh, Annisa merasa menyesal karena telah berpikiran yang tidak-tidak kepada Zahra yang tidak lain dan tidak bukan adalah adiknya sendiri.


"Ehem.. " Ucap umi berdehem untuk memulai pembicaraan.


"Jadi, ada perlu apa Zahra manggil anak umi yang cantik ini dengan suara yang keras? " Tanya umi berniat bergurau.


Gurauan umi bukan nya membuat Zahra tertawa tapi malah membuat ia merasakan perih di bagian dadanya.


Anak umi?, jika Annisa adalah anak umi lalu bagaimana dengan ku yang berdiri di depan mu saat ini. Apakah aku adalah anak mu juga?. Batin Annisa miris, jangan salahkan betapa sensitif nya Zahra saat ini karena yang dirasakan Zahra adalah sesuatu yang tidak dirasakan semua orang. Diabaikan oleh keluarga mu sendiri, bagaimana rasanya?


Annisa menatap Zahra yang seperti nya sedang melamun, "Zahra, ada apa? kok kamu ngelamun sih, dek. " Tegur Annisa lembut sambil tangannya mengelus lembut punggung Zahra dengan pelan.

__ADS_1


Zahra hanya menatap dalam wajah kakaknya, hingga akhirnya ia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Aku hanya-" Berpikir.


"Hanya? " Ulangi umi penasaran.


Zahra mengambil nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya karena takut mendapatkan reaksi yang tidak di inginkan.


Zahra, semangat!.


Mendapati Zahra yang kembali terdiam, Annisa berpikir jika Zahra kembali melamun."Zahra.. " Panggil Annisa.


Gugup, Zahra berusaha terlihat meuakinkan, "Aku hanya ingin kak Annisa ngajarin aku sholat sama ngaji. " Zahra berucap pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar normal. Mengalihkan pandangannya, Zahra tidak ingin merusak ektingnya dengan tampilan yang gugup.


Lama Zahra menunggu dan masih belum mendapatkan respon apa-pun. Zahra pikir bahwa Annisa dan umi tidak mempercayai nya sampai akhirnya ia rasakan sebuah pelukan hangat ditubuhnya.


Tertegun, Zahra mengalihkan pandangannya dan mendapati umi sedang memeluknya penuh haru.


"Um-"


"Ya Allah, Zahra..terimakasih atas hidayah yang kau berikan padanya. Alhamdulillah.. Ya, Rabb. " Mengucap syukur, umi tak ingin melepaskan pelukan nya kepada Zahra karena sejujurnya ia sangat bahagia setelah mendengar permintaan tulus putri nya yang sudah lama ia tunggu.


Tersenyum tipis, Zahra tak tau bagaimana ia harus merespon kebahagiaan uminya yang tulus karena seperti yang kalian tau, ini hanya sandiwaranya saja. "Ya, umi juga tolong ajari Zahra. " Meminta ragu, sejujurnya ia tidak tega menyakiti uminya seperti ini.


Melihat uminya memeluk hangat sang adik, Annisa pun dengan langkah ragu dan bahagia juga memeluk adiknya hangat. Bohong bila Annisa tidak merasakan perasaan apa-pun. Ia masih merasa perubahan Zahra terlalu tiba-tiba dan aneh.


Tersenyum keibuan, umi menepuk punggung Zahra sayang. "Itu pasti nak, umi dan yang lain akan membantu mu melangkah lebih dekat kepada Allah. "


Lagi-lagi Zahra hanya bisa tersenyum tipis sebagai respon, ini sudah terlanjur terjadi. Mundur tidak akan memberikan apa-apa.


Melepaskan pelukan nya, umi memberikan Annisa sebuah senyum simpul kemudian kembali menatap Zahra yang masih memasang wajah topeng, "Ya udah, kita langsung masuk aja yuk, di sini panas. Lebih enak ngobrol didalam rumah. " Ajak umi seraya menarik Zahra dan Annisa mengikuti nya masuk ke dalam rumah.


Mengikuti langkah umi menariknya ke dalam rumah, diam-diam Zahra menatap punggung teduh uminya.


Maafkan Zahra umi karena bertindak sejauh ini kepada kalian. Zahra tidak bermaksud jahat, Zahra hanya ingin membuat anak tersayang mu yang selama ini dilimpahi kasih sayang juga merasakan perasaan sakit yang ku rasakan. Zahra ingin Annisa merasakan perasaan sepi dan asing, maka dengan begitu Zahra akan merasa bahwa semua nya terasa adil.


\*\*\*


"Sekarang kamu hapalin surat Annas dan Al-Falak, yah. Besok malam kakak akan tes hapalan kamu, jadi jangan lupa di hapalin. Hapalin nya juga gampang lho dek, kan surat pendek. " Nasihat Annisa terdengar sangat cerewet bagi Zahra.


Merespon nya, Zahra tak perlu mengucapkan satu patah kata pun dan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Malam ini adalah malam paling bersejarah bagi Zahra, karena setelah bertahun-tahun tidak membaca Al-Qur'an akhirnya malam ini ia kembali membacanya.


Annisa akan bertindak sebagai guru untuk Zahra selama ia belajar mempelajari Al-Qur'an dan sholat.


Saat Annisa mulai mengajarinya mengaji, Zahra terkadang menatap wajah kakak keduanya ini dengan tatapan yang dalam. Saat menatap Annisa, Zahra tak banyak menampilkan ekspresi di wajahnya. Hanya menatapnya dan itupun hanya sesekali.


Aku tau jika akan terus terluka dan akan selalu merasa terasingkan di tempat ini walaupun rencana kecil ku berhasil. Namun, setidaknya setelah rencana itu berhasil aku tak akan sendiri lagi. Karena saat itu terjadi kak Annisa akan merasakan perasaan sakit yang selama ini membelenggu ku.


"Zahra, kok kamu ngelamun?" Tegur Annisa yang langsung mengembalikan kesadaran Zahra.


Zahra mengerjap terkejut, "Ah, ya, ada apa kak?" Tanya Zahra linglung.


Melihat Zahra yang terlihat dalam keadaan linglung, Annisa kemudian menggeser posisi duduknya agar lebih dekat lagi dengannya. Lalu setelah jarak menghilang, ia memeluk nya dengan perasaan sayang.


Sementara itu, Zahra sangat terkejut dengan pergerakan Annisa yang cepat dan tiba-tiba memeluknya. Bagi Zahra ini adalah pelukan pertamanya setelah sekian lama Zahra menungngu. Hangat dan nyaman, itulah kesan pertama yang Zahra rasakan saat ini. Entah, perasaan apa yang merasukinya bahwa Zahra mengakui jika ini nyaman dan menenangkan. Bahkan, ia lupa apa tujuan awalnya di sini.


Ah, sudah lama sekali kak Annisa tidak memeluk sehangat ini.


Cukup lama merasakan perasaan hangat, Zahra akhirnya tersadar. "Kak." Panggil Zahra dengan suara berbisik karena Annisa begitu dekat dengan nya.


Annisa sama sekali tak bergeming dengan panggilan Zahra dan tetap memeluk tubuh Zahra sambil memejamkan matanya. mencoba merasakan kesedihan dan kepedihan hati adiknya selama ini. Hingga beberapa waktu lamanya mereka berdiam diri sambil berpelukan, Annisa akhirnya bersuara.


Annisa merasakan jika unek-unek hatinya sedang menguap sekarang. Meminta sang majikan untuk segera melepas dan membebaskannya. Sesak, itulah yang sedang di rasakan Annisa.


Perasaan sakit dan luka yang di torehkan adiknya Zahra sedang menyelimuti dirinya saat ini. Berbeda dengan Annisa, Zahra merasa jika tenggorokannya tercekat mendengar permohonan Annisa. Luka lama itu, luka lama yang sudah lama terkubur akhirnya hidup kembali menghiasi hati kelam Zahra.


Flash back on


"Abi.. Abi.. Zahra ikut.. " Teriak seorang gadis berumur 8 tahun yang bernama Zahra kepada seorang lelaki paruh baya yang di panggil abi nya.


"Maaf, sayang, Zahra gak bisa ikut sekarang karena abi ada pekerjaan di luar kota. " Ucap abi menolak halus permintaan Zahra kecil sambil melepas pelan pelukan Zahra kecil dari pinggangnya.


Mengelus kepala Zahra kecil seraya menatap mata mungilnya yang kini digenangi cairan. "Zahra tinggal sama bik imah dulu ya sayang." Melepas usapan lembutnya, abi menarik koper yang sedari tadi telah berdiri kokoh di sampingnya seraya berjalan meninggalkan Zahra kecil yang sedih.


Wajah Zahra kecil berubah menjadi merah padam dan matanya semakin memanas, menahan jatuhnya air sumber kelemahan. Karena tak bisa bersama abi, Zahra akhirnya berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari uminya.


Zahra menemukan uminya di dalan kamar sedang berkemas dan bersiap untuk pergi.


"Umi..umi mau kemana, Zahra boleh ikut yah umi.. " Rengek Zahra kecil sambil memeluk boneka kesayangannya.


Umi masih tak menghiraukan permintaan Zahra kecil dan lebih fokus pada barang-barang yang akan di bawa pergi.


"Umi Zahra boleh ikut.. " Cegah Zahra saat uminya akan beranjak keluar dari kamar sambil membawa barang-barang.


Umi menoleh dan mengelus pelan rambut Zahra.


"Maafin umi, sayang. Zahra gak bisa ikut karena umi pergi bukan untuk liburan, tapi kakak kamu Annisa sedang sakit sayang. Jadi, selama beberapa hari ke depan umi akan di pondok pesantren untuk merawat kakak kamu.. " Ucap umi menolak permintaan Zahra kecil dengan halus.


Zahra menggelengkan kepalanya dan terus merengek-rengek tanpa henti. Umi kewalahan menghadapi Zahra kecil hingga tiba-tiba abi datang untuk melepas paksa pelukan Zahra kecil sehingga boneka kesayangan Zahra kecil terjatuh dan tanpa sengaja diinjak oleh kaki umi. Umi dan abi pergi ke pondok pesantren untuk merawat Annisa tanpa melihat ke belakang, melihat Zahra kecil yang terduduk tak berdaya dengan boneka yang sudah kotor akibat ulah umi. Melihat kepergian umi dan abinya tak bisa berbuat apa-apa, Zahra kecil yang masih belum bisa melakukan apa-apa hanya bisa menumpahkan kesedihannya dengan cara menangis.


"Umi.. Zahra takut.. Abi Zahra mau ikut, Zahra takut di sini.. " Teriak Zahra kecil ketakutan, berharap umi dan abi mendengar ketakutannya dan mau berbaik hati membawanya pergi. Namun, bukannya berbalik abi dan umi justru terus melangkah menjauh dan hilang dari pandangan Zahra kecil.


"Umi.. Abi.. Zahra takut.. "


Flash back off


Zahra merasakan pipinya menghangat, menangis. Zahra menangis tanpa sengaja karena teringat akan masa kecilnya yang lebih mirip ke masa kelam.


"Kakak mohon tetaplah menjadi Zahra kecil kakak yang sempat hilang dan hari ini kembali lagi. Kakak mohon, jangan pergi lagi, karena kakak sangat merindukan mu, dek" Mohon Annisa tulus. Annisa sangat merindukan masa-masa itu, saat dimana adiknya bertingkah lucu dan menyenangkan.


Hati Zahra semakin hancur dan tercabik-cabik ketika Zahra mendengar Annisa mengatakan 'zahra kecil'. Zahra menghapus air matanya dengan kasar dan melepaskan pelukan Annisa secara paksa. Zahra berpikir jika tak begini Zahra pasti akan terjebak oleh permainan Annisa, ya, Zahra tidak ingin kalah dalam permainan yang ia buat sendiri.


"Zah- "


"Zahra ke kamar dulu kak. " Pamit Zahra sambil berdiri dan langsung pergi ke kamarnya tanpa menunggu persetujuan dari Annisa.


Setelah punggung Zahra menghilang dari pintu kamar Annisa, Annisa membuang nafasnya dengan pelan.


Menghilangkan beban hatinya.


"Benar, kamu memang butuh waktu untuk itu." Gumam Annisa berbicara dengan dirinya sendiri.


\*\*\*


Dertt..


Bunyi notifikasi pesan masuk. Razi langsung memeriksa pesan yang masuk tersebut.

__ADS_1


"Umi?" Razi bingung ketika mendapati notifikasi tersebut dari umi karena tidak biasanya umi mengirim pesan, jika menghubungi Razi biasanya umi langsung menelponnya tanpa mengirimkan Razi pesan seperti ini.


**To: Razi


Assalamualaikum, nak.


Umi minta tolong dong, tolong aktifin WA kamu. Dan setelah itu, telpon umi yah..


Assalamualaikum..


Umi❤**


Walaupun bingung, Razi tetap mengikuti intrusi uminya.


"Kenapa, Zi, ada masalah.? " Tegur seorang laki-laki yang sebaya dengan Razi.


"Gus fansyah, gak ada masalah kok.. " Jawab Razi yakin kepada laki-laki yang di panggil 'gus Fansyah'.


"Terus kenapa wajah kamu seperti orang kebingungan gitu?" Tanya gus fansyah bingung.


"Oh, itu gus. Tadi umi aku sms katanya suruh buka WA. " Jawab Razi sambil mengaktifkan data dan membuka akun WA nya.


Gus fansyah hanya menganggukan kepalanya mengerti.


Setelah membuka WA, jari panjang Razi langsung bergerak lincah mencari akun uminya dan setelah menemukannya, Razi langsung membuka pesan yang dikirimkan umi.


Setelah membukanya, Razi mendapati sebuah foto yang dikirimkan umi kepadanya. Di dalam foto tersebut, ada sosok seorang gadis yang terlihat sedang menunduk seraya membaca sebuah buku yang seharusnya itu adalah Al-Qur'an terjemahan. Mengernyitkan keningnya, Razi pikir bahwa sosok yang ada di foto ini adalah sosok yang tidak asing lagi baginya hingga tiba-tiba bola matanya membola, menunjukkan rasa keterkejutan yang amat besar.


Zahra?


\*\*\*


Zahra P. O. V


Aku benar-benar tidak sedang baik-baik saja karena kejadian tadi. Awalnya, aku merasa aku nyaman dan bahagia dengan pelukan yang Annisa berikan. Namun, saat Annisa mulai mengatakan sesuatu aku pun mulai teringat dengan masa lalu ku yang kelam. Dimana saat itu aku baru saja menginjak umur yang ke 8 tahun, namun sudah bisa merasakan pahitnya kehidupan. Kejadian itu, ku berjanji tak akan mengingatnya lagi karena sungguh hati ini akan sangat sakit dan perih jika mengingatnya lagi. Namun, kejadian tadi membuat ku telah menyesal membuat permainan ini. Entah, tapi ini terlalu sakit untuk ku hadapi. Terlalu perih untuk ku lalui. Akan tetapi karena sudah terlanjur kepalang jadi aku harus menyelesaikan misi ini. Harus, walaupun pada akhirnya aku akan terluka dengan kenyataan yang akan ku hadapi. Tapi, aku harus menyelesaikannya.


Trd...


Trd...


Trd..


Dering handphone ku melengking nyaring di dalam kamar ku. Memutus dunia luarku dan membuatku langsung di tarik kedunia nyataku.


"Ann?" Gumam ku ketika ku lihat jika yang menelpon ku adalah Andrini.


Karena tak ingin menunggu lama, langsung saja ku angkat telpon dari Andrini.


"Hallo, Ann?"


"Hallo, Zahra, ini gue Andrini. "


"Iyalah, gue tau ini lo, ada apa?"


"Gak ada apa-apa sih.. "


"Terus kalo gak ada apa-apa ngapain lo nelpon gue? "


"Zahra.. Zahra..lo tu gak pernah berubah ya, setiap kali orang mau bercanda selalu saja lo anggap serius."


"Terus?"


"Gue bawa kabar gembira buat lo dan hanya buat lo seorang."


"Kabar gembira apa? "


"Zahra besok lo masuk gak? "


"Hm, kayaknya enggak sih, emang kenapa? "


"Tapi, lusanya masuk gak?"


"Kayaknya iya, kenapa? "


"Bagus, berati lo bisa ikut pengajian.. "


"Shit, lo, kabar bahagia darimana kalo ke pengajian.. "


"Shat! Shit! Shat! Shit!


Dengerin gue dulu, jadi, besok lusa itu ada pengajian dan lo harus masuk karena lo harus nembak pak Alif."


"Maksud lo?"


"Ih, waktu pengajian lusa itu, Alif yang mimpin jadi lo bisa leluasa liat dia. Nah, pas pengajian selesai lo bisa deketin dia. Dia kan gak punya pacar, jadi ini kesempatan lo untuk nembak dia-"


"Tapi, Ann, Alif itu gak mau pacaran.. "


"Itu kan cuma omongannya, nah siapa tau kalo lo yang nembak dia langsung terima. Dan lagi ni yah, ini kan cinta pertama lo masa sih lo mau ngelepasin dia begitu aja.. lo harus buktiin kalo pesona lo bisa menaklukan siapa saja, termasuk Alif. "


Apa iya Alif adalah cinta pertama ku?


"Hm, serius."


"Serius! "


"Ok, deh akan gue coba. Toh, Alif kan cinta pertama gue. Jadi, gak ada salahnya kalo gue nembak dia. "


Ya, ini bukan masalah kan karena aku yakin aku memang menyukai Alif.


"Good, lo emang pinter. Eh, btw gue ke dapur dulu yah. Di panggil sama mama.. dah.. "


"Dah.. " Dan klik, sambungan pun terputus.


Aku menghela nafasku dengan berat, memikirkan rencana yang di sarankan Andrini kepada ku.


Dia, benar.


Alif adalah cinta pertama ku, bukankah tak ada salahnya aku mencoba untuk memilikinya?.


Bukankah ini bagus?


Maka dengan begitu aku akan tau bahwa aku tidak sakit, pangeran tampan ku, aku sakit karena terlalu memperhatikan nya.


Yah, ini adalah pengalaman. Apa lagi besok malam adalah malam terindah untuk ku, karena misi ku akan berlangsung. Mungkin sakit, tapi setidaknya aku merasa puas dengan apa yang ku lakukan.


*Egoiskah, diriku?


Jika aku menginginkan orang lain berada di posisiku. Bukankah itu adil? Apa yang aku rasakan juga di rasakan olehnya.

__ADS_1


Zahra Affianisha*


\*\*\*\*


__ADS_2