Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Part 8


__ADS_3

"Kamu kenapa Fir?"


Aku tersadar, menatap heran pada kotak nasi yang ada di atas pangkuan ku.


"Masakannya gak enak, yah?" Lanjut Dira bertanya.


Menggeleng pelan, aku kemudian memasukkan sendok kedua full ke dalam mulut ku.


"Aneh," Gumamnya menyerah.


"Mas Alif kok bawain kamu makanan sebanyak ini, apa iya nafsu makan kamu sebesar ini?"


Aku menatap berbagai macam makanan ringan yang manis dan membangkitkan selera di atas kasur ku. Lalu, sambil mengunyah makanan yang masih di dalam mulut, ku edarkan pandanganku menatap teman-teman kamar kami yang masih terlihat asik berbincang-bincang. Sekilas aku mendengar mereka membicarakan Mas Alif dan Mas Razi. Dua laki-laki tampan ini tidak akan pernah bisa lepas dari mulut-mulut cantik para perempuan yang ada di sini.


"Ngomong aja suka ngasal," Ucapku setelah menelan kunyahan ku.


Mengambil satu sendok lagi, "Mungkin Mas Alif sengaja ngasih banyak karena di sini juga ada teman-teman yang lain." Lalu memasukkan lagi satu sendok.


"Hem, kamu benar juga." Ucap Fira setuju.


"Buat teman-teman yang suka makanan manis-manis, kalian bisa ambil di sini." Teriak Fia dengan pipi yang masih menggembung, begitu menikmati makanan yang ada di tangannya.


"Eh, ngomong-ngomong Fir, aku dengar Mbak Annisa sama Mbak Aisha tidur di satu kamar yah?"


Mengangguk jujur, "Iya Dir, mulai malam ini mereka berdua tinggal di satu kamar yang sama. Yah, mungkin dengan seiring waktu mereka akan menjadi teman dekat yang tidak terpisahkan."


Aku sebenarnya belum melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana situasi Mbak Annisa dan Mbak Aisha jika bertemu tadi, tapi aku yakin mereka adalah orang yang baik dan terbuka. Sehingga untuk berteman selayaknya menjadi keluarga tidak akan memakan waktu yang lama.


"Hem..teman dekat yah, tapi aku kok gak yakin yah." Gumam Fia dengan pipi chubbynya.


"Lho, kok kamu ngomongnya gitu?" Kenapa mereka tidak bisa?


Padahalkan mereka adalah orang yang baik dan juga penyayang.


"Aku gak mau menduga-duga hal yang buruk yah tapi entah kenapa aku meragukan mereka berdua menjadi orang yang dekat. Yah.. mungkin alasan ini sedikit klise jika Mas Alif disangkutpautkan dalam hal ini tapi jujur Fir, aku rasa dia orang ini akan bersaing mendapatkan Mas Alif. Apalagi tadi siang Zahra sempat menceritakan tentang Mbak Annisa yang mulai tertarik dengan Mas Alif, aku takut jika Mbak Aisha juga mulai tertarik dengan Mas Alif. Jika ditarik kesimpulannya memang mereka berdua seharusnya tinggal di kamar yang berbeda."


Terdiam, aku pikir alasan yang Fia katakan memang logis. Karena jika berbicara tertarik, keduanya memang terlihat menyukai Mas Alif. Jadi, membiarkan mereka tinggal di tempat yang sama adalah sesuatu yang cukup tidak meyakinkan.


Tapi,


Bisa jadi hati mereka tidak seburuk yang aku pikirkan dan mereka bisa menjadi teman yang lebih baik. Yah, hanya Allah yang tahu bagaimana isi hati hamba-Nya.


"Ya juga sih, tapi...ya sudahlah, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan hubungan mereka. Jika tidak seperti yang kita pikirkan mungkin memang seharusnya mereka tinggal di kamar yang sama dan jika iya, maka mungkin Umi akan memisahkan mereka." Aku tidak ingin terlalu memikirkan hal yang belum tentu akan terjadi.


Biarkan waktu yang menjawabnya.


"Kamu benar." Memasukkan sepotong kue lagi.


"Oh yah, berbicara tentang Mbak Annisa aku dengar ada rumor yang mengatakan jika Mbak Annisa sudah tidak bercadar lagi. Apakah itu benar?" Dira bertanya lagi.


"Hem, Mbak Annisa memang sudah melepas cadarnya." Jawabku entah mengapa merasa enggan.


Mungkin..


Itu karena aku masih belum rela melihatnya seperti itu.


"Lho kok bisa?, Bukannya Mbak Annisa sudah mengenakan cadar sejak mondok di sini yah?"


Mengapa?


"Aku juga tidak tahu alasan ia melepaskan cadarnya." Memikirkannya membuat nafsu makan ku hilang.


Apalagi saat mengingat kejadian di dapur tadi. Mas Alif benar-benar melupakan keberadaan ku karenanya, aku sungguh marah!


Padahal ia mengatakan jika tidak akan pernah memakan masakan orang lain selain masakan buatan ku. Tapi faktanya Mas Alif memakan masakan Mbak Annisa!


Ia memakannya dengan tenang di depan mataku, ah!


Bukan hanya itu yang membuat ku semakin kecewa padanya. Tapi juga karena Mas Alif yang seakan tidak melihat keberadaan ku di sana. Mereka berdua begitu tenggelam dalam interaksi sederhana namun manis itu, sampai..aku yang berdiri tepat di sampingnya menjadi tidak terlihat.


Aku..


Sedih.


"Aku mengantuk, kau habiskan saja makanan ini." Menyerahkan kotak nasi yang masih banyak ke pangkuan Dira. Lalu, aku kembali merebahkan diriku di atas kasur namun kali ini bukan lagi di atas kasur Fia, tapi di atas kasur Dira.


Entahlah,


Aku sebenarnya tidur di rumah Umi namun karena beberapa alasan malam ini aku lebih suka tinggal di sini daripada di sana. Membuat nafsu makan ku hilang dan hati ku menjadi tidak tenang lagi.


Aku kesal juga merasa sedih, tapi aku justru lebih kecewa karena aku tidak tahu mengapa aku seperti ini?


Rasanya tidak nyaman sekali di dalam dada ini.

__ADS_1


"Lha, kok langsung tidur aja?. Makanannya gimana terus gak baik tahu habis makan malam langsung tidu-"


"Ssst, Fia kamu gak usah ngomong lagi. Lebih baik makanannya kamu segera habisin sebelum ketahuan sama petugas kedisplinan."


Tidak peduli dengan pembicaraan mereka, aku berusaha sekuat tenaga menutup mataku. Ingin masuk ke dalam mimpi yang sebelumnya sempat menarik ku masuk ke dalamnya.


"Fira, jika ada masalah kamu bisa menceritakannya kepada ku." Bisik Dira di telinga ku.


Setelah itu sebuah pelukan hangat aku rasakan di belakangku, Dira sedang memeluk ku sayang dan aku menyukai perasaan hangat ini. Ini seperti Umi sedang menenangkan ku.


Dira,


Sepupu ku ini memang aneh karena diantara kami bertiga hanya ialah satu-satunya yang paling dewasa. Bahkan, dari matanya yang hitam pekat aku seakan bisa merasakan ia sedang mengintip ke kedalaman jiwaku.


Mengintip sesuatu yang tersembunyi di sana, tapi anehnya akh tidak takut jika ia melihatnya. Karena bagiku Dira lebih seperti Umi yang punya suasana yang menenangkan.


"Dira?" Bisik ku dengan mata yang masih enggan terpejam.


"Hem?" Suaranya begitu dekat, dekat sampai ingin sekali aku menangis di dalam pelukannya. Aku resah..resah sampai begitu bingung menghadapi diri sendiri.


"Hati ku sakit." Bisik ku memberi tahu.


Lalu, sebuah pelukan hangat yang lebih erat lagi ku rasakan.


Dira begitu mengerti aku.


\*\*\*


Berisik, aku terbangun lagi dari tidur tanpa mimpi ku. Meskipun begitu berat mengangkat kelopak mataku namun itu hanya bertahan beberapa menit karena setelahnya mata ini akhirnya bisa melihat lingkungan yang ada di sekeliling ku.


Sepertinya ini sudah waktunya sholat tahajud.


"Fira lagi gak sholat, kan?" Tanya Dira begitu mata kami bertemu. Ia sudah terlihat siap dengan mukena dan Al-Qur'an yang ada di dalam pelukannya. Wajahnya begitu segar.


"Hem, aku lagi gak sholat jadi gak bisa gabung sama kalian." Jawabku sambil menarik selimut lebih tinggi lagi.


"Ya udah kamu tidur lagi gih, biar besoknya di sekolah gak ngantuk."


Mengangguk, "Fia sama Marwah mana?" Tanyaku bingung karena tidak ku dapati Fia dan Marwah di sini.


Mungkinkah mereka sudah berangkat ke masjid?


"Mereka sedang berwudhu di luar bersama yang lain. Ya udah, aku nyusul mereka dulu yah dan kamu lanjutin aja tidurnya dulu biar besok lebih segar." Pesannya seraya pergi meninggalkan ku.


Perlahan di kamar ini hanya ada beberapa orang yang mungkin sedang berhalangan. Mereka terlihat asik dengan urusan masing-masing, ada yang melanjutkan tidur dan ada pula yang sedang membaca kitab.


Aku lebih memilih kembali tidur, seperti yang Dira bilang aku butuh waktu untuk istirahat.


Hem, istirahat.


2 jam kemudian.


Aku terbangun lagi dengan sendirinya. Kamar ini masih sepi dan sepertinya mereka sedang melaksanakan sholat subuh di masjid jadi aku bisa mandi tanpa harus bersusah payah mengantri.


Tidak ingin berlama-lama, aku pun membawa peralatan mandi Dira bersama ku ke kamar mandi. Berhubung kami akan sekolah jadi aku harus pulang ke rumah Umi untuk mengambil seragam ku.


Jangan salah paham, ini bukan seragam sekolah seperti yang kalian kenakan. Seragam yang kami gunakan sebenarnya adalah sebuah gamis yang berwarna abu-abu di hari senin dan selasa, berwarna hijau muda dihari rabu dan kamis, dan berwarna coklat muda dihari Jumat dan sabtu.


Kami bersekolah seperti sekolah pada umumnya, namun pelajaran yang kami miliki sedikit berbeda dengan sekolah pada umumnya.


Misalnya seperti bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris adalah pelajaran wajib di sini. Adapun sisanya kami lebih fokus pada kitab-kitab para ulama maupun ahli agama yang sahih akan pendapatnya. Membaca dan mempelajarinya, kitab-kitab tanpa baca ini terkadang membuat kami sedikit bosan.


Tapi ada juga sisi menyenangkannya.


Misalnya seperti membaca siroh Nabawiyah atau Aisyah Radhiyallahu Anha yang merasuk hati. Terutama dengan siroh Aisyah Radhiyallahu Anha, aku begitu senang membacanya. Beliau adalah idola ku semenjak kecil.


Entah,


Mungkin itu karena Ibunda Aisyah seumuran dengan ku dan punya sisi pencemburu yang kuat membuat ku jatuh cinta padanya. Apalagi saat Ibunda Aisyah menemani saat-saat Rasulullah Saw akan wafat, air mata ini tidak bisa terbendung rasanya. Ia sangat mencintai Rasulullah Saw sampai setelah Rasulullah Saw wafat pun Aisyah mendedikasikan dirinya hanya untuk Allah. Dan selama 40 tahun kepergian Rasullullah Saw, ia terus saja menghabiskan hari-harinya dengan berpuasa penuh.


Masyaa Allah, aku begitu mengagumi kepribadian Ibunda Aisyah. Istri yang Allah berikan melalui bisikan Jibril dan ditakdirkan bersama sampai jannah-Nya. Istri satu-satunya yang membuat Allah menurunkan sebuah ayat pencerahan, membuktikan betapa suci dan terlindungnya ia dari segala fitnah syeitan.


Masyaa Allah.


20 menit kemudian, aku sudah menyelesaikan acara mandi ku. Jujur airnya sangat dingin dan aku sungguh tidak tahan berlama-lama di dalam.


"Assalamualaikum, Umi?" Salam ku seraya masuk ke dalam.


Di sini sepi dan sepertinya Umi ikut sholat bersama Abi di masjid. Jarang sekali ini terjadi.


Karena tidak menemukan siapapun maka ku putuskan langsung untuk masuk ke dalam kamar dan segera mengganti pakaian ku dengan seragam sekolah. Tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkan diri karena di sini kami tidak diperbolehkan menghilangkan make up yang bisa saja mengundang syahwat untuk lawan jenis. Cukup menggunakan bedak bayi agar wajah tidak terlalu pucat di luar.


"Mas Alif?" Aku sontak terkejut melihat Mas Alif sedang duduk santai di ruang keluarga.

__ADS_1


Tapi, apa-apaan aku ini?


Melihatnya di rumah ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ah, aku ingat jika masih marah padanya!


"Dek, kamu gak ikut sholat ke masjid tadi?" Tanyanya sok akrab.


Oh, astaga bukankah sebelumnya dia tahu jika beberapa hari ini aku tidak sholat tapi mengapa tiba-tiba hari ini mendadak tidak tahu?


"Ada tamu Mas." Suaraku berusaha acuh terhadapnya.


"Tamunya mana, kok Mas gak ada lihat sih?"


Hah, dia pikir ini lucu apa?


"Gak lucu tahu, Mas!" Lagian yah, gak semudah itu aku akan memaafkannya.


Hoho... harga diriku ini begitu tinggi!


"Astagfirullah..iya deh iya, lagian Kakak bingung tahu lihat kamu kok tiba-tiba cemberut gitu. Ada masalah hem?"


Hem, tadi malam kemana aja?


Sibuk sama Mbak Annisa, aa?


"Masalah?" Kenapa gak sekalian kerjain aja Mas Alif mumpung lagi sepi gini. Umi sama Abi kan lagi diluar jadi aman dong kalau aku nakal dikit.


"Iya nih, Mas. Fira lagi ada masalah, tiap dipikirin hati Fira pasti langsung sedih." Curhat ku sambil mendudukkan diri di sampingnya.


Ia bergerak menyamping, menatap ku dengan posisi siap menyimak.


"Tentang apa dek?, Kalau bisa pasti Kakak bantu." Ya Allah, ganteng banget Mas Alif kalau lagi santai gini. Hem, suami idaman banget dia.


Kalau Mbak Annisa jadi istrinya pasti dia bahagia banget ada Mas Alif, romantis banget orangnya.


Lihat aja sinar matanya yang melembut penuh akan pesona suami-suami idaman kaum hawa zaman sekarang, meleleh mereka kalau melihat ini.


"Itu.. tentang Kak-"


"Alif! Alif! Kamu dimana, Nak?" Ucapan ku terhenti oleh suara panik Umi.


Umi terlihat begitu khawatir ketika masuk ke dalam rumah.


"Umi.. Umi, pelan-pelan Umi jangan sampai terburu-buru." Mas Alif bangun dari duduknya, menghampiri Umi agar tidak berlari tergesa-gesa seperti itu lagi.


Kami khawatir dan takut jika Umi sampai terjatuh nanti.


"Alif kamu harus cepat ke gerbang depan karena ada sekelompok laki-laki yang datang mencari Aisha. Cepat, selamatkan Aisha dan Annisa sebelum mereka disakiti."


Mbak Aisha dan Annisa?


Mengapa sepagi ini mereka keluyuran ke halaman depan dan ada urusan apa sekelompok laki-laki ini mencari Mbak Aisha?


Apakah mungkin....ini ada hubungannya dengan malam Mas Alif membawa pulang Mbak Aisha?


"Astagfirullah..di gerbang selain mereka sudah ada siapa saja Umi? Apakah sudah ada yang mengamankan mereka?" Mas Alif terlihat panik.


Aku mengerti jika seharusnya memang seperti itu, tapi..


Bukankah mereka tidak punya hubungan apapun lalu mengapa sampai harus sepanik ini?


"Sudah ada yang mengamankan tapi satu-satunya orang yang memahami situasi ini adalah kamu, maka cepatlah ke sana sebelum terjadi keributan yang lebih besar lagi."


Mas Alif mengangguk cepat, mencium tangan Umi lalu berjalan cepat keluar rumah.


"Mas Alif, tungguin Fira! Aku masih belum selesai ber-"


"Kita bisa bicarakan itu nanti karena ada masalah yang lain yang lebih penting membutuhkan Kakak. Fira, Kakak pamit assalamualaikum."


Dia pergi.


Dengan masalah yang lebih penting dari masalah ku. Aku paham... yah, bahkan sangat paham jika masalah itu akan melibatkan pihak yang berwajib namun tetap saja aku tidak bisa menerimanya.


Karena kali ini aku semakin bingung...


Gadis yang mana Mas Alif khawatirkan, apakah itu Mbak Aisha atau justru Mbak Annisa?


Siapa?


Aku ingin tahu siapa yang telah mengambil alih hati Mas Alif sampai ia lupa jika aku pernah menjadi satu-satunya gadis yang membuatnya lupa akan yang lain.


Mas Alif,


Hati Fira entah kenapa terasa sakit, aku tidak suka dengan perasaan ini.

__ADS_1


Fira tidak suka dengan perasaan aneh ini.


Bersambung...


__ADS_2